Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Hari Ulang Tahun Princess


__ADS_3

Sementara itu di Batam


"Bang, jam berapa nanti ke rumah papi?" ucap Rio di telpon.


"Makan malam aja kali, Yo. Abang baru selesai operasi. Mau mandi sama istirahat bentar di apart," ucap Cris menjawab pertanyaan sang adik.


"Yaudah, jangan lupa kado buat princess dibawa! Nanti dia ngamuk gak dikasih kado di hari ultahnya, hehehe ...."


"Iya ... iya. Udah Abang siapin kadonya dari jauh-jauh hari. Udah kangen Abang sama rengekan dia. Sejak balik dari Jerman belum ada ketemu."


"Aku juga, Bang, dah kangen sama si manja itu, pasti bakal jadi singa betina dia nanti sama kita, hahahahah ... sama kangen lihat ekspresi girangnya mami lihat anak laki-lakinya pulang. Ya udah, nanti kabari kalau udah mau jalan ya, Bang! Aku udah di apart ini. Lagi bikin ucapan selamat ultah buat princess."


"Iya, nanti Abang kabari. Abang tutup ya telponnya."


"Oke."


Jam 5.15 sore, Cris mengirim pesan w.a ke adiknya, Rio.


Cris. : Abang otw.


(send)


Kamu gak ada kasi tau orang rumah kan kalo kita ke sana?


(send)


Rio : Gak ada, Bang. Aku juga udah mau otw. C U


(send)


Hari ini adalah hari ultah Rosa, adik kesayangan mereka. Gadis itu sekarang sudah genap berusia 23 tahun. Cris dan Rio janjian menuju rumah sang papi untuk membuat kejutan untuk Rossa. Sengaja mereka tidak berkomunikasi dengan Rosa atau maminya sejak kepulangan sang princess sebulan lalu dari Jerman. Alasannya konyol, yaitu kangen pengen dimarahi Mami dan diomelin si princess manja.


Baik Cris maupun Rio memang sudah tidak tinggal di istana Tiocandra lagi. Karena alasan sibuk, ingin praktis dan menghemat waktu perjalanan, mereka memilih tinggal di apartemen mewah yang dekat dengan tempat kerja masing-masing. Namun mereka selalu janjian bila ingin pulang, biasanya tiap satu atau dua bulan sekali pasti akan berkumpul menghabiskan family time bersama. Dan hari ini, bertepatan dengan hari ultah si manja, dan kebetulan weekend, jadi keduanya berencana untuk pulang.


Dua mobil mewah milik Cris dan Rio datang hampir bersamaan di depan gerbang pagar istana Tiocandra. Pak Yayan, security mereka, segera membuka pagar.


Cris dan Rio memarkir mobilnya sembarang di halaman luas rumah ini. Keduanya turun, masing-masing membawa paperbag yang isinya adalah kado.


Keduanya mengetuk pintu. Ekspresi kaget si mbok saat membukakan pintu seketika berubah sendu. Terlihat jelas kesedihan di wajah wanita yang sudah ikut mengasuh mereka sedari kecil itu.


Tapi Cris mengabaikan apa yang dilihatnya.


"Kok sepi, Mbok? Memang pada kemana?" Rio memulai percakapan senja itu.


" Ada di dalam, Bang Rio. Ibuk lagi kurang sehat, sedang istirahat di kamarnya sama Bapak."


Mendengar sang mami sedang tidak sehat, Cris yang adalah seorang dokter langsung berlari menuju mobilnya, mengambil stetoskop dan perlengkapan dokternya, lalu kembali berjalan menuju kamar mami dan papinya. Dalam hati ia merutuki dirinya yang sibuk mengurusi pasiennya sampai-sampai mengabaikan kesehatan keluarga, apalagi maminya. Menyesal ia mengikuti ide Rio untuk tidak menghubungi keluarganya selama sebulan ini hanya untuk medapatkan omelan karena telah membuat kesal wanita yang telah melahirkannya itu. Padahal, mereka tau kalau maminya bukanlah tipe ibu yang pengeluh atau mau merepotkan orang lain. Sudah barang tentu bila tidak ditanyai pasti maminya tidak akan memberitahu kondisinya.


Tok ... tok ...


"Masuk!" suara Papi.


"Mami, sini Abang periksa dulu! Mami kenapa gak hubungi Abang kalau Mami kurang sehat?" omel Cris.


Sementara Rio menghampiri papinya yang duduk di ranjang sebelah maminya dengan raut penuh penyesalan.


"Wajah Bang Rio kenapa ditekuk gitu? Udah, Mami gak papa. Cuma kangen aja sama anak-anak Mami," walaupun lemah, Mami Nissa tetap menampilkan senyum indahnya.


