Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Identitas


__ADS_3

Hari ini hari Sabtu. Aline dan Hana sedang bersiap-siap mengemasi sisa barang yang akan ia bawa ke kontrakan barunya. Abah dan Bunda tidak bisa ikut membantu karena harus ke resto. Bersyukur ia sudah mencicil membawa barang-barangnya jadi sekarang tidak begitu banyak lagi.


Setelah semua barang ia kemasi ke mobil jasa angkut, Aline dan Hana menaiki motor matic milik Hana menuju rumah kontrakan Bunda yang tak jauh di ujung jalan.


Keduanya asyik menyusun dan menata barang-barang yang dibawa Aline dan barang-barang yang dihibahkan oleh mbak Oki, penghuni kontrakan ini sebelum Aline.


"Mbak Aline kenapa pindah sih dari rumah? Mbak Aline gak betah ya tinggal sama kami?" Hana masih saja belum bisa terima atas kepindahan Aline.


Aline menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Saat ini mereka sedang rebahan di atas kasur Aline untuk beristirahat sejenak. Posisi keduanya saat ini dari pinggang ke kepala berada di atas kasur, dari pinggang ke kaki menempel di dinding.


"Bukan begitu Adek Mbak yang paling cantiiiiiik," gemas Aline sambil mencubit ringan pipi Hana. "Mbak sangat betah tinggal di rumah sama kamu. Tapiiiii, Mbak pengen mandiri. Mbak pengen nunjukin ke orang tua Mbak, kalo Mbak bisa hidup dengan baik walaupun tanpa fasilitas mereka."


"Fasilitas? Apa Mbak Aline anak orang kaya sebenarnya?" Rasa penasaran kini seakan menggerogoti Hana.


Aline hanya tersenyum, merasa kecolongan karena keceplosan bicara.


"Jawab dong, Mbak. Kok malah senyum?"


"Asalkan kamu janji gak akan memberi tahu kepada siapapun, Mbak akan jawab dengan jujur," putus Aline untuk sedikit jujur pada Hana, adik angkat sekaligus satu-satunya sahabatnya di Jakarta ini.


"Iya, aku janji gak akan kasih tahu ke siapapun, si-ya-pa-pun, termasuk Abah dan Bunda kalau gak ada izin dari Mbak Aline. Sekarang ceritain siapa sebenarnya Mbak!"


"Kamu penasaran ya?" goda Aline.


"Iyes, pake banget Mbak!" jawab Hana antusias.


"Seperti tebakan kamu, Mbak ini sebenarnya memang anak orang kaya di daerah Mbak sana"


"Lalu, kenapa Mbak bisa berakhir di sini?"


"Ceritanya panjang."


"Aku punya waktu seharian ini buat dengerin cerita Mbak Aline. Kan Abah sama Bunda udah izinin aku nginap di sini. Lagian, kan kita libur sehari ini?"


Aline mendelik adik angkatnya yang memang sudah kepo sejak awal mereka bertemu.


"Hhhhmmm .... Papi berniat menjodohkan Mbak dengan cucu dari sahabat kakek Mbak. Mbak gak mau dan menolaknya, jadinya Mbak diusir dari rumah dan nekad merantau ke Jakarta."


"Kok papinya Mbak tega gitu?" Hana mulai geram sendiri.


"Hana sayang, papi Mbak gak salah. Beliau hanya bermaksud untuk memenuhi wasiat kakek yang ingin keluarga kami berbesanan dengan keluarga sahabatnya itu."


"Terus, kenapa Mbak Aline gak mau sama laki-laki yang mau dijodohkan itu? Emang Mbak Aline udah pernah ketemu sama orangnya? Orangnya jelek ya? hehehehhe," Hana terkekeh dengan bayangan laki-laki jelek versi dia yang ingin dijodohkan dengan Mbak Aline-nya yang sangat cantik.


"Orangnya ganteng, pake banget loh, Dek. Udah gitu kaya lagi. Dia pengusaha muda."


"Trus? Kenapa Mbak gak mau? Memang Mbak Aline udah pernah ketemu sama orangnya? Udah pernah ngobrol gitu?"


"Isssh, kamu ini, nanyanya satu-satu dong!"


"Hehehehe ... habisnya aku gregetan Mbak. Kok kisahnya Mbak Aline seperti cerita di novel-novel yang aku baca, hahahahah ...."


"Yeee, novel ditulis juga karena ada kejadian yang seperti itu di kehidupan masyarakat, makanya si penulis bisa berkarya dengan mengembangkan imajinasi atas kejadian tersebut."


"Yeee, Mbak Aline ngalihkan topik niiiih."


"Mana ada? Mbak kan cuma menanggapi apa yang kamu bilang," ucap Aline cuek.


"Ya udah, kalau gitu back to topic!"


"Kalau bertemu secara langsung karena perjodohan ini sih gak pernah. Kan Mbak Aline langsung menolak dan diusir. Tapi Mbak Aline tau jika laki-laki itu sudah memiliki seorang kekasih. Mbak gak mau jadi perusak hubungan orang. Lagipula, Mbak belum ada kepikiran buat nikah."


"Hhhhmmmm...boleh nanya lagi, gak?"

__ADS_1


"Ya, boleh aja."


"Mbak Aline gak rindu gitu sama keluarganya Mbak Aline?"


"Ya rindu, apalagi sama mami sama si mbok."


"Apa Mbak Aline gak ada niatan buat menghubungi mereka, paling enggak buat ngasih kabar kalo Mbak Aline baik-baik aja di sini. Pasti mereka sangat khawatir."


