Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Tak Dikenali, Bete! (1)


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu sejak malam itu. Aline menjalani hidupnya dengan damai dan tentram. Walau sesekali ia masih bertanya entah pada siapa, penasaran bagaimana kabar pria yang ditolongnya malam itu. Apakah baik-baik saja atau bagaimana.


Keuangan Aline juga semakin membaik. Ia sudah bisa membeli beberapa perabot dan sebuah laptop untuk melengkapi kebutuhannya. Uang yang dipinjamnya pun sudah ia kembalikan kepada si mbok melalui rekening seorang teman. Aline juga sudah kerap menghubungi ART nya itu, bertanya tentang kabar kedua orang tua dan abangnya. Saat ini papi dan mami sedang berlibur ke Copenhagen, kampung halaman kakek dari pihak maminya. Sedangkan kedua abangnya sedang sibuk dan hampir tidak pernah pulang ke rumah. Si mbok juga bercerita jika kedua abangnya telah menyewa detektif untuk mencari keberadaannya. Meskipun tanpa Aline meminta, si mbok tidak pernah menceritakan keberadaan Aline pada keluarganya. Ia ingin mona kecilnya sendiri yang menghubungi salah satu dari majikannya. Saat ini, si mbok sudah cukup bahagia mendengar nona kecilnya baik-baik saja dan menjalani hidup dengan baik walau jauh di seberang pulau. Ia bahagia jika nona kecilnya tidak menaruh dendam, walaupun ia tau hati nona kecilnya itu masih sangat kecewa. "Biarlah waktu yang mengobati lukanya," pikir si mbok.


Aline baru saja selesai bertukar kabar dengan si mbok. Waktu sudah menunjukkan pukul 8.00 pagi. Aline segera bersiap untuk ke rumah Bu Suci. Ini hari terakhirnya bekerja di sana. Ya, Aline sudah menyampaikan maksudnya untuk berhenti kerja di rumah Bu Suci. Aline berniat untuk mencari pekerjaan lain atau membuka usaha kecil-kecilan, selain ia bekerja di resto Abah, dengan sisa tabungannya yang tak seberapa tetapi cukup untuk memodali usahanya nanti.


Awalnya Bu Suci keberatan, ia sudah terlanjur sayang dengan gadis manis itu. Belum lagi jika suami dan anaknya sangat menyukai hasil kerja Aline. Tapi mau bagaimana lagi, Aline berhak memiliki pekerjaan yang lebih baik. Ia tahu gadis itu memiliki banyak potensi dalam dirinya, terlihat jelas dari pembawaannya dan gerak geriknya yang luwes dan serba bisa. Walaupun ia pernah beberapa kali melihat Rendi dan Aline berinteraksi, tapi Bu Suci paham bila interaksi dan kedekatan mereka tidak lebih dari sebatas teman. Rendi sudah memiliki Elisa yang juga baik dan manis. Jika ia memiliki anak lelaki lain, pasti ia akan senang bila Aline menjadi menantunya. Ah, andai saja.


Aline sampai di rumah Bu Suci dua puluh menit kemudian. Semua penghuni rumah ini masih berkutik dengan urusan masing-masing di tempat kerja maupun sekolahnya. Hanya bibi yang ada di rumah. Wanita paruh baya itu sedang membersihkan rumah. Segera ia mengerjakan pekerjaannya.


Dua jam kemudian Aline sudah selesai dengan pekerjaannya. Segera ia menuju dapur hendak mengambil segelas air. Dilihatnya bibi sedang duduk di kursi makan sambil mengusap pinggangnya dengan balsem.


"Kenapa pinggangnya, Bi?" tanyanya penuh perhatian.


" Eh, Mbak Aline. Ini pinggang Bibi encok. Maklum sudah tua, Mbak."


"Ini Bibi mau masak?"


"Iya, Mbak. Ibuk sebentar lagi kan pulang."


"Ya udah, kalau gitu biar saya aja yang masak ya, Bi. Bibi duduk aja istirahat di sana!" pinta Aline.


"Gak usah, Mbak. Mbak Aline kan udah sering bantuin Bibi di sini."


"Gak papa, Bi. Saya senang bisa bantuin. Mumpung masih ada waktu. Anggap aja ini buat perpisahan, Bi, heheheheh."


"Mbak Aline beneran mau berhenti?"


"Iya, Bi. Saya masak dulu ya Bi."


"Iya deh, Mbak. Terimakasih banyak. Nanti Bibi bakal kesepian kalo gak ada Mbak Aline lagi," tambahnya.


