Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Merantau


__ADS_3

Rosa sedang duduk sembari membaca buku agama online di dalam bus yang membawanya ke Jakarta. Sebentar lagi ia akan sampai di kota Jakarta. Sejauh ini perjalanannya aman dan lancar.


"Selamat tinggal Sumatera. Kini aku bukan lagi Rosaline Denisa Tiocandra," bisiknya.


Tepat jam 3 subuh, bus yang ditumpanginya berhenti di terminal. Rosa dan penumpang lainnya segera turun. Ada yang dijemput keluarganya, ada yang naik taksi, dan ada juga yang menuju mesjid di sekitar terminal menunggu pagi tiba, baru melanjutkan perjalanan menuju tujuan masing-masing.


Rosa memutuskan untuk ke mesjid yang tak jauh dari terminal.


Pagi hari, setelah sarapan, Rosa kembali membuka aplikasi ojek online. Ia memesan ojek menuju stasiun kereta. Hari ini juga ia akan berangkat menuju Jogjakarta, ke rumah teman dekatnya semasa kuliah di Jerman, Prita. Ia sengaja tidak menghubungi temannya itu. Biarlah menjadi kejutan nanti di Jogja. Prita ini satu-satunya teman yang dekat dengannya semasa kuliah. Walaupun mereka berbeda jurusan, tetapi mereka kuliah di kampus yang sama dan apartemen yang mereka tempati bersebelahan.


Ia baru saja selesai mengambil tiket di stasiun, samar ia mendengar suara ibu-ibu berteriak jambret. Belum sempat ia mencari dari mana arah suara itu, tiba-tiba saja seorang laki-laki menabraknya hingga mereka berdua jatuh terjungkal ke lantai stasiun yang dingin.


Suara ibu tadi semakin dekat, bersamaan dengan si laki-laki itu yang buru-buru berdiri sambil memunguti tas yang dibawanya. Seketika itu juga naluri security-nya bekerja. Segera diraihnya kaki laki-laki itu, membuatnya kembali terjatuh. Rosa masih mencoba menangkap laki-laki itu yang ia yakini adalah jambret yang diteriaki si ibu. Perkelahian pun tak terelakkan. Sampai akhirnya si ibu yang berteriak dan dua orang security yang sesungguhnya datang membekuk si jambret.


Rosa masih terduduk mengatur napasnya yang berkejar-kejaran. Tak sia-sia ia belajar bela diri sedari kecil. Ah, ia teringat tujuannya ke stasiun ini. Keretanya akan segera berangkat! Rosa segera berdiri, menyerahkan tas kepada si empunya.


"Ini, Bu, tasnya. Diperiksa dulu apa ada yang kurang atau bagaimana! Lain kali hati-hati ya Bu!"


Rosa bergegas pergi. Namun si ibu menahan tangannya.


"Terima kasih, Nak. Terima kasih banyak. Alhamdulillah yaa Allah."


"Iya, Bu. Sama-sama. Kalau begitu saya permisi." ucapnya lalu segera berlari mencari kereta yang akan ditumpanginya.


Dua hari kemudian ....


Pagi ini Minggu pagi, Rosa kembali tertidur di teras samping mesjid, setelah tadi ikut didikan subuh bersama anak-anak. Sampai seorang ibu mengguncang bahunya. Sontak ia terbangun dan terduduk.


"Iya, Bu, maaf saya tiduran di sini."


"Kamu cuci muka dulu sana ya!" titah si ibu.


Rosa berjalan menuju tempat wudhu perempuan. Tak lupa ia membawa serta ranselnya. Bukannya kenapa-napa, ini kota besar dan orang jahat bisa berada di mana saja. Ia hanya berjaga-jaga.

__ADS_1


Setelah bersih, ia kembali menemui si ibu tadi yang masih menungguinya di teras mesjid.


"Maaf, Bu. Ada yang bisa saya bantu?"


"Anak ini yang kemarin itu nolongin saya di stasiun kan? Yang nangkepin jambret?"


"Hhmmm....iya, Bu. Apa ada barang yang hilang?"


"Saya Nurhalimah, panggil saja Bunda Halimah! Nama kamu siapa?"


"Saya.... saya Aline, Bu. Ibu kenapa ada di sini?"


"Panggil "bunda" saja, Nak Aline!" katanya sembari menekankan kata BUNDA.


Rosa yang mengaku bernama Aline hanya manut. "Baik, Bunda."


