Romansa Putih Abu

Romansa Putih Abu
Mulai Menyusun Rencana


__ADS_3

Setelah puas mengobrol, akhirnya Hisyam dan keluarganya berpamitan untuk pulang. Malam ini semua tampak bahagia.


Ya, malam ini merupakan pertemuan istimewa bagi mereka bagi Hendrik dan Hamid, terutama bagi Hisyam dan Lisa. 


Dalam perjalanan pulang roman wajah Hisyam tampak sumringah. Dia sedang mengenang kisah cintanya bersama Lisa. Dia tidak habis mengerti akan perjalanan mereka, ternyata mereka selama ini tidak pernah jauh. Hanya saja tidak pernah diberi kesempatan untuk bertemu satu sama lain. 


Lebih terkejut lagi saat mengetahui ternyata papanya dan papa Lisa bersahabat sejak SMA. Dan mereka baru bertemu tadi setelah sekian lama.


"Bang, melamun saja, sih. Pasti lagi mikirin Kak Lisa, ya, " tegur Hanum yang sejak tadi memperhatikan tingkah Kaka sulungnya. Teguran itu sontak membuyarkan lamunan Hisyam.


"Deuh, yang lagi jatuh cinta. Bahagia betul kayanya, " goda Hana.


Hisyam tersenyum lebar lalu bertanya,


"Gimana menurut kalian, Lisa?" Tanya Hisyam balik bertanya.


"Em, cantik banget. Pantas saja jika Abang menyukainya sejak dulu. Sudah gitu, sepertinya baik, sholihah, setidaknya dilihat dari penampilannya yang selalu memakai jilbab syar'i, " jawab Hanum.


Sedang Hana menimpali, "Pokoknya Hana senang bakal punya kakak ipar seperti Kak Lisa."


Selanjutnya kakak beradik itu asyik mengobrol. Saking asyiknya tidak sadar bahwa mereka telah sampai di depan rumah. Menyadari itu, semuanya keluar dari mobil dan memasuki rumah mereka. Setelah masuk, mereka langsung berpisah menuju kamar masing-masing. 


Setelah sampai kamarnya, Hisyam langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai dia keluar dari kamar mandi dan segera memakai baju tidurnya. Setelah itu, langsung mendekati tempat tidurnya dan merebahkan tubuhnya.


Namun, baru saja dia merebahkan tubuhnya, terdengar suara ponselnya yang ada di atas nakas, di samping tempat tidurnya. Segera saja Hisyam diambil ponselnya. Setelah dilihat ternyata sang penelepon itu Daffa, langsung diangkat. Dan terdengarlah suara sapaan dari Daffa,


Daffa:


'Halo, Assalamualaikum, Bang!' Gimana pertemuan tadi?'


Hisyam:


'Wa'alaikumussalam, Daf!' Kami baru saja sampai dari rumah Lisa.'


Daffa:


'Terus gimana hasilnya?'


Hisyam:


'Alhamdulillah, keluarganya menerima kami secara terbuka. Dan Lisa tentu saja menerima lamaranku. Selain itu, tadi kami mendapatkan kejutan yang luar biasa. Ternyata Papaku dan Papanya Lisa itu sahabat lama sejak SMA, loh. Bertahun-tahun mereka berpisah, baru bertemu tadi. Sungguh, tidak disangka sama sekali. Masya Allah. Skenario Allah memang hebat. Mereka berpisah sekian tahun sejak lulus SMA, dan baru dipertemukan malam ini. Sedangkan aku dan Lisa juga terpisah sejak lima tahun yang lalu, tepatnya sejak aku lulus SMA. Dan baru dua minggu yang lalu kami bertemu. Benar-benar kami bertemu dalam di waktu yang tepat.'


Daffa:


'Masya Allah, Tabarakallah! Aku sampai merinding mendengarnya, Bang. Tapi kok hampir sama dengan kisahku, ya. Cuma bedanya yang bersahabat itu Ummiku dan Mamanya Rima. Ya, begitulah yang namanya jodoh. Allah pasti akan mempertemukan di waktu yang tepat. Meskipun kita bersembunyi pasti akan ada waktunya dipertemukan kembali. Sebaliknya, meski kita sering bertemu dengan orang yang tadinya kita sukai tapi jika bukan jodoh pasti akan berpisah juga. Begitulah Allah mengaturnya. Dan Allah pasti Maha Mengetahui apa-apa yang terbaik untuk kita.'


Hisyam:

__ADS_1


"Ya, kamu benar, Daf. Terima kasih, ya. Sudah membantuku. Sampaikan juga untuk Ira.'


Daffa:


'Abang ini apa-apaan, sih? Seperti dengan siapa saja. Abang itu kan sudah seperti saudara, kakak untukku. Dan Lisa juga kan mentornya adikku,'


Daffa:


'Oh iya, terus gimana rencana ke depannya?' 


