Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Karena Gue Malu


__ADS_3

Elang POV


"Gak salah lu, Nyet?" Rendi menahan tawanya sebisa mungkin mendengar kalimat yang gue lontarkan barusan. Kami menghabiskan waktu sore hari ini di taman samping rumah orang tua gue. Kebetulan tadi papa minta gue langsung ke rumah begitu pertemuan dengan Mr. Bryan selesai. Biasa, laporan ke owner, sebab ini proyek besar. Rendi nyusul ke sini karena gue yang minta, ada beberapa berkas yang harus gue tandatangani dan gue malas balik lagi ke kantor.


"Yap! Terus aja lo ngetawain gue!" hardik gue yang malah membuat dia tambah ngakak. Sialan ni bocah!


"Hahahahaha ...." tawanya terdengar sangat bahagia di atas penderitaan gue.


"Kamvvret lo, Nyet!" gue lempar kunci yang ada di tangan gue dan mendarat dengan sempurna di kepala sahabat gue yang kurang ajar ini.


"Oke! Oke!" ucapnya mengangkat kedua tangan setelah tawanya reda. "Lu seriusan sama ucapan lu tadi?"


"100%!" jawab gue mantap.


"Oke. Kapan lu siap, gue juga siap!" ucapnya.


Ini yang gue suka dari Rendi. Dia selalu bisa gue andalkan.


"Nanti malam aja langsung action, Nyet. Lo tunjukkin aja dimana lokasinya, ntar gue susul ke sana!"


" Sip. Ntar gue shareloc," katanya sambil mengangkat kedua jempol nya ke atas kepala. "Ya udah, kalau gitu gue cabut dulu. Kerjaan masih numpuk. Pamitin sama bonyok lu!" ucapnya berlalu pergi tanpa mendengar jawaban gue.


Setelah dari meeting dengan Mr. Bryan tadi gue langsung pulang. Aline gue suruh balik kantor membawa dokumen-dokumen buat rapat. Sedangkan motor temannya tadi gue suruh sopir gue yang bawa. Dan di sinilah gue sekarang, rebahan di kasur empuk sambil menatap langit-langit kamar.


Gue bener-bener malas ngantor akhir-akhir ini karena gue gak enak ketemu sama sektretaris gue itu. Memang ini semua gegara ucapan gue juga yang tempo hari ke dia. Tatapan penuh kecewanya benar-benar bikin gue gak bisa fokus kerja. Berulang kali gue minta maaf dan berulang kali pula dia mengatakan "ya" namun tetap aja gue gak merasa puas, merasa dia gak ikhlas. Seperti ada yang mengganjal di hati dan kadang bikin sesak. Dia tidak seceria dan secerewet biasa. Sebegitu berefeknya kalimat sialan itu padanya. Dan semua ini karena kebodohan gue yang mempercayai ucapan Aura.


Aura, ya, dia adalah penyebab semua ini! Aura adalah anak sahabat nyokap gue yang kebetulan adalah istri Ethan, anak dari sahabat bokap gue. Gue udah kenal mereka berdua sejak kecil dan cukup dekat dengan keduanya.


Gue terprovokasi oleh ucapan Aura yang mengatakan bahwa Aline adalah wanita tidak benar yang berkedok sebagai muslimah. Wajar aja kan kalau gue percaya ucapan teman yang udah gue kenal sejak kecil? Entah kenapa, mendengar apa yang diucapkan Aura membuat sesuatu di hati gue gak terima namun malah mempercayainya begitu saja karena sejujurnya gue juga pernah melihat Aline jalan dengan lelaki yang berbeda di beberapa kesempatan. Dan semuanya terjadi setelah acara HUT AC tempo hari. Apa benar dia bergonta ganti pasangan dari lelaki kaya yang satu ke yang lainnya? Tapi kenyataan yang gue lihat memang seperti itu. Ahhh, gue ragu.