"Bibi bisa aja. Ini rencananya gurame nya mau dibikin apa, Bi?"


"Mau digoreng sambel ijo aja sama capcay rencananya tadi, Mbak Aline. Soalnya tadi pagi Mas Rendi minta menu seafood hari ini. Tapi encok Bibi dari tadi belum sembuh-sembuh, jadinya pilih masak yang gampang-gampang aja biar cepat selesai."


"Coba minum obat deh, Bi."


"Iya, Mbak, nanti Bibi beli ke apotek."


"Ya udah, saya masakin gurame saus hitam, udang gemuk pedas sama capcay aja ya Bi. Mumpung bahan-bahannya ada semua di kulkas," ucap Aline setelah menggeledah isi kulkas Bu Suci.


"Mana baiknya aja, Mbak. Bibi duduk di sini dulu gak papa ya?"


"Oh, ga papa Bi."


Lalu Aline memulai kegiatan memasaknya dengan penuh konsentrasi. Mulai dari membelah ikan, menggorengnya menjadi ikan terbang hingga membuat saus hitamnya. Lalu memasak udang dan cumi, serta capcaynya.


Tak butuh waktu lama masakan sudah selesai, bertepatan dengan bunyi bel menandakan ada yang datang. Segera bibi membukakan pintu untuk bu Suci dan Rendi yang datang bersamaan.


"Hhhhmmmm ... wangi banget aromanya!" puji bu Suci menghampiri Aline yang sedang memotong-motong buah sebagai pelengkap menu siang itu.


Bu Suci segera mencuci tangan dan membantu menata hidangan.


"Aku mau langsung makan aja deh, Ma. Udah laper!" pinta Rendi.


"Kamu akhir-akhir ini selalu pulang jam makan siang, tumben bener, dulu susahnya minta ampun diajak makan siang di rumah!" protes bu Suci kepada putranya.


"Ini kan tadi aku yang minta menu seafood sama Bibi. Tapi kok jadi Aline yang masak. Hmmm, kelihatannya lezat banget ini."


"Alah kamu modus aja. Mama perhatiin setiap kali jadwal Aline kerja, kamu hampir selalu pulang buat makan siang," celetuk bu Suci terang-terangan.


"Itu perasaan Mama aja kali. Aku ini bosen juga makan siang di luar terus, Ma. Sekali-sekali pengen makan di rumah, masa gak boleh? Kan lebih sehat. Bener gak, Lin?"


"Eh, iya bener, Mas," kaget, Aline yang tiba-tiba dibawa-bawa dalam percakapan ibu dan anak itu.


"Makanya cepetan nikah sama Mbak Elisa, Mas. Biar ada yang masakin", celetuk Aline jahil.


"Uhuk ... uhuk ...." Rendi tersedak mendengar celetuk Aline.


"Makan yang bener dong, Ren! Bener kata Aline. Kamu kapan sih menentukan tanggal sama Elisa. Udah mau setahun masa tunangan gak maju-maju?" gerutu Bu Suci.


"Tunggu aja deh tanggal mainnya, Ma. Lu juga, Lin, jangan mancing-mancing ya!" ancamnya dengan nada bercanda.


Yang diancam hanya cengengesan.


"Kalau udah slese potong buahnya, buruan duduk sini, makan!"


"Gak deh, Mas Rendi. Saya makan di rumah aja. Tadi pagi udah masak sebelum berangkat ke sini. Kasihan nanti mubazir. Saya pamit sholat dulu ya Bu, Mas."


Lalu Aline berlalu menuju musholla di rumah itu untuk menunaikan sholat Dzuhur.


Sepeninggal Aline


"Ren, mama lihat kamu cukup akrab sama Aline. Kamu gak ada niatan macam-macam kan?"


"Niatan macam-macam gimana maksud Mama?"


"Ya, selingkuh dari Elisa atau mempermainkan Aline?"


"Uhuk ...uhuk ...." Rendi kembali meraih air di gelas dan meneguknya hingga tiga tegukan. Walaupun nada bertanya mama nya cukup ringan, tapi maksudnya sangat dalam.


"Ya enggaklah, Ma. Aku tuh kagum aja sama dia. Masih muda, serba bisa. Cantik jangan ditanya, orang kelihatan setengah bule gitu kok. Tapi dia ga malu buat kerja kerjaan kek gini. Kadang aku heran. Tampang model gitu kok bisa sampai kerja kek gini. Padahal dia cerdas loh, Ma. Cerita apa aja sama dia pasti nyambung. Wawasannya luas."


