Romansa Putih Abu

Romansa Putih Abu
Praktek Masak Perdana


__ADS_3

Rianti terbangun dari tidurnya saat mendengar kumandang adzan subuh dari masjid yang memang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Segera ia melangkah ke luar kamar menuju kamar mandi hendak mandi dan wudhu, lalu shalat Subuh. Setelah shalat subuh, Rianti membereskan sajadah dan mukenanya dengan rapi, tak lupa melipat selimutnya yang belum sempat dilakukannya tadi, karena tidak bisa menahan rasa ingin buang hajat.


Setelah itu, keluar kamar dan berjalan ke dapur, membantu bundanya menyiapkan sarapan untuk keluarganya.


"Assalamu'alaikum, Bunda, " sapa Rianti.


"Eh, wa'alaikumussalam, sayang. Sudah shalat subuh?" jawab Asti.


Rianti mengangguk.


"Sudah, Bunda, " jawab Rianti.


"Em, Danti sama Radit belum bangun, Bunda?" tanya Rianti, saat dilihatnya masih sepi. Hanya mereka berdua saja.


"Tidak tahu, coba kamu bangunkan mereka! Takutnya belum pada bangun," titah bundanya.


Rianti menuruti perintah bundanya, dan berjalan ke kamar adik keduanya, Ridanti terlebih dahulu. Tanpa mengetuk pintu, Rianti membuka pintu kamarnya yang memang tidak dikunci. Ternyata, dilihatnya adiknya itu sedang shalat. Melihat itu, Rianti memundurkan langkahnya, keluar lagi dari kamar dan menutup pintunya.


Lalu langkahnya dilanjutkan menuju kamar adik bungsunya, Radit. Ternyata masih asyik tidur, di bawah selimutnya sambil memasukkan ujung jari jempolnya ke dalam mulutnya sendiri. Kebiasaannya kalau tidur.


Melihat itu, Rianti hanya menggelengkan kepalanya. Sambil tersenyum melihat gaya tidur adiknya yang tampak lucu dan menggemaskan.


'Heran, udah kelas empat SD tapi kelakuan masih kaya bayi saja. Kebiasaan ngemut jempol sendiri. Udah kaya mainan saja, atau empengnya, ' batin Rianti geli.


Dengan lembut, Rianti mengeluarkan jempol Radit dari mulutnya. Setelah berhasil dikeluarkan, kembali lagi Radit mengangkat jempolnya hendak memasukkan kembali ke dalam mulutnya. Seperti terganggu. Namun segera dicegah oleh Rianti. Ditahannya tangan Radit.


Tiba-tiba Danti sudah ada di samping Rianti, "Radit belum bangun, Teh?"


Rianti terlihat sedikit terkejut, tapi terus menggeleng. Lalu menepuk punggung tangan adik bungsunya itu supaya bangun.


"Dek, bangun sayang, shalat Subuh dulu. Dan siap-siap sekolah."


"Emh..." hanya itu reaksi Radit, lalu menarik selimutnya hingga menutupi wajahnya.


"Eh, nih anak, dibangunin malah narik selimut lagi, ayo bangun, Dek! " seru Ridanti yang terlihat mulai kesal bercampur gemas, sambil mengguncangkan tubuhnya agak keras. Mencoba membantu Rianti membangunkan adiknya.


"St, pelan-pelan dong banguninnya, Dek. Nanti malah ngamuk dia, kan bisa berabe, " tegur Rianti.


"Habisnya susah bener dibanguninnya, " sungut Ridanti kesal.


"Sudah, sebaiknya kamu bantu bunda di dapur aja, deh. Biar Teteh yang bangunin Radit, " titahnya.


"Ya, sudahlah kalau begitu, " jawab Ridanti, menurut lalu melangkah keluar kamar dan menghampiri bundanya di dapur.


"Dek, bangun, dong sayang!" Rianti kembali mengguncangkan bahu adiknya.


Namun tetap tak bergeming. Tidak mengubah posisinya. Dibukanya selimutnya. Lalu tiba-tiba terbetik ide jahilnya. Dikelitikinya perut adiknya, yang memang gelian. Terdengar suara tawa kegelian. Tak tahan menahan geli.


"Kyaaa... ha... ha... geli, Teh. Sudah, geli. Ampun!" serunya sambil menggeliatkan tubuhnya, kegelian.


"Ayo, bangun, nggak? Kalau enggak, nanti dikelitikan lagi, nih, " ancam Rianti.


"Iya, iya, ampun. Radit bangun, deh, " cegahnya sambil segera duduk dari tidurnya.

__ADS_1


"Nah, gitu dong. Dari tadi dibangunin, sampai Teh Danti juga ikutan bangunin, tapi kamunya susah. Jadi kesel tuh dia. Hampir kamu kena omel, " ujar Rianti.


"Iya, masa, sih?" tanya seolah tak percaya karena tidak melihat kakak keduanya itu di kamarnya.


