
Tiga Bulan Kemudian
Ira sedang asyik merangkai bunga di toko bunga milik keluarganya, dibantu oleh dua orang karyawan umminya. Kebetulan bunga-bunga itu baru saja datang. Ada bunga tulib, mawar, anggrek, dan lainnya. Merangkai bunga memang salah satu kesukaan Ira. Baginya, melihat bunga-bunga itu selalu menyenangkan, sejuk pula dipandang mata. Lihat saja, saat merangkai bunga matanya tampak berbinar. Takjub.
Setelah semua selesai, mereka menata kembali rangkaian bunga itu dengan rapi. Di sana juga terdapat koleksi karya Ira, yaitu baju-baju hasil rancangannya di sekolah. Ada baju pengantin muslimah, gamis pesta, gamis untuk bekerja, sampai gamis untuk harian. Semuanya digantung rapi dengan dilapisi plastik pembungkus.
Ditambah lagi kerudung yang cantik-cantik, sampai perlengkapan muslimah, seperti kaos kaki, hand shock, ciput atau dalaman kerudung, lengkap dengan aksesoris seperti bros berbahan dasar kain perca. Semuanya hasil karyanya sendiri.
Jadi, kini toko bunga itu telah bertambah juga menjadi butik sederhana, sebagaimana impiannya. Jadi, saat ada pengunjung, mereka juga melihat-lihat baju-baju itu. Ada juga yang tertarik membelinya. Jiwa seninya memang mengalir dari umminya yang juga pandai menjahit. Sejak kecil dia hampir tidak pernah membeli baju. Selalu saja dijahitkan olehnya.
Seperti hari ini, ada seorang wanita, kira-kira seusia Umminya datang ke toko. Dia tampak tertarik melihat baju-baju yang tergantung rapi.
"Ehm, Mbak ini bajunya cantik-cantik sekali. Dijual kah? " puji wanita itu.
"Oh, iya terima kasih, Tante. Memang untuk dijual, kecuali gaun pengantin itu. Silakan dilihat-lihat dulu, " jawab Ira sambil menunjuk gaun pengantin yang digantung secara terpisah.
Matanya tampak antusias dan tertarik melihat gaun pengantin itu. Diperhatikan secara detil.
"Sayang sekali, kenapa tidak dijual?" tanya wanita itu.
"Iya, Tante, untuk kenang-kenangan karena itu busana rancangan perdana saya, " jawab Ira sopan.
"Oh begitu, terus baju-baju yang lainnya hasil rancangan kamu juga?" tanyanya lagi.
"Iya, Tante, hasil belajar saya di sekolah, " jawab Ira.
"Wah hebat, masih muda banget kamu, sudah bisa merancang baju. Memangnya kamu sekolah di mana?" tanya wanita itu lagi.
"Emh, di SMA Cendekia, " jawab Ira.
"Oh ya, sama kalau begitu dengan anak Tante. Kelas berapa kamu?" tanyanya lagi.
"Ehm, kelas satu, siapa nama anak Tante, mungkin saya kenal?" tanya Ira.
"Anak Tante itu kakak kelas kamu, karena dia sudah kelas tiga. Namanya Rima Susanti, kamu kenal?" terang wanita itu.
'Apa jangan-jangan nama orang yang kukenal, ya?' tanyanya dalam hati.
"Tante, apa anak Tante itu aktif di unit Tata Busana?" tanya Ira penasaran.
"Iya, dia pernah jadi Ketua Koordinatornya, " jawab wanita itu.
"Wah, tidak salah lagi, pasti Kak Rima, " soraknya senang.
"Sepertinya saya mengenal anak Tante, deh. Kenal baik malah. Dia senior saya di Tata Busana juga. Saya cukup dekat dengannya. Tapi saya tidak tahu kalau Tante itu mamanya Kak Rima, " seru Ira.
"Oh iya, siapa namamu?" tanya wanita itu.
Baru saja Ira hendak membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan wanita itu, tiba-tiba Linda, umminya menghampiri keduanya.