Bukan tanpa alasan ia mengaku bernama Aline. Ia sudah berjanji untuk menanggalkan atribut Tiocandra dari dirinya. Ia ingin memulai kehidupan barunya sebagai rakyat biasa. Lagipula, ketika kuliah ia juga dipanggil Aline, karena dalam kelasnya ada dua orang yang bernama Rosa, yaitu temannya Rosalinda dan dirinya Rosaline. Dalam urutan absensi, nama Rosalinda berada di atasnya, alhasil ialah yang harus mengalah dan dipanggil Aline oleh teman-temannya.


"Bunda tadi dari pasar, mau sholat Dhuha dulu di sini sebelum pulang. Kamu kenapa tiduran di sini, Nak?"


"Astaghfirullah, Nak. Memangnya rumah kamu di mana?"


"Saya ...."


"Bunda, ayo buruan! Abah udah ngajak pulang!"


Rosa melihat seorang gadis belia yang diyakininya adalah anak gadis Bunda, menghampiri mereka.


"Bilang sama Abah, tunggu sebentar lagi ya! Ada yang mau Bunda omongin sama kakak ini."


Si anak kembali berjalan keluar menuju parkiran mesjid.


"Nak Aline, rumahnya dimana? Ayo Bunda antar."

__ADS_1


"Hmmm ... itu Bunda. Saya ... saya ... saya diusir dari rumah. Ceritanya panjang, Bunda. Dan maaf saya tidak bisa menceritakannya kepada Bunda." Akhirnya ia memutuskan untuk berkata jujur. Terlalu banyak kebohongan hanya akan menambah banyak dosanya. Sudah cukup ia menjadi anak durhaka sampai diusir dari rumah oleh papinya walaupun sesungguhnya dia merasa tidak bersalah. Ia mengenal Niko Wirawan, pria yang akan dijodohkan dengannya, yaitu seorang cassanova yang terkenal suka gonta ganti pacar. Apa kabar rumah tangganya nanti jika punya suami player begitu. Entah papinya tau atau tidak dengan reputasi buruk laki-laki itu. Yang jelas, saat ini ia tidak mau menambah dosa. Ah, lupakan masa lalunya!


Aline mengamati wajah Bunda Halimah. Hatinya mengatakan bahwa wanita paruh baya di hadapannya ini adalah orang baik.


"Astaghfirullah. Iya gak papa, Bunda mengerti. Tidak apa-apa. Tapi apa kamu tidak punya saudara atau teman barangkali?"


"Ada Bunda. Kemarin itu saya rencananya akan ke Jogja, tapi saya ketinggalan kereta," Aline menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Apa karena menolong Bunda waktu itu?"


Rosa hanya diam ditanya begitu.


"Kalau begitu, kamu ikut Bunda pulang ya. Tunggu sebentar di sini! Bunda mau minta ijin dulu sama Abah."


"Tidak usah, Bunda. Terima kasih. Rencananya saya akan segera mencari kontrakan hari ini."


"Nak, ini Jakarta. Kamu pendatang, terlebih kamu seorang perempuan. Jakarta bukan kota yang ramah. Lebih baik kamu ikut Bunda dulu. Nanti Bunda akan bantu carikan kost-kostan atau kontrakan untuk kamu. Sebentar, Bunda minta ijin dulu sama Abah."


Beberapa saat kemudian, Bunda kembali.


"Ayo, Nak Aline. Kita pulang!"


Melihat keraguan di mata Aline, Bunda Halimah lalu merogoh tasnya, mengeluarkan KTP dari dompetnya. "Ini KTP Bunda. Insya Allah kami bukan orang jahat."


Akhirnya, Rosa yang kini mengganti identitasnya menjadi Aline ikut pulang ke rumah Bunda, wanita yang tidak sengaja ditolongnya di stasiun 2 hari lalu. Wanita yang membuatnya ketinggalan kereta ke Jogja.


Wanita yang membuatnya berubah pikiran untuk tidak melanjutkan perjalanan ke Jogja.


Wanita yang membuatnya hidup bagai backpacker selama dua hari ini.


Wanita yang membuatnya hidup berpindah dari satu mesjid ke mesjid lainnya selama dua hari ini.


Dalam hati ia mengucapkan, bismillah. Semoga Allah melindungi setiap langkahnya.

__ADS_1


"Selamat merantau, Aline!" ucapnya pada diri sendiri.


__ADS_2