
Elang berulang kali mengecek kotak masuk surat elektroniknya sepagi ini. Namun tak ada tanda-tanda Rafael telah mengiriminya informasi mengenai Aline, sekretarisnya yang misterius. Padahal lelaki itu sudah berjanji akan mengiriminya e-mail pagi ini. Diletakkannya kembali laptop yang belum dimatikan ke atas kasur lalu bergegas ke kamar mandi dan bersiap untuk ke kantor. Tak ingin lagi ia bermalas-malasan karena merasa tidak enak pada gadis itu atas kejadian tempo hari. Mulai kini, ia harus waspada dan menjaga kelangsungan perusahaan, terutama dari sekretaris yang asal usulnya masih belum jelas dan sangat mencurigakan.
Hari ini, Elang ke kantor dengan mengendarai motor barunya, Honda RC213V-S. Dengan piawainya lelaki yang sebelumnya phobia berkendara motor itu akhirnya dapat mengendarai motor yang memiliki kesamaan dengan motor Honda milik Mark Marques di ajang motoGP, melesat dan sampai di kantor dengan mulus.
Motor yang dikendarai Elang dan mobil yang membawa Aline berpapasan saat memasuki gerbang gedung AC, dimana mereka berdua berkantor. Aline melihat Elang yang mengendarai motor melintasi mobilnya di gerbang besar gedung AC terheran sendiri.
"Itu... " ucapnya terputus dengan telunjuk seperti menunjuk sesuatu di luar sana tapi memggantung di udara, seperti orang bingung dan ragu-ragu namun merasa tak mungkin bila perkiraannya itu benar adanya.
"Ah, mana mungkin itu dia," monolog gadis itu.
"Ha? Apa? Kenapa?" tanya Rio yang merasa adiknya bergumam lirih tak jelas.
"Eh? Gak ada, Bang. Bukan kenapa-kenapa," jawabnya berusaha sesantai mungkin.
"Ooo... Ya udah. Turunlah kalau gitu! Atau mau ikut Abang lagi?"
"Oh, iya." Aline melihat sekeliling. Baru ngeh kalau ia sudah sampai di kantor dan Rio sudah memarkir mobilnya. Aline bergegas turun dari mobil Rio seperti orang linglung. Sementara itu, Rio hanya memperhatikan sikap aneh adiknya yang meninggalkannya begitu saja tanpa kata-kata pamit dan aksi cium tangan seperti biasanya.
"Sa!" panggilnya begitu Aline mulai melangkahkan kaki menuju pintu masuk gedung AC.
Mendengar namanya dipanggil, Aline berhenti dan berbalik.
Rio segera menghampiri adik kesayangannya.
"Abang langsung balik Batam ya siang ni. Kamu jaga diri baik-baik. Kalau butuh apa-apa, langsung telpon Abang atau si Mbok ya! Bang Cris ikut papi business trip, belum tau kapan pulangnya. Abang juga harus ngurusi beberapa proyek setelah ini. Mungkin akan jarang berkomunikasi. Tapi Abang usahakan buat selalu hubungi kamu. Kamu juga, rajin-rajin berkabar. Kirim chat duluan. Kalau Abang sempat akan telpon kamu malam-malam buat cek warga. Oke?" Rio menjawil hidung adiknya membuat gadis itu merengut tanda tak suka. Aline mengangguk mendengar permintaan abangnya. Sejujurnya, ia tak rela berpisah dengan abangnya. Bisa saja ia menahan abangnya itu, pasti abangnya tak kan keberatan. Namun ia sadar kali ini ia tidak boleh egois. Sudah terlalu banyak kekacauan yang ia perbuat karena keegoisannya. Namun demikian, ia tak menyesalinya sama sekali. Mungkin memang sudah begini jalannya. Anggap saja putri raja turun gunung, pikirnya.
"Jangan telat-telat makannya! Istirahat yang cukup! Pulang dari resto, langsung tidur, jangan lanjut kerja lagi! Tenaganya jangan terlalu diforsir! Lemburnya jangan sampai terlalu malam! Selama kamu lembur, pulangnya kamu dijemput sama Pak Opi. Gak ada bantahan!" sergah Rio saat melihat adiknya hendak membuka mulut, membantah. "Kalau kamu mau berhenti kerja juga itu lebih baik. Abang lebih dari mampu buat biayai hidup kamu!" lanjutnya, menyampaikan petatah-petitih yang disambut anggukan enggan dari sang adik.