"Wah, ternyata ada yang sedang ngobrol, nih, " tegur Linda, membuat keduanya menoleh ke arahnya.
Sejenak Linda dan wanita itu tampak bersitatap, seperti saling mengenal. Lalu tanpa sadar saling menunjuk,
__ADS_1
"Linda...?" tebak wanita itu.
"Aini...?" Linda balas menebak.
Lalu keduanya berhambur saling berpelukan.
"Masya Allah, lama sekali kita tidak bertemu, ya. Sejak lulus SMA kita jadi pisah dan lost kontak." tanya Linda antusias, setelah melepas pelukannya tapi masih saling menatap.
"Oh iya, ini anakku kedua, namanya Ira. Dan Ira, ini Tante Aini, sahabat Ummi dari zaman SMA, tapi sudah lama pisah selepas lulus SMA, " Linda mengajak mereka berkenalan.
"Salam kenal, Tante, " sapa Ira sopan.
"Sama-sama, Nak," jawabnya senang sambil mengelus pipinya.
"Ternyata ini rumahmu, ya? Ada tokonya juga Kebetulan tadi aku lewat, ada toko bunga. Jadinya, aku mampir ke sini. Eh, ternyata kamu pemilik rumah dan toko ini, toh? Nggak nyangka, " tanya Aini.
"Iya, ayo duduk. Biar santai ngobrolnya, " jawab Linda, lalu mengajaknya duduk di kursi dekat yang ada di belakang mereka.
Keduanya langsung duduk di situ.
"Oh iya, Ira tolong buatkan minuman dan cemilan untuk Tante Aini, ya, " titah Linda.
"Iya, Mi. Sebentar, " jawab Ira.
Segera saja Ira membuatkan teh manis untuk dua orang lengkap dengan camilannya. Tak lama kemudian kembali lagi dengan membawa suguhan itu, dan meletakkannya di atas meja di depan kursi.
"Silakan diminum, Tante, Ira mau lanjutkan kerjaan dulu, ya, " Ira mempersilakan sambil pamit.
"Terima kasih, sayang. Kamu baik dan cantik, deh," puji Aini, membuatnya jadi tersipu malu.
Ira bergegas melanjutkan pekerjaannya merangkai bunga.
"Gimana kabarmu? Kemana saja kamu selama ini?" tanya Ira ingin tahu.
Aini menjelaskan,
"Setelah lulus, aku memilih kuliah di kota Yogyakarta. Baru kembali lagi ke kota ini setelah lulus kuliah dan langsung dapat jodoh Kamu tahu siapa suamiku? Dia kakak kelas kita, namanya Kak Ridwan, kamu masih ingat, kan? " jelasnya.
"Oh Masya Allah, kok bisa. Bukannya dulu kalian sudah kaya musuh bebuyutan, berantem melulu? " Linda mencoba mengingat-ingat.
Keduanya jadi sama-sama larut dalam kenangan masa lalu. Mengenang kembali masa-masa SMA dulu.
Flashback On
Linda dan Aini bersahabat dekat sejak pertama kali masuk SMA. Bahkan duduknya pun selalu sebangku. Kebetulan dari kelas satu sampai tiga keduanya selalu sekelas. Semua itu membuat keduanya makin dekat, begitu pun dengan keluarga masing-masing. Kadang Linda suka menginap di rumah Aini jika orang tuanya itu sedang pergi keluar kota untuk menemaninya. Atau saat weekend. Atau sebaliknya, Aini juga sering menginap di rumah Linda. Aini adalah anak tunggal.
Kedekatan mereka akhirnya menular kepada orang tua. Linda memanggil ibu Aini dengan panggilan Bunda, sedangkan Aini memanggil ibu Linda dengan Ummi.
Masih teringat, sejak kelas satu SMA ada seorang kakak kelas mereka yang bernama Ridwan yang selalu mengganggu Aini. Membuat Aini sering kesal, kadang hampir menangis karena kejahilannya. Namun Ridwan terus saja menggodanya. Tidak ada kapoknya.
