
Elang baru saja kembali dari agenda rapatnya siang ini. Meeting yang tadi sedikit istimewa, karena dibalut cerita nostalgia dari masa remaja, pasalnya sang klien adalah sahabat lama ketika masih sekolah. Untung saja sore ini jadwalnya kosong, hanya memeriksa beberapa kontrak dan tentu saja mengawasi sekretarisnya bekerja.
Diliriknya meja sekretarisnya yang sudah kosong, namun terlihat jelas bahwa si empunya masih akan kembali untuk melanjutkan bekerja. Sudah beberapa hari ini gadis itu lembur atas perintahnya. Dan selalu pada jam segini ia tak ada di mejanya. Mungkin sedang berisitirahat di musholla menunggu waktu sholat ashar tiba sambil berleha-leha. Elang tak mau ambil pusing. Yang ia tahu, pekerjaan yang diberikannya memang membutuhkan konsentrasi tingkat dewa, pekerjaan yang sebenarnya dapat dikerjakan oleh masing-masing divisi yang bersangkutan jika ia ingin, namun Elang justru membebankan kepada sekretarisnya sebagai bentuk pelampias egonya terhadap gadis itu, jadi wajar bila gadis itu merasa jenuh dan lelah. Yang penting dia tak melalaikan tanggung jawab. Sejauh ini, hasil pekerjaan gadis itu sangat rapi dan memuaskan. Itu saja sudah cukup. CEO muda itu lantas melanjutkan langkah.
Elang menghempaskan diri duduk di singgasana kebesarannya. Diraihnya beberapa dokumen baru di meja. Dibacanya sekilas sebelum membubuhkan tanda tangan, sembari beristirahat sejenak sambil ngadem, mendinginkan badan setelah berkutat di jalanan.
Selepas melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, Elang kembali meraih beberapa laporan yang telah dikerjakan Aline. "Kenapa gadis ini bisa bekerja sekilat ini?" lirihnya, tak habis pikir bagaimana deretan angka dan huruf-huruf ini bisa terangkai dan tersusun rapi dengan apiknya hanya dalam hitungan jam. Padahal, itu bukan divisinya. Siapa sebenarnya gadis ini, benaknya bertanya-tanya. Mengingat Aline, diraihnya laptop dan dinyalakannya CCTV yang menghadap ke meja kerja gadis itu. Menjadi mata-mata tidak pernah ada dalam deretan cita-citanya sejak kecil, namun itulah yang sedang dikerjakannya. Masih belum ada tanda-tanda kehidupan di luar sana. Kembali dialihkannya perhatian pada dokumen di atas meja.
Tak berapa lama, dilihatnya sekretarisnya telah kembali ke meja dengan membawa cangkir di tangan kiri. "Tumben, biasanya baru jam 4 balik ke meja," gumamnya sendiri. Kembali dipandanginya CCTV yang menjadi rutinitasnya kala jam segini dari hari ke hari.
Elang fokus pada tontonannya. Terlihat sekretarisnya sedang serius merogoh laci sedangkan cangkir yang dibawanya tadi sudah tergeletak manja di atas meja. Entah apa yang sedang dicarinya di sana.
Tak berapa lama, gadis itu seperti mengeluarkan semacam botol penyemprot cairan dari bagian bawah lacinya. "Ada-ada saja yang dibawanya." Pria itu heran sendiri, namun tak ayal bibirnya terangkat membentuk segaris senyuman. Kembali fokusnya pada CCTV. Bukannya duduk rapi di meja, gadis itu malah membawa kedua benda itu berjalan menuju lift. Cangkir di tangan kanan, dan botol penyemprot di tangan kiri. Namun ternyata bukan menuju lift, melainkan tangga darurat yang posisinya tepat di sebelah lift. "Mau kemana dia?" otak lelaki itu sudah dipenuhi prasangka juga curiga. Memasang kuda-kuda untuk segera mengejar.
Ruangan Elang berada di lantai teratas gedung A.C, di sebelah kiri lift, menyatu dengan area kerja sekretaris dan lobby atas. Sedangkan di sebelah kanan lift ada tiga ruangan rapat yang berjejer dengan tiga ukuran yang berbeda tiap ruangnya, bisa dipakai siapa saja karyawan untuk rapat, dari skala divisi hingga direksi. Sedangkan di bagian tengah yang memisahkan sisi kiri dan kanan serta berhadapan dengan lift adalah area pantry, toilet dan ruangan janitor. Dan saat ini, tak ada orang lain selain dirinya di lantai ini.
__ADS_1
Elang menimbang-nimbang ketika akhirnya memutuskan untuk mengikuti. Memasuki pintu kaca. menuju tangga darurat, ia berpikir bila tak mungkin gadis itu turun. Lebih baik ia ke atas, menuju rooftop. Mungkin gadis itu ingin bersantai di sana menikmati sore, mengingat ia juga membawa cangkirnya tadi. Elang berjanji dalam hati kalau ia akan mengunjungi rooftop, sesekali nanti.