"Ingat, jangan sampai sakit! Kalau Abang tau kondisi kesehatan kamu menurun karena kelelahan bekerja, Abang sendiri yang akan menyeret kamu balik ke Batam!" ancamnya sebagai penutup salam perpisahan pagi itu.
Mendengar ancaman Rio, Aline hanya mendelik tak suka sambil memanyunkan bibir, karena ia tau ia tak akan bisa menang mendebat Rio sampai kapanpun. Abangnya yang ini memang terlalu pemaksa.
"Udah, gak usah dimanyun-manyunkan gitu bibirnya. Abang gak minat buat cium bibir kamu! Sana masuk!" usirnya.
__ADS_1
"Iya iya. Isssh, cerewet kali Abang satu ni. Aku pamit kerja dulu." Aline mengambil tangan kanan Rio dan mengecup punggung tangannya. "Abang hati-hati ya! Sholatnya jangan bolong-bolong lagi. Kalau bisa jemaahan di mesjid atau musholla lebih baik. Jaga kesehatan juga! Makannya jangan telat! Tidurnya juga jangan telat! Tenaganya jangan diforsir buat kerja terus, sesekali pergi liburan sana, hepi-hepi biar gak cepat tua dan cerewet! Jangan lupa cari perempuan baik-baik buat calon istri! Ingat, umur Abang udah tua, mau sampai kapan melajang, hehehehe..." Aline terkekeh melihat air muka Rio yang berubah bosan saat ia menyinggung soal mencari calon istri. "Aku masuk dulu. Salam buat si Mbok!"
Rio mengangguk meng-iyakan dan mengusap kepala berpashmina biru itu, mengecupnya singkat lalu berbalik menuju mobilnya.
Sementara Elang yang memperhatikan interaksi keduanya dari jauh hanya mengepalkan tangan. Saat Aline menuju ke arahnya, ia pun berbalik dan berjalan menuju lift. Sapaan ramah dilayangkan oleh setiap karyawan yang berpapasan dengannya. Pun ia jawab dengan sama hangatnya, mengabaikan rasa kecewa dan curiga melihat keakraban Aline dan Rio. Elang memang tak memperlihatkan raut kesalnya kepada orang lain, terlebih karyawan yang tidak ada sangkut paut dengan masalah ini. Baginya, karyawan adalah aset yang harus dijaga dan disejahterakan. Sedangkan asal usul Aline apakah ancaman buat perusahaan atau tidak, harus secepatnya ia selidiki.
Menuruni lift yang berhenti di lantai dimana ia berkantor, lelaki tampan itu berjalan dengan penuh wibawa. Diliriknya sekilas meja sekretarisnya yang masih kosong. Diayunkan kaki panjangnya menuju ruangan CEO.
Elang menghempaskan diri duduk di singgasananya. Kembali diperiksanya e-mail yang masuk. Ternyata sudah ada surel dari Rafael. Dibukanya pesan yang dikirim sahabatnya itu dengan tergesa. Namun kembali ia harus kecewa karena tak banyak informasi yang bisa didapatkan karena menurut Rafael, identitas Aline disembunyikan dan ia tak bisa meretas sistem keamanan data tersebut. "Pasti ada orang kuat di belakang Aline ini." Begitu ucap pesan dari Rafael.
"Cariin gue informasi mengenai Rio Tiocandra!" ketik Elang lalu mengirimkannya kepada Rafael. Entah mengapa ia tiba-tiba saja terpikir bahwa Rio Tiocandra-lah yang merahasiakan informasi mengenai gadis itu.
Baru saja Elang melepas jas navy nya, terdengar ketukan dan sekretarisnya muncul dari balik pintu. Seperti pagi-pagi sebelumnya, Aline akan membacakan jadwal Elang hari itu. Elang hanya manggut-manggut saja mendengarkan sambil memperhatikan gadis berpashmina biru yang terlihat rapi dan sopan seperti pagi-pagi sebelumnya. Ada perasaan sejuk kala memandang wajah cantik itu.
Setelah membacakan jadwalnya hari itu, Elang melihat ada raut ragu-ragu di wajah sekretarisnya.
"Kamu kenapa?" tanya Elang to the point.
"Ehhh, kenapa gimana maksudnya, Pak?" tanya balik Aline.
"Muka kamu itu seperti pengen nanya. Ya tanya aja!"
"Eh? Enggak ada, Pak. Saya permisi," pamitnya lalu berjalan meninggalkan Elang yang masih menatap kepergian sekretarisnya hingga pintu menutup.
