
Hari Senin merupakan awal dari segala rutinitas. Aline sudah bersiap dengan setelan kerjanya pagi ini, menunggu babang ojek di teras mungil yang sudah dihiasinya dengan beberapa pot tanaman hias di lantai teras dan beberapa lagi tersusun rapi di pot gantung.
Pagi yang cerah untuk hari yang indah, sebelum kesibukan mengambil alih waktu, pikiran dan tenaga.
Pagi ini, Aline dan Shayna sedang berdiskusi tentang suatu ide untuk perayaan HUT Perak Atmaja Corp dan sedang membagi tugas dengan Aline karena ia berencana akan meninjau lokasi acara yang tinggal dua Minggu lagi. Di saat keduanya tengah asyik, seorang wanita paruh baya yang tidak terlalu cantik tetapi cukup menarik dan sangat kinclong berkat perawatan mahalnya berjalan ke arah mereka dengan angkuhnya.
"Siapa di antara kalian yang bernama Aline?" tanyanya angkuh. Ada nada ketidaksukaan dalam suaranya ketika menyebutkan nama itu.
"Saya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" jawab Aline sopan dan memberikan senyum manisnya.
Wanita itu tanpa aba-aba langsung mengangkat tangannya, bersiap menampar Aline. Namun gadis yang jago bela diri itu memang sigap. Ia menahan tangan yang beberapa senti lagi mampir di pipi mulusnya. Sementara Shayna, sudah berteriak histeris, entah karena kaget atau shock dengan kejadian di depan matanya. Yang jelas, teriakannya mengganggu ketenangan dua orang pria yang sedang berada di ruangan sebelah mereka.
"Maaf, Bu. Saya tidak mengenal Ibu dan saya tidak merasa Ibu memiliki alasan ataupun hak untuk menampar saya," kata Aline tegas setelah ia melepaskan tangan si ibu.
"Dasar perempuan rendah! Kamu sembunyikan dimana anak saya?!" teriaknya sehingga Elang dan Rendi yang baru saja keluar dari ruangan sebelah buru-buru menghampiri ketiga wanita itu.
"Ada apa ini?" gelegar suara Elang. "Tante!" katanya lagi mengenali perempuan paruh baya itu dari dekat.
"Ada apa ini, Tante? Shayna? Aline?" ulangnya.
"Tante minta kamu pecat wanita rendahan ini sekarang juga, Lang! Tante gak mau ada orang rendahan seperti dia bekerja di perusahaan yang dibangun susah payah oleh keluarga kita!"
"Tenang dulu, Bu. Mari kita bicarakan di ruangan saya," ajak Rendi.
Elang lalu menggiring wanita yang dipanggangilnya dengan sebutan 'Tante' itu memasuki ruangan Rendi, diikuti Rendi dan kedua sekretarisnya.
"Shayna, coba jelaskan ada apa!" tanya Rendi lebih bernada perintah.
"Saya tidak begitu paham, Pak. Saat tadi saya dan Aline sedang berdiskusi mengenai beberapa hal, lalu ibu ini tiba-tiba datang dan menanyakan siapa yang bernama Aline di antara kami berdua. Saat Aline menjawab bahwa dialah orang yang dimaksud. Ibu ini ingin menampar Aline tapi Aline menahan tangannya membuat beliau meradang," jelas Shayna,
"lalu beliau juga menyebut Aline perempuan rendah dan menuduh Aline menyembunyikan anaknya, lalu sisanya seperti sekarang," lanjutnya.
"Aline, kamu mengenal Tante Ivanka?" tanya Elang.
Aline menggeleng. "Saya tidak mengenal Ibu Ivanka ini, Pak!" jawabnya mantap.
"Dasar kamu perempuan rendahan! Memang kamu kan yang menyembunyikan anak saya! Membuatnya tidak pulang-pulang! Bahkan dia tidak ada di ruangannya pagi ini!" Wanita yang bernama Ivanka itu berusaha menjangkau Aline, hendak menyakiti fisiknya, apapun yang bisa diraihnya dari tubuh gadis itu namun dihalangi oleh Rendi.
"Tente! Tenang dulu. Saya tidak akan biarkan Tante menyakiti karyawan saya selama mereka bekerja. Mereka tanggung jawab saya! Jadi saya minta, Tante tenang dan bicarakan ini baik-baik! Jangan asal menuduh!" lerai Elang.
Tante Ivanka mengalah, dia membenarkan rok span mahalnya, lalu duduk dengan elegannya, khas orang kaya lama.
"Tante, apapun permasalahan diantara Tante dan Aline, itu adalah masalah pribadi, jadi sudah seharusnya tidak dibicarakan di kantor. Tetapi, karena sekarang sudah terlanjur, saya minta Tante menyelesaikannya di depan kami semua karena saya tidak ingin masalah ini sampai mengganggu kinerja staf saya," ucap Elang bijak.