"Iya, Mama setuju sama kamu. Seandainya Mama masih punya anak lelaki, pasti Mama pengen dia yang jadi mantu Mama. Demen Mama punya mantu seperti dia."


Suara smartphone bu Suci nyaring menghentikan percakapan ibu dan anak yang tengah makan siang itu. Segera bu Suci meraihnya, menggeser tombol hijau dan meletakkan benda pipih itu di telinganya.


Rendi yang sedang menikmati kelezatan makan siangnya hanya mencuri dengar.


"Ada apa, Ma?" tanyanya begitu mamanya mengakhiri telpon.


"Ini, Mamanya Elang, suruh Aline ke rumahnya."

__ADS_1


"Ke rumahnya? Ngapain, Ma?"


"Mau ngucapin makasih katanya karena udah menolongnya tempo hari," Lalu bergulir lah cerita Aline yang menolong Bu Luna yang terkena serangan jantung.


"Tuh kan, Ma. Aku yakin kalau Aline ini bukan orang sembarangan."


"Iya, Mama setuju! Tapi sudahlah ya. Mama gak mau ambil pusing. Yang pasti, feeling Mama bilang kalau Aline itu orang baik dan sholeh. Dan itu terbukti sampai hari ini Mama kenal sama dia. Dia gak pernah macam-macam anaknya."


"Bu, Mas. Saya permisi pulang dulu ya. Sekalian pamit. Terima kasih banyak untuk semuanya. Maafin saya jika saya ada bikin salah sama Ibu sekeluarga".


"Eh Aline, sudah selesai sholatnya. Kamu seriusan gak di sini lagi, Lin?"


"Iya, Bu."


"Sebentar ya Lin!" Bu Suci berlalu menuju kamarnya. Mengambil sebuah amplop yang sudah disiapkannya sejak tadi malam, gaji terakhir gadis itu. Lalu ia kembali ke ruang makan. Terlihat Aline sedang berpamitan pada bibi.


"Lin, ini gaji terakhir kamu. Sama ada sedikit dari Ibu dan Bapak. Gak seberapa sih, tapi smoga bisa bermanfaat. Terimakasih banyak atas bantuannya selama ini. Kalau kamu berubah pikiran, jangan sungkan-sungkan menghubungi Ibu."


"Baik, Bu, terima kasih banyak. Sampaikan salam saya untuk Bapak dan Adek."


"Jika berkenan, sering-sering main ke sini ya, Mbak Aline".


"Iya, Bi."


"Oh iya, Lin, Bu Luna barusan telpon Ibu, beliau minta kamu mampir ke rumahnya sehabis dari sini. Bisa?"


"Hhhm ... kira-kira ada keperluan apa ya, Bu?"


"Wah, saya juga kurang tahu. Mending kamu langsung tanya aja sama orangnya, ya."


"Oh, iya deh. Yaudah kalau gitu, saya langsung jalan aja."


"Bareng gue aja, Lin. Gue juga mau balik ke kantor. Tapi gue sholat bentar ya. Lo tunggu aja di mobil! Tuh kunci di atas bofet," titah Rendi. Membuat Aline mau gak mau mengambil kunci mobil Rendi walaupun ia sedikit sungkan dengan pria itu.


"Sudah, gak apa apa. Rendi gak gigit kok," canda bu Suci yang melihat keengganan Aline.


Aline pun mengangguk dan berlalu menunggu Rendi di teras. Ia bingung harus duduk dimana nanti di mobil Rendi.


Di mobil Rendi, tak banyak yang mereka bicarakan. Rendi hanya bertanya alasan ia berhenti kerja, lalu apa kegiatannya setelah ini dan pembicaraan ringan lainnya, sampai mobil Rendi berhenti tepat di depan gerbang rumah bu Luna. Setelah Aline turun, ia segera kembali ke kantor.


Aline memasuki rumah mewah itu. Ia mengetuk pintu berpelitur etnik dengan ukiran-ukiran rumit.


Bi Inah yang membukakan pintu untuknya.


"Masuk, Neng! Udah ditungguin Nyonya," si bibi mempersilakan masuk tamunya.


Bu Luna menyambut kedatangan Aline di rumahnya. Di ruang tengah itu diisi oleh dua orang lelaki tampan yang diyakini Aline adalah anak-anak bu Luna. Yang satu sedang duduk di karpet di bawah sofa sembari mengerjakan sesuatu di laptopnya, sedangkan yang satu lagi sedang duduk santai masih dengan setelan kerja di kursi goyang yang ada di pojok ruangan sambil memainkan gadgetnya.


