
Batam, Kepulauan Riau.
Beberapa hari sebelumnya ...
Cris menunggu Rio di sela-sela jadwal operasinya yang cukup padat akhir-akhir ini. Semakin hari semakin banyak saja orang yang menderita penyakit jantung. Kematian diakibatkan terjadinya serangan jantung karena penyempitan pembuluh darah di area jantung. Bukankah kita sering mendengar artis-artis dan pesohor dunia yang meninggal tiba-tiba? Salah satu penyebabnya adalah penyakit ini. Penyakit jantung tidak mengenal usia. Tua, muda, semuanya berpotensi menjadi sasaran penyakit ini. Kematian mendadak karena serangan jantung terjadi ketika pembuluh darah di jantung tersumbat dan menyempit oleh plak-plak yang menempel pada dinding pembuluh darah.
Penyebab utama penyakit jantung adalah terlalu banyak mengkonsumsi lemak (kolesterol) dan gula yang nantinya akan menjadi plak. Ditambah dengan adanya radikal bebas semakin memperparah kondisi. Plak yang menempel pada dinding pembuluh darah itulah yang membuatnya menyempit lalu tersumbat. Lama kelamaan darah tidak dapat dialirkan ke jantung dan jantung tidak dapat memompakan darah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh, maka terjadilah serangan jantung. Faktor usia dan gaya hidup turut menyumbang penyebab penyakit ini. Oleh karena itu, mari kita biasakan hidup sehat dengan rajin olah raga, menjaga asupan makanan, menghindari alkohol dan rokok agar terhindar dari penyakit mematikan nomor 1 di dunia ini.
Pintu ruangan Cris diketuk dari luar. Setelah menyuruh tamunya masuk, Cris berpindah dari kursi kebesarannya ke sofa, menemani tamunya yang tak lain adalah adiknya sendiri, Lavenderio yang selalu ia panggil Rio.
"Mau minum apa, Yo?" tanya Cris sambil berjalan menuju lemari es yang berada di salah satu sisi ruangannya.
"Apa ajalah, Bang." Rio menjawab sambil melonggarkan dasi yang terasa mulai tidak nyaman ia kenakan.
Cris datang dengan dua gelas jus jeruk dingin di tangannya. Meletakkannya di atas meja, yang satu di hadapan Rio, dan satu lagi di hadapannya.
"Ada apa?" tanyanya setelah ia ikut duduk di sofa.
"Ada undangan dari Atmaja Corp. Undangan HUT. Papi suruh aku yang datang. Kondisi mami sedang gak memungkinkan untuk bepergian sekarang-sekarang ini. Gimana? Abang bisa ikut? Kita bisa berangkat sama-sama. Sekalian menjenguk si manja di sana. Syukur-syukur bisa dibawa pulang juga sekalian." Rio memberikan undangan resmi tersebut kepada abangnya. Cris membuka dan membaca undangan yang ditujukan kepada pimpinan perusahaan mereka yang tak lain adalah sang papi.
Cris tidak langsung menjawab. Ia lalu berjalan ke meja kerjanya, membuka buku agenda yang terletak di sebelah kalender meja untuk melihat jadwal operasinya minggu depan. Sayang sekali, ia ada jadwal operasi Jum'at dan Sabtu siangnya.
"Abang gak bisa ikut," ucapnya lesu. "Ada jadwal operasi. Setidaknya untuk dua Minggu ke depan masih sangat sibuk. Gak mungkin dipaksakan ikut karena pasti akan kelelahan untuk jadwal Sabtu siang, sementara di Jum'at siang pun sudah ada jadwal."
"Gak bisa digeser atau diganti hari atau ganti sama dokter yang lain?" tanya Rio.