"Baik, Bu Ivanka. Berhubung saya adalah adalah atasan langsung dari Mbak Aline, saya memberi ruang untuk Ibu menjelaskan duduk permasalahannya. Tapi sebelumnya, izinkan sekretaris saya, Shayna, untuk undur diri terlebih dahulu." Rendi mengucapkan kalimat tersebut seakan memberi kode kepada Shayna bahwa kehadirannya di ruangan itu sudah tidak diperlukan. Oleh karena itu, Shayna pun paham dan keluar ruangan walau dengan rasa penasaran.
"Perempuan ini menyembunyikan anak saya, membuatnya tidak pulang berhari-hari, tidak mau menerima telepon dari saya dan kakak-kakaknya! Dasar perempuan hina!" ucapnya. "Tampang saja sok suci, pakai-pakai jilbab tapi kelakuan kayak setan!" tuduhnya berapi-api.
Aline yang merasa sudah cukup dihina tidak bisa lagi menahan diri saat akhlak dan hijabnya dihina.
__ADS_1
"Maaf, Bu. Maaf bila akhlak saya belum sempurna. Tapi jangan salahkan hijab saya. Saya berhijab karena ingin taat pada perintah Tuhan saya untuk menutup aurat, bukan karena merasa akhlak saya sudah baik!" Walupun kalimat yang disampaikan Aline cukup singkat dengan nada yang ringan dan sopan, tapi bagi siapapun yang mendengarnya akan tersindir, tak terkecuali Bu Ivanka, membuatnya semakin menjadi-jadi marahnya karena merasa tidak terima disindir oleh Aline.
"Kamu pikir saya tidak taat? Jangan sok menceramahi saya. Kamu berpakaian sok suci padahal kelakuan keji!" berangnya.
"Tante! Cukup!" Elang mengangkat tangannya ke arah Tante Ivanka, meminta perhatiannya, membuat wanita itu terdiam.
"Aline, Tante Ivanka ini adalah Ibunda dari Pak Arya, Kepala Subdivisi Proyek. Kamu kenal?"
"Ya, Pak. Saya mengenal beliau."
"Baik. Sekarang, katakan apakah kamu menyembunyikan Arya seperti yang dituduhkan oleh Tante Ivanka ini?"
Aline menggeleng, "Saya tidak melakukannya, Pak."
"Apa kamu tahu bahwa Pak Arya sudah tidak pulang selama berhari-hari?"
"Saya tidak tahu, Pak."
"Bohong!!! Arya beberapa kali menyebut nama kamu sebelum dia meninggalkan rumah!" teriak Bu Ivanka.
Aline geleng-geleng kepala menolak semua tuduhan. Ia cuma bisa tersenyum sembari beristighfar dalam hati atas semua tuduhan kejam yang dilontarkan oleh wanita paruh baya di depannya ini.
"Baik.Tante, atas dasar apa Tante menuduh Aline menyembunyikan Arya?"
"Lucy melihat Arya dan perempuan ini jalan di mall hari Sabtu kemarin!" jawabnya membuat Rendi dan Elang saling pandang. Itu artinya Lucy juga berada di mall yang sama dan juga melihat kebersamaan mereka di Sabtu kemarin.
"Lalu?"
"Tante, tenang dulu. Ren, tolong suruh Arya ke sini!" perintah Elang menahan Bu Ivanka yang seperti ingin menerkam Aline. Elang dan Rendi sudah sangat geram dengan sikap Bu Ivanka yang menurut mereka sudah sangat keterlaluan. Tetapi namanya orang tua, tetap tidak boleh dikasari.
Rendi lalu mengangkat intercom, dan menelpon ke Subdiv Proyek.
"Arya belum ke ruangan, Pak!" lapor Rendi.
"Tante sudah ke sana, tapi mereka bilang Arya belum datang. Ini semua pasti ulah perempuan ular ini! Pasti dia hanya mengincar harta kami saja!" tuduhnya tanpa filter.
Aline memejamkan mata menahan amarah di dadanya. Seandainya saja ibu ini tahu siapa yang tengah dihinanya ini, pasti akan .... Ah, sudahlah. Bukankah dia sudah bukan seorang Tiocandra lagi? Aline berusaha tegar dan hanya bisa beristighfar dalam hati.
"Maaf, Pak. Coba hubungi sekretaris Pak Adit, Mbak Dian. Biasanya ada absensi manual. Hadir/tidaknya seluruh staf pak Adit bisa dilihat dari sana," Aline memberikan usulan setelah hening beberapa saat.
Rendi segera mendial nomor Dian, sekretaris pak Adit, Kepala Divisi Teknik dan Perencanaan. Tak berapa lama, Rendi mengabarkan bahwa Arya sedang meeting bersama Pak Adit dan Kepala Subdiv yang lainnya, tapi sekarang sudah menuju ke ruangan ini.
