Romansa Putih Abu

Romansa Putih Abu
Suasana Hati Daffa dan Rima


__ADS_3

Setelah Daffa dan keluarganya berpamitan pulang, Rima tampak duduk santai di ruang tengah ditemani oleh kedua orang tuanya sambil mengobrol ringan. Sesekali putrinya itu digoda.


"Duh, tidak terasa anak kita sudah gadis, ya Ma. Sudah ada yang lamar. Sebentar lagi nikah dan akan ninggalin kita, deh. Ikut suami kamu, " ujar Ridwan lirih sambil memandangi putrinya. Rasanya masih ada rasa berat melepas putri semata wayangnya itu.


"Ih, papa apa-apaan, sih. Tidak akan pergi jauh juga, lah. Rima pasti akan tetap rajin ke sini. Kok, papa jadi melo gini, sih?" jawab Rima. Mendadak jadi sedih.


"Buat papa dan mama kamu tetaplah gadis kecil kami, berapapun usia kamu. Tidak disangka cepat diambil orang, " Ridwan masih belum bisa menyembunyikan rasa sedihnya.


"Buat Rima, Papa itu akan selalu jadi cinta pertama Rima. Posisi Papa takkan tergantikan dengan siapapun, termasuk suami Rima kelak. Pokoknya Papa itu tetap the best men in the world, number one for me, " sahut Rima dengan memasang wajah sendu sambil memeluk papanya dengan sayang.


Mendengar itu, Ridwan jadi tersenyum senang. Dan membalas pelukan putri semata wayangnya itu. Begitulah perasaan setiap orang tua ketika akan melepas buah hati yang akan menikah. Terutama bagi seorang ayah, mengingat sebentar lagi tanggung jawabnya terhadap putrinya akan segera beralih kepada calon suaminya kelak.

__ADS_1


Aini yang melihat suami dan putrinya ikut merasa haru. Matanya jadi berkaca-kaca. Ya, biar bagaimana pun bagi setiap orang tua, seberapa pun bertambahnya usia buah hatinya itu akan selalu menjadi putri kecil mereka.


Dari kunjungan keluarga Iskandar untuk mengkhitbahnya tadi, diputuskan bahwa Daffa dan Rima akan menikah setelah lulus SMA, tepatnya tiga bulan lagi. Mereka sepakat memberi kesempatan bagi Rima untuk fokus kepada ujian akhirnya saja yang akan dihadapi sebentar lagi. Persiapan yang lainnya diserahkan kepada para orang tua.


Setelah mengobrol ringan dengan kedua orang tuanya, Rima berpamitan untuk istirahat di kamarnya. Terlihat dari wajahnya seperti mengantuk, matanya agak merah, dan beberapa kali menguap di sela obrolan mereka bertiga sejak tadi.


Sampai di kamarnya, Rima langsung merebahkan dirinya di ranjangnya. Namun ternyata tidak bisa langsung dapat memejamkan matanya. Masih teringat akan pertemuannya tadi dengan keluarga Daffa. Rima tak menyangka bahwa ia akan segera menikah dalam waktu yang tidak lama lagi. Secepat ini bertemu jodohnya, imamnya kelak.


Lalu, Rima segera menepis pikiran buruk.


'Hah, Bismillah saja, lah. Semoga dimudahkan bagiku menjalankan peran itu. Toh, sekarang atau nanti pasti akan menikah juga. Dan peran itu akan tetap kuhadapi. Jadi, apa bedanya? Apalagi tadi Kak Daffa bilang, dia tidak akan menghalangiku jika ingin kuliah bahkan akan mendukungku selama untuk hal yang positif dan tidak melalaikan kewajiban dan tanggung jawabku sebagai istri dan ibu.'

__ADS_1


Akhirnya, Rima mengakhiri perang batinnya sendiri dengan kalimat-kalimat positif, mencoba meyakinkan diri. Hingga menghilangkan rasa ragu yang sempat hadir tadi. Hingga hatinya mulai tenang, dan tak lama matanya pun terpejam. Mulai lelap.


Sementara itu, Daffa pun terlihat melamun di kamarnya yang bernuansa putih dan hitam, warna kesukaannya. Matanya terlihat memandangi langit-langit kamarnya sambil rebahan di atas ranjangnya. Daffa mengingat pertemuan dengan keluarga Rima tadi. Ia sendiri tidak menyangka bahwa tidak lama lagi akan segera menikah, melepas masa lajangnya. Daffa juga mengingat awal pertemuannya dengan Rima. Raut wajahnya yang cantik dan manis selalu ditutup dengan gamis dan khimarnya membuatnya terlihat menarik. Seketika ia menarik sudut bibirnya, tersenyum.


Ia memang ingin memiliki istri yang pandai menjaga dirinya dan kehormatannya. Itulah salah satu alasannya menerima perjodohan ini. Apalagi Rima dekat dengan Ira, adik perempuannya.


'Tak disangka, gadis itu akan menjadi istriku sebentar lagi. Sebenarnya masih ada rasa tidak tega, sih. Membayangkan peran yang akan dipikulnya setelah menikah denganku. Masih muda banget. Masih pantas menjadi adikku. Aku takut merusak kebahagiaannya, mimpi-mimpinya.'


Daffa menghembuskan napasnya berat.


'Tapi, Bismillah saja, lah. Semoga aku bisa membimbingnya tanpa membuatnya tertekan. Bukankah hubungan suami-istri itu seperti dua orang yang bersahabat. Jadi, tidak usah terlalu tegang. Semoga Allah memampukan aku menjalankan peranku sebagai suami dan ayah dengan baik dan penuh tanggung jawab. Aku akan menjadi seorang imam bagi keluarga kecilku.'

__ADS_1


Daffa pun mengakhiri rasa galau yang sempat hadir dengan bait-bait doa yang mampu menguatkan hatinya. Memilih menyerahkan segara urusannya kepada Sang Khaliq, Sang Penggenggam Hati. Lalu, tidak lama kemudian matanya pun terpejam. Terlelap dengan damai dan tenang.


__ADS_2