
Aline memutuskan langsung ke toko buku saja setelah berpisah dengan Prita. Begitupun si pemilik sepasang mata yang sedari tadi diam-diam mengikutinya.
Sesampainya, Aline langsung menuju area yang memajang buku-buku best seller. Ia memilih acak, mengambil satu, membaca resumenya sekilas, lalu meletakkan kembali buku itu yang ternyata isinya kurang menarik minat gadis itu. Lalu ia mengambil buku lain, membaca sekilas dan meletakkannya lagi. Begitu terus hingga ia menemukan satu buku yang menarik minatnya. Buku dengan sampul berjudul Al Qur'an dan Sains. Dicarinya buku serupa yang segel plastiknya sudah terbuka. Lalu mulai membaca di pojokan. Hampir di sepanjang waktu Aline menitikkan air mata, terharu, takjub dan takzim akan pembuktian sains dalam Al Qur'an. Bagaimana mungkin sebegitu banyaknya ilmu pengetahuan modern yang baru diungkap oleh ilmuwan modern telah dituliskan secara nyata dalam kitab yang berumur 1400 tahun itu bila tidak ada campur tangan Tuhan di dalam penulisannya. Sungguh, ia merasa hanyalah setitik debu di muka bumi ini. Segala ilmu yang telah dipelajarinya ternyata sudah tercantum dalam kitab yang diturunkan Allah kepada seorang Nabi yang buta huruf sama sekali jika bukan ia adalah utusan Allah. Dan ia merasa bahwa gelar-gelar pendidikan yang dimiliki olehnya tidak ada apa-apanya dibandingkan pengetahuan yang telah dimiliki oleh lelaki pilihan itu, Muhammad SAW.
"Rosaline? Are you okay? Kamu nangis?" tanya pemilik sepasang mata yang dari tadi enggan beralih darinya namun tak sanggup menunggu lebih lama lagi melihat gadis berpashmina hijau muda itu menitikkan air mata dan sesenggukan memegang sebuah buku. Ada khawatir dalam nada suaranya.
"Kak Arya? Enggak kak, aku cuma terharu membaca buku ini," ucap Aline dengan suara serak khas orang menangis, pun masih sesenggukan. Sebelah tangannya memamerkan buku yang ia pegang pada lelaki itu, dan sebelah tangannya lagi masih sibuk menyeka air mata yang masih setia turun. Ia menengadah. Lalu kembali menghapus air matanya.
Ya, Arya lah si pemilik sepasang mata yang dari tadi mengamatinya.
Setelah air matanya mengering, ia berdiri lalu menghadap lelaki yang kini juga duduk di sebelahnya. "Aku duluan ya, Kak. Mau bayar." Aline beranjak lalu berjalan menuju rak dimana ia menemukan buku itu, mengambil buku yang masih bersegel utuh lalu menuju kasir, begitupun lelaki itu mengikutinya dari belakang. Ia mengambil sembarang buku bisnis dan ikut membawanya. Sambil berjalan ia mengeluarkan beberapa lembar uang merah untuk membayarkan buku yang dipegangnya dan buku yang diminati oleh gadis yang masih ia harapkan itu walaupun ia sadari perasaannya tidak berbalas. Tetapi Allah Maha Membolak balikkan hati manusia, tiada yang tak mungkin bagi-Nya. Tinggal kun fayakun saja. Biarlah ia berharap pada Yang Maha Satu.
Saat kasir menyebutkan nominal belanjanya, Arya sudah terlebih dahulu menyodorkan beberapa lembar uang merah yang telah ia siapkan kepada kasir. Namun Aline menolak, membuat mbak-mbak kasir nya kewalahan menghadapi pembeli yang ini. Setelah perdebatan yang panjang, akhirnya Arya menang. Ia juga menyerahkan buku yang ia pegang untuk sekalian dibayar. Arya meminta satu kantong plastik lagi untuk buku punya Aline lalu menyerahkannya pada gadis itu. Walaupun Aline telah berusaha keras menolak, namun Arya bersikukuh untuk membayarkan dengan dalih sebagai tanda mula pertemanan mereka. "Lagipula, kalau kamu baca buku ini, aku juga kebagian pahalanya," bujuk Arya menampilkan senyum terindahnya. Mau tak mau Aline hanya bisa pasrah menerima.