"Tante, sudah terbukti bahwa Aline tidak menyembunyikan Arya, kan? Apa perlu pembuktian langsung dari Arya? Baiklah, kita tunggu saja sebentar."
Tak berapa lama, datang Arya dan kaget melihat mama dan gadis pujaannya berada di ruangan itu. Ada sorot penuh permusuhan dari manik mamanya kepada gadis pujaannya.
"Ada apa ini, Ma?" tanyanya tergesa-gesa menghampiri mamanya.
Lalu Elang menceritakan kejadian itu secara singkat.
__ADS_1
"Mama apaan sih nuduh-nuduh Aline? Aline tuh gak tahu apa-apa, Ma. Aku ketemu dia kemarin juga karena kebetulan ketemu di toko buku, lalu makan siang bareng sambil ngobrol karena kita udah lama gak ketemu. Itu aja," jelas Arya dengan menahan malu karena tuduhan-tuduhan mamanya kepada gadis cantik itu.
"Mama gak mau kamu dekat-dekat sama perempuan yang gak jelas asal usulnya seperti dia! Lucy udah cerita semua ke mama siapa sebenarnya perempuan ular ini!" tunjuknya pada Aline.
"Lin ..." lirihnya memandang penuh arti gadis yang mengenakan pashmina navy itu. Yang dipanggil mengangguk memaklumi dengan senyuman samarnya.
Arya memijit pelipisnya yang tiba-tiba nyeri. Mamanya sungguh sudah keterlaluan menuduh dan menghina gadis lemah lembut itu.
"Ma, semua yang mama bilang itu tidak betul. Lucy tidak tahu apa-apa soal Aline. Aline ini gadis baik-baik. Dia juga berasal dari keluarga baik-baik. Mama jangan asal nuduh."
"Jangan bohongi mama, ya, Arya! Kamu jangan bela-belain perempuan ini. Lucy gak mungkin bohong sama mama!" teriak Bu Ivanka, kali ini berurai air mata.
"Ma, pliiis. Jaga kata-kata mama untuk Aline. Dia gak seperti yang mama tuduhkan."
"Kamu kenapa bela-bela dia terus? Kamu bahkan gak pulang-pulang?" tanyanya kepada putra semata wayang dan melupakan kesalahannya pada Aline.
"Ma, kita bicarakan ini di ruanganku saja ya. Pak Elang, Pak Rendi. Maaf atas ketidaknyamanan ini. Aline, mohon maafkan mama ya. Nanti akan aku luruskan semuanya. Maaf ya, sekali lagi maaf."
Aline mengangguk, namun tak dapat berucap. Fokusnya pada satu nama yang keluar dari bibir Bu Ivanka, Lucy. Kenapa gadis itu begitu benci pada dirinya?
Arya dan mamanya meninggalkan ruangan. Wanita itu masih menatap tidak suka pada Aline ketika berjalan keluar ruangan. Bahkan kata maaf pun tak terucap dari bibirnya kepada gadis semampai itu.
Sepeninggal Arya dan mamanya, Aline pun undur diri dari ruangan itu.
"Lin, lu gak papa?" Rendi kasihan melihat Aline pagi-pagi mendapat sarapan tak enak seperti ini.
"Gak papa, Mas. Saya baik-baik aja!"
"Lu boleh istirahat dulu ke kantin buat nenangin pikiran, kalau mau. Ngopi atau ngemil gitu," tawarnya.
"Gak papa, Mas. Beneran. Kalau begitu, saya permisi mau lanjut kerja."
Aline keluar ruangan Rendi dan kembali ke mejanya.
"Lang, lu denger Bu Ivanka menyebut nama Lucy?"
"Hm."
"Apa bener yang dibilang Lucy ke Bu Ivanka itu kenyataan yang sebenarnya? Secara Lucy itu kan ponakannya dia? Gak mungkin dia bohongin tantenya sendiri, kan?"
"Ren, lo gak denger tadi Arya udah bantah semua tuduhan mamanya. Udahlah. Aline gak mungkin melakukan itu semua."
"Bisa aja dari mall itu mereka pulang bersama. Kita memang gak tau siapa Aline sebenarnya kan?"
Elang menghela napas. Ia kesal sendiri dengan tingkah Rendi akhir-akhir ini. Terlalu banyak tanya dengan keingintahuan akut. Perpaduan yang menyebalkan.
"Semua tuduhan lo itu gak bener! Udahlah!"
"Darimana lu tau? Yakin bener?"
__ADS_1
"Karena gue yang nganterin dia pulang!" Setelah mengucapkan kalimat itu Elang berlalu dari ruangan Rendi, menyisakan tanda tanya besar di benak laki-laki yang kini tengah terdiam itu.