"Kalian terlalu sibuk dengan dunia kalian, dengan urusan kalian, sehingga tidak sempat menghubungi Mami kalian sekedar bertukar kabar," tegur Papi.


"Iya Mi, Pi. Maafin Rio sama Bang Cris. Ini semua ide Rio, karena kami mau kasih kejutan buat ultah princess Rosa. Oia, Mi, Pi, mana si manja itu? Kok ga jagain Mami di sini?"


Seketika itu juga air mata Mami Nissa meluncur di kedua pipinya yang sudah mulai berkeriput.


Rio segera memeluk sang mami, sementara Cris sibuk menulis di HPnya, meminta seseorang membawakan obat untuk mami.


"Mami kenapa nangis? Abang salah ngomong?" tanya Rio bingung. Mami malah tambah histeris. Kini Cris juga ikut memeluk maminya. Mereka bertiga berpelukan dalam diam. Sementara papi hanya mematung dengan raut wajah menahan kesal, mengingat pemberontakan putri satu-satunya yang menyebabkan istri tercintanya jatuh sakit.


Si mbok datang membawa minuman untuk kedua tuan mudanya.


"Ini minumannya Bang Cris sama Bang Rio, Mbok letakin di meja ya."

__ADS_1


"Makasih, Mbok. Mbok, tolong panggilkan Rossa, suruh kesini ya!" Ucapan Cris barusan sontak membuat langkah si mbok yang hendak berjalan ke luar kamar terhenti. Bahunya bergetar. Begitu juga dengan maminya tiba-tiba menangis histeris setelah mendengar nama anak bungsu kesayangannya.


Rio mulai paham ada yang tidak beres di sini.


"Mbok, tetap di situ!" katanya membuat langkah si mbok yang hampir mencapai pintu terhenti. Ia berbalik menghadap para majikannya.


"Aku ngerasa ada yang gak beres di sini. Benar, Pi?"


Papinya hanya diam dengan rahang yang mengeras seperti sedang menahan marah. Sedangkan maminya hanya menangis di pelukan anak sulungnya.


Tak puas karena tidak mendapat jawaban dari sang papi, Rio berjalan menghampiri si mbok.


"Mbok, dimana Rosa?"


Yang ditanya hanya menangis sambil geleng-geleng kepala. Pasalnya, tuan besarnya telah melarangnya untuk buka mulut. Lama suasana di kamar itu hanya diisi suara tangisan dua wanita yang sudah tidak lagi muda itu. Rio sudah mulai frustasi, begitupun Cris yang juga mulai frustasi sambil memeluk maminya.


"Rosa pergi, huhuhuhu ... diusir Papi, huhuhuhu ... Mami gak tau, huhuhuhu ... Mami takut huhuhuhuuu ... anak gadis Mami huhuhuhuhu ... di luar sana seorang diri huhuhuhuhuhu ... gak bawa apa-apa huhuhuhuhuhuhu ..." suara Mami Nissa disela-sela tangisnya yang semakin histeris. Begitu juga si mbok menangis.


"Apa yang terjadi, Pi? Kenapa aku sama Bang Cris gak tau?" Lagi, Papi Derry tetap bungkam membuat Rio semakin frustasi. Ia mulai menarik-narik rambutnya.


"Mbok?!" Rio mulai tak bisa mengendalikan dirinya membentak si mbok, berharap ART-nya itu mau buka mulut. Cris yang memang pembawaannya tenang mencoba menenangkan sang adik.


"Tenang dulu, Yo! Kamu mau bikin Mami tambah histeris? Tolong ambilkan minum itu buat Mami! Buruan! Tenang dulu makanya!"


Menghembuskan napas kasar, Rio mengambilkan minum untuk maminya.


"Mami, diminum dulu ya! Udahan dong nangisnya! Sekarang cerita sama Cris, apa yang terjadi? Kenapa Rosa pergi?"


"Jangan sebut-sebut lagi nama anak tidak tahu diuntung itu di rumah ini!" Baik Cris maupun Rio tertegun dengan ucapan Derry Tiocandra barusan.


"Kalo Papi gak mau cerita ke anak-anak, biar Mami yang cerita!" ucap Mami Nissa tak kalah garang.


Mendengar kalimat istrinya barusan, Papi Derry meninggalkan kamar. Dia masih belum bisa menerima pembangkangan putri bungsunya. Ia memilih pergi dan mengurung diri di dalam ruang kerjanya.


Sementara itu di kamar, Mami Nissa menceritakan kepada kedua anak laki-lakinya kejadian sebulan yang lalu. Sebelumnya, si mbok sudah keluar terlebih dahulu membantu ART yang lain menyiapkan makan malam majikan mereka.