"Makasih buat bukunya ya, Kak."
"Sama-sama. Udah siang. Kita sholat dulu yuk!" ajak Arya.
Aline sedikit bingung namun tak urung ia mengiyakan karena waktu Dzuhur sudah masuk. Biasanya, musholla masih sepi di awal-awal jam sholat seperti ini karena kebanyakan pengunjung masih sibuk berbelanja atau menikmati makan siang mereka. Mereka berjalan beriringan menuju musholla yang ada di mall tersebut dalam keadaan diam. Dari kejauhan mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang ngemall.
Arya selesai terlebih dahulu karena namanya juga lelaki, gak pake ribet, beda dengan perempuan yang mesti benerin hijabnya dan bedaknya dan segala macam urusan cewek yang menurutnya ribet.
Arya menunggu tak jauh dari pintu masuk untuk wanita, bersender pada kaca pembatas. Saat Aline keluar, ia melambaikan tangan pada gadis itu. Aline berjalan menghampiri lelaki yang telah menunggunya. Bagaimanapun, gak sopan bila ia tiba-tiba kabur kan?
"Udah selesai?" tanya Arya basa basi.
"Udah kok, Kak. Oia, Kakak mau kemana setelah ini?"
"Hm? Kita makan dulu yuk, di cafe itu," tunjuknya ke arah cafe yang terletak di lantai atas mereka.
"Aku lagi nungguin adik angkatku, Kak. Kakak duluan aja. Gak papa." tolaknya halus.
"Ya lebih baik kamu tunggu di sana, sambil makan daripada jalan sendirian. Kamu kan paling males kalau jalan sendirian gini," katanya mengingat kebiasaan mantan pacarnya itu.
"Hmmm, ya udah deh. Yuk! Tapi aku yang traktir ya. Kan tadi Kakak udah bayarin buku aku."
"Dimana-mana, laki-laki yang keluar duit kalau ngajak cewek makan. Bisa runtuh harga diriku kalau kamu yang bayarin," candanya sambil terkekeh.
"Kalau gak mau, ya gak jadi aja deh. Mending aku jalan sendirian aja."
"Yah, ngambek. Iya deh iya. Kamu yang traktir. Tapi jangan nyesel ya kalau nanti aku persennya menu yang paling mahal," canda Arya.
"Boleh aja!" ucap Aline lantang, "kalau tega!" lanjutnya dengan volume yang tak sekencang tadi namun masih dapat didengar dengan jelas oleh lelaki jangkung itu.
"Hahahahahahhaahah ...." Arya tertawa lepas mendengar kalimat terakhir Aline. "Sejak kapan jadi perhitungan gitu?" tanyanya masih dengan tawa.
"Huh, Kak Arya lama-lama nyebelin juga ya?"
"Hahahahahahahaha ...."
Mereka mengambil sebuah meja yang kosong di cafe itu. Memesan dan menunggu. Arya suka sekali menggoda Aline. Gadis itu sekarang lebih pemalu dari terakhir mereka jadian dulu.
"Kok jadi diam-diaman gini ya?" celetuk Arya. Sementara Aline pura-pura sibuk dengan buku barunya.
"Rosaline!" panggil Arya.
"Ya?"
"Tolong jangan anggap aku orang lain! Bukannya kita udah sepakat untuk berteman?"
Aline menghela napas lalu menghembuskannya. "Pembicaraan mulai seriuuus," ucapnya dalam hati. "Maaf, Kak. Aku merasa sedikit aneh jalan berdua sama cowok sekarang-sekarang ini," jujurnya.
"Jangan canggung ya! Jangan jauhi aku!" pinta Arya.
__ADS_1
Aline mengangguk meng-iyakan. Lalu ia teringat sesuatu.
"Kak, boleh panggil aku dengan nama 'Aline' aja?" ucapnya ragu, namun hal ini perlu ia utarakan karena Arya selalu memanggilnya dengan nama 'Rosaline'.
"Kenapa?"