"Kok, masa sih, kapan Teteh pernah bohong sama kamu? Memang tadi Teh Danti ikut bangunin kamu tapi sekarang sudah ke dapur lagi bantuin bunda siapkan sarapan," terang Rianti.


"Oh, seperti itu, " jawab Radit dengan nada suara yang lucu. Membuat Rianti tergelak, lalu mengacak-acak anak rambut adiknya.


"Sudah sekarang mandi, wudhu dan shalat subuh, udah jam 5, nih. Kesiangan kamu. Dan jangan lupa gosok gigimu, " titah Rianti sambil menarik tangan adiknya untuk bangun.


"Siap, Bos!" seru Radit sambil mengangkat tangannya ke dahinya, tanda hormat.


Rianti cuma tersenyum dan mencubit kedua pipi adiknya yang chubby itu.


"Duh, sakit atuh, Teh, " protes Radit manja, meringis.


Akhirnya Rianti melepas cubitannya di pipi adiknya. Tak tega.


"Ya, sudah kamu mandi, gih. Teteh mau ke dapur juga, bantuin bunda, " titahnya.


Setelah memastikan adiknya masuk ke kamar mandi, Rianti berjalan keluar kamar Radit dan bergabung bersama bunda dan Danti.


"Radit udah bangun, Teh?" tanya Danti.


"Sudah, sekarang lagi di kamar mandi, " jawab Rianti.


Dilihatnya Bunda sudah selesai masak. Rupanya Bunda masak nasi uduk, lengkap dengan ayam goreng, orek tempe, dan irisan telur dadar. Tak lupa sambal kacang dan kerupuk.


"Wah, sarapan spesial, nih hari ini," puji Rianti.


Akhirnya mereka berbagi tugas, Ridanti menata meja makan, sedangkan Rianti membuatkan minuman. Susu untuk dirinya dan kedua adiknya, kopi susu untuk ayahnya dan teh madu untuk bundanya. Lalu dibawanya semua minuman itu ke atas meja makan dengan menggunakan nampan.


Tak lama, terlihat ayahnya masuk ke dalam rumah, baru pulang dari masjid. Ikut shalat berjama'ah. Lalu menyusul Radit keluar dari kamarnya dan sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Keduanya menghampiri meja makan.


Melihat Radit yang sudah rapi, Iskandar, ayahnya mendekati dan mencium pipinya, "Wah, anak ayah sudah rapi dan wangi. Keren, ih, sudah bisa sendiri," puji ayahnya.


Yang dicium tertawa senang, lalu menggeliat kegelian karena ayahnya terus saja menciumi pipinya dengan gemas.


"Ayah, sudah ah, geli, " protes Radit.


"Eh, ada apa nih, Ayah. Pagi-pagi udah rame aja, " tegur Bunda yang baru saja selesai mandi.


"Tidak ada apa-apa kok, Bun, " jawab Iskandar sambil nyengir.


"Ya sudah, kita sarapan, yuk!" ajak Asti.


Akhirnya semua duduk di ruang makan dan menyantap sarapan dengan lahap. Karena semuanya suka nasi uduk. Apalagi buatan bundanya.


Di sela sarapan, Rianti minta izin untuk pulang telat.


"Ayah, Bunda, hari ini Rianti izin pulang telat, ya," izin Rianti.


"Loh, memangnya ada acara apa di sekolah?" tanya Iskandar. Semua mata menatap Rianti.

__ADS_1


"Hari ini kan jadwal Rianti praktek masak, Yah, " jawab Rianti.


"Oh, dikira ada acara apa. Ya sudah, boleh. Pulang jam berapa?" tanya ayahnya.


"Mungkin jam 2 an, lah. Setelah itu Rianti langsung pulang deh, " jawab Rianti, sambil berjanji segera pulang setelah semua kegiatannya selesai.


"Ya, boleh, " jawab ayahnya.


Selanjutnya, mereka melanjutkan sarapan sampai selesai. Lalu berpamitan berangkat ke sekolah dengan diantar Iskandar.


***



Pulang sekolah Rianti langsung ke ruang unit tata boga bersama Andini. Tepatnya, pukul 11.00, saat para guru dan siswa lelaki bersiap untuk menunaikan ibadah shalat Jum'at. Ruangan itu disetting mirip restoran yang luas. Lengkap dengan peralatan dapurnya. Tidak jauh dari dapur, terdapat pula banyak meja dan kursi makan.


Sesuai jadwal mereka akan masak nasi kuning spesial, lengkap dengan lauknya. Semua bahan sudah disiapkan. Dibuat per kelompok. Satu kelompok terdiri dari 5 orang. Masing-masing punya tugasnya. Dengan cara diundi. Disuruh mengambil kertas yang berisi tugas mereka masing-masing. Ada yang bertugas membuat nasi kuning, ada juga yang membuat rendang telur, orek tempe, perkedel kentang, dan bihun goreng. Karena jumlah mereka ada 20 orang, maka dibagi menjadi empat kelompok.