Seharusnya gue sadar kalau Aura tidak menyukai Aline karena suaminya menyukai gadis itu sebagai seorang perempuan dewasa. Bukan salah Ethan juga jika begitu. Sebagai sesama lelaki, gue bisa mengerti sikap Ethan. Selama pernikahan mereka, sejauh yang gue tahu, Aura bukanlah istri yang baik buat Ethan. Wajar saja bila Ethan terpikat pada sekretaris gue yang cantiknya di atas rata-rata. Aline secara fisik cantik dan menarik. Sejauh yang gue kenal, ia baik, juga cerdas, ceria dan cekatan. Pembawaannya yang ramah namun terkesan misterius bagaikan magnet bagi kaum adam untuk semakin mendekat.


Beberapa kali gue mendengar gosip dari Rendi tentang hubungan keduanya. Namun, tak sekalipun gue pernah melihat kedekatan mereka berdua yang bisa dideskripsikan "dekat". Terlihat wajar-wajar saja karena Ethan pernah menjadi atasannya dulu. Ahh, back to the topic.


Hubungan gue dan sekretaris gue memburuk, secara personal maupun profesionalitas kerja. Bukan buat dia, tapi buat gue. Dia terang-terangan terlihat menjaga jarak dari gue. Walaupun semua tugas ia kerjakan seperti biasa, namun itu gak cukup membuat gue merasa puas. Berbicara sangat irit dan bersikap dingin. Sesuatu yang gak gue suka bila terjadi di perusahaan gue dan sekarang harus gue alami sendiri karena ulah gue.


Dua malam lalu, gue menelpon Rendi. Rendi mengenal Aline lebih dulu karena gadis itu pernah bekerja menjadi buruh setrika di rumah orang tuanya dan menjadi sekretarisnya sebelum menjadi sekretaris gue. Sesuatu yang membuat gue kagum pada gadis itu dari dulu adalah dia terlihat berkelas namun tidak malu melakukan pekerjaan seorang ART. Dari Rendi, gue gak dapat pencerahan apapun. Gak banyak info yang bisa gue pakai. Sohib gue itu gak membantu sama sekali, malah mengejek gue dan semakin menyudutkan gue dengan nasehat-nasehatnya yang unfaedah. Dan pada akhirnya gue harus menyerahkan masalah ini pada waktu jua.

__ADS_1


Hingga waktu yang ditunggu-tunggu itupun tiba. Pagi tadi dia udah mengingatkan jadwal gue hari ini. Namun karena dorongan rasa malas dan enggan ngantor, gue mengabaikan pesannya dan main PS di apartemen gue.


Kembali masuk kantor di jam 10 pagi hari ini membuatnya sedikit kesal. Ada rasa bahagia yang terselip melihat wajah kesalnya. Namun kebahagiaan itu berganti dengan rasa panik waktu dia nanyain ke gue apa gue melupakan jadwal meeting penting dengan klien penting hari ini, Mr. Bryan, CEO Noah Enterprise?


Gue benar-benar panik. Otak gue buntu, blank, gak bisa mikir lagi begitu gue tahu di sana gak ada helipad. "Perusahaan sebesar itu masa gak punya helipad?" Gue menggerutu dan mengumpat berkali-kali menumpahkan kekesalan gue. Sumpah, yang ada di kepala gue cuma perusahaan gue yang akan mengalami kerugian. Proyek ini bernilai fantastis. Sebagian keuntungannya bahkan udah disetujui untuk dialokasikan sebagai bonus karyawan. Kalian bisa bayangkan seberapa besar keuntungan proyek ini kalau benar-benar jadi. Dan semuanya bisa saja gagal karena ketidakprofesionalan gue. "Ayo, berpikir dong, Erlangga! Lo itu jenius! Manfaatin otak encer Lo!!" gue membathin berusaha membangkitkan energi positif dalam diri gue, namun sayangnya gak berhasil. Sial! Sial! Sial!


