Romansa Putih Abu

Romansa Putih Abu
Bakti Sosial


__ADS_3

Hari ini ada kegiatan bakti sosial yang diadakan oleh SMA Cendekia. Sebelumnya telah dilakukan penggalangan dana untuk membantu korban bencana longsor yang menimpa warga di daerah pegunungan akibat curah hujan yang sangat tinggi yang tidak berhenti selama beberapa hari. Hasilnya, dibelanjakan berbagai kebutuhan yang dibutuhkan oleh warga sana. Wulan dan tim reportase ikut ke sana sambil meliput semua kegiatan. Mulai dari persiapan, saat belanja, sampai di lokasi. Ketiga sahabatnya, Rianti,Wulan, Ira, dan Sania juga ikut serta. Mereka juga ikut aktif menggalang dana bantuan.


Pagi-pagi sekitar jam 06.30 semua sudah berkumpul di sekolah, supaya sampai di sana tidak terlalu siang. Mengingat mereka harus menempuh perjalanan selama dua jam untuk sampai lokasi. Belum lagi ke dalamnya harus menggunakan motor khusus pegunungan.


Karena akses ke lokasi sangat sulit, membuat kendaraan beroda empat tidak bisa masuk, akhirnya mobil pun diparkirkan jauh dari lokasi, lalu dilanjutkan dengan naik motor khusus ke pegunungan yang memang disediakan disitu oleh tim ACT (Aksi Cepat Tanggap).



Wulan begitu terenyuh saat melihat kondisi di sekelilingnya begitu hancur, jalanan rusak parah, bahkan sampai retak. Membuat akses jalan menjadi lumpuh total. Belum lagi rumah-rumah warga, bangunan lainnya yang rusak parah. Ia ngeri membayangkan bagaimana dengan nasib para korban saat bencana itu terjadi. Pasti panik, takut, kaget, dan lainnya.


'Heran, bagaimana bisa di pegunungan terjadi longsor seperti ini? Apa yang salah? ' gumamnya tidak mengerti.


Semua yang dilihatnya sepanjang jalan diabadikan dengan menggunakan kamera yang sengaja dibawanya dari rumah. Sambil sesekali mencatat sesuatu yang dianggapnya penting sebagai bahan reportase nanti.



Setelah menempuh perjalanan satu jam, akhirnya mereka sampai di lokasi. Di sana terlihat para warga yang menjadi korban bencana sedang berkumpul. Di pojok-pojoknya terdapat tenda-tenda darurat untuk menampung warga. Ada juga yang dijadikan posko-posko, seperti tim kesehatan, tim logistik, sampai dapur umum.


Di tim logistik inilah semua bantuan dikumpulkan, untuk kemudian didistribusikan kepada warga yang membutuhkan. Semua relawan yang ada di situ tampak sigap membantu warga. Kebetulan sedang ada pemeriksaan kesehatan gratis, ada juga yang sibuk memasak di dapur umum untuk makan siang warga.



Wulan memperhatikan sekelilingnya termasuk para warga dengan hati tercekat karena iba, terenyuh. Bola matanya mulai terasa panas saat membayangkan bahwa di rumah ia masih bisa tidur nyenyak, namun warga di sini pasti sangat sulit untuk tidur. Mengingat mereka harus tinggal di tenda seadanya sebagai tempat berteduh sementara sampai kondisi aman terkendali. Dan belum ada yang berani kembali ke rumah mereka masing-masing, karena khawatir terjadi longsor susulan. Mengingat hujan masih saja turun tak kenal waktu. Ada juga sebagian warga telah kehilangan rumah mereka.


Air mata haru tidak mampu ditahannya merasakan kepedihan yang mereka rasakan. Dalam waktu sekejap mereka harus kehilangan banyak, seperti rumah, gedung sekolah juga hancur, membuat anak-anak tidak dapat belajar, belum lagi ada juga yang kehilangan anggota keluarganya. Semua itu diketahui saat mengobrol dengan beberapa warga yang didekatinya.


