
Elang terbangun saat hari sudah tengah malam dengan kondisi yang jauh lebih baik daripada semalam, sejauh yang ia ingat. Ia melirik jam tangan yang masih melekat di pergelangan tangan kirinya. Jam 02.48 dini hari. Elang mengucek mata dan meraba dahinya yang terasa lembab dan agak berat seperti ada beban di sana. Ternyata handuk kecil yang sudah mulai mengering. Seseorang pasti sudah mengompresinya semalaman. Segera ia terduduk dan menyibak kain yang menyelimuti dirinya. Ia terdiam, tersadar bahwa yang ia kira selimut ternyata adalah sepasang mukena dan pashmina seorang wanita. Lama ia termenung seolah mengumpulkan nyawa yang belum kembali utuh ke raga. Setelah semua nyawanya kembali, segera ia menuju kamar mandi untuk berwudhu. Ia ingat belum menunaikan kewajibannya malam ini.
Selesai menunaikan sholat Isya dan tahajjud, Elang kembali ke sofa yang tadi ia tiduri. Meja yang seingatnya tadi sangat berantakan kini sudah rapi. Laptop dan printer-pun sudah tidak menyala. Semua berkas tersusun rapi di atas meja disertai sticky notes bertulisan tangan yang sangat rapi dan cantik di atas masing-masing tumpukan berkas-berkas dokumen itu. Aline. Satu nama yang terlintas di benaknya melihat ini semua. Segera ia berlari ke kamarnya, lalu ke kamar tamu untuk mencari keberadaan gadis itu, tetapi tidak ada sesiapapun di sana. Saat ini langkahnya menuju dapur, nihil. Tetap tidak ada siapapun di sana. Elang menepuk jidatnya sendiri karena sempat berpikiran bahwa gadis itu akan menginap di apartemennya. "Ah, mana mungkin dia nginap di sini. Elang ... Elang. Apa sih yang lo pikirkan?" ia bermonolog.
Elang lalu membaca satu persatu sticky notes yang ditinggalkan gadis itu. Diraihnya gelas yang berisi air putih dan diminumnya sebutir obat penurun demam sesuai instruksi di salah satu sticky notes yang ditempel di tutup gelas.
Lanjut, ia membaca dan memeriksa satu per satu berkas-berkas yang telah disusun rapi di atas meja.
Ada rasa heran saat ia membaca salinan kontrak yang belum selesai ia terjemahkan kemarin malam kini telah selesai diterjemahkan bahkan sudah dicetak dengan pesan bertuliskan: "Maaf bila saya lancang. Saya hanya bermaksud membantu" dengan emot jari telunjuk dan jari tengah yang dikenal dengan isyarat 'peace'. Ternyata gadis itu juga menguasai bahasa Jerman. Jika dipikir-pikir, gadis itu memang menguasai banyak hal dinilai dari cerita dan laporan orang-orang yang pernah menjadi atasannya, termasuk Rendi dan juga Shayna, partner kerjanya. Semua mengatakan bahwa gadis itu sangat kompeten dan sangat cepat belajar. Elang heran, takjub dan juga, curiga? Ah, nanti saja ia pikirkan itu. Saat ini ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya karena nanti pagi akan diadakan rapat dengan direksi dan komisaris. Padahal lelahnya belumlah hilang dari meninjau proyek dan kantor cabang di Manado.
Elang sedang menyantap nasi sup yang sudah ia hangatkan ketika laptopnya menyala. Sudah tidak ada waktu lagi, maka sambil makan pun ia harus bekerja, ia harus segera membuat materi rapat untuk ia presentasikan nanti pagi. Sebelumnya, Elang membuka folder "Untuk Pak Boss" yang dikerjakan oleh gadis pashmina itu. Ia membuka file satu per satu. Terakhir, ia membuka file yang disimpan pada jam 20.41 kemarin, yang artinya gadis itu berada di apartemennya hingga sangat malam. Elang membaca file dengan format power point dari berkas yang sudah diketik ulang itu, yang ternyata adalah bahan presentasi yang dibuat ringkas, jelas, dan menarik. Lalu ia mulai menambahkan dan mengurangi apa yang dianggapnya perlu dan tidak perlu. Ia juga menambahkan beberapa materi yang memang tidak tersurat dalam laporan yang dititipkan oleh Rendi kemarin, tetapi perlu untuk disampaikannya nanti, juga beberapa hal penting terkait dengan cabang-cabang perusahaanya. Setelah selesai, Elang beralih pada salinan kontrak yang sudah diterjemahkan. Ia kirimkan kepada papanya, pak Gunawan, melalui email agar papanya bisa membaca dan mempelajari kontrak itu setelah subuh nanti. Papa dan mamanya memang sudah terbiasa bangun dini hari sejak mereka berdua pensiun. Pada jam segini, tentu papa dan mamanya sedang berada di musholla di rumah mereka untuk melaksanakan ibadah-ibadah sunnah sebelum subuh menjelang.