"Mbak Aline udah ngabarin si mbok. Nanti kapan-kapan Mbak Aline akan kabarin si mbok lagi."


"Mbak?"


"Ya?"


"Abah bilang Mbak Aline ini pasti kuliah bidang bisnis. Buktinya semua pembukuan resto Abah jadi sangat transparan sejak dipegang Mbak Aline."


Aline hanya diam mendengarkan.


"Lho, kok diem, Mbak?"


"Hhmmm ... ga kenapa-napa. Emang Abah ngomong apa aja tentang Mbak?"


"Abah gak ngomong langsung ke aku sih. Bunda yang cerita. Bunda bilang, Abah percaya sama Mbak Aline, sama ide-idenya Mbak Aline, karena menurut Abah, Mbak Aline itu memang mengerti dengan bisnis. Mungkin Mbak Aline memang pebisnis sebelum ke Jakarta. Yaaaah, kata Abah sih, kalo idenya Mbak berhasil ya syukur Alhamdulillah. Kalo enggak ya berarti gak rejeki. Emang beneran ya, Mbak?"


"Beneran apanya?"


"Beneran kalau Mbak Aline ini pebisnis atau mengerti bisnis sebelumnya?"


"Menurut kamu?"


"Yah, kok nanya balik sih, Mbak. Tapi kalau boleh ngomong nih ya Mbak, menurut aku bener apa yang Abah bilang. Buktinya sekarang resto Abah udah berkembang dan semakin rame dari hari ke hari berkat idenya Mbak. Beda banget waktu dulu sebelum ada Mbak Aline".


"Ya Alhamdulillah kalau ilmu Mbak bisa bermanfaat buat kamu dan keluarga."


"Kasih tau gak yaaaa?" goda Aline.


"Yaaah, Mbak kan udah janji akan jawab jujur pertanyaan aku!"


"Iya deh iya. Mbak jawab, JU-JUR," kata Aline menekankan kata yang di capslock.


"Iya, Mbak lulusan ekonomi bisnis, arsitek dan hukum ...."


"W-O-W!!! Emejing!!! ", teriak Hana mendengar jawaban Aline membuatnya kaget bukan main.


"Mau dilanjut gak nih ceritanya???"


"Iyaaa ... iyaaa... silakan dilanjut my princess"


"Iiih apaan sih manggil-manggil princess?"


"Kan memang princess. Ya udah, monggo dilanjutin ceritanya ...."


"Enggak ah, udah males ...," rajuk Aline.


"Iisssh, Mbak Aline gak asyik merajuk gitu."


"Biarin!"


Hening beberapa saat.


"Mbak?"


"Hhmmm!"

__ADS_1


"Apa Mbak Aline pernah punya pacar?"


Aline yang ditanya begitu menatap adik angkatnya, lalu menghembuskan napas.


"Kenapa? Kamu lagi ada masalah sama pacar kamu?"


"Yeee, aku nanyain malah ditanyain balik. Aku itu belom punya pacaaar."


"Tapiiiii ...?"


"Tapi tadi ada yang nembak aku."


"Teruuuus?"


"Aku gak tau mau jawab apa."


"Teruuuus?"


"Iiih, kok terus terus sih? Mbak Aline jahil deh."


"Hehehehhe ... habisnya kamu lucu."


"Sembarangan!"


"Memang iya kok. Apa susahnya jawab iya atau enggak. Gak baik gantungin perasaan orang."


"Aku tuh bingung, Mbak."


"Emang dia ngasi kamu soal matematika dulu baru nembak kamu? Heheheh ...."


"Iiiiiiih, Mbak Aline nyebelin deeeeeeh!!"


"Idih, cemberut. Sensi amat, Neng. Emang kenapa harus bingung?"


"Habisnya, temen aku tuh udah suka sama dia sejak lama. Tapi dianya malah nembak aku."


"Kamunya suka gak?"


"Ya gak tau."


"Terus, kenapa gak langsung jawab gak mau?"


"Ya gak tau. Aduuh, mumet. Udah ah!"


"Hana, punya pacar itu ribet. Kalo menurut Mbak lebih baik kamu belajar yang rajin, bantuin Abah sama Bunda. Bikin mereka bangga sama kamu, sama prestasi kamu!"


"Iya, Mbak. Besok aku bakal nolak dia."


"Tapi nolaknya baik-baik ya, Sayang. Karenaaaa, laki-laki biasanya sensitif kalau ditolak. Itu melukai ego mereka. Jadi, gunakan bahasa yang ringan dan sopan, alasan yang gak dibuat-buat dan apa adanya."


"Siyap Buk princess!"


"Ih, apaan sih? Udah adzan. Yuk kita sholat dulu! Habis itu kita makan siang dulu, Mbak yang traktir deh. Setelah itu baru lanjut beres-beres lagi!"


"Okay. Tapi makannya di resto Abah ya, aku pengen makan lobster dengan acar mentah yang menggugah selera sama tomyam salmon. Hhhmmm, bayanginnya aja udah bikin aku laper. Mumpung ditraktir, aku pengen makan yang mahal, hehehehehe!


"Hahahahah ... kamu ini. Memang pandai memanfaatkan kesempatan."


"Hehehehehe ...." Hana nyengir kuda.


"Ya udah. Apa sih yang enggak buat kamu. Yuk buruan, wudhu dulu!"


"Ayuk".

__ADS_1


__ADS_2