
Kini usia pernikahan Daffa dan Rima telah menginjak enam bulan. Meski disibukkan dengan urusan kuliah masing-masing keduanya selalu mencari waktu untuk mereka berdua. Daffa saat ini sedang menyusun skripsinya, berharap tahun ini juga bisa segera lulus kuliah. Setelah lulus berencana fokus dulu membangun bisnis kecil-kecilan yang telah dirintis sejak dua tahun lalu bersama seempat sahabatnya, Abrar, Faisal, Fikri, dan Thoriq sejak masa SMA sampai kuliah. Yang kini mulai terlihat berkembang. Mereka juga sudah memiliki kantor sendiri meski tidak terlalu besar, namun cukup menampung banyak orang.
Sejak memiliki kantor, perusahaan yang bergerak di bidang teknologi IT itu mulai terlihat geliatnya. Selalu menciptakan terobosan baru yang cukup diminati dan diperhitungkan. Beberapa elemen, baik dari perusahaan milik swasta maupun pemerintah telah melakukan hubungan kerjasama dengan perusahaan yang diberi nama Creative Technological Industry atau disingkat CTI itu.
Selain membuat berbagai aplikasi alternatif yang dibutuhkan oleh masyarakat. Perusahaan ini juga menerima permintaan agar dibuatkan sebuah aplikasi yang mereka butuhkan. Untuk memudahkan pekerjaan mereka. Dan dibayar dengan harga yang cukup fantastis. Dan mereka merasa puas dengan hasilnya. Dari hasil usaha itulah mereka mulai memutuskan untuk memiliki kantor sendiri saat mulai banyak permintaan dari para klain. Agar pekerjaan mereka lebih fokus. Selama ini, aktivitas mereka lebih banyak dilakukan di rumah Daffa.
Saat ini, Daffa sebagai CEO sedang memimpin rapat.
"Kita telah merancang suatu sistem teknologi canggih untuk rumah sakit-rumah sakit. Tinggal tahap finishing dan penyempurnaan. Seperti pendataan pasien beserta rekam mediknya, sehingga memudahkan untuk mencari data pasien. Terus data obat-obatan dan berbagai fasilitas yang diperlukan untuk rumah sakit itu, sampai masalah sistem keuangan, semua ada dalam satu aplikasi. Jadi tidak perlu lagi pendataan dengan berlembar-lembar kertas. Yang suatu saat bisa saja jadi usang, rusak, bahkan hilang. Sayang, kan?"
"Sekarang ini memang sudah zamannya semua lini kehidupan melek teknologi. Kita akan membantu rumah sakit-rumah sakit itu agar berbasis teknologi. Tentu saja, akan ada sosialisasi dan pelatihan tentang tatacara penggunaannya sebelum mereka menggunakannya sendiri, " tutur Daffa.
"Semoga aplikasi kita ini dapat diterima oleh tim medis dan tentunya dapat lebih memudahkan dalam menjalankan tugasnya, " harap Daffa, mengakhiri presentasinya. Semua yang hadir mengaminkan.
"Bagaimana, ada masukan tidak, setelah ini apa yang akan kita lakukan, terutama mengenai strategi pemasarannya. Target awal kita mau ditujukan ke rumah sakit mana dulu?" tanya Daffa sambil menatap keempat sahabat sekaligus rekan kerjanya satu per satu.
Abrar yang menjabat sebagai wakil CEO terlihat mengacungkan tangan kanannya. Daffa pun mempersilakan.
"Begini, Daf, sebaiknya kita mulai dari rumah sakit besar di kota ini dulu, sebagai bahan percontohan untuk rumah sakit lainnya. Minimal pilih lima dulu, lah. Kalau aplikasi ini sukses dan dianggap efektif membantu pekerjaan mereka pasti yang lainnya pun akan mengikuti. Dan tidak tertutup kemungkinan rumah sakit di kota-kota lain juga akan tertarik menggunakan aplikasi kita. Peluang kita ke depan sangat besar cakupannya, " ujar Abrar memaparkan gagasan yang ada di otaknya.
Daffa manggut-manggut mendengar pemaparan dari sahabatnya itu.
"Begitu, ya? Menurutmu rumah sakit mana yang akan kita bidik lebih dulu?" tanya Daffa lagi lebih detil.
"Ya, misalnya RSUD, Rumah Sakit Medical Center, Rumah Sakit ABRI atau AURI, Rumah Sakit Pertamina, RSIA, Rumah Sakit Harapan Kita. Atau yang lainnya. Mulai dari sekarang harus kita pikirkan. Prioritaskan lima saja dulu, " ujar Abrar.
"Oke, bagus juga ide kamu, " puji Daffa sambil menepuk-nepuk punggung Abrar yang duduk di sebelah kanannya.
"Daf, aku setuju dengan yang dikatakan oleh Abrar. Hanya saja, menurutku jangan cuma menargetkan rumah sakit besar saja, tidak ada salahnya kita juga menawarkan ke puskesmas-puskesmas, misalnya. Mereka juga pasti tertarik. Maksudnya biar aplikasi kita bisa menjangkau segala lapisan masyarakat, lebih tersebar lebih luas lagi, dan yang terpenting lebih terasa manfaatnya, " ujar Faisal.
"Rumah sakit kecil mana yang akan kita bidik, menurutmu, Cal" tanya Daffa.
__ADS_1
"Misal, Puskesmas Daerah, bisa juga dijadikan program percontohan, " sahut Faisal.
