
Sania dan sahabatnya telah sampai di Villa dan sedang duduk bersantai di taman dekat kolam renang. Mereka sedang memperbincangkan kejadian yang baru saja terjadi.
"Salut aku sama kamu, Rianti. Bisa mengalahkan ketua geng motor itu, dan menyadarkan mereka. Selama ini tidak ada yang berani melawan mereka, loh, " puji Rina atas apa yang dilakukan oleh Rianti tadi. Terutama saat melihat bagaimana gadis itu membanting tubuh laki-laki itu dengan mudah dan cepat. Yang lain pun tengah menatap Rianti.
"Tadi itu aku lepas kendali, tidak sadar melakukan itu. Kaget sendiri sebenarnya. Habisnya dia duluan yang mulai. Tidak suka rasanya melihat dia melecehkan kita. Kalau cuma mengganggu, menghalangi jalan kita tidak terlalu bermasalah. Tapi kalau sudah melecehkan dan kurang ajar begitu tentu harus dilawan. Aku begitu emosi tadi sampai membanting dia seperti itu. Padahal maksudnya tadi ingin memberi pelajaran supaya tidak seenaknya terus, " ujar Rianti.
"Memangnya Handi itu siapa, sih? Kok segitu berkuasanya? Sampai tidak ada yang berani menegur atau melawannya setiap berbuat onar?" tanya Rianti, penasaran. Sambil menoleh menatap Rina. Yang lain pun ikut menatapnya, ikut penasaran. Rina pun akhirnya menceritakan kisah kelam Handi.
"Handi itu adalah putra dari salah satu tokoh terkenal dan terkaya di desa tetangga. Namanya Bondan, begitu kami sering memanggilnya. Bapaknya seorang pengusaha sukses di kota. Entah usahanya apa hingga sesukses dan sekaya itu. Karena usahanya banyak di Jakarta, Bapaknya jarang pulang ke rumah. Sebulan paling dua kali pulangnya. Kadang tidak pulang dalam sebulan. Pernah juga sampai dua bulan lebih."
"Ibunya memilih bercerai karena tidak tahan menjalani hubungan jarak jauh dengan suaminya. kurang lebih sepuluh tahun yang lalu kejadiannya. Saat itu Handi masih kecil, berusia sekitar lima tahunan. Sekolah di TK yang sama denganku, bahkan sekelas denganku."
"Oh, jadi kamu dulu pernah sekolah di TK yang sama dengan Handi? Pantesan kamu tahu betul tentang kisah hidupnya, " tanya Wulan. Rina mengangguk, membenarkan. Lalu melanjutkan ceritanya.
__ADS_1
"Kabarnya, ibunya sudah menikah lagi dengan laki-laki lain dan tinggal di luar kota mengikuti suami barunya. Entah di mana. Tanpa membawa Handi yang masih sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang seorang ibu.
"Sekarang Handi hanya tinggal dengan nenek dan kakeknya di sini. Sejak ibunya menikah lagi dan ikut suaminya tidak pernah datang lagi untuk sekedar menjenguk putranya. Kabarnya pun tidak ada lagi. Seolah menghilangkan jejak."
"Bapaknya juga telah menikah lagi tidak lama setelah bercerai dengan istri pertamanya. Dan lebih banyak menghabiskan waktunya bersama keluarga barunya. Bersama ibu tiri dan dua orang anaknya. Sementara Handi, hanya sesekali saja ditengok. Tapi untungnya, Bapaknya tidak seperti ibunya yang menghilang begitu saja. Masih bertanggungjawab dan memperhatikan putranya. Secara materi sangat dicukupkan, tidak pernah merasakan kekurangan. Masih sering mengirimkan uang juga untuk kakek dan neneknya, yang merupakan orang tua bapaknya. Bapaknya memang asli orang sini. Sebagai kompensasi karena telah bersedia membesarkan dan menjaga putranya."
"Kakek dan neneknya membesarkannya dengan penuh kasih sayang, bahkan sangat memanjakannya. Namun sayang, tidak dididik dengan benar. Tidak pernah menegurnya ketika berbuat salah, apalagi menasihati dan memarahinya, lebih sering membela meski salah. Sehingga tidak bisa membedakan antara yang baik dan benar.
