
Setelah menunaikan ibadah shalat Isya berjamaah dan makan malam di rumah Iwan, Sania dan para sahabatnya memutuskan kembali ke Villa dengan diantar oleh Handi. Karena setelah mengawasi sejak siang tadi tidak ada yang mencurigakan atau membahayakan Rina. Setelah sampai villa, Handi langsung berpamitan pulang ke rumahnya. Sebelum itu, sempat berpesan agar segera menghubunginya jika terjadi sesuatu pada Rina. Dan menjanjikan akan siap membantu. Biar bagaimanapun Rina adalah teman baiknya sejak kecil, tentu saja laki-laki itu tidak bisa mengabaikannya. Tidak ingin pula terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada gadis itu.
Saat ini, gadis-gadis itu sedang berkumpul di ruang tengah yang ada di lantai dua, tepatnya di depan kamar mereka. Mereka tetap mengawasi semua pergerakan yang ada di markas Samiri melalui layar monitor dari laptop milik Wulan.
Terlihat di sana, Rina sedang makan malam bersama seluruh penghuni markas itu, termasuk orang-orang yang sedang menjalani masa karantina. Sebagian besar Rina mengenalnya, sebagian lagi ada yang tidak dikenalnya karena berasal dari desa Handi dan desa lainnya.
Setelah makan malam, gadis itu masih terlihat mengobrol akrab bersama teman-temannya.
"Ternyata banyak juga, ya. Semuanya seusia kita. Dan mereka sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri mereka setelah keluar dari sana. Kasihan mereka," ujar Ira, hatinya merasa prihatin.
"Iya, karena itu kita harus segera bergerak menyelamatkan mereka. Walaupun kita tidak mengenal mereka, tapi kita tidak bisa berpangku tangan begitu saja, " sahut Andin, yang mengkhawatirkan keselamatan sepupunya.
Andin pun ikut bergabung dalam misi ini. Malam ini juga memutuskan akan menginap di sini.
"Sejauh ini masih tetap aman, sih. Belum ada hal yang mencurigakan. Mungkin karena ini baru hari pertama Rina berada di sana, " ujar Wulan, netranya masih tetap fokus ke layar monitor yang ada di hadapannya.
"Iya, kita lihat saja dulu apa yang akan Rina lakukan di sana. Tapi kita harus tetap waspada, " ujar Rianti mengingatkan.
Tiba-tiba Rianti memerintahkan Wulan untuk menzoom video itu, saat melihat sesuatu yang agak mencurigakan.
"Sebentar, dari tadi kulihat Samiri menatap Rina terus. Apa dia mulai curiga, sedang mengawasinya?" ujar Rianti, sambil memicingkan sebelah matanya, mempertajam penglihatannya.
"Apa maksudmu?" tanya Sania, mulai merasa cemas.
"Coba perhatikan!" titah Rianti lagi, membuat semuanya tampak lebih fokus kepada orang yang ditunjuk Rianti tadi.
"Eh, iya, ya. Matanya tidak lepas gitu. Intens banget mengawasi Rina. Tapi sepertinya Rina belum menyadarinya, " ujar Ira.
__ADS_1
"Kita lihat apa yang akan dilakukan oleh Rina. Jika terjadi sesuatu yang membahayakan kita akan segera bergerak ke sana, " ujar Rianti.
Semua mengangguk patuh. Rianti memang ditunjuk sebagai Leader dalam upaya membongkar kejahatan Samiri dan penyelamat gadis-gadis malang itu.
Akhirnya, malam itu mereka bergantian mengawasi monitor, berjaga-jaga. Sementara yang lain beristirahat. Sampai suara adzan subuh berkumandang masih belum terjadi apapun di sana.
***
Tiga hari sudah Rina berada di markas Samiri. Selama itu, gadis itu mempelajari kebiasaan yang ada di sana. Termasuk memperhatikan semua aktivitas para gadis yang sedang menjalani masa karantina. Mereka hanya diajarkan cara merias diri, berpakaian menarik dan sexy, berjalan menggunakan high heels. Sampai-sampai mereka mengira akan direkrut menjadi model. Ada juga yang diajarkan menjadi barista, meracik berbagai minuman, ada juga yang diajarkan cara memijat, dan lain sebagainya.
Samiri menepati janjinya untuk membiarkan Rina tetap berpakaian syar'i. Dan telah mengumumkan kepada semuanya bahwa Rina adalah calon istrinya. Bagi yang mengenal Rina tentu saja mereka terkejut dan heran mendengar pengakuan dari Samiri, mengapa Rina mau menerimanya laki-laki yang lebih pantas menjadi ayahnya itu. Sedangkan yang tidak mengenal Rina bersikap biasa saja. Ada juga yang seperti tidak peduli, karena memang tidak mengenalnya. Sehingga merasa tidak mau mengurusi urusan orang lain.
Hari ini, Samiri sedang tidak ada di markas. Dia berpamitan pada Rina bahwa dia akan pergi keluar kota selama tiga hari bersama asistennya untuk mengurus pekerjaannya. Kesempatan ini benar-benar akan digunakan dengan sebaiknya oleh Rina. Gadis itu berencana ingin memberi peringatan kepada gadis-gadis itu tentang rencana jahat Samiri kepada mereka hari ini juga. Mereka harus segera mengetahuinya.