Dan sekali lagi, sekretaris gue melakukan manuver yang menurut gue sangat ekstrim. Tapi gue gak punya pilihan lain selain mengikuti idenya. Menuju lokasi meeting dengan menggunakan motor gak pernah ada dalam pikiran gue. Tapi harus gue akui itu ide terbaik yang ada, saat itu.


Gue terdesak oleh waktu dan bayang-bayang kegagalan, akhirnya dengan berat hati gue menyetujui idenya itu. Dan sialnya, dia menertawakan gue begitu gue bilang kalau gue gak bisa bawa motor. Kurang ajar memang nih sekretaris. Ingin gue marahi tapi gue gak berani, akhirnya cuma gue pelototin yang membuat tawanya terhenti seketika. Kali ini gue butuh dia, gue bergantung sama dia. Demi proyek dan ribuan karyawan yang menopangkan hidupnya di perusahaan gue, akhirnya dengan langkah berat gue mengekori langkahnya. Mau bagaimana lagi, kali ini nasib perusahaan setengahnya ada di tangan gadis ini, jadi musti sabar dan mengalah.


Di dalam lift, gue pura-pura menyibukkan diri dengan gadget sambil sesekali mencuri pandang ke arahnya. Gue senyum-senyum sendiri mengingat situasi dingin di antara kami tiba-tiba mencair karena keteledoran gue ini. Selalu ada hikmah di balik setiap kejadian, bukan? Namun yang lebih penting dari semua ini adalah bagaimana cara menarik hati dan minat Mr. Bryan agar kerjasama ini berhasil. Jika tidak, maka sia-sia pengorbanan harga diri gue yang dibonceng sama cewek modelan sekretaris gue ini.


Sebelum berangkat, dia minta gue mendorong motor sampai agak jauh dari lobby. Gue udah mikir yang buruk-buruk aja tentang dia yang skalian pengen mempermalukan gue dengan nyuruh mendorong-dorong motor sialan ini. Demi apa gue mau disuruh-suruh sama bawahan gue? Tapi tetap gue kerjakan, gue sabar-sabarkan diri gue demi sampai tujuan dengan selamat dan tepat waktu.


"Stop! Stop! Sudah, Pak. Cukup! Gak ada yang lihat kalau di sini," ucapnya sambil mengambil alih stang motor, lalu menyerahkan tas yang dibawanya buat dijadiin pembatas punggung dia dan dada gue pas boncengan.


Sekejap itu juga gue beristighfar dalam hati. Gila aja! Gue udah mikir yang buruk-buruk, ternyata dia bukannya pengen mempermalukan tapi justru dia pengen jaga harga diri gue sebagai bos besar biar gak malu dibonceng sekretaris ceweknya. Emang yang namanya syetan selalu aja mampu merasuki dan meracuni pikiran manusia. Astaghfirullah.


Motor berjalan, melaju membelah jalanan kota Jakarta yang padat. Dia kelihatan sangat bahagia bisa boncengin gue. Beberapa kali ia berteriak histeris saking senang bisa balapan saat berada di jalanan yang lengang. Gayanya seperti pembalap profesional, bikin perut gue mual tapi musti tetap konsentrasi buat pegangan, takut terjatuh.


Syukurlah kami sampai tepat waktu dan dengan selamat. Meeting berjalan lancar dan sesuai harapan. Mr. Bryan benar-benar pengusaha yang jelimet. Tapi gue senang akhirnya perusahaan kami bisa bekerja sama dengan perusahaan sekelas Noah Enterprise.


Tentu aja bokap gue senang mendengar berita ini. Dan gue punya alasan buat santai-santai di sisa hari dan gak perlu kembali ke kantor. Kembali gue habiskan sore itu dengan bermain PS sampai jam yang dijanjikan oleh Rendi.


-Malam Harinya-


"Skali lagi gue tanya, Nyet! Beneran lu yakin?" Rendi nanya ke gue seolah-olah gue cuma main-main.


