
Aline bangun sedikit lebih awal hari ini. Langit di luar masih sangat gelap. Pekat. Seharusnya setiap orang sedang terlena dengan kenyamanan kasur empuk dan dibuai mimpi indah. Namun tidak dengan gadis bermata biru dan berambut indah itu. Ia menyisir rambutnya dan mengikatnya ekor kuda. Kebiasaannya jika di rumah.
Ini adalah hari ulang tahun bang Cris, kakak tertuanya. Lagipula, sudah lama ia tidak bertukar kabar dengan kakak tertuanya itu. Dia meraih gawai di nakas. Membuat pola rumit pembuka kunci, dan langsung membuka aplikasi telepon hijau yang dipakai berjuta-juta umat, mencari nama 'Abang Sayang-1' di daftar kontak, lalu membuat panggilan video. Mengerjai abangnya sepagi ini tidak masalah, bukan? Lagipula tidak akan lama.
Hingga deringan terakhir, panggilannya tak kunjung di jawab. Masih jam 3 pagi. Tentu saja si empunya masih tidur dengan lelap di ranjang king size empuk miliknya. Terlebih bila abangnya itu memiliki jadwal operasi sampai larut malam tadi. Jika ya, tentu saja saat ini abangnya itu sedang berlibur di pulau kapuk miliknya.
Tak menunggu lama, gadis itu beranjak ke kamar mandi yang terletak di ujung rumah kontrakannya, lalu berwudhu dan sholat malam. Nanti ia akan mencoba lagi.
Setelah ibadah, Aline kembali menghubungi abang tertuanya itu. Belum diangkat. Ia mencoba lagi, tetap belum diangkat. Sekali lagi, bila tidak diangkat juga ia tidak akan menelpon lagi. Dering ke tiga, panggilannya dijawab. Menampilkan seorang pria tampan yang seksi mengenakan T-shirt v-neck berwarna putih dengan rambut berantakannya, dan jejak-jejak bantal di pipinya, khas orang bangun tidur.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Apaan sih, subuh-subuh buta nelpon," gerutunya. Sepertinya nyawa laki-laki itu masih melayang di awang-awang, tentu saja. Bila sadar, tak kan pernah ada nada itu dalam suaranya. Ia benar-benar sangat menyayangi adik bungsunya ini.
"Oh, jadi aku gak boleh nelpon-nelpon abang lagi. Ya udah. Nanti tinggal beli kartu baru," rajuk Aline lalu mematikan sambungan sepihak, membuat Cris geram-geram sayang di ujung sana.
Tak berapa detik berselang, benda pipih itu bergetar dan menyanyi. Aline menggeser telpon merah. Namun benda itu kembali bergetar dan menyanyi. Kali ini Aline mengabaikannya. "Biarin!" amuknya pada HP yang tak bersalah itu.
Benda itu kembali berbunyi, pertanda ada pesan masuk.
Cris. : Diangkat dong telponnya adek sayang! Princess yang paling cantik kesayangannya Abang.
Lagi, benda di tangan Aline kembali bergetar dan bernyanyi. Kali ini, Aline menggeser icon video biru itu ke atas.
"Apaan sih, Bang, subuh-subuh buta gini nelpon?" Aline mengembalikan kalimat Cris tadi.
"Jadi Abang gak boleh nelpon lagi nih?" Cris juga melempar balik kalimat Aline tadi.
"Enggak!"
"Kok gitu? Abang udah bela-belain bangun, padahal pagi ini mau operasi kok kamunya malah gini? Tega banget!" Cris pura-pura merajuk.
"Abang sewot gitu jadi makin seksi deh. Tapi sayang ilernya kemana-mana. Jadi ilfil," goda Aline.
"Shit ...!" Cris mengelap bibirnya dan ternyata tidak ada ilernya. Cris memang pria pembersih dan menjunjung tinggi kebersihan.
"Hahahahahahahaha ..." Aline tertawa puas karena berhasil mengerjai abangnya yang sok cool itu.
"Kamu gak tidur jam segini, ini masih jam setengah empat loh!"
__ADS_1
"Udah tidur tadi, dan udah bangun ini Bang. Adek kangeeen," ucapnya manja membuat Cris bangun dengan kesadaran penuh dan bersandar di kepala tempat tidurnya.
"Pulang makanya. Abang jemput ya?" bujuk Cris.
"Rumah aku di sini kan, Bang! Abang jangan pura-pura lupa?"
"Alasan! Rumah kamu tuh ya di sini. Kalau gak mau di rumah papi, nanti Abang beliin rumah buat kamu, tapi di sini ya. Deket Abang, deket bang Rio, deket sama mami juga. Kalo perlu, nanti kita pindah ke rumah itu semuanya. Gimana?"
Aline langsung berkaca-kaca. "Isssh, Abang ni. Bukan gitu maksud aku, Bang!"
" Ya udah, ya udah. Maafin Abang. Kalau gitu Abang ke sana yah. Sekarang juga kalo perlu!" ucapnya sungguh-sungguh dengan nada selembut mungkin, karena gadis di seberang sana sudah berkaca-kaca.
Aline mengangguk. "Iya Adek maafin. Emang Abang mau jemput dimana? Udah tahu rupanya dimana aku sekarang?"
Cris menggeleng. "Shareloc deh kalo gitu. Abang pastikan hari ini juga Abang ke sana."
"Ellllleh, gaya! Emang hari ni gak ada jadwal operasi?"
"Hehehehehe ... Ada sih. Ada 3 operasi hari ini ..."
"Jangan dibatalin!" potong Aline karena ia tahu betul apa yang akan dilakukan oleh abangnya itu. "Jangan jadi dokter semena-mena, Bang. Nanti Abang gak laku, hahahaha," candanya.