Sore hari, kesempatan itu datang. Rina berjalan mendekati kamar-kamar teman-temannya. Sebelum sampai ke sana, gadis itu melihat sebuah ruangan yang tampak mencurigakan. Pintunya terlihat tidak tertutup dengan benar, sedikit terbuka. Setelah tengok kanan dan kiri, memastikan situasi di tempat itu aman, gadis itu mulai mendekati ruangan itu. Membuka sedikit pintu itu, dan mengintip. Ingin mengetahui ruangan apa itu.
"Wah, ternyata Samiri telah memasang CCTV di seluruh ruangan di markas ini dan sekitarnya. Kamar-kamar juga, kecuali kamar mandi. Hah, kamarku juga. Ya Allah. Harus hati-hati, nih," gumam Rina.
Dengan cepat, gadis itu langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan monitor tersebut dan mengutak-atik keyboardnya. Berusaha mengacaukan. Agar tidak dapat mengakses kamar-kamar mereka. Termasuk kamarnya. Setelah selesai dan dirasa aman, gadis itu segera keluar dari ruangan itu, khawatir orang yang bertugas menjaga ruangan ini kembali datang.
"Aman, " gumamnya, lega. Begitu melihat suasana di luar ruangan itu terlihat sepi.
Gadis itu kembali melanjutkan langkahnya mendekati kamar teman-temannya. Ternyata mereka sedang bersantai di taman yang ada di dekat kamar mereka. Sedang bersantai ria sambil mengobrol saling mengakrabkan diri.
Melihat itu, Rina langsung mendekati mereka dan bergabung bersama mereka. Ikut membaur.
Setelah mengobrol beberapa lama, akhirnya Rina memulai rencananya. Perlahan disampaikan tentang rencana jahat Samiri terhadap mereka. Bahwa mereka semua adalah korban penipuan. Lalu mengatakan bahwa dia hanya berpura-pura saja menerima Samiri sebagai calon suaminya. Dia juga baru tahu rencananya saat pertama kali menginjakkan markas ini. Dia ingin membongkar kedoknya, bersama Sania dan para sahabatnya. Selanjutnya mengajak mereka untuk bekerja sama.
__ADS_1
Semua terlihat tidak menyangka bahwa mereka adalah korban penipuan. Padahal mereka benar-benar ingin mencari pekerjaan untuk memperbaiki kehidupan ekonomi keluarganya.
Namun, ada juga yang masih ragu akan kenyataan ini. Rata-rata gadis-gadis ini memang anak-anak yang menengah ke bawah. Bahkan ada juga yang kurang mampu. Sayang sekali, kepolosan dan keadaan pahit mereka malah dimanfaatkan.
"Bagaimana kamu bisa seyakin ini?" tanya seorang gadis yang sejak tadi tampak diam saja.
"Aku sendiri yang mendengarnya tempo hari, sebelum ke sini. Bahkan aku sempat merekam pembicaraan Samiri dan anak buahnya, " jawab Rina, meyakinkan bahwa yang dikatakannya itu benar.
Lalu Rina mengeluarkan sesuatu dari kantong bajunya. Suatu benda yang mungil dan menekan tombolnya yang ada di tengahnya. Dan terdengarlah semua rencana jahat Samiri.
Semua tampak terdiam, tak percaya.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa kita langsung kabur saja dari sini?" tanya Tika, salah satu teman Rina di sekolahnya.
"Tenang dulu, jangan terburu-buru. Sementara, tetaplah bersikap tenang, pura-pura tidak tahu. Ayahku dan teman-temanku sedang menyelidiki kasus ini. Bekerjasama pula dengan pihak kepolisian. Kita akan menjebaknya. Sudah terlalu banyak kejahatannya di desa ini. Rentenir liar berkedok koperasi, pengedar narkoba, perdagangan wanita untuk dijadikan pelacuran bekerjasama dengan sindikat mafia dalam negeri dan luar negeri. Bahkan bukan hanya di desa ini saja, merambah ke desa lainnya juga di sekitar sini, " ujar Rina menjelaskan semua informasi terbaru tentang Samiri.
Selanjutnya tak lupa Rina juga menjelaskan tentang peristiwa yang menimpa Laila dan Pak Hasan, ayahnya, yang merupakan salah satu korban Samiri.
"Ya Allah, Laila ... Laila ... teman kita? Benarkah?" tanya Tika meyakinkan.
Rina mengangguk.
"Terus bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Tika khawatir.
"Dia masih dirawat di rumah sakit karena sempat mengalami kekerasan, hampir diperkosa pula. Dan Pak Hasan yang membelanya juga mengalami kekerasan, dipukuli hingga hidung mengalami keretakan. Alhamdulillah, semuanya selamat. Mereka dijaga ketat, " jawab Rina.
"Kasihan sekali Laila, " ujar Tika, merasa prihatin.
__ADS_1
Setelah mendengar penjelasan dari Rina, semua sepakat untuk bekerjasama. Membuat gadis itu merasa senang, merasa ada yang mendukungnya. Mereka pun berjanji untuk saling membantu dan menguatkan. Bahkan berjanji keluar bersama-sama dari markas ini.