Romansa Putih Abu

Romansa Putih Abu
Orderan


__ADS_3

"Oh iya, gimana kabar Umi dan Abi?" tanya Aini.


Dengan sedih Linda bercerita, "Umi sudah tidak ada tiga tahun lalu. Kalau Abi Alhamdulillah masih sehat, bugar meski usianya sudah di atas kepala 7. Masih rajin olahraga, jogging."


"Innailaihi wa innailaihi roji'un. Maaf, aku nggak tahu. Jadi membuat kamu sedih, ya? Aku ikut sedih, Umi itu sudah seperti orang tuaku juga, " Aini tampak sedih. Matanya tampak menerawang, mengingat kenangannya bersama umi Linda.


Masih lekat dalam ingatannya, wajah ramah dan lembut Ummi Linda, murah senyum, selalu senang menyambutnya, selalu memuliakan tamu dengan memberikan suguhan. Membuatnya merasa nyaman setiap kali main ke rumah Linda.


'Ah, sayang sekali aku tidak bisa melihatnya di saat terakhirnya, ' sesal Aini.


Akhirnya keduanya saling bertukar nomor ponsel masing-masing, biar tidak lost contact lagi. Lalu keduanya terus saja mengobrol saling bercerita tentang kehidupan masing-masing semenjak mereka berpisah. Setelah puas bernostalgia akhirnya Aini berpamitan pulang dan berjanji akan sering berkunjung. Begitu pula dengan Linda berjanji akan berkunjung juga ke rumah Aini.


Tak lupa ia membeli beberapa stel gamis dan kerudung hasil rancangan putri dari sahabat lamanya, Ira. Lengkap dengan bros yang terlihat begitu cantik di matanya.


****


Seminggu kemudian


Aini dan Rima datang berkunjung ke rumah Linda. Setelah mendengar cerita mamanya bahwa Ummi Ira dan mama Rima bersahabat sejak SMA, Rima jadi penasaran, ingin juga melihat toko keluarga Ira.


Ira yang sedang asyik merangkai bunga dikejutkan dengan suara seseorang yang tidak asing menyapanya.


"Assalamualaikum, Ira, " sapa Rima dan Aini berbarengan.


Mendengar sapaan itu, membuatnya sejenak menghentikan aktifitasnya dan menoleh kepada kedua orang itu. Setelah mengenali mereka Ira langsung tersenyum senang.


"Eh, Kak Rima, Tante Aini, wa'alaikumussalam," jawab Ira.


Rima tampak antusias melihat toko bunga yang tertata rapi. Membuat toko ini terlihat indah. Segar. Matanya terus beredar, tak ada yang luput dari pandangan matanya. Termasuk saat melihat baju-baju gamis, kerudung, dan aksesoris muslimah lainnya.


"Wah, tokomu indah sekali. Pantas kamu antusias sekali waktu mau ikutan unit Tata Busana, " puji Rima, takjub. Ira mengucapkan terima kasih.



Netra Rima melihat sebuah gaun pengantin yang berdiri begitu anggun, ia pun mendekatinya, "Eh, Ir, itu gaun pengantin rancangan perdana kamu dulu, kan?" tanya Rima.

__ADS_1


"Iya, Kak, tapi nggak ada rencana untuk dijual. Sayang saja, mengingatkanku saat pertama kali buat gaun ini. Lumayan jadi mood booster saat sedang tidak ada ide mau buat baju apa lagi, " terang Ira.


"Oh begitu, ya, " Rima cuma manggut-manggut mendengar alasannya.


Aini juga terlihat sedang asyik mengobrol dengan Linda. Keduanya tampak mendekati kedua putri mereka.


"Linda, kenalkan ini anakku, Rima, yang juga kakak kelasnya Ira, " Aini memperkenalkan Rima.


"Oh, jadi ini putrimu? Cantik, ya. Wajahnya perpaduan antara kalian berdua. Bentuk wajahnya seperti Kak Ridwan, tapi hidung, mata, dan kulit wajahnya sepertimu. Senang mengenalmu, Nak, " puji Linda, sambil mencium pipi kiri dan kanan Rima.


"Terima kasih, Tante. Rima juga senang bisa kenalan dengan Tante. Tidak disangka kalau ternyata mama dan Tante bersahabat sejak SMA, " jawab Rima sopan.


Saat sedang asyik mengobrol, tiba-tiba Daffa, kakak sulung Ira datang menghampiri Linda. Membuat semua mata menoleh ke arahnya.


"Mi, ponselnya dari tadi bunyi, nih. Takutnya ada yang penting. Kok, ditinggal gitu aja, sih. Ini dari Tante Ratih, tinggal terima saja," tegur Daffa sambil menyerahkan ponsel yang masih berbunyi.


