
Di ruang tamu, para orang tua masih asyik berbincang ringan. Tak lama kemudian, Linda dan Wirawan mengajak semuanya untuk makan bersama sambil mengantarkan ke ruang tengah, tempat berbagai sajian dihidangkan secara prasmanan.
"Wah, Masya Allah, rajin betul kau, pagi-pagi sudah masak sebanyak ini, " puji Aini kepada Linda. Matanya tak lepas memandangi hidangan yang ada di meja makan dengan penuh minat.
Linda hanya tersenyum simpul.
"Iya, dong, kan mau menyambut tamu istimewa, " sahut Linda senang sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ayo, silakan dinikmati, jangan dilihatin saja, " ajak Linda.
Lalu, matanya beralih kepada Ira dan sahabatnya yang masih asyik bersenda gurau sambil menonton TV.
"Ira, ayo ajak teman-temanmu makan, " perintah Linda.
"Iya, Mi," jawab Ira.
Ira menuruti perintah Ummi Linda mengajak ketiga sahabatnya untuk ikut makan bersama.
Satu per satu mereka mengambil makanan yang diinginkan. Lalu duduk di kursi yang disediakan di dekat meja makan. Dengan segera mereka pun mengikuti Ira ke meja makan dan mengambil makanan yang telah terhidang yang sejak tadi memang mengundang selera mereka namun tidak berani untuk mendahului.
Setelah mengambil makanan, mereka kembali duduk di tempat tadi. Suasana makan siang ini memang dibuat santai supaya tidak terkesan kaku.
__ADS_1
Setelah selesai makan siang semuanya berkumpul di ruang tengah melanjutkan pembicaraan mengenai persiapan pernikahan Daffa dan Rima. Mengingat waktunya satu bulan lagi.
"Untuk surat kelengkapan administrasi untuk pernikahan sudah beres semua, " sahut Wirawan dan Ridwan.
Di tengah pembicaraan itu, Daffa bertanya kepada Rima, "Rima, kamu mau maharnya apa?"
"Hm, cincin saja, dan sebagai tambahannya, Rima mau Kakak membacakan surah dari Al Qur'an, yaitu surat Ar Rahman, salah satu surah favorit Rima. Itu saja, Kak," jawab Rima malu-malu, sambil menundukkan kepalanya, tidak berani menatap calon suaminya. Wajahnya terlihat merona.
"Oh, baiklah, Insya Allah saya sanggup, " jawab Daffa yang tidak kalah malu-malunya. Salah tingkah. Wajahnya pun merona.
Semua mata menatap kedua calon pengantin yang terlihat sama-sama salah tingkah dan memerah wajahnya. Lalu menahan senyum. Terutama Ira yang terbiasa melihat kakak sulungnya itu super jahil, rada pecicilan, tidak pernah bisa serius, jadi merasa lucu melihat tingkah malu-malunya saat ini.
'Ternyata A Daffa punya rasa malu juga', batin Ira geli.
"Kira-kira konsep pernikahan anak kita maunya seperti apa?" tanya Linda kepada Aini.
Sebelum menjawab, Aini menoleh menatap Rima dan Daffa, "Sebaiknya kita tanyakan saja kepada mereka."
"Oh iya, baiklah. Bagaimana menurut kalian?" tanya Linda sambil menatap kedua calon pengantin.
Daffa langsung menjawab, "Daffa sih untuk urusan teknisnya seperti apa lebih memilih menyerahkan kepada orang tua saja yang lebih paham dan berpengalaman. Yang pasti, kalau bisa maunya sih sederhana saja, tidak perlu berlebihan, dan Islami."
__ADS_1
"Maksud kamu?" tanya Linda yang masih belum bisa menangkap maksud putranya.
"Hm, maksudnya, Daffa maunya nanti tamu laki-laki dan perempuan terpisah. Maksudnya, untuk mengurangi interaksi dan campur baur antara laki-laki dan perempuan, " terang Daffa.
"Oh, begitu. Tapi gimana dengan para tamu yang tidak mengerti dengan konsep pernikahan seperti ini. Belum umum, kan?" tanya Linda kembali.
"Justru harus kita yang mencontohkan konsep walimahan yang Islami itu seperti apa. Karena kita penyelenggara, otomatis kita bertanggungjawab pula dengan proses jalannya acara pernikahan Daffa dan Rima. Jangan sampai acara yang begitu suci dan sakral di mata Allah jadi terkotori dengan hal yang mengundang maksiat. Nanti bisa diatur secara teknis bagaimana caranya memudahkan para tamu biar mereka tidak bingung."
"Berarti harus ada yang panitia laki-laki dan perempuan juga yang mengatur jalannya walimahan, dong?" tanya Linda lagi.
"Ya, kalau memang perlu, nanti Daffa akan minta bantuan teman-teman laki-laki untuk menjadi panitia juga, dan mungkin teman-teman Ira juga bisa membantu untuk mengarahkan para tamu. Jadi mereka tidak kebingungan," sahut Daffa.
"Baiklah, kalau itu mau kamu, Ummi sih mengikuti saja. Lagipula konsep seperti ini sudah pernah Ummi lihat di pernikahan teman-teman Ummi. Bagus kalau kamu punya pemikiran seperti itu, " jawab Linda. Aini pun mengangguk tanda setuju.
"Oh iya, gimana dengan kamu, Rima?" tanya Aini.
"Setuju sekali, sebenarnya maunya Rima juga seperti itu, " jawab Rima.
"Oke, baiklah, jika semua sepakat, " sahut Aini.
Selanjutnya, tinggal Ira dan ketiga sahabatnya yang ikut aktif. Karena ini merupakan agenda perdana mereka, menjadi WO dadakan dalam pernikahan kakak sulungnya, Daffa. Karena itu, semua rencana teknis dari mulai baju katering, dan lainnya dibicarakan dengan begitu antusias. Dan lebih detil.
__ADS_1
Ira yang telah merancang baju pengantin dan seragam dua keluarga juga mulai buka suara. Akan mulai dikerjakan besok setelah berbelanja semua bahan yang diperlukan. Begitupun urusan katering dibicarakan dengan lebih detil agar Rianti bisa lebih siap. Sementara Wulan dan Sania sesekali ikut memberikan ide.
Seluruh rencana dibicarakan hari itu agar semakin matang konsepnya. Intinya, semua perhatian fokus pada acara pernikahan Daffa dan Rima.