"Gak kenapa-napa. Rosaline bikin aku ingat saat kita bersama dulu, inget kejadian malam itu, dan ujung-ujungnya aku kesel sama Kakak." Aline tak mengatakan alasan sebenarnya, namun apa yang ia jelaskan barusan juga bukan suatu kebohongan.
"Oke," jawab Arya.
"Kok tiba-tiba bisa ketemu di gramed tadi ya, Kak?"
"Iya, tadi aku mau cari buku. Pas lagi cari-cari gak sengaja lihat kamu lagi mewek di pojokan, hehehehe ...." Arya tak berbohong. Sejak awal niatnya ke mall ini memang ingin ke toko buku itu,encari buku bisnis terbaru.
"Tuh kan, ngeselin lama-lama ya. Aku tuh tadi lagi terharu."
"Emang baca buku apaan sih? Segitu amat!"
"Nih!" Aline menyodorkan buku yang sudah ia sobek segel plastiknya.
"Al Qur'an dan Sains." Arya membaca judulnya. Lalu membuka-buka. "Trus kamu nangisnya kenapa?"
"Kasih tau gak ya?" Aline memegang pelipisnya dengan telunjuk, kepalanya ia miringkan ke arah kanan, persis seperti orang yang sedang berpikir keras.
"Kasih tau dong. Aku kan penasaran kamu nangis karena sebuah buku."
"Oke oke. Jadi gini, seperti yang Kak Arya tahu, dulu aku bukan orang yang agamis. Bisa dibilang sangat jauh dari agama. Boro-boro baca buku beginian, sholat aja jarang. Buku-buku seperti ini tidak pernah menarik minatku sedikitpun. Melirik pun aku enggan. Tapi itu dulu. Sejak tadi pertama aku baca, aku langsung merasa receh di mata Allah SWT, bahkan sampah kwaci kayaknya lebih berharga dari aku yang pendosa ini," jelasnya kembali berkaca-kaca.
Arya terdiam, termenung dengan penjelasan Aline tadi. Bahkan ia merasa tertohok.
"Kak! Kak Arya! Yeee, malah diam?" Aline melambai-lambaikan tangannya di depan wajah tampan Arya, membuat lelaki itu tersadar dari lamunannya. "Kakak lagi ngelamunin apa sih? Tiba-tiba diam gitu," tanya Aline tanpa dosa.
"Gak kenapa-napa. Cuma sempat mikir aja. Kalau kamu saja yang segitu baik, walaupun memang harus aku akui dulu kamu jarang sholat, terus kamu kalau disuruh sholat paling susah, lalu puasanya cuma di bulan Ramadhan aja itupun juga bolong-bolong, tapi kamu baik, kamu gadis baik-baik. Gak berbuat maksiat kayak aku. Kamu sebut diri kamu pendosa, terus aku disebut apa?" Arya menunduk mengenang ciuman terkutuk malam itu yang berakhir dengan berakhir pula hubungannya dengan gadis di depannya ini, hampir lima tahun yang lalu.
Aline yang tadinya kesal karena aibnya di masa jahiliyah dulu diabsen satu per satu oleh pria yang kini berstatus temannya ini menjadi risih, menyesal telah mengucapkan kalimat yang membuat Arya tersinggung.
Arya mengangkat wajahnya, menatap Aline dengan wajah sendu, lalu mengangguk.
"Kita bahas masalah lain aja ya, Kak! Suasananya jadi gak enak gini." Aline berterus terang.
"Lin, boleh nanya?"
"Boleh."
"Kamu, sejak kapan berubah?" Arya bertanya sambil menaik-turunkan telunjuknya ke arah Aline, pertanda ia menanyakan perubahan penampilan gadis itu.
"Panjang ceritanya, Kak. Kira-kira dua tahun lalu. Tapi intinya, Allah sayang sama aku, Allah kasih aku hidayah. Allah kasih aku kesempatan untuk mengenal Islam lebih jauh. Allah kasih aku kedamaian dalam busana seperti ini. Allah kasih aku dekat dengan orang-orang yang mengajarkan aku tentang agama, hakikat aku hidup di dunia. Pokoknya aku bersyukur atas apa yang telah kualami kemarin dan apa yang aku peroleh hingga hari ini."
Arya mengangguk kecil.