Elang sedang sibuk dengan dokumen-dokumen yang ada di mejanya saat pesan dari Rafael masuk. Segera dibukanya e-mail dan membaca isinya. E-mail tersebut berisi informasi lengkap mengenai Rio Tiocandra yang ternyata adalah adik kandung dari dr. Cris, yang diketahui Elang sebagai mantan pacar Delila, adiknya. "Huh, ternyata si Cris itu Crissant Tiocandra. Pantas saja Delila sempat kaget ketika melihat Si Rio itu di HUT AC, mengira Rio adalah Cris karena wajah mereka memang sangat mirip," monolognya.
Informasi yang dikirimkan Rafael kali ini sangat lengkap, mulai dari prestasi kerja seorang Rio Tiocandra, keseharian hingga kehidupan asmaranya. Yang menarik perhatian Elang di sini adalah, Rio yang ternyata sudah bertunangan dengan seorang gadis dari keluarga Wirawan, keluarga yang cukup tersohor di tanah jawa ini. Pertunangan mereka terjadi karena perjodohan yang merupakan wasiat sang kakek. Pertunangan mereka ternyata sempat menjadi perbincangan di media saat itu, namun Elang sebagai lelaki sejati, tentu tidak peduli pada hal-hal demikian. Selain ia tak memiliki hubungan kerja dengan Tiocandra, mereka juga tidak saling mengenal satu dengan lainnya hingga ada sekretarisnya di antara mereka.
Satu fakta yang cukup aneh karena yang dijodohkan adalah Rio, bukan Cris yang merupakan anak sulung. Lalu, apa yang dilihatnya tadi pagi juga benar-benar membuat rasa penasarannya semakin besar. Bila Rio telah bertunangan, lalu apa hubungan lelaki itu dengan sekretarisnya? Yang ia tahu, Aline bukanlah gadis yang mudah didekati oleh lelaki. Ia sangat menjaga marwahnya sebagai gadis berhijab. Dan tadi pagi, ia melihat Rio mengecup kepala gadis itu. Apakah sebenarnya Aline dan Rio telah menikah namun tak direstui orang tuanya hingga gadis itu diusir oleh keluarganya? Jika memang benar telah menikah, kenapa Rio memilih tetap bertunangan? Apakah Aline hanya dimanfaatkan oleh Rio untuk menyusup di perusahaannya?
Tak ingin menghadapi kebingungan seorang diri, Elang mendial nomor ruangan Rendi. Ia harus membagi informasi ini dengan seseorang, dan menurutnya Rendi adalah orang yang tepat. Sementara menunggu Rendi, Elang mencetak semua informasi yang dikirimkan Rafael kepadanya.
Tok.. tok..
__ADS_1
"Masuk!"
Rendi melangkah memasuki ruangan CEO sekaligus sahabatnya.
"Ada masalah?" tanya Rendi begitu ia mendudukkan kursi di depan Elang.
"Lo baca ini, nanti gue jelasin!" titah Elang seraya memberikan hasil print-out email tadi. Rendi mengambil dan mulai membaca.
"Maksud lu apa nyuruh gue baca beginian? Gak penting banget pagi-pagi ngerecokin hidup orang!" Rendi melemparkan ke meja setelah ia membaca apa yang diberikan oleh Elang. Menurutnya sangat tidak penting mengetahui kehidupan pribadi seorang Lavenderio Tiocandra.
"Gue jelasin ya, Nyet. Elo simak baik-baik!" Dan Elang pun mulai membeberkan semua fakta dan hasil analisanya, mulai dari pertemuan tak sengaja dengan Aline dan Rio di beberapa kesempatan, cerita Aura, video call sekretarisnya dengan sang cassanova, sampai pemandangan yang dilihatnya tadi pagi, dimana Rio mengecup puncak kepala Aline. Tak lupa cerita Kimy sebagai latar belakang gadis itu yang bukan gadis lulusan SMA seperti yang selama ini mereka ketahui bersama.
"Oke, gue paham sekarang. Kecurigaan lu ada dasarnya. Tapi, apa selama ini ada gelagat mencurigakan dari sekretaris lu itu? Maksud gue, apa lu punya bukti atas kecurigaan Aline sebagai penyusup? Apa lu udah cek e-mailnya si Aline?" tanya Rendi.
"Gue udah minta bantuan Erick, dan gak ada e-mail yang mencurigakan atau semacamnya sih," ucapnya seperti orang yang sedang berpikir keras, "cuma gue merasa ada yang disembunyikan Aline dan gue takut kalau itu bakal berdampak buruk bagi perusahaan kita," lanjutnya.