"Oh iya, Ummi lupa, makasih sayang," jawab Linda sambil meraih ponsel dari tangan Daffa.


"Sebentar, ya, aku mau terima panggilan ini dulu, " pamit Linda. Aini cuma mengangguk.


Sedangkan Daffa kembali lagi masuk ke dalam rumah. Melanjutkan pekerjaannya di depan laptopnya.


'Assalamualaikum, Bu Linda, apa kabar? Saya Ratih, ' sapa orang di seberang lebih dulu.


'Wa'alaikumussalam, oh Bu Ratih. Maaf saya baru angkat, kebetulan tadi ponselnya tertinggal di kamar saya, sedangkan saya lagi di toko, " jawab Linda, merasa tidak enak hati.


'Oh gitu, tidak apa-apa, Bu. Saya maklum, " jawab wanita yang ternyata bernama Ratih.


'Oh, iya, ada yang bisa saya bantu?' tanya Linda.


'Begini, Bu. Bulan depan putri saya yang sulung mau menikah. Rencananya mau minta bantuan ibu mendekorasi gedung tempat dilangsungkannya pernikahan. Konsepnya semi taman gitu. Tapi maunya dengan bunga-bunga asli dan segar, seperti yang ada di toko ibu. Untuk lebih lengkapnya, Insya Allah besok saya mau ke sana bersama putri saya. Biar dia juga ikut memilih. Gimana, Bu. Bisakah?' terang Ratih.


'Oh begitu, Insya Allah saya bisa. Baiklah besok saya tunggu, ' jawab Linda dengan senang.


'Alhamdulillah, terima kasih, ya, ' jawab Ratih terdengar senang.

__ADS_1


'Sama-sama, Bu. Dan selamat untuk putri Ibu. Semoga dimudahkan dan dilancarkan sampai hari pernikahan, ' doa Ratih, merasa ikut senang.


'Aamiin. Baiklah, telponnya saya tutup, ya. Besok kita lanjutkan lagi. Assalamualaikum, ' pamit Ratih. Setelah mendengar jawaban salam, Ratih menutup ponselnya terlebih dahulu.


Setelah itu, Linda kembali menemui Aini. Rima dan Ira juga terlihat masih mengobrol sambil mengamati Ira yang sedang asyik merangkai bunga. Beberapa yang sudah selesai dirangkai disusun di tempatnya dengan rapi oleh dua orang pelayan toko.


"Maaf kelamaan, ya, " terang Linda kepada Aini.


"Nggak apa-apa, biasa saja, kali, " jawab Aini.


Seolah teringat sesuatu, Aini bertanya,


"Oh iya, Lin, anak laki-laki tadi siapa? Yang mengantarkan ponselmu?" tanya Aini.


"Oh, itu putra sulungku, kakaknya Ira. Namanya Daffa. Sudah kuliah dia, hampir selesai, " jawab Linda.


"Oh gitu, jadi berapa anakmu?" tanya Aini.


"Tiga, yang pertama Daffa, kedua Ira, dan yang bungsu juga laki-laki, masih SD kelas empat. Namanya Raihan, " jawab Linda.


"Loh, anakmu sudah ada yang kuliah, terus kamu kapan nikahnya?" tanya Aini heran.


"Pas lulus SMA. Tapi tetap lanjutkan kuliah sampai lulus, kok. Suamiku tidak melarang, " jawab Linda.


"Oh, pantes. Wah, berarti Ira perempuan sendiri, dong. Pasti rame di rumah. Kalau anakku cuma satu, ya Rima itu, " seru Aini.


"Ya, Alhamdulillah, " jawab Linda.


"Sebentar, aku panggil dulu anak-anakku, ya, " pamit Linda sambil melangkah masuk ke dalam rumah, memanggil Daffa dan Raihan.


Tak lama kemudian, Linda kembali lagi bersama kedua putranya.


"Nah, ini anak-anakku. Daffa, Raihan, ini sahabat Ummi waktu SMA. Baru ketemu lagi sekarang, setelah Ummi lulus SMA. Namanya Tante Aini, " Linda memperkenalkan Aini kepada kedua putranya.


Daffa tersenyum sopan sambil menangkupkan kedua tangannya, tanda bersalaman jauh. Aini pun mengikuti gerakan Daffa. Sedangkan Raihan mendekati Aini, sambil mencium punggung tangan Aini dengan takzim.

__ADS_1


Lalu, Aini pun memperkenalkan putrinya, Rima.


Daffa dan Rima melakukan gerakan seperti tadi, saling menangkupkan tangan, bersalaman jarak jauh. Sedangkan Raihan mencium punggung tangan Rima, seperti yang dilakukannya kepada Aini tadi. Dipikir, karena Raihan masih kecil, jadi Rima tanpa ragu menyambutnya, sambil mengelus kepalanya dengan lembut.


__ADS_2