Elang kembali berwudhu saat adzan Subuh berkumandang. Setelah sholat, ia jogging pagi walaupun ia merasa badannya masih sedikit lemas.
Selesai jogging dan ngadem sebentar, Elang pergi mandi dan bersiap untuk ke kantor. Kali ini ia memakai setelan jas warna navy dengan kemeja berwarna biru muda dan dasi motif senada, membuatnya terlihat sangat tampan dengan aura pimpinan yang kentara. Tak lupa ia membawa semua berkas yang ia perlukan untuk hari ini dan juga laptopnya. Elang memacu mobil sport mewahnya untuk melawan kemacetan di pagi hari kota Jakarta. Saat memarkirkan mobilnya di parkiran khusus gedung Atmaja Corp, Elang sempat berpikir apakah gadis itu telah sampai di kantor. Ia hendak mengucapkan terima kasih karena bantuan gadis itu tadi malam. Namun ia gengsi jika harus tiba-tiba mendatangi meja gadis itu. Ah, ia akan pura-pura menyambangi kantor Rendi pagi ini untuk bisa bertemu dengan gadis itu dan menyampaikan terima kasihnya. Rencananya.
Saat sampai di lantai dimana ruangannya berada, Dira, sekretarisnya mengatakan bahwa papa dan mamanya sedang menunggu di ruangannya. Segera ia ayunkan langkah panjangnya memasuki ruangan.
"Assalamu'alaikum," Elang memasuki ruangannya tanpa mengetuk pintu dahulu. Bukannya tidak sopan masuk ruangan tanpa ketuk pintu dulu, tapi ini kan ruangannya???
"Wa'alaikumsalam," awab papa dan mamanya serentak. Papanya dan mamanya selalu saja berduaan kemana-mana, seperti sepasang ABG yang sedang kasmaran, nempel terus kayak perangko. Lihat saja saat ini mereka sedang sarapan bubur ayam sepiring berdua. "Bikin iri aja!" Tanpa sadar Elang mengucapkan kalimat yang seharusnya tak ia ucapkan.
"Makanya cepat menikah," sambar papa dan mamanya serentak, yang sudah mengharapkan kehadiran menantu dan cucu di usia mereka kini. Lalu mereka tertawa bersama, sementara Elang? Tentu saja ia cemberut dan menyesal telah mengucapkan kalimat terkutuk itu.
"Menikah sama siapa? Manekin?" celetuknya lagi sambil berjalan ke meja kerjanya, meletakkan tas kerjanya di atas meja begitu saja. Ia dudukkan bokongnya di kursi empuk CEO.
"Ya cari dong! Kamu kan mama jodohin sama anak-anak teman mama, gak mau. Dijodohin sama anak relasi bisnis papa kamu, juga menolak. Atau kamu berubah pikiran? Mau mama sama papa yang cariin?" goda Bu Luna membuat wajah Elang semakin kusut.
"Jangan lagi-lagi deh Ma, Pa. Kapok aku. Ntar aja kalau udah waktunya pasti ketemu sendiri."
__ADS_1
"Jodoh itu dijemput, bukan ditunggu. Kamu ini laki. Mana ada sumur yang ngejar timba!" nasihat papa Elang.
"Papa gak kepagian ke sininya? Rapatnya masih satu setengah jam lagi loh, Pa," tanya Elang mengalihkan topik, masih sedikit sewot. Sementara mamanya berteriak senang dalam hati berhasil menggoda putra sulungnya yang jarang sekali menunjukkan ekspresi seperti ini.
"Kamu tuh ya. Gak seneng apa lihat mama sama papa di sini? Protes mulu!" jawab mamanya.
"Nanya salah, gak nanya lebih salah, ampunilah hamba-Mu ini, Tuhan!"
"Kamu tuh ya, kalau orang tua nasihatin itu mbok ya didengerin. Ck ... Itu mama tadi beliin sarapan bubur ayam mang Udjang kesukaan kamu. Dimakan gih!" katanya menunjuk sebuah styrofoam di meja. Sudah ada piring dan juga sendok di sana.
"Makasih, Ma. Tapi aku udah kenyang. Udah sarapan tadi di apart," tolaknya.
Bu Luna yang hari ini terlihat cantik dalam balutan tunik pink dan celana panjang berwarna hitam seketika menyipitkan mata mendengar jawaban putra sulungnya itu. "Tumben sudah sarapan? Biasanya selalu sarapan di kantor," tanyanya curiga.