Di undakan anak tangga kelima dari atas, Elang melihat pintu rooftop setengah terbuka. Berarti benar dugaannya bahwa gadis itu menuju bagian teratas dari gedung perusahaannya ini. Semakin ke atas, terdengar sayup-sayup suara. Semakin jelas ketika ia berada di anak tangga paling akhir, tepat di belakang pintu. Elang semakin dibuat penasaran dengan adanya suara laki-laki di sana. Bagai penguntit, ia mulai memasang telinga, menguping pembicaraan siapapun yang sedang ada di sana, yang ia yakini sedang bersama sekretarisnya. "Biarkan saja, ini demi perusahaan!" ucapnya membela diri ketika sebagian dari dirinya tak membenarkan tindakan tercela itu.
"Aku pikir kamu sudah tidak pernah mengunjungi tempat ini lagi sejak hari itu."
"Sepertinya suara itu tidak asing. Sial, ternyata dia janjian sama Ethan," tuduh Elang semena-mena kala mendengar suara sahabat kecilnya di luar sana tanpa mencerna kalimat yang ia dengar dengan benar. Ada tanya yang tiba-tiba saja muncul tak terduga mendengarkan penuturan Ethan. Ada rasa tercubit menusuk bagian lain hatinya. Tentu saja ia merasa marah. Ternyata benar adanya, sekretarisnya menjalin hubungan terlarang dengan sahabat masa kecilnya.
Elang mendengarkan dengan seksama pertemuan dua sejoli itu. Sesekali ia berusaha melihat dari celah kusen pintu. Namun apa daya, celah yang teramat tipis itu tak mampu memenuhi keinginan netranya. Alhasil, hanya telinga yang ia andalkan sekarang.
"Aku kira karena sikap Aura kamu sengaja menghindariku. Aku baru tahu belakangan tentang perbuatannya. Aku minta maaf atas namanya. Kamu boleh marah sama aku karena dia, tapi jangan hindari aku."
Telinganya kembali tegak mendengar Ethan mengucapkan kalimat barusan. Satu permintaan yang menurutnya tidak selayaknya.
"Atas alasan apa aku marah pada Aura? Aku mengerti perasaannya sebagai istri. Toh apa yang disampaikannya juga tidak benar. Aku sama sekali tak seperti yang dituduhkan. Jadi aku gak mau ambil pusing. Capek kalau semua omongan orang mau didengerin."
__ADS_1
Elang bersyukur, ia menemukan satu fakta yang membuatnya sedikit merasa malu. Malu karena telah mempercayai ucapan Aura atas sekretarisnya. Ternyata Aline tak seburuk yang ia kira. Elang mengelus dada, teringat akan dosanya yang telah berprasangka padahal gadis itu sama sekali tak berbuat apa-apa.
"Bagiku, kamu selalu istimewa!" Suara Ethan kembali memasuki rungunya. "Dasar tidak tahu diri!" umpatnya geram. Kali ini ia tak mampu lagi menahan diri. Seandainya bukan karena posisinya yang sedang mencuri dengar, tentu ia akan dengan sukarela menghajar pria yang sedang mengungkapkan isi hatinya tanpa merasa malu pada statusnya yang sudah beristri.
Elang memaki-maki Ethan dalam hati sepuas yang ia mau. Ingin rasanya ia menunjukkan dirinya di depan sana, lalu menghajar lelaki itu agar otaknya kembali pada tempatnya semula. Dia sudah memiliki Aura namun masih saja mengagumi perempuan lain. Sialan! Tak dipungkirinya, cerita kehidupan rumah tangga Ethan jauh dari kata bahagia. Cerita itu telah lama ia ketahui dari sang mama. Walau bagaimanapun, apa yang dilakukan Ethan tidak bisa ia benarkan. Sejatinya sang istri tidak diharapkan, pun tak mengharapkan dirinya, tetaplah bukan begini caranya. Namun, apa haknya menyalahkan. Salahkan hati sahabatnya yang tak mampu untuk setia pada hati yang telah ia halalkan setahun yang lalu.
"Aku tahu, terima kasih. Kamu sudah mengatakannya berkali-kali." Jeda sejenak.
"Perasaanmu padaku itu tidak pada tempatnya, Kak. Bukankah kamu bilang mau memperjuangkan rumah tanggamu?"
Elang meregang mendengarkan mereka. Namun hatinya sedikit melega mendengar kalimat Aline yang terang-terangan menolak dan tidak peduli pada perasaan lelaki sialan yang sialnya adalah temannya. Rasanya ia berhutang maaf pada perempuan itu.
Elang merasa semakin lama di sana, semakin ia sulit menahan dirinya untuk tidak menghajar Ethan. Bersyukur sekretarisnya bukan tipe penggoda yang bisa semakin memperkeruh suasana, membuat satu sudut hatinya berteriak gembira. Satu fakta itu saja, sudah cukup baginya.
Elang menutup misi mata-matanya. Beranjak meninggalkan tempat perkara. Tak baik menguping pembicaraan orang lama-lama. Menguping saja sudah salah, apalagi berlama-lama. Di sepanjang langkah menuju ruangannya, Elang berjanji untuk minta maaf pada sekretarisnya yang telah dituduhnya dengan kata-kata tak sedap didengar. Namun tentu saja dengan cara yang halus, jangan terlalu kentara, wibawanya sebagai lelaki dan juga atasan tetap harus ia jaga. Sambil berjalan, Elang mulai menyusun rencana dengan sebuah smirk tersungging dari bibirnya.
__ADS_1
***