Namun di balik itu, ada juga hikmah lain. Ternyata disediakan juga posko-posko yang digunakan sebagai kegiatan belajar mengajar oleh guru-gurunya, dengan dibantu oleh para relawan yang tidak tega melihat anak-anak itu hanya bermain, atau bersedih, tanpa melakukan aktifitas apapun. Terutama dari para mahasiswa. Sekaligus menghibur mereka.


Wulan dan ketiga sahabatnya, Rianti, Ira, Wulan, dan Sania berkeliling melihat keadaan di sekitar. Hingga mereka melihat sekumpulan anak-anak seusia SD yang sedang duduk melingkar, mengelilingi seseorang sedang asyik mendengarkan pembicaraannya dengan antusias di salah satu posko. Segera saja ia berjalan mendekati mereka. Penasaran, ingin tahu apa yang sedang terjadi.


Rupanya mereka sedang menyimak dongeng yang disampaikan oleh orang itu dengan mimik wajah yang begitu ekspresif. Membuat anak-anak jadi terkesima memperhatikan setiap ekspresi yang ditunjukkannya. Beberapa kali pula terdengar suara gelak tawa mereka saat ada yang lucu. Semua itu dilakukan untuk menghibur anak-anak itu. Tiba-tiba hatinya jadi menghangat, hingga menariknya agar lebih mendekat. Ingin melihat mereka lebih dekat lagi.

__ADS_1



Wulan dan sahabat-sahabatnya begitu terkejut saat ia melihat orang yang sedang berdongeng itu ternyata Ikbal, kakak kelasnya yang dulu pernah menjadi pendamping kelas saat masa orientasi.


"Kak Ikbal!" seru mereka serempak.


Melihat ada yang sedang mendekat, Ikbal menghentikan sejenak aktifitasnya lalu menyapanya,


"Silakan duduk, Wulan, Rianti, Ira, Sania!" tegurnya seketika, membuat semua anak-anak jadi berpaling, menoleh ke arahnya yang memang berada di belakang mereka.


"Terima kasih, Kak, " Wulan sahut mereka. Ikut duduk bersama anak-anak.


"Oh iya, perkenalkan, ini teman Kakak. Adik kelas kakak di SMA. Itu yang pakai gamis coklat dan kerudung warna senada namanya Kak Wulan, yang berkacamata dan pakai gamis abu-abu dan kerudung hitam namanya Kak Rianti, yang pakai cadar itu namanya Kak Sania, dan yang pakai gamis warna biru dongker dan kerudungnya warna yang sama Kak Ira, namanya, " urai Ikbal memperkenalkan mereka yang baru bergabung.


Keempatnya mengucapkan salam, "Assalamualaikum, adik-adik, " sapanya sambil tersenyum.


Mereka menjawab salamnya serempak.


Semua anak masih saja memandanginya bahkan sampai ada yang memanggilnya, "Kakak-kakaknya cantik-cantik". Membuat mereka jadi tersipu malu, hingga wajahnya bersemu merah. Tanpa sadar, Ikbal pun ikut memandang mereka. Lupa menundukkan pandangannya lagi. Saat sadar, Ikbal langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Setelah selesai dengan dongengnya, akhirnya anak-anak itu dibiarkan bebas bermain. Wajah mereka tampak ceria, tidak lagi mendung. Wulan, Rianti, Ira, Sania, dan Ikbal memandangi mereka dengan hati lega. Keduanya akhirnya mengobrol.


"Kok, Kak Ikbal bisa ada di sini? Rasanya kita tidak berangkat bareng dari sekolah, kan? Soalnya dari tadi tidak melihat Kakak?" tanya Wulan.


"Aku memang sengaja datang ke sini langsung dari rumah, tidak ikutan kumpul di sekolah. Karena rumahku tidak terlalu jauh dari sini, " jawab Ikbal.


"Oh, begitu."


"Sepertinya Kakak terlihat akrab dengan anak-anak itu, ya?" tanya Rianti.