Rahang Cris mengeras, tangannya terkepal kuat menahan amarah. Lain halnya dengan Rio yang sudah meninju tembok sampai tangannya berdarah. Tak habis pikir kenapa papi mereka bisa setega itu mengusir anak gadisnya, tanpa membawa apapun selain baju di badannya saja!


Si mbok datang membawa makan malam untuk nyonyanya, sekaligus memberitahu tuan mudanya bahwa makan malam sudah siap di bawah. Sementara tuan besarnya memilih memakan makan malamnya di ruang kerjanya.


Seorang ART datang membawa bungkusan berlogo sebuah apotek. Isinya adalah obat untuk Mami Nissa.


Dengan telaten Cris menyuapi maminya. Sementara Rio sedang berbicara dengan seseorang di seberang sana sebagai langkah memulai usahanya mencari keberadaan adik bungsunya.


Setelah selesai menyuapi maminya dan meminumkannya obat, Cris meminta izin kepada maminya untuk makan malam dan meminta agar maminya beristirahat di kamar. Mami Nissa hanya menurut. Lalu Cris mengajak Rio meninggalkan kamar maminya.


Kali ini, ruang kerja Papi Derry adalah tujuan mereka. Tetapi setelah sekian lama mengetuk pintu, sang empunya tak kunjung membukakan mereka pintu.


Dan, di sinilah sekarang mereka. Di meja makan, menanyai si mbok.


"Mbok, Mbok tau kejadian ini?" Cris memulai introgasinya.


"Kalau Mbok tau, kenapa Mbok gak menghubungi aku atau Bang Cris? Kenapa Mbok diam aja?! Jawab Mbok!" Rio mulai tak sabaran setengah kesal pada ART nya itu.


"Yo! Tenang dulu! Kita harus berpikir jernih sekarang. Marah-marah gak akan membuat adek kembali."


"Iya Bang. Mbok, maafin aku udah bentak-bentak!"


Si Mbok hanya mengangguk.


"Mbok, bisa ceritakan apa yang Mbok tahu agar kita bisa mulai cari Rosa secepatnya!" bujuk Cris.


Si Mbok mengangguk dan mulai buka suara. "Mbok gak tahu kenapa Non Rosa sampai diusir. Yang Mbok lihat, Bapak sangat marah saat itu sampai menampar kedua pipi Non Rosa. Mbok lihat sendiri bekas tamparan di pipi Non Rossa. Mbok gak tega, huhuhuhuhu ...." si Mbok berhenti sejenak meredakan tangisnya sebelum melanjutkan.


"Bapak melarang Non Rosa membawa apapun dari rumah ini. Tas, dompet, HP, jam tangan dan cincin semua diserahkan ke Bapak. Kembali si Mbok berhenti untuk meredakan rasa sesak di hatinya mengenang kejadian sebulan yang lalu.


"Bapak bilang kalau Non Rosa bukan lagi bagian dari keluarga ini. Lalu si Mbok ngejar Non Rosa, minta ikut. Tapi Non menolak dan suruh Mbok tetap di sini jagain Ibuk sama Bapak. Mbok takut Non Rosa kenapa-napa. Dia cuma bawa sisa uang yang rencananya akan dibelikan untuk hadiah anak-anak panti sama kalung si Mbok. Si Mbok gak bisa bayangin Non Rosa hidup susah di luar sana, huhuhuhu ...." Kembali si mbok tersedu sedan mengingat majikan kecil yang disayanginya itu.


"Mbok, apa Mbok tau kemana Rosa pergi?"


Si Mbok menunduk, menimbang-nimbang untuk memberitahu kedua tuan mudanya ini atau tidak. Rio yang tidak sabar menunggu si mbok, akhirnya ikut membujuk si mbok.

__ADS_1


"Mbok, kalau Mbok tahu dimana Rosa berada, kasih tau aku sama Bang Cris. Biar kami yang jemput! Kalau papi gak mau menerima, ada kami yang akan selalu menerimanya. Mbok sayang kan sama Rosa?"


Si Mbok mengangguk.


"Besoknya pagi-pagi sekali Non nelpon Si Mbok pakai nomor baru. Non bilang sedang ada di Dumai, di rumah Pak Harry dan Buk Ika."


Langsung saja Rio menyambar smartphonenya di atas meja makan dan mendial nomor Om Harry. Cris dan si mbok hanya mendengarkan karena Rio me-loudspeaker-kan panggilannya.


"Halo, Om. Apa kabar? Maaf nih malam-malam aku ganggu."


(Alhamdulillah sehat. Enggak ganggu sama sekali. Ini Om lagi nyantai aja di teras belakang. Kamu dan keluarga di Batam apa kabar?)


"Iya, Om. Syukurlah. Sehat semua Om. Mami aja yang agak kurang sehat akhir-akhir ini."


(Mami kamu kurang perhatian kali. Kalian anak-anaknya mesti lebih perhatian sama orang tua, sekalipun sudah bekerja!)