Cris menarik napas. "Kayaknya gak bisa. Jadwal operasi ini disusun sudah dari jauh hari karena menunggu obat. Beberapa obat untuk operasi jantung gak tersedia di Indonesia, jadi instalasi farmasi kami harus mendapatkannya melalui jalur khusus atas persetujuan PRON (Pusat Rujukan Obat Nasional) di RSCM dengan proses yang panjang, dan menunggu hingga berbulan-bulan sampai obat itu datang. Akhir minggu lalu obatnya sudah datang, jadi operasi harus segera dilaksanakan. Kasihan pasien-pasien abang jika harus tertunda lagi."
"Apa gak ada solusi lain?" tanya Rio masih berusaha.
__ADS_1
Cris menggelengkan kepala, "Sayangnya tidak ada. Memang di dalam tim, ada beberapa dokter spesialis bedah jantung dan dokter spesialis bedah jantung anak, tapi pasien yang sudah mengambil antrian operasi juga tidak sedikit. Kami berbagi hari. Operasi jantung bukan operasi yang mudah. Kami sebagai DPJP (Dokter Penanggung Jawab Pelayanan) memantau perkembangan pasien dari waktu ke waktu, sehingga kamilah yang paling mengerti kondisi kesehatan pasien. Termasuk kesehatan psikis pasien sebelum operasi dilaksanakan. Setelah operasi berlangsung, kami pun masih harus melakukan observasi terhadap pasien untuk memastikan tidak ada komplikasi pasca operasi atau kemungkinan buruk lainnya. Jadi, opsi untuk mengganti dokter sudah dipastikan tidak mungkin kecuali atas permintaan si pasien sendiri, selain itu juga melanggar peraturan rumah sakit, " jelas Cris.
Rio nampak kecewa dengan penuturan Cris. Namun ia sadari bahwa abangnya itu adalah seorang dokter yang terikat dengan sumpah profesinya. Ia mengerti jika para tenaga medis memiliki tanggung jawab moral kepada Yang Maha Kuasa atas ilmu dan kemampuan yang mereka miliki. Oleh karena itu, ia tidak bisa memaksa abangnya.
"Hhhhhh ... padahal Abang sangat merindukannya. Mendengarnya hidup sendiri di rumah kontrakan kecil, bekerja siang malam demi memenuhi kebutuhan hidup, membuat hati Abang sakit. Kita di sini hidup bermewah-mewah dan serba melimpah." Cris mulai berkaca-kaca memikirkan adiknya. Ia memang sangat menyayangi adiknya itu. Adik yang sangat manja kini hidup pas-pasan. Adiknya yang sedari kecil selalu bergelimang harta, adiknya yang cantik, adiknya yang kelewat cerdas, adiknya yang keras kepala. Ia rindu adiknya. Ia merindukan Rosaline.
"Yah ... semua udah gitu jalannya, Bang. Gak usah disesali. Yang penting sekarang adek masih hidup dan sehat juga terawat. Pelan-pelan kita akan melunakkan hati papi dan membawa Rosa kembali." Janji Rio.
"Yah, semoga secepatnya. Abang khawatir sama kesehatan mami kalau Rosa gak segera kembali. Kata si mbok, mami sering mengigau memangil-manggil Rosa dalam tidurnya. Abang gak pengen kondisi mami drop lagi." Cris menerawang jauh kala mengucapkannya.
"Tapi juga bukan perkara mudah bikin Rosa mau kembali begitu saja, Bang. Abang tau sendiri gimana keras kepalanya dia. Papi juga keterlaluan waktu dulu itu. Papi sama Rosa sama keras kepalanya. Walaupun aku sudah menggantikan posisi Rosa dalam wasiat kakek, tetap saja papi belum bisa menerima Rosa yang memilih pergi -"
Pembicaraan abang dan adik itu terpaksa dihentikan karena seorang mengetuk pintu ruangan Cris.
"Masuk!" Ternyata yang mengetuk adalah seorang perawat.
"Ada apa Suster Ana?"
"Apakah semuanya sudah disiapkan?" tanya Cris memastikan kesiapan operasi sore ini.
"Sudah, Dok. Dokter Afrian baru saja memasuki ruangan. Tinggal menunggu Anda saja," jelas Suster Ana.
