
Hari Senin merupakan awal dimulainya kembali segala rutinitas, entah itu bekerja atau sekolah. Bagi sebagian orang, Senin adalah hari yang menjengkelkan, menjalaninya kerap terasa berat dan penuh beban. Rasanya malas sekali bila berhadapan dengan hari Senin. Pasalnya masih terlena dalam buai libur akhir pekan setelah melepas penat dan mampu menyenangkan hati. Sehingga saat hari Senin tiba, mereka seolah-olah dipaksa untuk masuk kembali ke fase sibuk. Banyak yang mengeluhkan kenapa harus ada hari Senin? Tanpa mereka pikir bahwa jika tidak ada hari Senin, maka masih ada hari Selasa yang akan menggantikan perannya sebagai awal sebuah pekan. Begitulah manusia, pandainya cuma mengeluh.
Namun bagi sebagian lagi, Senin adalah awalnya pundi-pundi rupiah. Bagi mereka yang berpikir demikian, semangat Senin tentu menggebu-gebu. Libur akhir pekan seolah membuat baterai mereka full kembali, ibarat anak kecil yang baru memulai sekolah di hari pertamanya. Kebayang kan? Nah begitulah antusiasme orang yang menganut paham ini, termasuk gadis cantik bernama lengkap Rosaline Denisa Tiocandra itu. Bagi Aline, Monday is Mon(ey)day. Tssaaaaah....
Pagi ini, seperti biasa, Aline sudah siap dengan setelan kerjanya. Memoles make-up tipis-tipis membuatnya semakin cerah bersinar. Mengenakan heels lima centimeter membuatnya semakin semampai. Duduk di kursi teras lengkap dengan slingbag, dan tas mukena menunggu babang ojek. Hari ini ia minus tas bekal karena ia sedang berpuasa Senin-Kamis. Ya, Aline rutin melaksanakan ibadah puasa sunat setelah ia mengikuti sebuah pengajian untuk mengenal Islam lebih dekat. Ternyata berpuasa sunat itu banyak manfaatnya dan itu dirasakan sendiri oleh Aline.
Sudah hampir dua puluh menit Aline menunggu, tapi si babang ojek belum juga menjemput. Terakhir ia menghubungi bilang kalau ban motornya menginjak paku dan bocor. Katanya tidak akan lama karena ia tadi sudah di bengkel yang tak jauh dari titik penjemputan, katanya.
Memang akhir-akhir ini kejahatan semakin menjadi. Bukannya shu'udzon. Tapi saat di Batam dulu, kejadian seperti ini sering dialami oleh teman-temannya yang ke sekolah dengan motor. Katanya ada oknum yang sengaja menebar paku di pinggiran jalan untuk menjebak pemotor. Apalagi motifnya jika tidak berkaitan dengan rupiah. Kesulitan ekonomi kadang membuat orang tidak berpikir dua kali untuk melakukan kecurangan-kecurangan kecil namun kadang bisa berakibat fatal bagi korbannya, seperti dirinya sekarang. Ia sudah hampir terlambat. Bila tak segera berangkat, ia akan benar-benar terlambat masuk kantor.
Mengakhiri drama mondar mandir di depan teras seperti setrikaan menunggu babang ojek, Aline menguatkan tekat untuk menaiki busway. Ia berjalan cepat ke halte busway yang memang tidak terlalu jauh dari kontrakannya. Setidaknya busway bisa menjadi alternatif andalan di saat-saat genting seperti ini karena memiliki jalur sendiri. Tapi resiko berhimpitan sudah pasti menunggu. Untunglah masih pagi hari, dan hari Senin pula, jadi semua orang masih mengenakan setelan kerja yang baru dicuci dan disetrika, wangi dan rapi. Jadi resiko bau keringat yang menempel di baju bisa diabaikan. Lihat, masih ada untungnya kan bila kita bersyukur? Mindset yang seperti itulah yang seharusnya dipupuk oleh generasi muda jaman now.
Aline berlari dari halte busway menuju kantornya. Heels lima sentinya sudah ia jinjing. Lebih mudah berlari dengan kaki ayam begini. Tadi ia bersyukur karena resiko bau keringat penumpang lain yang menempel bisa diabaikan, kini ia berdo'a semoga keringatnya hari ini tidak bau. Sebenarnya Aline bukan tipe manusia yang keringatnya bau. Ditambah rutin menggunakan deodoran sehabis mandi tentu saja bau keringat dapat diminimalisir. Tapi kalau berlarian, keringat berlebih justru membuat bakteri jahat semakin aktif, seperti informasi yang ia dapatkan pada iklan produk deodoran. Pokoknya berdo'a saja agar ia tidak telat dan juga tidak bau.
