
Saat sadar, dengan penuh kemarahan Handi pun bangkit dengan cara menghentakkan kedua kakinya. Langsung berdiri. Merasa tidak terima karena telah dikalahkan oleh seorang perempuan yang menurutnya lemah. Apalagi di depan anak buahnya. Takut wibawa dan kharismanya berkurang, kemudian diremehkan.
Sekali lagi semuanya tampak takjub dengan apa yang dilakukan oleh Rianti. Handi benar-benar dikalahkan dengan telak. Dengan gerakan cepat pula. Sampai tidak ada yang menyadari gerakannya. Teman-teman Handi tampak bergidik menyadari kekuatan gadis itu. Bukannya menolong, mereka malah menonton saja. Tetap tak bergeming di atas motor mereka. Seolah seperti melihat pertunjukan spektakuler di dunia nyata. Seperti mimpi.
Para sahabatnya pun tak kalah takjub dengan kekuatan Rianti yang baru saja ditunjukkan. Tanpa sadar, mereka kompak bertepuk tangan. Bangga. Membuat Handi semakin emosi. Apalagi saat melihat reaksi anak buahnya.
"Hai, kalian, kenapa malah bengong. Bukannya nolongin, " teriak Handi, memarahi anak buahnya.
Suasana kian tegang antara Handi dan Rianti. Rasa marah, malu, dan terhina sangat dirasakan Handi. Namun di balik itu, ada rasa kekaguman pada keberanian gadis itu. Sulit terkalahkan. Membuatnya semakin penasaran. Namun, dengan cepat ia berusaha menampiknya. Egonya tidak mau mengakui. Gengsi.
"Ayo, serang mereka!" titah Handi menahan kemarahan yang sangat.
"Janganlah, Bos. Mereka kan cewek. Masa kita sakiti, sih? Mereka kan harusnya disayangi, " kilah salah satu anak buahnya yang bernama Agus. Beralasan. Padahal aslinya dia merasa gentar dan takut. Apalagi setelah melihat bosnya dikalahkan dengan telak tadi. Dua kali pula. Membayangkan dirinya yang mengalami itu. Apalagi ketika mengingat tubuhnya kurus kering begitu.
'Bisa langsung remuk, tulang-tulangku. Mending kalau langsung mati, kalau ternyata masih hidup dalam keadaan cacat seumur hidup, gimana? Ih, ngeri, ' pikirnya, bergidik. Temannya yang lain pun ternyata merasakan hal yang sama.
__ADS_1
"Jangan kalian pikir wanita itu lemah, ya. Lantas kalian bisa seenaknya memperlakukan wanita. Siapa pun tidak akan kami biarkan orang yang berani melecehkan dan menghina. Kami juga memiliki harga diri dan kehormatan yang selalu kami jaga. Apa kalian tidak punya ibu atau saudara wanita? Bagaimana perasaan kalian jika mereka diganggu bahkan dilecehkan? Rela? Atau biasa saja. Tidak peduli?" Tukas Rianti dengan nada tegas dan berbobot. Mencoba mengajak mereka berfikir. Membuat Handi dan teman-temannya tampak menundukkan kepalanya, membenarkan ucapan gadis itu.
Sebenarnya Rianti merasa menyesal dengan apa yang dilakukannya tadi kepada Handi. Semuanya di luar kendalinya. Dia pun terkejut sendiri. Selama ini tidak pernah mengeluarkan kemampuannya sembarangan. Gadis itu berlatih bela diri yudo, hanya untuk olah raga saja, pertahanan diri, selain karena hobi saja. Bukan untuk pamer atau unjuk kekuatan. Itulah prinsip dari semua ilmu bela diri manapun.
Dengan nada suara lebih rendah, Rianti kembali melanjutkan nasihatnya,
"Kalian ini masih muda, kurang lebih kita seumuran, kan? Masih banyak hal positif yang bisa kalian lakukan. Tidak masalah jika kalian memiliki hobi yang sama, suka mengendarai motor ramai-ramai, trek-trekan, tour travelling kemana-mana. Tapi lakukan dengan baik, tanpa harus mengganggu ketentraman orang lain. Apalagi membahayakan seperti tadi. Karena pada dasarnya sifat dasar manusia itu sama, tidak suka diganggu. Maka perlakukanlah orang lain sebagaimana kalian ingin diperlakukan."