Rendi mengangguk mengerti kegelisahan sahabatnya itu. Bagaimanapun, sebagai seorang CEO, Elang tak boleh lengah akan berbagai ancaman, baik dari luar maupun dari dalam perusahaan. Terlalu banyak orang yang menggantungkan hidupnya dengan bekerja di AC, termasuk dirinya. Oleh karena itu, ia pun bertekad untuk membantu. "Jujur aja, gue juga sempat curiga pas malam HUT AC tempo hari. Aline datang bersama Rio dan Ricky Tiocandra, sangat tidak lumrah kalau memang ia hanya gadis biasa bisa kenal dan dekat dengan keluarga konglomerat itu, pergaulan beda strata, you know. Ditambah lagi si Rio ini berani keluarin duit banyak pas Aline yang dilelang. Eh, tapi kan elu juga niat memenangkan lelang malam itu, kan?" tanya Rendi, sengaja keluar dari topik untuk menggoda sahabatnya itu membuat yang digoda hanya melengos tak suka.
"Itu bukan keinginan gue, tapi si bungsu yang udah terlanjur nge-fans sama bakat mantan sekretaris elo ituuu."
Iye.. iye... sori bro!" Rendi mengangkat kedua tangan tanda menyerah melihat gelagat Elang yang sedang tak ingin bercanda.
"Kalau menurut gue, kalau benar mereka suami istri, si Aline ini bukan diusir oleh keluarganya, tapi lebih tepatnya sengaja menghilang dari kehidupan Rio karena suaminya itu setuju untuk bertunangan dengan cucu dari teman kakeknya. Mungkin karena pernikahan mereka gak disetujui oleh keluarga besar Tiocandra. Makanya dia pergi cuma bawa baju di badan. Itu sebabnya si Aline ini jadi pembantu di rumah gue..." Rendi pun tak mau kalah menyampaikan hipotesanya.
"Ah, lu kebanyakan baca novel picisan!" Elang menyela, tak terima dengan apa yang disampaikan sahabatnya.
"Jangan salah lu, Nyet. Novel itu idenya gak jauh-jauh dari kehidupan nyata, cuma kadang dikemas agak lebay oleh si penulisnya jadinya terkesan hanya imajinasi semata," imbuhnya.
"Oke gini," lanjutnya, "coba lu pikir nih ye! Aline itu tertutup dan bukan perempuan yang gampang diajak dekat dengan laki-laki. Buktinya si Arya sama Ethan aja masih usaha sampai sekarang. Dulu waktu kerja di rumah nyokap juga gak terlalu terbuka dalam bersikap. Kalau dari cerita lu tadi, jelas Aline itu udah muhrim sama si Rio, pakai cium-cium kepala segala. Gue yakin mereka udah mulai rujuk sekarang. Cuma si Aline masih ngeyel kekeuh pengen tinggal dan kerja di mari, jadinya si Rio mengalah deh, bolak balik Batam-Jakarta. Mungkin pertunangannya bakal dibatalin si Rio. Kita lihat aja nanti!" Rendi dengan semangat empat lima membeberkan hasil analisanya.
"Heh, Nyet!" Elang menjitak geram kepala sahabatnya itu dengan map yang sudah ia gulung-gulung. "Gue ngajak lo bicara begini bukan buat ghibahin sekretaris gue!"
"Iye.. iye.. sori bro. Gitu aja ngambeg. Mengenai Aline itu penyusup atau enggak, gue cuma bisa kasih pandangan. Pertama, dia kerja di AC atas unsur ketidaksengajaan, kalau menurut nyokap gue, bonyok lu yang maksa sebagai balas jasa telah menyelamatkan nyawa. Kedua, kalau memang Rio sedang meluaskan usaha di tanah jawa seperti yang dikatakan informan lu, bisa jadi ia memanfaatkan Aline juga, aji mumpung, karena sudah terlanjur berada di sini dengan posisi sekretaris CEO, cukup strategis jadi skalian saja jadi mata-mata. Entahlah!" Rendi menutup penjelasannya tanpa kepastian, membuat Elang membuang napas sebal, mengakui kebenaran ucapan Rendi.
__ADS_1
"Kita ikutin aja mainnya. Gak usah terlalu fokus sama praduga, biar berjalan natural aja tapi kita tetap waspada. Kalau memang ada niat jahat, pasti nanti kelihatan celanya," ucapnya bijak membuat Elang manggut-manggut setuju dan mengakhiri sesi selidik mereka siang itu.
***