"Siap, Om. Pasti. Oh iya, Om. Rosa ada main-main ke Dumai gak, Om? Nginap di rumah Oom barangkali?"


(Bulan lalu ada ke sini sih. Sempat nginap semalam. Cuma waktu itu Om sama Tante dan adek-adek sedang di Thailand. Jadi gak ketemu. Kata Jarmi sama Siti, Rosanya mau ke Pekanbaru tapi mampir di sini dulu. Katanya ada urusan penting, interview apa gimana gitu. Kenapa memangnya? Rosa belum balik ke Batam? Mungkin udah diterima kerja.)


"Oh gitu ya Om. Gak, gak kenapa-napa kok Om. Barangkali aja dia mampir lagi di sana. Habisnya telponnya gak dijawab-jawab."


(Ooh, Om kira ada apa. Mungkin aja masih sibuk sama kerjaan makanya belum sempat mengabari.)


"Mungkin juga sih, Om. Akunya aja yang terlalu khawatir.


(Hehehehhe, Rio... adik kamu itu sudah dewasa. Biarkan dia memilih jalannya, biar dia berkembang! Kamu cukup mengarahkannya saja. Kalau terus-terusan kamu awasi, kapan dia akan bergaul? Dia punya kehidupan sosialnya sendiri.)


"Iya Om. Baik. Oh iya, Om. Aku boleh minta nomornya Siti gak? Buat di-save aja."


(Boleh boleh, nanti Om kirimkan di w.a.)


"Iya Om. Makasih ya Om. Maaf udah ganggu malam-malam. Salam buat Tante Ika dan adek-adek. Bye."


(Iya, nanti Om sampaikan. Bye.)


"Gimana?", sambar Cris begitu Rio mengakhiri panggilannya dengan Om Harry.


"Cuma nginap semalam katanya, mungkin yang waktu nelpon Mbok waktu itu...."


Suara notif di smartphone Rio menandakan ada pesan masuk. Segera dibukanya dan didialnya nomor kontak Siti. "Sebentar, Bang."


"Halo..."


(Assalamu'alaikum. Maaf ini dengan siapa?)


"Wa'alaikumsalam. Siti, ini Bang Rio, abangnya Rosa. Maaf Abang ganggu malam-malam.


(Iya, Bang. Gak papa. Kenapa Bang?)


Kamu ada kabar-kabaran dengan Rosa akhir-akhir ini?" tanyanya to the point.


(Gak ada, Bang Rio. Terakhir chat sama Kak Rosa bulan lalu, waktu dia ngabari udah sampai di Pekanbaru. Sejak itu belum ada chatting lagi. Kenapa Bang? Ada yang bisa Siti bantu?)


"Iya, Abang butuh bantuan kamu, tapi sebelumnya kamu harus janji dulu gak akan kasih tau ini ke siapapun. Kamu bersedia?"


(Iya, Bang. Siti janji gak akan ngomong sama siapapun!)


"Bagus, Abang pegang janji kamu".


Akhirnya Rio menceritakan secara singkat menghilangnya Rosa. Dan Siti berjanji akan segera menghubungi Bang Rio bila Rosa mengirim kabar. Tak lupa juga Rio meminta Siti untuk mengirimkan nomor baru dan men-screenshoot percakapan terakhirnya dengan Rosa sebelum mengakhiri telponnya.


Setelah itu, Rio langsung mendial nomor telpon Rosa yang baru yang ternyata sudah tidak aktif.


"Gak ada petunjuk, Bang. Rosa ke Pekanbaru, dan sekarang dia menggunakan kerudung. Nomornya juga gak aktif," katanya sambil menunjukkan screenshoot dari Siti. Disana ada foto Rosa menggunakan pashmina pemberian Siti. Sangat cantik.


"Yaudah, besok Abang akan menghubungi beberapa kenalan dokter dan kepala RS di Pekanbaru, cari info untuk kemungkinan terburuk. Tapi kita berharap Rosa baik-baik aja."


"Aku juga akan nyewa detektif buat nyari keberadaan Rosa. Semoga aja dia menetap di Pekanbaru aja."


"Yaudah, sekarang tidur dulu. Besok pagi-pagi baru bergerak. Abang juga mau nengokin mami dulu. Kamu duluan aja istirahat!" titah Cris. Rio hanya mengangguk dan berlalu menuju kamarnya di lantai dua. Sementara Cris mengecek kondisi maminya dulu baru kemudian menuju kamarnya.

__ADS_1


"Selamat Ulang Tahun, Princess Rosa. Seharusnya Abang yang ngasih kamu kejutan, malah kamu yang bikin Abang terkejut, Dek. Bertahanlah, Abang pasti menemukan kamu," janji Cris dalam hati.


__ADS_2