"Carilah potensi kalian masing-masing lalu kembangkan. Siapa tahu akan berguna di masa yang akan datang. Supaya tidak menjadi 'benalu', apalagi menambah beban dan masalah di masyarakat. Sudahlah kita hidup di zaman yang serba rumit, penuh masalah, serba susah, serba salah, masa malah mau nambah masalah lain. Kalian loh yang kan rugi sendiri. Masa depan kalian akan suram nanti. Tidak punya pegangan. Mau dibawa kemana masa depan kalian nanti? Mau jadi apa? Manusia mulia atau hina, semua pilihan ada di tangan kalian. Tapi ingat, setiap pilihan itu mengandung konsekuensi."
Rianti mengakhiri nasihat yang begitu berkesan di hati para pemuda yang ada di hadapan ini. Lalu menoleh ke arah Handi, sambil menangkupkan kedua tangannya,
"Oh, iya, maafkan saya, sudah melukai kamu, Handi. Semoga tidak apa-apa. Tadi saya lepas kendali. Saya hanya tidak suka melihat kedzaliman di depan mata saya sendiri tanpa bisa berbuat apa-apa. Apalagi hampir menimpa diri saya. Lekas periksa ke dokter, ya. Kalau perlu dirontgen, untuk memastikan keadaan kamu. Saya akan bertanggung jawab atas biaya pengobatannya sampai sembuh. Mumpung saya dan sahabat saya masih berlibur di sini, " ujar Rianti dengan suara lebih rendah, tidak setegas tadi.
Mendengar itu, Handi jadi merasa malu dan bersalah. Kini dia sadar telah mengganggu orang yang salah. Selama ini dia selalu meremehkan orang lain, apalagi wanita yang sering dianggapnya lemah. Namun ternyata hari ini laki-laki itu merasa tertampar.
__ADS_1
Begitu pula dengan teman-temannya yang masih ada di belakangnya. Mereka tampak menunduk. Mengingat kelakuan mereka selama ini yang sering meresahkan masyarakat.
"Eh, Ehm, tidak perlu, saya rasa tidak ada hal yang serius dengan tubuh saya. Ehm, saya yang harusnya minta maaf sama kamu dan teman-temanmu karena telah mengganggu kalian. Tapi saya tetap bersyukur, kejadian ini menyadarkan saya akan suatu hal. Terima kasih atas pelajaran dan nasihatnya hari ini. Tolong maafkan saya dan teman-teman saya, " ujar Handi dengan kepala masih tertunduk, begitu gugup, sambil menangkupkan kedua tangannya tanda meminta maaf. Diikuti pula oleh teman-temannya yang lain.
"Kami maafkan, lain kali tidak boleh seperti ini, ya. Anggap saja Allah sedang membuka pintu hidayah untuk kalian agar menjadi manusia yang yang lebih baik lagi dan bermanfaat untuk sesama. Karena, sebaik-baik manusia itu adalah yang paling banyak memberi manfaat, " ujar Rianti menutup nasihatnya.
Handi dan teman-temannya kompak mengangguk dan mengaminkan.
Setelah itu, Rianti dan para sahabatnya berpamitan hendak ke Villa kembali. Mereka pun berpisah, karena arah menuju rumah mereka berlawan dengan villa keluarga Sania.
Kejadian hari ini begitu berkesan. Walau sempat diawali dengan suasana tegang, perkelahian. Ternyata, menyadarkan seseorang itu tidak harus menggunakan kekuatan otot, cukup dengan diajak berpikir. Agar kembali ke jalan yang benar. Karena jika selalu menggunakan otot saja, bukannya menyadarkan dan menyelesaikan masalah, yang terjadi malah bertambah masalah yang lain, seperti dendam. Tentu hal itu akan berdampak buruk, bukan?
Rianti dan sahabatnya juga belajar suatu hal. Agar lebih pandai mengendalikan hawa nafsu amarah. Karena dalam keadaan marah, biasanya seseorang akan melakukan hal yang di luar kesadarannya. Yang berujung penyesalan.
Memang hak kita jika ingin menunjukkan menunjukkan 'gigi' agar tidak mudah diremehkan oleh orang-orang yang ingin menindas kita. Namun, memilih untuk tetap bersabar dan tidak membalas kejahatan orang lain kepada kita, tentu jauh lebih baik, bukan?
__ADS_1
Melindungi diri dari pelecehan yang dilakukan oleh lawan jenis tentu harus dilakukan. Kehormatan itu wajib dijaga sampai kapanpun. Hatta ketika kini mereka telah mengenakan pakaian muslimah syar'i sekalipun, hal itu harus tetap dilakukan.