Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
DP Pernikahan


__ADS_3

Aline beranjak ke dapur. Ia menyusun belanjaannya tadi secepat yang ia bisa karena ada perut yang sedang kelaparan menunggunya di teras sana.


Aline mengeluarkan risole beku yang ia buat beberapa hari yang lalu dari dalam freezer, lalu membiarkannya di suhu ruang. Sambil menunggu risole, ia memarinasi kepala ikan salmon. Dari beberapa hari yang lalu, Aline sudah sangat ingin membuat sup asam pedas kepala ikan salmon favoritnya. "Masa bodoh jika Pak Elang gak suka," ucapnya.


Setelah menyiapkan bumbu sup, ia menggoreng risole yang sudah dingin. Lalu menyajikannya di piring bersama saus sambal ekstra pedas dan mayonaise. Aline menata risole dan seteko penuh air jeruk hangat di atas nampan lalu membawanya ke teras.


"Silakan dimakan, Pak!"


Elang mengangkat kepala dari gadgetnya.


"Hanya ini?" tanyanya melihat nampan yang dibawa Aline.


"Ini baru hidangan pembuka. Dinikmatin aja, udah. Gak usah banyak komentar deh!"


"Kalau gitu, gue mau main course yang seger dan pedas, dan gak pake lama," ucapnya memesan hidangan utama, dengan senyuman termanis yang ia punya namun terlihat sangat menyebalkan di mata gadis itu. Aline sangat kesal mendengar permintaan bosnya yang semena-mena itu. "Baik!" sahutnya, lalu beranjak ke dalam. Mengambil piring dan mengisinya dengan segenggam cabe rawit segar yang baru dicucinya tadi. Lalu membawanya kembali ke teras. Aline meletakkan piring berisi cabe rawit itu ke hadapan Elang.


"Main course-nya, Pak! Yang seger dan pedas! Sesuai pesanan! Gak-pa-ke-la-ma. Silakan dinikmati!"


Aline segera berlari ke dalam, meninggalkan Erlangga yang tertawa terbahak-bahak dengan keusilan nona pashmina itu.


Elang yang memang ada misi untuk menyerahkan sesuatu kepada gadis itu sengaja berlama-lama di kontrakannya, menunggu waktu yang tepat, begitu maksudnya. Suasana tenang ia dapatkan di teras mungil milik gadis itu. Saat ini, ia sedang menikmati risole yang disajikan, sangat enak, gurih, lezat, apalagi dengan cabe rawit segar yang dihidangkannya. Benar-benar menggugah selera. Ya, Elang adalah penikmat makanan pedas. Di saat sedang menikmati appetizer-nya, sebuah motor matic berhenti tepat di depan kontrakan Aline. Seorang gadis yang ditaksir Elang berusia 18-19 tahun turun dan menyapanya.


"Assalamu'alaikum," ucapnya memberi salam saat memasuki teras rumah kontrakan Aline.


"Wa'alaikumsalam," jawab Elang.


"Mbak Alinenya ada?" tanyanya ragu-ragu. Mungkin bingung dengan keberadaannya di rumah gadis itu.


"Ada di dalam. Lagi masak. Masuk aja!" Elang memberi tahu.


Gadis muda itu lalu berjalan ke arah pintu dan duduk di ambang pintu kontrakan Aline.


"Assalamu'alaikum. Mbak Aliiiiine ...!" teriaknya mengucap salam dengan suara yang menggelegar. "Busyet!!!" kata Elang geleng-geleng kepala mendengar teriakannya.


"Wa'alaikumsalam. Masuk, Dek!" jawab Aline yang sedang berjalan ke arah ruang tamunya sambil membawa nampan berisi masakan yang ia buat.


"Iya, Mbak. Aku buka sepatu dulu."