"Baiklah, bisa juga, sih. Bagaimana kalau kita sebar dulu ke tiga rumah sakit besar dan dua rumah sakit kecil atau puskesmas di kota ini? Cuma mungkin untuk ke rumah sakit kecil atau puskesmas kita tidak bisa memasang harga yang terlampau tinggi. Jangan sampai di luar kemampuan mereka. Dengan demikian Abrar dan Faisal bisa saling bahu-membahu dalam hal pemasaran. Anggap saja sebagai promo. Ini sesuai bidang kalian selama ini, bukan? Bagaimana menurut kalian?" Daffa akhirnya menengahi perdebatan antara Abrar dan Faisal. Semua menggangguk tanda setuju dengan keputusan Daffa.
"Baik, ada usulan lainnya? Fikri, Thariq?" panggil Daffa sambil menatap kedua sahabatnya yang belum mengeluarkan pendapat mereka.
"Kalau tentang strategi pemasaran aku setuju dengan pendapat Abrar dan Faisal. Sepertinya kita juga perlu tim khusus yang tugasnya memberikan pelatihan saat akan meluncurkan aplikasi kita, " usul Fikri.
"Benar juga. Ini bisa jadi tugasmu sebagai tim ahli teknisi. Silakan kamu pilih orang-orang yang bisa membantumu, " titah Daffa menanggapi usulannya.
"Gimana, ada lagi? Thor?" tanya Daffa.
"Aku rasa sudah cukup. Saya ikut saja, " jawab Thoriq.
"Jangan begitulah, Thor, kita juga butuh mempertimbangkan hasil pemikiran kamu juga. Kita kan sejak awal melakukan ini bersama-sama. Biar ke depannya sama-sama enak, " ujar Daffa.
"Bukan begitu, maksudnya usulan-usulan kalian sudah mewakili hasil pikiranku. Jadi, aku setuju sekali, " bantah Thoriq merasa tidak enak hati.
"Oh, begitu. Beneran tidak ada usulan lain?" tanya Daffa lagi, ingin menekankan.
"Oke, kalau tidak ada usulan lain. Kita tinggal menunggu finishingnya rampung, " ujar Daffa.
"Baik, kalau tidak ada yang mau dibicarakan lagi kita sudahi dulu rapat kita hari ini. Diharapkan semuanya telah rampung di akhir bulan ini. Biar bulan depan kita bisa mulai bekerja keras. Oke?" Daffa mengakhiri rapat hari ini.
Semuanya mengganggukkan kepalanya.
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumussalam."
Daffa terlihat bergegas membereskan berkas-berkas yang ada di meja, tepat di hadapannya untuk di bawa ke ruangannya. Melihat itu, Abrar menegurnya, "Kamu mau ke mana, Daf. Kok, kayanya buru-buru gitu?"
"Mau jemput istriku di rumah, " jawab Daffa.
__ADS_1
"Wah, wah, beda yang sudah punya istri, ya. Maunya cepat-cepat pulang, " seru Fikri yang ikut mendengarkan pembicaraan mereka.
Daffa hanya tersenyum, "Nanti juga kamu akan merasakannya, Fik. Makanya kalian cepat cari jodoh. Ternyata menikah itu indah, loh. Ada yang perhatikan kita, melayani, ada yang menunggu kepulangan kita di rumah, plus sayang-sayang kita. Jadi nyesal, " sahut Daffa.
"Nyesal kenapa, Daf?" tanya Thoriq penasaran.
"Ya, menyesal kenapa nggak dari dulu saja menikahnya. Kalau tahu menikah itu indah dan menyenangkan, " jawab Daffa membuat Fikri menonjok lengannya pelan.
"Kau jangan bikin kami iri, dong. Jadi pengen nikah juga, " protes Thoriq.
"Mulailah dari sekarang kalian mencari jodoh, " ujar Daffa.
"Tadi pagi janji mau antar istri ke rumah sakit, " terang Daffa.
"Memangnya kenapa istrimu? Sakit?" tanya Abrar, penasaran.
"Tidak tahu, mau periksa saja. Dari kemarin mengeluh tidak enak badan, makan juga kelihatannya kurang *****. Maunya tiduran terus di kamar. Hari ini aku sudah melarangnya untuk pergi kuliah. Makanya mau periksa dulu, takutnya kenapa-kenapa. Semoga sih tidak, cuma kelelahan, " Daffa menjelaskan.
"Oke, baiklah, semoga memang tidak ada apa-apa, " sahut Abrar.
"Memangnya siapa yang membuat istrimu kelelahan?" Faisal tidak tahan ingin menggoda Daffa.
Mendengar itu, Daffa hanya menahan tawanya. Tapi tidak menjawab godaan dari sahabatnya itu.
"Eh, sebentar, katamu tadi istrimu mengeluh kurang enak badan, terus ***** makan berkurang, dan seperti lemas maunya tiduran di kamar. Apa mungkin istrimu sedang hamil?" tanya Abrar seperti mengingatkan.
"Apa betul begitu? Memang gejalanya seperti itu, ya, Brar?" tanya Daffa balik.
"Ya, gejalanya sama seperti kakakku yang lagi hamil juga, dua bulan lagi mau melahirkan. Coba saja periksa ke dokter kandungan, " terang Abrar.
"Oke, akan kucoba bawa ke sana. Sebenarnya kecurigaanmu itu sama dengan Ummi, semoga saja benar. Memang rencananya mau periksa ke dokter kandungan. Aku cabut dulu, ya. Kalau tidak ada apa-apa, nanti siang aku kembali lagi ke kantor, setelah jam makan siang. Assalamualaikum, " pamit Daffa kepada semuanya, dan mengaminkan doa Daffa.
"Wa'alaikumussalam, " jawab mereka serempak.
__ADS_1
Segera saja, Daffa melangkah keluar dari ruang rapat menuju keluar kantor. Kemudian melarikan mobilnya menuju rumahnya.