Suasana dapur jadi tampak ramai dengan aktifitas anak-anak muda yang sibuk memasak. Mereka melakukannya dengan penuh semangat. Menampilkan hasil masakan yang terbaik. Bersaing secara sehat. Setelah itu hasilnya akan dipilih yang terbaik, dan penyajian terbaik, untuk masing-masing masakan. Jurinya adalah para guru yang mencicipi hidangan mereka. Pemenangnya tergantung mereka, dan tidak bisa diganggu gugat.


Begitulah suasana dapur tata boga. Suasana bersaing sehat tapi saling mendukung, dan melengkapi, suasana kekeluargaan pun tercipta. Membuat mereka cepat akrab dan solid.


Semua selesai, tepat pukul 13.00, dan yang shalat Jum'at selesai ditunaikan. Para guru segera masuk ke ruang makan, yang letaknya tidak jauh dari dapur tata boga. Mereka pun bisa melihat aktifitas mereka. Semua bersiap mencicipi hasil masakan mereka. Keempat kelompok itu segera menyajikan hasil masakannya. Menatanya semenarik mungkin. Mengundang selera.


Setelah semua dicicipi akhirnya ditetapkan bahwa pemenangnya adalah kelompok Rianti dan kawan-kawannya. Mereka sangat senang hasil masakan mereka bisa diterima, sementara yang belum menang tetap merasa senang juga. Toh, masakan mereka ikut dinikmati juga. Selanjutnya, semua ikut makan, dengan cara bertukaran.


Kelompok Rianti memakan hasil masakan kelompok lain, begitu pula dengan kelompok kedua, menikmati hasil masakan kelompok Rianti. Semua sama-sama senang, perut pun kenyang. Anak-anak yang masih ada di sekolah pun ikut menikmatinya. Begitulah suasana setiap hari Kamis dan Jum'at. Seru. Hubungan antara guru dan siswanya pun terjalin harmonis dan dekat. Namun tetap saling menjaga batasan. Para guru menjaga kewibawaan dengan memberikan teladan, sedangkan siswa tetap menghormati para guru.


"Andin, seru juga hari ini, sayang tadi kita tidak sekelompok, ya, " seru Rianti kepada Andini.


"Iya, habis diundi, sih, jadi nggak bisa milih. Semoga lain kali kita bisa sekelompok, ya, " harap Andin.


Rianti mengaminkan.


Setelah semua selesai dan dapur kembali bersih seperti sebelumnya, akhirnya mereka pun bubar. Pulang ke rumah masing-masing. Tepatnya, pukul 14.00.


Sepanjang perjalanan, Rianti tampak senang, puas hatinya. Dia pun membawa hasil masakan tadi yang masih tersisa banyak ke rumah dengan paper bag. Sampai di rumah, ternyata semua sudah pulang, kecuali ayahnya yang masih mengajar di kampus. Dan baru pulang sore hari, menjelang Maghrib. Namun, tetap disisihkan untuk ayahnya.


'Tinggal nanti dihangatkan lagi,' pikir Rianti.


Semua ikut menikmati hasil masakan kelompoknya hari ini sampai ludes. Tak bersisa.


Sore harinya, saat ayahnya baru pulang, Rianti langsung menyambutnya. Membukakan pintu untuknya, lalu mencium punggung tangannya.


"Eh, gimana tadi praktek masaknya, sukses?" tanya Iskandar sambil merangkul pundak putri sulungnya dan melangkah masuk ke dalam rumah.


"Sukses, dong, bahkan kelompok Rianti menang. Jurinya, ya guru-guru juga. Senang, deh. Seru pokoknya tadi. Keren banget dapurnya, jadi berasa magang di restoran gitu, Yah. Luas banget. Terus tempat duduknya juga disetting mirip restoran. Jadi berasa magang di restoran. Kita-kita jadi chefnya, " cerita Rianti.


Lalu mengalirkan ceritanya hari ini dengan wajah sumringah. Ayahnya hanya mendengarkan sambil tersenyum senang, melihat keceriaan putrinya. Rasa lelah pun mendadak hilang seketika.


"Eh, iya, Rianti tadi sisihkan untuk Ayah, kok. Sekarang Ayah mandi dulu aja, udah gitu cicipi deh masakan Rianti dan kawan-kawan tadi. Rianti mau hangatkan dulu, " ujar Rianti.


Ayahnya menurut, segera ke kamar mandi membersihkan tubuhnya yang terasa lengket oleh keringat dan debu yang menempel. Setelah mandi, Iskandar keluar, dan duduk di ruang tengah. Mengenakan pakaian santai. Rianti mendekati ayahnya sambil membawa nasi kuning dan lauknya. Segera dinikmatinya, mencoba menghargai jerih payah putrinya. Biar makin senang dan semangat, pikirnya.

__ADS_1


"Wah, yummy benar masakan putri Ayah. Pantes menang, " puji sang Ayah. Membuat Rianti tersenyum senang.


__ADS_2