"Biasa aja," balas Elang dengan wajah menyebalkan. Ia yakin jika kini mamanya itu sangat kepo. Elang memang hampir tidak pernah sarapan di apart. Pasalnya, ia tidak bisa sarapan jika masih pagi, selalu lewat jam 8. Tapi entah kenapa tadi ia bisa pula sarapan, padahal belum jam 7. Apa karena gadis itu yang membuatkannya sarapan? Mengingat sarapan, ia jadi teringat misinya untuk menemui gadis itu dengan pura-pura ke ruangan Rendi. Lebih baik ia ke sana sekarang daripada melihat papa dan mamanya bermesraan di depan matanya.
Suara pintu diketuk membuat lamunannya buyar seketika. "Masuk!"
"Suruh masuk aja!"
"Baik Pak. Saya permisi."
"Gagal sudah rencana gue. Malah keduluan Rendi ke sini, kan? Sabar, Lang!" bathinnya.
"Selamat pagi, Om, Tante," ucap Rendi sopan menyapa orang tua dari sahabat sekaligus atasannya.
"Selamat pagi, Ren. Ayo, duduk di sini!" Bu Luna menawari tempat duduk di dekatnya.
"Iya, Tante. Terima kasih."
__ADS_1
"Mama kamu apa kabar, Ren?"
"Alhamdulillah sehat, Tante. Tante dan Om sepertinya makin mesra saja?"
"Ooh, itu harus dong. Kan udah punya pasangan, jadi bisa mesra-mesraan. Beda cerita sama jones yang satu itu. Kamu juga sama Elisa, mes-ti-mes-ra-sa-ma-pa-sang-an, biar langgeng!" sindirnya menekankan kalimat terakhir.
Rendi tertawa mendengar candaan bu Luna yang terang-terangan menyindir putra sulungnya.
"Puas lo ngetawain gue, Nyet? Tuh, bubur ayam dimakan. Gue udah kenyang," Elang menyela pembicaraan mama dan sahabatnya itu. Bila dibiarkan terus, mamanya akan punya sekutu untuk mem-bully nya nanti. Rendi itu tipe sahabat yang mudah terhasut bila itu menyangkut upaya pembullyan dirinya.
Rendi makin kencang tertawanya. Dalam pikirannya, Elang kenyang karena disindir oleh mamanya. Sungguh langka jika seorang Erlangga Eka Atmaja rela memberikan bubur ayam kesukaannya pada dirinya jika bukan karena moodnya sedang mendung seperti saat ini. Rendi lalu mengambil styrofoam dan sendok. Ia memakan bubur ayam yang terkenal lezat itu tanpa mau repot-repot memindahkannya ke piring. Elang sudah bergabung dengan mereka di sofa set itu. Lalu ia, Rendi dan pak Gunawan terlibat pembicaraan serius terkait dengan rapat direksi dan dewan komisaris nanti. Sedangkan bu Luna, ia hanya menyimak pembicaraan ketiga lelaki di ruangan itu.
Barulah saat membahas mengenai HUT perusahaan, Bu Luna banyak bersuara, memberikan ide-ide dan masukan untuk acara yang spesial itu, hingga tak terasa sekretaris Erlangga menginterupsi mengingatkan bahwa sudah saatnya mereka menuju ruangan rapat.
Rapat berjalan lancar. Elang, Pak Gunawan, direksi dan anggota dewan komisaris lainnya beranjak meninggalkan ruangan rapat. Pak Gunawan dan bu Luna mengatakan jika mereka akan langsung pulang saja. Sedangkan Elang berniat untuk melaksanakan rencananya, menemui Aline dengan berpura-pura ke ruangan Rendi, padahal ia tahu bahwa sahabatnya itu langsung makan siang di luar bersama tunangannya.
Elang keluar dari lift dan berjalan ke arah meja sekretaris sahabatnya itu. "Selamat siang, Pak Erlangga. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Shayna sopan.
"Apa Rendi di ruangannya?"
"Pak Rendi tadi langsung pergi makan siang bersama bu Elisa seusai rapat tadi, Pak," jawabnya.
"Oh... Kamuuu sendiri saja? Partner kerja kamu gak masuk?" tanya Elang mulai melancarkan misinya.
"Oh, Aline maksud Bapak? Masuk kok, Pak. Lagi istirahat siang. Baruuu saja dia turun saat Bapak keluar dari lift tadi," jelasnya.
"Ooh ... ya sudah. Nanti saja saya hubungi Rendi kembali. Thanks ya."
"Sama-sama, Pak Erlangga. Selamat siang."
__ADS_1
Elang berlalu dari ruangan Rendi dan memasuki lift khusus petinggi perusahaan. "Hufffft ... Pas dicari gak ketemu, lagi gak dicariin malah ketemu." Elang ngoceh sendiri di dalam lift, kesal sendiri karena misinya untuk mengucapkan terima kasih pada gadis pashmina itu hari ini gak kesampaian.