"Walhasil, Handi tumbuh menjadi anak yang memiliki hati yang keras, egois, maunya menang sendiri, suka menindas orang lain yang lemah, sombong, dan arogan. Jika ada yang berani melawan maka dia tidak segan-segan menghukum orang itu dengan kejam. Sampai melakukan kekerasan fisik. Kakek dan neneknya selalu mendiamkan, seolah menutup mata akan kelakuan buruk cucunya itu. Kakeknya Handi juga termasuk orang berpengaruh dan cukup disegani di desanya. Sehingga warga pun memilih diam, tidak berani menegur apalagi melawannya, membuatnya semakin besar kepala.
"Dan menggoda gadis-gadis seperti tadi adalah hobinya dan gengnya. Sudah banyak yang menjadi korbannya. Baik di desanya maupun di desaku. Membuat para orang tua merasa khawatir terhadap putri-putri mereka. Khawatir jadi korban pelecehan. Benar-benar meresahkan, deh."
"Makanya aku salut banget sama kamu, Ri. Bisa mengalahkan dan menyadarkannya. Selama ini tidak pernah sekalipun dia meminta maaf atas semua perbuatannya bersama gengnya itu. Semoga dia benar-benar menyesal dan mau berubah jadi lebih baik, " Semua mengaminkan doanya.
__ADS_1
"Setahuku, " Rina kembali melanjutkan ceritanya, "Dulu sebenarnya dia anak yang baik, termasuk salah satu teman bermainku saat kecil. Mungkin, dia begitu karena banyak menelan kekecewaan, luka dan kebencian kepada kedua orang tuanya yang tega meninggalkannya, yang lama dipendamnya sejak kecil. Merasa tidak diinginkan. Tingkahnya yang nakal dan sering berbuat onar itu adalah caranya untuk mengeluarkan emosi dan keresahan hatinya, sekaligus menarik perhatian dari orang tuanya. Sebenarnya, aku sering merasa kasihan padanya. Nasibnya sangat menyedihkan. Kalau aku yang mengalaminya belum tentu akan sekuat dia. Beruntung kita masih memiliki orang tua yang lengkap. Sosok mereka selalu ada. Tidak kekurangan kasih sayang mereka. Meski secara materi biasa-biasa saja. Tidak kurang, tidak juga berlebihan."
Penuturan panjang dari Rina itu membuat para gadis yang mengelilinginya itu menjadi tercenung. Merenung. Tidak menyangka ada orang yang mengalami hal menyedihkan seperti itu. Seperti sinetron saja.
"Kasihan juga, ya, Handi. Tidak disangka ada orang yang memiliki kisah hidup menyedihkan seperti itu, " ujar Sania, menanggapi cerita Rani yang panjang tadi dengan menahan rasa haru sekaligus prihatin.
"Ternyata ada sesuatu hal yang luar biasa dibalik sikap kerasnya seseorang. Kurang kasih sayang plus kurang pengarahan yang baik bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental anak. Perceraian antara suami istri seringkali berakhir menyakitkan. Anak yang sering menjadi korban. Miris, " ujar Wulan, ikut menanggapi cerita Rani.
"Benar, Lan, itu salah satu contoh buruk dari perceraian. Pantas saja perceraian itu hal yang paling dibenci sama Allah, meski tidak dilarang. Kehilangan sosok orang tua yang utuh bisa merusak mental anak, ternyata, " Ira ikut menimpali ucapan Wulan.
"Alhamdulillah, hari ini kita banyak mendapatkan pelajaran penting, ya. Semoga kita selalu bersyukur atas segala nikmat berupa orang tua yang utuh, keluarga harmonis dan bahagia, persahabatan kita yang erat, plus pendidik yang baik untuk kita. Semoga jadi bekal yang bermanfaat bagi hidup kita kelak. Ternyata banyak juga orang lain yang tidak seberuntung kita. Karena itu, jangan sia-siakan orang tua kita.
" Mumpung mereka masih ada, jangan ragu untuk terus berbakti pada mereka. Walaupun apa yang kita lakukan tidak akan bisa membalas semua yang telah orang tua kita keluarkan semenjak kita hadir di dunia ini hingga hari ini, " ujar Sania, mengingatkan, matanya tampak berkaca-kaca.
__ADS_1
Yang mendengar, ikut menitikkan air mata. Membuat suasana di kolam renang yang sebenarnya cerah itu, seketika menjadi terasa mendung karena tenggelam dalam keharuan karena mengingat orang tua masing-masing yang ada di rumah. Rasa rindu tiba-tiba menyeruak begitu saja.