"Ye laaah. Tak jadi pun Abang batalin," jawab Cris malas.
"Oh, jadi Bang Rio lebih ganteng dari Abang nih?" Cris memanyunkan bibirnya, bergaya merajuk.
"Emang lebih ganteng, soalnya lebih muda dari Abang. Jadi masih bening, hahahaha ...."
"Sayang, kamu tahu gak? Apa yang kamu lakuin ke Abang itu JAHATT!" Cris menirukan salah satu adegan di film AADC2 yang populer beberapa waktu lalu.
"Yeeee, merajuk. Malu sama umur, hehehehe .... Oia, sampai lupa. Met ultah Abang sayaaaaang, selamat tambah tuaaaa. Semoga Abang sehat selalu, berkah umurnya, banyak rezekinya, slalu diberi kesehatan, kemudahan dalam menjalankan tugas mulianya, tambah sayang sama keluarga, semua yang dicita-citakan tercapai, dan cepat dapat jodoh. Kalo udah punya calon, semoga semuanya dimudahkan dan dilancarkan. Aamiin."
"Aamiin .... Do'a yang sama juga buat adek abang yang paaaaaaaaaaling cantik sedunia, katanya, hahahahahaha ...."
"Ish, kok pake katanya? Ya pastilah aku yang paling cantik. Abang kan gak punya adek perempuan lain. Jadi Abang gak punya pilihan, wleee .... Kalo bang Rio dikasih rok sama hijab pun, pasti aku lebih cantik, hehehehehe ...."
"Kamu tuh ya. Abang jadi pengen cubit hidung kamu."
"Nih, cubit aja!" katanya mendekatkan kamera HP nya ke hidung mungil miliknya. Cris menirukan gerakan mencubit hidung seolah-olah ia mencubit hidung bangir adik kesayangannya itu.
__ADS_1
"Kado untuk Abang gak ada nih?" rajuknya.
"Ada doooong. Tenang aja. Ya udah. Abang bobo lagi ya. Biar tetap fokus operasinya nanti," pamitnya.
"Udah aja nih kangenannya? Tapi Abang masih kangen loh." Cris membujuk adik perempuan satu-satunya itu.
"Iya. Abang harus istirahat. Nanti telponan lagi yaaa. I love you, Bang Cris sayang. Titip salam buat Bang Rio Iyo Iyo Iyo ya. Salam kangen berjuta-juta rindu. Mmmmuuuaaah."
"I love you too, Princess. Nanti Bang Cris sampaikan ke Bang Rio."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Sambungan telpon pun terputus.
"Gimana, Yo? Dapat?" tanya Cris pada adiknya, Rio, yang sedari tadi berkutat dengan perlengkapan entah apa itu namanya yang pasti untuk melacak keberadaan adik bungsu mereka itu. Rio memang sudah memprediksi bahwa Aline akan menelpon abangnya itu untuk mengucapkan selamat ulang tahun pada kakak tertua mereka, tapi tak menyangka jika sepagi ini. Untung saja ia berinisiatif ke apartemen abangnya tadi malam, jadi mereka bisa merencanakan ini bersama.
Ya, Cris sudah menceritakan kejadian tempo hari dimana ia tak sengaja menelpon adik perempuannya yang dipikirnya adalah keluarga dekat si mbok, pengasuh mereka. Dan sungguh, ia tidak ingin mengingkari janjinya untuk tidak melacak lokasi adiknya itu. Namun, ia tidak berjanji jika ia tidak akan mengatakannya pada Rio, kan? Alhasil, Rio lah yang merencanakan semua ini.
"Udah, Bang," ucap Rio so cool. "Ntar aku minta si Haris buat mastiin ke sana."
"Kita jemput sekarang ajalah, Yo. Abang udah gak sabar nih, kangen berat sama si bungsu."
"Abang gak denger tadi Rosa bilang apa? Dia gak pengen Abang batalin operasi Abang hari ini." Rio mengingatkan.
"Ck!"
"Aku juga pengen kali bang, ngasih surprise dengan tiba-tiba nongol depan si princess, trus cium-cium dia. Adik kecil kita yang entah gimana hidupnya sekarang," ucap Rio sendu, "tapi kita mesti bikin smuanya kelihatan natural, gak disengaja. Abang ngerti maksud aku, kan?" lanjutnya.
"Iya iya! Trus, sekarang gimana?"
"Biar Haris yang mastiin semuanya di sana dan mengawasi dari jauh. Kalau dah jumpa moment yang pas, baru kita muncul di depan Rosa. Yang penting, buat semuanya se-natural mungkin biar dia gak curiga. Kalau sampai dia curiga, habislah, bisa ngamuk dan ngilang beneran si princess manja itu."
"Ya udahlah. Abang nurut aja." Cris berkata dengan lesu.
"Oke. Bentar aku hubungi Haris dulu." Haris adalah asisten pribadi sekaligus tangan kanan Rio. Aline tidak mengenalinya karena memang belum pernah berjumpa.
Rio kembali ke kamar Cris setelah menghubungi Haris.
__ADS_1
"Beres, Bang. Pagi ini juga dia ke sana. Kita tunggu aja kabarnya nanti. Sekarang mendingan kita tidur lagi. Aku masih ngantuk. Hoooaaaaamm ...." Rio berucap seraya mematikan laptop canggih miliknya dan mengemasi semua barang-barang yang digunakannya untuk melacak tadi.
"Princess, sampai ketemu sebentar lagi!" ucap mereka berbarengan lalu kembali tidur hingga pagi menjelang.