Hingga akhirnya Ridwan yang sudah kelas 3 SMA lulus, dan melanjutkan kuliah di kota Jakarta, mengikuti kedua ayahnya yang mutasi ke ibu kota itu. Setelah itu, keduanya terpisah. Aini pun merasa aman dari gangguan Ridwan.
Keduanya kembali bertemu saat kuliah di tempat yang sama. Kebetulan Ridwan sudah menjadi asisten dosen, sering menggantikan dosen utamanya untuk mengajar jika berhalangan hadir. Dan cita-cita Ridwan memang ingin menjadi dosen. Menjadi asisten dosen adalah sebagai batu loncatan sebelum menjadi dosen.
Namun sikap Ridwan tidak lagi jahil seperti dulu. Dia lebih sering jaim di depan adik-adik juniornya, terutama di depan Aini. Supaya wibawanya tidak jatuh. Aini pun tetap aman dari gangguannya.
Namun, menjelang kelulusan, Ridwan mendekatinya,
__ADS_1
"Aini, tunggu, bisa bicara sebentar?" tanya Ridwan sambil mengatur napasnya karena habis berlarian mengejar Aini yang hampir keluar gerbang kampus, berniat pulang ke rumahnya.
"Oh, boleh, Kak. Ada ada, ya?" jawab Aini, sambil menatap wajahnya.
"Ehm, eh, duh itu, anu..." Ridwan tampak gugup dan salah tingkah di depan Aini yang sedang menatapnya heran. Karena tidak pernah melihatnya sekikuk itu di depannya. Apalagi kalau ingat kejahilannya dulu. Jantung Ridwan jadi berdebar-debar kencang tidak karuan.
"Ada apa, sih, Kak? Kok jadi gugup gitu?" tanya Aini.
Setelah berhasil menenangkan diri, akhirnya Ridwan melanjutkan ucapannya, meski wajahnya masih terlihat bersemu merah karena malu, "Ehm, maaf jika ini mendadak. Tapi aku sangat ingin mengatakannya. Ehm, tapi sebelumnya aku mau tanya, apa kamu sudah punya calon?"
"Calon? Calon apa, ya?" tanya Aini balik, masih belum mengerti dengan arah pembicaraan kakak kelasnya itu.
"Ma Maksudnya, calon suami?" jawab Ridwan, masih tampak semakin gugup dan wajahnya semakin memerah, bercampur aduk antara malu dan takut jika Aini sudah punya calon suami.
"Oh itu, Aini belum kepikiran untuk menikah, Kak. Calon pun memang belum ada," jawab Aini.
Ridwan tampak manggut-manggut.
"Ada apa, Kok Kak Ridwan tanya-tanya tentang itu?" tanya Aini lagi.
"Ehm, begini, maafkan jika ini terlalu mendadak. Kalau memang Aini belum ada calon, aku ingin melamar kamu. Sebentar lagi aku lulus, tinggal wisuda saja bulan depan. Setelah itu, aku mau melamar jadi dosen di kampus ini sambil melanjutkan kuliah S2. Alhamdulillah dapat beasiswa. Tapi sebelum itu, aku ingin menikah dulu dengan kamu," terang Ridwan.
Aini tampak terkejut dengan lamaran dadakan itu. Sama sekali tidak disangka. Aini terdiam cukup lama.
Akhirnya, Aini menjawab, "Aku minta waktu untuk berpikir dulu, ya, Kak. Maaf, ini terlalu mendadak."
"Baiklah, silakan dipikirkan baik-baik. Aku menunggu kabar baik dari kamu, " jawab Ridwan.
Lalu keduanya terpisah.
Melihat reaksi Aini tadi, Ridwan merasa tiba-tiba merasa takut ditolak. Apalagi ketika mengingat tingkahnya dulu yang sering menjahilinya. Padahal dia seperti itu karena ingin mencari perhatian Aini yang telah mencuri perhatian dan hatinya sejak pertama kali melihatnya. Ridwan memang telah merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya pada seorang wanita. Ya, Aini adalah cinta pertamanya.