Baru saja sampai di mejanya tepat satu menit sebelum jam delapan waktu A.C, Rendy menyerahkan dua tumpuk dokumen untuk ia pelajari, yang satu tumpukan dari atasannya itu dan satu lagi titipan dari Pak Erlangga, katanya. Sontak Aline mengusap kasar mukanya. Sudah tak peduli lagi make-up tipis-tipis yang dipoleskannya tadi pagi jadi amburadul. Masa bodo.
Aline segera memakai kacamata minusnya dari laci meja begitu Rendi meninggalkan mejanya menuju lift. Kata dokter matanya dulu, walaupun minusnya tidak banyak, harus selalu dipakai kacamatanya. Jangan memaksakan tanpa kacamata karena mata akan mudah lelah dan minusnya bisa bertambah lebih cepat. Terlebih ia memilih kacamata dengan lapisan anti-sinar biru luar dalam yang mampu menjamin matanya lebih terjaga bila berhadapan lama dengan komputer.
Sepagian itu ia jalani dengan mengerjakan tumpukan pertama, pekerjaannya dan Ce Shayna yang dihibahkan sebagian padanya. Oia, Ce Shayna pagi ini pergi dengan Pak Rendi karena permintaan dari pihak EO penyelenggara HUT Perak A.C mengenai sesuatu yang tidak bisa ditunda. Jadilah ia sendiri menikmati tumpukan berkas.
Aline menyalakan musik dari komputernya untuk menemani kesendirian di ruangan itu. Sebenarnya Aline tidak benar-benar sendirian di sana. Ada beberapa divisi yang dibawahi Direktur Keuangan yang bernaung di lantai yang sama, hanya saja ruangan mereka lebih ke dalam. Sementara ruangan Direktur Keuangan berada di sebelah kiri, cukup jauh dari lift sehingga tidak tersentuh dengan hiruk pikuk penghuni lain di lantai ini yang sering bersileweran menggunakan lift.
Pekerjaannya pagi itu berjalan aman bebas hambatan seperti jalan tol yang baru saja selesai dibangun, dimana jalannya masih baru dan rata, tidak ada lobang-lobangnya yang kadang mampu merenggut nyawa pemakainya.
Selesai dengan tumpukan pertama, lanjut ke tumpukan kedua. Ternyata isinya bermacam-macam, mungkin berkas-berkas ini nanti yang akan dibahas saat handover dengan mbak Dira.
Aline menjeda pekerjaannya menjelang jam istirahat siang. Tinggal satu berkas lagi yang sudah ia baca namun belum ia pahami. Rasa lelah menggerogotinya. Ia perlu ke tempat yang tenang untuk me-refresh energinya. Kemana lagi jika bukan ke rooftop, tempat favoritnya.
Baru saja kakinya menginjak ruangan tunggu yang menjadi pembatas ruangannya dengan ruangan yang lain, dua orang perempuan menyeretnya ke arah pantry. Jika saja ia tidak mengenal kedua wanita ini, pasti sudah ia hadiahi bogem mentah. Misye dan Dwi, dua orang rekan kerjanya yang cukup ia kenal karena sering berbagi pantry saat ia membutuhkan kafein di jam kerjanya. Mereka berdua juga yang sering membantunya menyiapkan data-data laporan yang akan direkap Aline. Jadi cukup akrab juga walau tidak bisa dibilang teman dekat.
Misye adalah titisan Kak Ros 'Silet' yang terjebak dalam tubuh Bella Swan, cantik dengan rasa ingin tahu dan penasaran yang sangat besar. Sedangkan Dwi berwajah khas Jawa namun sangat lebay, yah, perpaduan Soimah dan Syahrini lah.
__ADS_1
Mereka berdua mendudukkan Aline di bangku pantry. Pantry kosong siang ini, seolah-olah sudah di-booking mereka berdua.
Aline duduk diam dengan tenang. Lebih baik menunggu apa mau kedua perempuan ini membawanya ke sana.
"Ekh-hem," Misye berdehem. "Lin, sori nih ya kita bawa lo ke sini. Abisnya kita berdua udah gak tahan pengen nanyain ini." Tuh, ini suara Misye. Dari kalimat yang menyertai permintaan maafnya udah kebayang, kan, kalau dia anak kantoran versi 'Kak Ros' banget yang doyan ngeghibah.
Dwi mengangguk iya dengan tampilan jambul ala ala Syahrenongnya.