"Skali lagi Lo tanyain, Lo dapat piring cantik, Nyet!" Gue toyor kepalanya. "Jadi laki gak boleh nyinyir!" Dia mengusap kepala bekas toyoran gue.


"Permintaan lu tiba-tiba. Setau gue lu paling anti sama motor!" belanya.


"Yap, tapi itu dulu, sekarang udah enggak!" kata gue, dengan entengnya. Rendi tau gue trauma dengan motor. Gue pernah jatuh ditimpa motor waktu SMP dulu karena sembunyi dari cewek-cewek centil yang mengejar gue. Alhasil, selamat enggak, yang ada gue malu plus kaki gue keseleo dan terpaksa berjalan menggunakan kruk hampir tiga minggu lamanya. Sejak saat itu, gue anti dengan sesuatu yang bernama motor.


"Oke! Let's see! Apa lu sanggup atau enggak." Yah, dia nantangin gue.


Saat ini sudah lewat tengah malam. Kami sedang berada di sebuah jalanan perumahan yang lengang. Gue bermaksud buat belajar bawa motor pada Rendi. Berkali-kali gue gagal namun berkali pula gue bangkit dan mencoba kembali. Hingga akhirnya gue berhasil mengendarai motor matic yang dibawa Rendi dengan sempurna. Entah motor siapa yang dipinjamnya.

__ADS_1


"Lumayan juga kerusakannya!" celetuknya ketika menaikkan motor ke bak belakang pick-up.


"Gak usah kayak orang susah, Lo, Nyet! Ntar biaya perbaikannya gue yang bayar. Repot amat lu jadi laki." Selama berteman, baru kali ini gue denger dia mengeluh terus kerjaannya.


"Elu yang ngerepotin!" sambarnya. "Udah, gue udah ngantuk. Lusa lu balik lagi sini. Lu belajar bawa motor gigi!" titahnya bak pelatih atlet aja.


"Kelamaan nunggu lusa. Besok malam aja!" tawar gue.


"Besok gue sibuk. Lagipula ini udah hampir subuh! Lu kenapa ngebet banget belajar bawa motor?" tanyanya menyelidik.


"Gak kenapa-napa. Lagi pengen aja!" Gue coba berkilah.


"Yaudah, lusa gak jadi kalo gitu!" Yaelah, dia merajuk.


"Eits, sabar dong, bro. Main batal-batalin aja!" Dia menatap gue dengan pandangan yang gak bisa gue abaikan.


"Iye iye, gue ngaku!" putus gue pada akhirnya.


Gue menarik napas dalam-dalam. Menyiapkan mental gue karena gue tau endingnya gak akan enak di gue.


"Tadi gue telat ke kantor, lupa ada jadwal meeting. Karena waktu mepet, akhirnya gue ke Noah Enterprise pake motor. Minjem 'Ninja' teman si Aline yang anak marketing, dibonceng sama dia," jawab gue singkat, jelas dan padat sembari mengolesi luka-luka di tangan dan kaki gue dengan antiseptik.


"Hahahahahahaha...." Rendi tertawa terbahak-bahak dalam hitungan ketiga. Gue biarin aja dia nertawain gue sampai puas. Biar dikira makhluk halus sekalian.


"Jadi lu... jadi lu... hahahahahaha..." ucapnya terputus-putus memegangi perutnya.


"Sialan lu!"


"Jadi lu bela-belain belajar bawa motor karena sekretaris lu? hahahahahahaha.... Elang.... Elang... Gue pikir karna apa."


"Iya, karna gue malu dibonceng sama cewek! Puas lu???"


"Puas pake BANGET! hahahahahaha...." kembali ia tertawa terbahak-bahak. "Harusnya tadi lu videoin, trus upload di medsos. Pasti viral," ejeknya.


"Sialan!" umpat gue, berjalan menuju mobil gue, meninggalkan dia yang masih berusaha meredakan tawanya.


***

__ADS_1


__ADS_2