Sejak mereka terpisah, Ridwan tidak pernah melupakan Aini. Hingga takdir mempertemukan mereka kembali di kampus ini. Saat pertama melihatnya lagi, tentu saja Ridwan merasa bahagia. Namun ia merubah sikapnya, tidak konyol, tidak jahil lagi. Diganti dengan menjadi asisten dosen yang cukup tegas, malah terkesan killer, namun tetap berwibawa.
Seminggu kemudian, Ridwan kembali menemui Aini untuk meminta jawaban. Melihat usahanya, akhirnya Aini menantang Ridwan untuk menemui ayahnya untuk melamarnya langsung. Ridwan pun memenuhi tantangan itu. Keesokan harinya dia berkunjung ke rumah Aini, menemui orang tuanya dan melamarnya secara pribadi.
Melihat kesungguhannya, akhirnya Aini menerimanya. Namun, orang tuanya meminta agar ditunda dulu sampai Aini lulus kuliah, tinggal dua tahun lagi. Ridwan pun menyanggupinya. Mencoba memaklumi permintaan kedua orang tuanya.
Selama masa khitbah, keduanya tetap menjaga interaksi antar keduanya. Karena sama-sama telah paham tentang batasan interaksi antar laki-laki dan perempuan. Meski keduanya telah berjanji akan menikah setelah Aini lulus kuliah. Mereka bersikap seperti biasa layaknya asisten dosen dan mahasiswa. Atau senior dengan juniornya.
Dua tahun kemudian, tidak lama setelah Aini diwisuda, Ridwan dan orang tuanya datang melamar secara resmi kembali. Mereka datang mengunjungi rumah orang tua Aini. Akhirnya diputuskan bulan depannya mereka menikah.
Flashback Off
"Oh, jadi begitu ceritanya. Tidak sangka, ya. Akhirnya kamu menikah juga dengan Kak Ridwan. Mau juga nungguin sampai dua tahun gitu, " Linda menanggapi ceritanya.
"Jangankan kamu, aku sendiri juga tidak menyangka kalau Kak Ridwan akan menjadi suamiku sekarang. Pas sudah nikah, baru tahu kalau dulu dia jahil begitu sebenarnya cuma ingin dekat saja, cari perhatian, sudah suka dari dulu, katanya. Hadeuh, ada-ada saja, ya. Tidak ada yang menyangka jodoh kita itu siapa. Kalau diingat lagi lucu saja rasanya. Dan ternyata siapa sangka kalau anakmu juga kenal dekat sama anakku, loh, " ujar Aini.
"Oh ya, anakmu sekolah di SMA Cendekia juga?" tanya Linda.
"Tapi, anakku sudah kelas tiga sekarang. Tadi sempat ngobrol, katanya anak kita saling kenal sama-sama aktif di unit Tata Busana. Kepintarannya menjahit pasti menurun dari kamu dan Umi, ya? Baju-bajunya bagus-bagus, " urai Aini.
"Wah, ternyata dunia ini sempit, ya. Selama ini kita dekat tapi sama-sama tidak tahu, " ujar Linda.
"Oh iya, gimana kabar Umi dan Abi?" tanya Aini.
Dengan sedih Linda bercerita, "Umi sudah tiada tiga tahun lalu. Kalau Abi Alhamdulillah masih sehat, bugar meski usianya sudah di atas kepala 7. Masih rajin olahraga, jogging."
__ADS_1
"Innailaihi wa innailaihi roji'un. Oh maaf, aku tidak tahu. Aku jadi membuat kamu sedih, ya? Aku ikut sedih, Umi itu sudah seperti orang tuaku juga, " Aini tampak sedih. Matanya tampak menerawang, mengingat kenangannya bersama Umminya Linda.
Akhirnya keduanya saling bertukar nomor ponsel masing-masing, biar tidak lost contact lagi. Sejak itu, keduanya kembali dekat seperti dulu.