"Sat, Lang, kenalin nih, Aline, yang waktu itu nolongin Mama kena serangan jantung." Kedua lelaki tampan itu berjalan mendekat menghampiri Aline dan Bu Luna.


"Satria," ucap lelaki yang duduk di dekat sofa.


"Elang. Terima kasih lo udah nolongin Mama waktu itu," ucap lelaki yang duduk di pojokan tadi.


"Kamu duduk dulu ya, Lin. Tante panggilkan Om dulu," pamitnya meninggalkan Aline dengan kedua anak lelakinya.


"Iya, Bu."


"Tante aja, Lin! Gak usah panggil 'ibu ibu' segala!"


"Panggil Mama juga boleh, Lin. Mas ikhlas." timpal Satria yang mendapat delikan dari ibunya. Aline yang digoda begitu hanya diam. Bi Inah datang membawakan minum dan cemilan untuk Aline dan majikannya. "Alamat bakal lama ini, disuguhi jamuan," bathinnya.


"Diminum, Lin. Malah bengong."


"Eh, iya, Mas. Makasih."


"Lo dari rumah?"


"Gak. Saya dari tempat kerja."


"Oooo. Kerja di mana? Model?" tebak Satria sok akrab.


"Bukan, Mas. Saya kerja di rumah Bu Suci."


"Gue pikir lo model. Padahal lo bagus banget di kamera," ucapnya seraya menunjukkan hasil jepretan kamera mahalnya kepada Aline.


"Mas Satria gak sopan ambil foto saya ga izin dulu!"


"Namanya juga foto candid, ya ga perlu izin. Tenang aja, gak bakal gue pelet kok. Ya udah, monggo disambi cemilannya. Gue mau lanjut slesein tugas kuliah dulu. Pusing nih pala gue..........."


Elang hanya mengamati percakapan sepasang manusia di depannya tanpa berniat untuk ikut di dalamnya. Ia pura-pura bermain gadget, padahal sedari tadi ia menahan kesal karena tidak tampak tanda-tanda jika gadis itu mengenalinya. Tidak ada yang pernah melupakan kehadirannya. Setiap orang yang sudah bertemu dengannya, pasti akan langsung mengenalinya bila mereka bertemu kembali. Tapi gadis pashmina ini tidak demikian. Ia terlihat belum pernah bertemu sebelumnya. "Padahal dia udah meraba-raba wajah gue, walaupun untuk mengurangi lebam waktu itu, tapi tetap saja itu meraba, bukan? Masa gak ingat sama sekali? Benar-benar gadis ini," bathin Elang. Ada sedikit perasaan tak terima di dalam hatinya. Ia masih saja berpura-pura dengan gadgetnya sambil menguping pembicaraan adik dan tamu mamanya itu. Telinganya langsung tegak begitu mendengar gadis itu menyarankan salah satu buku referensi ekonomi yang biasa dipakai oleh para mahasiswa S2 di Eropa sana dalam menyelesaikan tesis mereka. Satria mengikuti sarannya dan berselancar di dunia maya. Tak lama kemudian ia sudah memuji-muji gadis itu karena menemukan apa yang dicarinya untuk tugas kuliahnya itu. Lalu mereka kembali hanyut dalam pembicaraan yang gak penting, menurut Elang.


Segera Elang membuka aplikasi w.a dan menuliskan pada Rendi. Rasa penasarannya sudah di tingkat dewa.


Elang : Pembokat Lo di rumah gue.


(send)


Rendi : Dia bukan pembokat, cuma bantu nyetrika!


(send)


Iya tau. Tadi gue yang nganterin ke rumah lu.


(send)


Elang : Terserah. Tamat apa dia?


(send)


Rendi : Tumben lu kepo. Biasanya gak peduli. Gak bisa lihat cewek cantik lu ye!


(send)

__ADS_1


Elang : Sialan lu. Gue serius.


(send)


Rendi : Gak tau gue. Dia anak baik-baik.


Cerdas dan masakannya enak pake banget😋


Siang ini gue makan di rumah, masakan dia.


Gila! Lezat beneeeerr😋


(send)


Elang : Gue ga nanya itu, bego!


(send)


Rendi : Gue cuma memberi informasi.


Kali-kali aja Lo butuh informasi tambahan😉


(send)


Elang : Emot lo, Nyet! Bikin gue mo muntah


(send)


Rendi : 🤣🤣🤣


(send)


Elang : Ngomong sama lo emang gak ada faedahnya!