"Tanyain aja, Mbak Misy, Mbak Dwi. Ntar aku jawab tapi jangan dipotong kalau aku lagi ngomong nanti." Aline merasa harus membuat kesepakatan ini dulu dengan duo manise ini sebelum ia menjawab apapun itu yang akan ditanyakan nanti, belajar dari pengalaman yang lalu, biar ujung-ujungnya gak berakhir salah kaprah apalagi sampai salah paham.
"Oke, deal!" Dwi dan Misye menjawab serentak. Aline menunggu mereka buka suara kembali.
"Lo lagi in a relationship ya sama Pak Erlangga? Soalnya kemarin pagi nih ya, kita berdua lihat lo jalan sama dia. Pertama Dwi lihat lo di taman lagi jogging bareng bos besar terus agak siangan dikit gue gak sengaja lihat lo keluar butik bareng pak Erlangga, masih pake baju olah raga. Habis dibelanjain lo ya? Bener apa beneeeer?" Dimulai dengan pertanyaan di akhiri dengan pertanyaan bernada sumbang. Duh, berasa main segmen 'mitos atau fakta' dalam acara ghibah yang dibawain sama si kak Ros beneran deh aku. Fiuuuh ....
Tapi, ini kudu diklarifikasi biar gak ada Tante-Tante Ivanka yang lain atau yang sejenis Aura mendatangi dirinya ke kantor nanti. Walaupun terkenal bigos, tapi kedua wanita ini sepertinya tidak suka menebar berita bohong alias fitnah, terbukti dengan mereka yang mencari kebenaran terlebih dahulu langsung dari objeknya.
Aline memilih untuk berkata jujur karena menurutnya, jujur selalu menjadi pilihan terbaik. "Begini ya, Mbak Misye dan Mbak Dwi. Yang mbak-mbak lihat kemarin itu bener aku dan pak Erlangga." Aline mengangkat tangannya untuk menghentikan Misye yang sudah hendak membuka mulut. "Kan tadi aku bilang gak boleh dipotong. Lanjut ya?" Kedua wanita itu mengangguk setuju. "Aku sama pak Erlangga gak ada hubungan apa-apa seperti yang ada dalam prasangkaan mbak-mbak. Hubungan kami murni karena pekerjaan. Jogging karena ada urusan pekerjaan. Terus yang di butik, pak Erlangga cuma jemput baju pesanannya dia, kyanya buat dipakai untuk acara HUT A.C nanti. Aku cuma nemenin karena sekalian jalan pulang jadi singgah sebentar. Oke?" Untung saja saat mengantar Aline pak Elang mengingatkannya tentang pekerjaan, jadi ia tidak berbohong.
"Oooh." Keduanya ber-oh ria dengan wajah sedikit kecewa, mungkin sedih karena kehilangan sumber berita.
"Cuma buat ganti sementara, Mbak, selama mbak Dira cuti melahirkan," jawab Aline kalem.
Setelah sedikit mengobrol dengan duo itu, Aline bergegas ke musholla yang terletak di lantai 4 untuk melaksanakan sholat Dzuhur. Setelah itu ia akan memahami dokumen yang tersisa tadi sebelum handover sama mbak Dira, setelah jam istirahat nanti.
Semoga nanti berjalan lancar.
Tapi harapan hanya harapan. Manusia memang bisa berencana namun Tuhan-lah yang menentukan. Acara handover dengan mbak Dira diwarnai drama kontraksi. Aline yang tidak berpengalaman menjadi panik bukan kepalang melihat mbak Dira menahan sakit yang kelihatannya teramat sangat. Apa akan melahirkan sekarang atau bagaimana? Ia tidak punya pengetahuan untuk itu sama sekali. Untung saja saat itu pak Erlangga ada di ruangannya, jadi ia ada temannya. Mereka berdua membawa mbak Dira ke rumah sakit terdekat. Syukurlah ternyata mbak Dira hanya mengalami kontraksi palsu, biasa dialami oleh ibu hamil untuk membiasakan, kata dokter Gama. Kemungkinan baru akan melahirkan dalam satu hingga dua minggu ke depan, tetapi tetap tidak boleh bekerja terlalu berat. Begitu yang disampaikan oleh dokter ganteng itu. Mengingatkannya pada Abang tertuanya, bang Cris. Ahh, apa kabar ya abangnya itu? Terakhir berkomunikasi saat ia mengucapkan selamat ulang tahun minggu yang lalu.
"Balik yuk, Lin!" Pak Erlangga buka suara sesaat setelah suami mbak Dira mengucapkan terima kasih kepada kami berdua dan melengos ke ruangan PONEK dimana istrinya sedang berbaring. Sepertinya Mas Dito sudah harus mulai jadi suami siaga mulai sekarang.
"Baik, Pak."