Ia berusaha menjalin pertemanan dengan gadis ini, sambil terus mengharap kepada Sang Pencipta, menitipkan nama gadis ini di dalam setiap do'anya.
Mereka terus saja berbincang berbagai topik. Dari yang serius sampai yang receh dan Aline beberapa kali membuat Arya tertawa, hingga menunjukkan berbagai ekspresi lain yang jarang lelaki itu tunjukkan pada orang lain, sejak lama.
Tak jauh dari mereka, dua pasang mata mengamati interaksi kedua anak manusia berbeda jenis kelamin itu.
"Seumur-umur si Arya kerja di AC (singkatan untuk Atmaja Corp), baru kali ini gue lihat dia ketawa segitu lepasnya, biasanya jangankan ketawa senyum aja irit banget, ngambek apalagi!" ucap Rendi. "Ternyata gunung es meleleh sama si Aline," lanjutnya berkomentar dengan antusias.
"Dia berubah sejak pulang dari Aussy," Elang berkomentar, walaupun ada sedikit rasa penasaran melihat keakraban kedua manusia itu di hatinya, dan juga sedikit rasa, jengkel? Entahlah, ia tak mau mendeskripsikan rasa ini. "Dulu dia pribadi yang hangat. Gue sama dia satu SMA dan kita cukup dekat walau gak bisa dibilang akrab. Sedari kecil, waktu bokap gue, bokap dia dan bokap Ethan baru baru merintis AC, kalau ke rumah selalu bawa dia, atau sebaliknya," Elang mengenang.
"Berarti kabar itu bener ya, Lang?"
"Kabar yang mana?"
__ADS_1
"Arya sama Aline punya hubungan?" tanya Rendi sekenanya.
"Mana gue tahu! Lo tanya aja langsung sama orangnya sana! Mumpung masih di depan mata," jawab Elang ketus.
"Lu kenapa jadi tiba-tiba sewot gini?"
"Gak usah urusin urusan orang!"!jawabnya judes.
"Apaan sih, lu? Gak asyik."
"Udah, habisin tuh makanan lo. Setelah itu temenin gue nyari sesuatu," titahnya.
"Lu kenapa sih? Galak bener tiba-tiba. PMS lu?"
Elang menoyor kepala sahabatnya itu yang mengatainya sedang mengalami PMS, "Sialan lo, Nyet!"
Rendi dan Elang segera meninggalkan cafe begitu makan siang mereka selesai. Sementara Arya dan Aline masih menikmati makanannya, sampai sebuah pesan masuk ke HPnya, dari Hana.
Hana. : Mbak Aline, maaf. Aku masih ada kelas sampai sore. Dosennya minta rapel yang untuk minggu depan sekalian ๐ญ๐ญ๐ญ
(send)
Aline. : Ya udah. Gak papa๐
(send)
Hana. : Mbak masih di mall?
(send)
Aline. : Masih. Kalau gitu Mbak pulang aja ya.
(send)
Hana. : Iya, Mbak. Sekali lagi maaf ya๐๐
(send)
Aline. : Iyaaaa, gak papa. Santai aja kali๐
(send)
Hana. : Titi dije ya, Mbak. Skali lagi maaf.
(send)
Aline. : Insya Allah. Kamu juga hati-hati.
(send)
Aline lalu membuka aplikasi ojek online dan membuat sebuah pesanan.
"Kenapa, Lin?"
"Ha? Adik angkat aku gak jadi dateng. Dosennya minta rapel sampe sore."
"Ooo ... terus, habis ini kamu mau kemana?"
"Aku langsung pulang aja lah, Kak. Ini udah pesan ojek online." Tepat saat ia selesai mengucapkan kalimat itu, HP-nya berdering yang ternyata adalah dari driver ojek online yang ia pesan.
"Udah ditungguin di bawah, Kak," ia menjelaskan.
"Mas!" Aline memanggil seorang waiter, meminta bill dan membayarnya. Segera ia berpamitan pada Arya.
__ADS_1
Arya yang tadinya berharap bisa mengantarkan Aline pulang jadi kesal sendiri. Lalu ia juga meninggalkan cafe dan berjalan menuju area bermain.