(send)


Rendi : 🤣🤣🤣


(send)


"Sialan!" desisnya. Elang menutup aplikasi chat nya dengan kasar. Rendi gak membantu apapun, malah tambah merusak mood nya. Sial. Ia sangat penasaran. Bagaimana gadis itu bisa menyebutkan buku referensi tersebut. Itu artinya gadis itu juga menguasai bahasa Inggris, kan? Dan dia kerja jadi pembantu di rumah Rendi. Bagaimana bisa? Semua pertanyaan yang melintas di kepala Elang tidak ada yang bisa dijawabnya. Semua buntu. Mood-nya benar-benar jatuh oleh rasa penasaran yang tak berujung itu. Ingin menanyakan langsung, jelas itu tak mungkin. Mereka bahkan baru saling mengenal.


"Aaarrrrghhh!!!"


Elang beranjak dari duduknya dan pindah ke dapur, menikmati setoples kerupuk kentang kesukaannya. Dari sana ia melihat gadis pashmina itu sedang duduk dengan risih digoda oleh adiknya. Satria berusaha mengambil fotonya lagi. Sementara gadis itu selalu mencoba menghindar.


"Jangan foto-foto saya, Mas. Saya gak suka!" marahnya.


Lalu, Mama dan Papa nya datang bergabung. Adik dan kedua orang tuanya sedang berbincang-bincang dengan gadis pashmina itu sekarang. Elang masih setia menatapi gadis itu. Berharap ia mengingat kejadian malam itu.


Lama ia menunggu. Satria sudah beranjak untuk segera ke kampus.


"Ma, Pa, aku balik kantor ya. Masih ada urusan."


"Hhhmmm, Lang. Skalian tolong anterin Aline pulang ya!" kata Gunawan, papanya Elang.


"Eh, gak usah, Om, Tante. Saya bisa pulang sendiri."


"Gak apa-apa. Kamu mau pulang. Elang juga mau balik ke kantor."


"Eh ... tapi itu ... gak usah, terima kasih!"


"Udah, buruan! Gue antar."


"Ya sudah. Sana Lin! Makasih ya sudah datang berkunjung. Kapan-kapan main ke sini lagi ya!" Bu Luna dan suaminya mengantar Aline dan Elang menuju mobilnya.


Sepeninggal Elang dan Aline


"Pa, gimana menurut papa?"


"Apanya, Ma?"


"Ya Aline lah, Pa. Masak Elang sih?"


"Hehehehehe .... Sepertinya anak baik-baik. Kalau dari pembawaan dia tadi sih, kelihatan pintarnya. Cantik pula, digodain terus sama Satria, hahahahah ...."


"Ih, si Papa malah ketawa."


"Habisnya lucu, Ma. Aline digodain Satria, tapi Elang yang badmood."


"Ah, masa sih, Pa? Kok Mama ga tahu?"


"Mama gak perhatian sih sama anaknya, hahahaha."


"Iiiiih, si Papa ketawa mulu!"


"Pa, di kantor ada kerjaan buat Aline gak kira-kira ya?"


"Mama kan yang bilang, kalau cerita dari bu Suci, si Aline ini gak punya identitas, gak ada ijazah juga, makanya dia kerja jadi buruh setrika di rumahnya."


"Iya, Mama masih ingat, Pa. Tapi Mama kasihan dengan dia. Masak cantik cantik dan pintar gitu jadi buruh setrika. Papa bantuin dong, Pa. Kalau Papa yang suruh, pasti perusahaan gak akan mempermasalahkannya. Lagipula, kalau gak ada dia kemarin itu, mungkin Mama udah ...."


"Huuussssh ... sudah Ma. Iya ini Papa bantuin. Apa sih yang enggak buat istri Papa tercinta?"


"Papa memang suami Mama yang paling baik dan pengertian!"


"Sebentar, Papa telpon Pak Rahman dulu."


Pak Gunawan pun berbincang-bincang sebentar di saluran telpon miliknya dengan Pak Rahman, Manajer HRD Atmaja Group. Setelah mencapai kesepakatan, telpon pun diakhiri.


"Gimana, Pa?"


"Sudah beres, Ma. Kapan Aline mau, nanti kita antar ke Pak Rahman. Sekarang tinggal cari cara gimana menyampaikan ke Aline."

__ADS_1


"Kalau itu serahkan pada Mama, Pa!"


__ADS_2