"Baik. Terima kasih, Suster Ana. Sebentar lagi saya akan menyusul ke sana."
"Baik, Dok. Permisi."
"Ya udah, Bang. Aku langsung balik aja. Semoga lancar operasinya." Rio berdiri dari duduknya.
"Kamu kapan berangkat? Abang mau nitip sesuatu untuk Rosa."
__ADS_1
"Besok aku ke Thailand dulu beberapa hari beresin beberapa proyek di sana. Kemungkinan tiga empat hari di sana. Selasa malam udah balik Batam. Kalau gak ada kendala, Kamis sorenya baru ke Jakarta. Aku bakalan seminggu di sana sekalian ngecek kantor cabang. Nanti berkabar aja. Kalau Abang bisa nyusul, susul aja."
"Oke. Nanti kabari aja Abang kapan kamu balik Batam. Biar Abang suruh anggota antar titipan ke kamu."
"Oke, Bang. Ya udah, kalau gitu aku jalan dulu."
"Ya. Hati-hati."
Rio memasuki mobilnya, lalu mendial nomor seseorang.
"Ada perkembangan?" tanyanya begitu saja tanpa salam pembuka.
"Seperti kemarin, Pak. Nona Rosa masih dengan rutinitas yang sama, pagi bekerja di kantor menggunakan ojol, lalu sore pulang menggunakan busway, sorenya berangkat lagi ke resto dan pulang sekitar jam 10.15 malam," jawab seseorang di seberang sana.
Rio menarik napas. "Kamu tempatkan beberapa orang di sana, jangan sampai mencurigakan. Pastikan semuanya aman! Dan Haris, kembalilah ke Batam dengan penerbangan tercepat hari ini! Saya membutuhkan kamu besok pagi untuk ikut meninjau proyek di Thailand."
"Baik, Pak."
Keesokan harinya, Rio dan Haris sudah mendarat di Bangkok. Ada sedikit kendala dengan proyek mereka disini. Dan Rio bertekad untuk menyelesaikannya sebelum hari Kamis.
Namun, sekali lagi manusia hanya bisa berencana, tapi Tuhanlah yang menentukan. Helatan ke Thailand yang diperkirakan hanya memakan waktu dua sampai tiga hari ternyata membutuhkan waktu yang lebih lama. Ternyata tidak hanya proyek yang bermasalah, tetapi juga kantor cabang yang di Thailand. Ada penggelapan dana perusahaan dengan jumlah fantastis yang mengakibatkan terhambatnya perkembangan beberapa proyek yang seharusnya sudah rampung sebelum akhir tahun.
Sudah hari Jum'at dan ia masih terjebak di sini. Rio memijit pangkal hidungnya. Rasa lelah tiba-tiba menyerangnya tanpa ampun. Ia teringat belum menghubungi Cris sama sekali. Segera dirogohnya saku jas mencari smartphone-nya, lalu menghubungi abangnya.
Setelah beberapa kali, tidak juga ada yang menjawab dari seberang sana. Ini masih pagi. "Seharusnya bang Cris operasinya nanti siang, kan?" tanyanya pada diri sendiri sembari mengingat-ingat percakapannya tempo hari di ruangan Cris. Rio membuka aplikasi chat dan mengirimi sebuah pesan kepada Cris untuk menyampaikan bahwa dirinya juga tidak jadi ke Jakarta menghadiri undangan HUT Atmaja Corp karena harus menyelesaikan masalah di cabang Bangkok.
Lama menunggu akhirnya HP Rio berdenting menandakan adanya pesan masuk. Ia membaca pesan dari Cris.
"Ya sudah, gunakan plan B saja. Abang yang urus. Kamu fokus aja di sana!"
__ADS_1
Hanya pesan singkat tapi mampu jadi moodboster bagi Rio. Kenapa tidak terpikirkan sama sekali olehnya? Ah, bang Cris memang orang yang tenang dan ketenangan membuat pikirannya tetap jernih. Untung bang Cris yang menjadi dokter, sempat dirinya? Apa kabar semua pasien?
***