__ADS_1
"Gimana tadi serah terimanya? Sudah selesai?" tanyanya ketika kami berjalan menyusuri lorong yang menghubungkan ruangan PONEK, UGD dan polispesialis.
"Baru setengah jalan, Pak. Mbak Dira udah gak konsen karena menahan sakit," jelas Aline. Erlangga mengangguk maklum. Salahnya juga mencari pengganti Dira di saat-saat terakhir. Jika bukan karena Dira yang meminta Aline, mungkin saat ini dia baru akan menghubungi HRD minta dicarikan ganti. Dira merupakan sekretaris dengan kemampuan dan kompetensi yang baik, dari segi penampilan, skill maupun komunikasi tidak ada masalah, membuat Elang betah-betah saja bekerja sama dengan sekretarisnya itu. Namun dengan gadis yang sedang berjalan di belakangnya ini, Elang sedikit ragu akan cocok, setiap ketemu selalu saja ada adu urat. Bagaimana bisa nanti akan selaras dalam bekerja? pikirnya.
"Lo udah makan?" tanya Elang begitu Aline memasang seatbelt. Cukup heran juga karena gadis ini memilih duduk di depan tanpa harus diminta, padahal biasanya ia akan memilih duduk di belakang walaupun sudah diperintah duduk di depan.
"Gak etis rasanya kalau sekretaris disupiri bos," jawabnya seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan Elang. Sebenarnya bukan itu, ini kan masih jam kerja, masa iya ia duduk di belakang sementara bosnya menyupiri. Bisa bertambah panjang daftar haters-nya di kantor nanti.
"Kita makan dulu ya. Gue belom sempat makan siang tadi."
Aline mengangguk menyetujui. Kasihan juga bosnya bila ia mengatakan jika ia sedang berpuasa, pasti nanti tidak jadi makan karena sungkan padahal ini sudah hampir jam pulang.
Elang makan dalam hening karena sungkan, akhirnya mengetahui bahwa sekretaris barunya itu sedang berpuasa. Pantas saja menolak ini itu walau sudah dipaksa sampai ia kesal sendiri tadi.
"Pelan-pelan aja kali, Pak, makannya. Saya bukan anak SD lagi yang mudah tergiur dengan makanan lezat di depan mata terus merengek minta berbuka sama emaknya. Santai aja. Iman saya cukup kuat kok." Aline melanjutkan berbalas pesan dengan mbak Dira yang ternyata sudah dalam perjalanan pulang dengan suaminya.
Ternyata kata-katanya barusan cukup ampuh membuat bos nya makan dengan baik.
Setelah makan, Elang mengatakan akan mengantarkannya pulang saja karena memang sudah mau jam pulang kantor. Mulai hari ini, Aline ikut jam operasional kantor, jam 8-16. Ia akan memberi tahu Abah dan Bunda nanti. Minta dispensasi jam masuk di restoran. Lagi-lagi ia harus mengorbankan jam kerja di resto. Walaupun ia yakin Abah dan Bunda bakal maklum-maklum saja, tapi tetap ia tidak enak, berasa memanfaatkan kekerabatan.
Kali ini, Aline memilih duduk di bangku belakang, membuat Elang kembali meradang.
"Heh, pindah ke depan! Siapa yang suruh lo duduk di belakang? Tadi aja belagak manis, ngomong-ngomong gak etis segala."
"Itu kan tadi, masih dalam jam kerja. Sekarang kan udah mau diantar pulang." Aline tak mau kalah, ngotot ingin duduk di bangku belakang.
Begitulah, percekcokan pertama mereka setelah resmi menjadi CEO dan sekretarisnya.
Perang mulut tak terhindarkan yang dimenangkan oleh Elang, karena ia tidak jadi mengantar Aline ke kontrakannya tapi langsung balik kantor. Satu kelemahan Aline yang baru ia ketahui.
Sepanjang perjalanan, Aline merengut dan tetap sibuk berbalas pesan dengan mbak Dira, mengacuhkan Elang yang menyetir. "Kalau ini sih, tetap jadi supir namanya. Rasa-rasa jadi supir taksi online yang lagi bawa penumpang yang sibuk dengan HPnya," pikir Elang pasrah.
__ADS_1
Sesampainya di kantor, Aline turun setelah mengucapkan terimakasih dengan setengah hati. Ia membereskan berkas-berkas secepat yang ia bisa. Lalu bergegas meninggalkan kantor bersama ratusan karyawan lain yang menghuni Atmaja Tower. Aline berjalan menuju halte busway dan semoga sisa hari ini bisa ia jalani tanpa ada drama tambahan lagi. Benar-benar lelah rasanya jika hari Senin saja sudah banyak dihiasi dengan drama. Gimana hari besok?
***