"Iya, aku memang sudah beberapa kali ke sini" gabung dengan relawan dari tim ACT." jawab Ikbal.

__ADS_1


"Wah, pantas. Hebat bisa gabung. Tidak disangka juga Kakak pandai berdongeng sampai mereka terhibur, " puji Wulan terkagum-kagum.


"Makasih, biar mereka terhibur lah. Di antara mereka ada yang sudah kehilangan salah satu orang tuanya, ada juga yang kehilangan semuanya. Sedih saja. Dalam sekejap mereka menjadi yatim atau piatu. Mudah-mudahan apa yang kulakukan tadi bisa sedikit mengurangi kesedihan mereka. Belum lagi rasa trauma yang harus mereka rasakan. Pastinya akan sangat membekas sampai kapanpun selama hidup mereka, " terang Ikbal sendu.


"Sudah lama Kakak bergabung dengan ACT?" tanya Ira.


"Belum lama, sih. Sejak mendengar tentang bencana longsor ini aku dan pemuda-pemudi yang terdekat sini tergerak ingin membantu. Padahal tadinya cuma mau melihat keadaan dari dekat. Kebetulan kami bertemu dengan tim ACT, akhirnya gabung deh dengan mereka, " Ikbal menjelaskan.


"Hebat, ternyata di zaman ini masih ada yang peduli kepada sesamanya, " puji Ira kagum.


"Jangan salah, sebenarnya masih banyak yang peduli, kok. Hanya saja mereka biasanya tidak mau diekspos karena ingin menjaga keikhlasan dalam beramal." ujar Ikbal.


"Oh iya, benar juga, " ujar Ira membenarkan.


Keduanya kembali memandangi anak-anak yang masih asyik bermain.


"Sebenarnya apa yang terjadi sih, Kak? Mengapa di pegunungan begini bisa terjadi banjir lalu longsor?" tanya Sania.


"Semua itu karena ulah tangan manusia sendiri, sih. Hutan-hutannya banyak yang ditebangi tapi lupa ditanam lagi, jadinya gundul. Belum lagi, mulai dibangun perumahan-perumahan yang membuat daya serap air berkurang. Dan di bawah gunung itu banyak juga mengandung tambang yang sudah dikeruk secara liar oleh warga sekitar selama bertahun-tahun. Bahkan jadi mata pencaharian mereka. Akhirnya, lama-lama jadi semakin rapuh, deh. Sekarang pengerukan liar itu sudah dilarang, namun sudah terlambat. Beginilah jadinya, " terang Ikbal.


Keempat bersahabat itu manggut-manggut menyimak penjelasan Ikbal.


"Oh, ternyata begitu, ya? Apa yang terjadi ini adalah hasil dari perbuatan liar manusia itu sendiri selama bertahun-tahun yang lalu. Dan baru dirasakan sekarang. Begitu, ya, Kak?" tanya Wulan.


"Ya, benar, " jawab Ikbal.


"Eh, ngomong-ngomong kalian tadi lagi ngapain?" tanya Ikbal sambil menoleh ke arahnya.


"Cuma keliling saja, pengen lihat keadaan. Teman-teman yang lain juga pada berpencar. Baru nanti berkumpul lagi menjelang shalat Zuhur. Eh, tidak sengaja aku melihat anak-anak yang lagi kumpul sambil tertawa. Akhirnya kami mendekat karena penasaran ingin tahu apa yang sedang terjadi. Ternyata Kakak lagi ngedongeng. Tidak disangka banget. Kakak pandai gitu, bisaan pasang mimik wajahnya. Baru lihat soalnya, " jawab Wulan sambil tersenyum geli, mengingat mimik wajahnya tadi saat berdongeng.


Ikbal ikut tersenyum, lalu menjawab,

__ADS_1


"Aku cuma ingin menghibur mereka, sejenak melupakan kesedihan yang baru saja menimpa mereka. Semoga bisa mengurangi rasa trauma yang mereka rasakan. "


Semua mengaminkan.


__ADS_2