"Ah, mumpung ada kamu, di sini aja deh ya makannya, gak enak dilihatin tetangga kalau di teras," ucapnya lalu meletakkan nampan di atas meja tamu dan mengubah ruang tamunya menjadi ruang makan lesehan. Ya, ruang tamu Aline hanya berukuran 5x2, sehingga ia memilih untuk tidak membeli sofa. Hanya sebuah meja batu dengan ukiran-ukiran unik dari kuningan untuk kakinya, dan beberapa alas duduk lesehan untuk tamunya, bila ada.


"Sini aku bantu, Mbak."


"No! Kamu cuci tangan cuci kaki dulu sana! Nanti tolong bawa skalian piring, sendok sama gelasnya ke sini ya!"


"Okay, Bosque!" Lalu gadis itu beranjak ke dalam, ke arah kamar mandi.


Aline menata masakannya. Tak lama, Hana sudah kembali ke ruang tamu dengan barang-barang yang diminta Aline tadi.

__ADS_1


Aline lalu mengajak Elang untuk bergabung bersama mereka. Elang duduk bersila sambil mengamati interior ruang tamu Aline yang menurutnya sangat minimalis tetapi sangat unik.


Hana sedang berada di dalam ketika perut Elang berbunyi dengan tak tahu malunya.


"Krrrrrriiiiuuukkkk ..." suara perut Elang.


Aline melirik Elang yang sudah menahan malu.


"Ya udah, langsung dimakan aja kali, Pak. Kasihan udah pada demo tuh," ucapnya sambil menahan tawa.


Tanpa basa basi, Elang mengambil piring dan menyendok nasi. Saat itu Hana duduk di antara keduanya.


"Ini apa, Lin?" tanya Elang agak ngeri melihat kepala ikan di dalam mangkuk.


"Waahh, ini sup asam pedas kepala ikan salmon yang Mbak bilang kemarin? Sepertinya enak dan lezat!" tanya Hanya antusias sekaligus menjawab pertanyaan Elang.


"Iya, coba aja!" Aline menatap Hana yang langsung semangat mengambil sepotong kepala ikan ke piringnya.


"Gak ah!" kata Elang dengan wajah ngeri, "pasti amis banget," lanjutnya kemudian.


"Gak amis! Beneran enak dan gurih!" bela Hana.


Elang lalu mengambil sepotong dan mulai memakan. Pertama-tama ia agak ragu, tapi setelah mencoba, ia jadi ketagihan. "Sumpah, ini enak banget!" bathin Elang.


"Mbak, Mas ini siapa?" tanya Hana sedikit berbisik namun tetap terdengar. "Bukan Pak Ethan yang atasan Mbak itu, kan? Perasaan kemarin orangnya gak kayak gini."


Aline menggeleng.


Aline juga menggeleng.


Sementara Elang menyimak obrolan unfaedah kedua gadis itu.


"Trus, ini siapa dong?" tanyanya penasaran.


"Mas ini namanya Mas Elang. Dia driver taksi online Mbak dari mall tadi. Karena laper, dia gak mau dibayar dengan uang, tapi dengan masakan," jelas Aline membuat Elang tersedak di detik berikutnya.


"Uhuuk ... uhuk ... uhuk ..." Elang meraih gelas yang berada di depannya dan meminumnya hingga habis.


"Hati-hati makannya, Mas. Minumnya juga, sunnahnya minum tiap tiga teguk," Hana menegur Elang yang meminum isi gelasnya hingga tandas.


"Iya, maaf. Saya kepedasan," jawabnya sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, menyembunyikan malunya.


"Sialan nih cewek, gue beneran dibilang supir taksi online!" bisik Elang dalam hatinya.


"Masnya udah lama jadi driver taksi online?" tanya Hana sok kenal.


"Baru, Mbak," jawabnya mengikuti permainan Aline.

__ADS_1


"Oooo .... Jadi mau fokus di sini atau ada kerjaan lainnya, Mas?" tanyanya kemudian.