Hisyam:


'Tadi, sudah diputuskan bersama bahwa kami akan menikah bulan depan.'


Daffa:


'Hah, cepat juga.'


Hisyam:


'Hehehe... Aku yang mau nikah malah orang tuaku dan Lisa yang lebih antusias dan heboh tadi. Ya, aku sih tentu senang. Jadi, Lisa bisa segera menjadi istriku. '


Daffa:


'Selamat, ya, Bang. Semoga semuanya dimudahkan sampai pernikahan nanti.'


Hisyam:


Daffa:


'Apa yang bisa kami bantu, Bang. Dengan senang hati kami akan membantu. '


Hisyam:


'Aku mau minta bantuan Ira dan teman-temannya untuk mengatur acara pernikahanku. Berhubung waktunya mepet banget. Aku lihat waktu kamu nikah mereka yang jadi WO nya, kan? Bagus juga ide mereka.' 


Daffa:


'Iya, Bang. Baiklah nanti aku sampaikan ke Ira dan teman-temannya. Insya Allah, mereka pasti senang sekali mendengarnya. Mereka sedang semangat-semangatnya untuk merintis usaha di bidang WO atau EO.'


Hisyam:


'Oke, baiklah aku tunggu kabar dari mereka, ya.'


Daffa:


'Baik, Bang. Ada lagi?"

__ADS_1


Hisyam:


'Sementara ini cukup dulu. Yang lainnya bisa menyusul.' 


Daffa: 


"Oke, sudah dulu, ya Bang. Aku tutup dulu. Assalamualaikum!'


Hisyam:


'Wa'alaikumussalam!"


Terdengar suara sambungan terputus lebih dulu dari seberang. Seketika ponsel menjadi hening. Hisyam pun menyimpan kembali ponselnya ke atas meja nakas.


***


Keesokan harinya


Hisyam, Lisa, kedua orang tuanya, dan dua keluarga berkumpul kembali di rumah Lisa. Kali ini, Daffa, Rima, Rianti, Ira, Sania, dan Wulan pun ikut bergabung. Mereka bertemu untuk membicarakan segalanya dan memulai menyusun rencana pernikahan Hisyam dan Lisa. 


Seperti sebelumnya, Rianti bertugas di bagian katering, Ira bertugas mendesain baju pengantin dan keluarga besar kedua calon mempelai, kali ini dibantu Rima, kakak iparnya dan menghias gedung, Wulan bertugas untuk mendokumentasikan acara pernikahan mereka, dan Sania yang akan merias Lisa dan mamanya. Sementara mama Hisyam memilih untuk berdandan sendiri dari rumah. 


Konsep pernikahan juga ingin seperti pernikahan Daffa dan Rima, yaitu dipisah secara total. Bagi mempelai maupun para tamu. Disekat dengan kain pemisah antara tamu laki-laki dan perempuan. Karena itu, akan ada petugas yang mengaturnya. Dari bagian perempuan, yang mengaturnya adalah karyawan perempuan yang ada di toko Ira. Sedangkan untuk bagian laki-laki, sahabat-sahabat Daffa bersedia membantu, seperti Abrar, Thoriq, Faisal, dan Fikri. Abrar juga akan diminta untuk membacakan ayat suci Al Qur'an.


Di tengah perbincangan mereka, Hisyam bertanya kepada Lisa, " Lisa, kamu mau maharnya apa?"


"Aku mau cincin dan minta dibaca salah satu surat favoritku, Ar Rahman, " jawab Lisa dengan malu-malu


"Ada lagi? Mau ditambahkan seperangkat perhiasan? Satu paket gitu?" Tanya Hisyam.


"Terserah, Kak Hisyam saja, " jawab Lisa.


"Kok, terserah aku, sih. Kan mahar itu akan menjadi hak kamu, Lis. Kamu berhak memintanya. Dan aku pasti akan berusaha memenuhi keinginan kamu, " ujar Hisyam lembut.


"Habisnya, Lisa bingung, Kak, " jawab Lisa.


"Ya, sudah, kamu terima saja tambahan dariku, ya. Seperangkat perhiasan, " ujar Hisyam akhirnya. Tidak tega melihat Lisa tampak kebingungan. Lisa pun mengangguk kepalanya tanda setuju.


"Baiklah, jika hal itu tidak memberatkan Kakak."


"Insya Allah aku sanggup mengusahakannya. Kamu jangan bingung lagi, " jawab Hisyam meyakinkan.


Lisa kembali mengangguk kepalanya dan mengucapkan terima kasih.


Begitulah semua rencana telah dibicarakan hingga ke tataran teknis.


Bersambung 

__ADS_1


__ADS_2