"Saya bekerja, ini side job aja, lihat-lihat sikon sama penumpangnya juga," jawabnya asal dengan menekankan kata 'penumpangnya'.


"Oooo .... Itu mukanya biru gitu kenapa, Mas?" tanya Hana lagi.


"Duh, cewek ini terlalu banyak tanya!" bathin Elang menggerutu.


"Itu tadi kena tonjok dari laki-laki yang mau macam-macam sama Mbak di mall tadi," Aline menjawab.


"Oooo .... Makasih ya, Mas. Udah nolongin kakak saya," ucapnya tulus.


Elang mengangguk namun dalam hati ia merutuki jawaban Aline yang mengatainya laki-laki yang mau macam-macam pada gadis itu. Sial sial sial.


Setelah makan, Elang langsung pamit pada kedua gadis itu. Sejak kedatangan adik angkat Aline yang diketahuinya bernama Hana itu, ia menjadi tidak betah karena selalu ditanyai ini itu. Elang melajukan fortunernya ke apartemen. Saat ia hendak turun, ia teringat sesuatu yang tadinya hendak diberikannya pada gadis pashmina itu. Yaitu sepasang mukena yang tadi dibelinya di mall bersama Rendi tergeletak manis di sebelah kursi yang diduduki oleh Aline tadi. Elang menepuk jidatnya karena bisa-bisanya ia lupa menyerahkannya.


Flashback on:


Elang dan Rendi telah selesai makan siang dan istirahat di cafe.


"Udah slesai kan, Nyet? Yuk buruan, temenin gue nyari sesuatu!" perintah Elang.


Dua orang lelaki tampan itu berjalan menyusuri mall. Sepanjang jalan, banyak pasang mata perempuan yang jelalatan melihat mereka, tapi keduanya cuek saja. Udah biasa!!! (suombong beneeeer)


Elang memasuki sebuah toko pelengkapan haji dan umroh yang ada di mall tersebut. Ia memang sudah berniat untuk mengganti mukena yang dipinjamkan gadis pashmina itu untuk menyelimutinya beberapa malam yang lalu.


"Gue gak salah lihat lu pegang apaan?" Rendi mulai kepo. Sementara Elang hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban.


"Lu yakin mau beli mukena, Nyet?" tanya Rendi lagi, masih penasaran dengan mukena pilihan Elang. Yaitu sepasang mukena sutra yang lembut dengan bordiran dan dihiasi beberapa permata di sekitar kepalanya.


"Yakin," jawab Elang apa adanya.


"Gue gak salah dengar, kan?" tanyanya lagi.


"Lo punya mata dan lo juga punya telinga yang masih berfungsi dengan baik, kan, Nyet?" Elang menjawab pertanyaan dengan pertanyaan pula.


"Ya masih. Emang buat apaan lu beli mukena segala?" tanya Rendi penasaran tingkat dewa.


"Buat mahar!" jawab Elang sekenanya membuat Rendi ternganga.


"Sialan lu! Gue yang udah mau nikah aja belum kepikiran mahar, nih elu yang jones pake ngarang beli mahar segala! Lu pikir gue percaya?" katanya emosi.


"Mangkenye, Bro, buruan anak orang lo 'sah'kan! Keburu gue langkahin lo baru tau rasa! Ini baru DePenya doang, lo kira-kira aja apa nanti yang bakal gue kasih lagi," ejeknya.


"Sialan lu!"


"Hahahahahahaha ...."

__ADS_1


Flashback off.


Elang tertawa sendiri mengingat di sepanjang sisa kebersamaan mereka di mall tersebut, Rendi terus saja mempertanyakan siapa gerangan wanita yang akan diberi mukena olehnya. Dan Elang semakin senang mengetahui bahwa sahabatnya itu sudah kepo tingkat dewa! Hahahaha. Entah dapat pemikiran dari mana ia sampai berkata bahwa mukena sutera itu adalah DP seorang Elang untuk menikahi seorang wanita!


__ADS_2