
Sepeninggal Aline, Aura pun memutuskan beranjak. Ia mengambil kunci mobil dan berjalan menuju parkiran. Tujuannya adalah apartemen mewah yang ditinggalinya sebelum menikah dengan Ethan namun sering ia tinggali akhir-akhir ini, sejak kekasihnya menikah dengan perempuan lain.
Aura melajukan mobilnya ke arah jalan raya, bersaing dengan banyaknya kendaraan di Sabtu siang yang terik ini. Sesampainya di apartemen, Aura memilih duduk di balkon kamarnya yang menghadap ke danau buatan. Ia duduk di sofa balkon, menekuk kedua lututnya dan merebahkan kepala di lengan yang bertumpu pada lutut.
Aura merenungi kalimat terakhir yang diucapkan oleh gadis itu. "Di atas langit masih ada langit." Apakah gadis itu bermaksud ingin menegur atas kesombongannya? Aura benar-benar merasa tertampar. Kilasan-kilasan kalimat yang mereka lontarkan saat di cafe tadi berkeliaran di benaknya. Aura akui, dirinya banyak berubah setelah menikah. Dulu ia adalah gadis yang periang dan juga ramah. Namun semua berubah karena perjodohan yang tak bisa ia tolak. Ia marah, sangat marah, tapi lebih kepada ketidakmampuannya membatalkan perjodohan itu. Membuatnya menjadi wanita angkuh, dingin dan tak tersentuh, bahkan oleh suaminya sendiri. Entah karena tak bisa atau memang karena suaminya juga tak ingin. Entahlah.
Menikah dengan jalan dijodohkan dengan lelaki pilihan orang tuanya sama sekali tak pernah ia bayangkan akan menghampiri dirinya. Bila dalam kisah-kisah novel romansa selalu saja si perempuan yang dirugikan, kali ini di kehidupan nyatanya, ia lah yang merugikan suaminya.
Jonathan Prasetya. Lelaki baik yang dipilihkan oleh orang tuanya. Lelaki tampan dan penyayang. Baik budi dan santun. Selalu berusaha meluluhkan hatinya walaupun ia tahu lelaki itu juga tak mencintainya. Namun, sikapnya itu menandakan bahwa ia lelaki yang bertanggung jawab dengan setiap keputusan yang telah diambilnya.
Aura meraih tissue, membersit ingus yang mengalir seiring air matanya yang luruh tanpa permisi. Aline benar. Gadis itu benar. Dirinya berubah menjadi gadis dengan tempramen buruk dan juga sombong. Terlebih saat ia mengetahui kekasihnya berhasil melupakan dirinya dengan menikahi perempuan lain. Berulang kali ia melukai hati suaminya, namun Ethan, lelaki itu masih saja sabar menghadapi semua kelakuan buruknya. Bahkan mereka tidur di kamar terpisah sejak menikah dan itu juga atas permintaan dirinya. Namun masih saja ia diberi nafkah yang cukup dan diperlakukan layaknya seorang istri walaupun tidak sesempurna yang ia harapkan.
Tapi sempurna yang bagaimana yang ia harapkan dari pernikahan yang sudah ia perlakukan buruk sejak awal? Kehidupan rumah tangga yang harmonis dan bahagia? Dirinya yang diperlakukan layaknya istri sungguhan? Jelas dirinyalah penyebab semua situasi ini. Dirinyalah yang tidak mau menerima kenyataan pahit. Menikah lalu ditinggal menikah. Ia terpuruk terlalu dalam atas takdir yang telah digariskan Tuhan. Betapa egoisnya ia tak merasa ada hati yang juga tersakiti di sana.
Aura tergugu dalam sesalnya. Begitu banyak kesakitan yang ia perbuat pada suaminya. Begitu banyak luka yang ia torehkan di hati laki-laki itu. Dan masih banyak lagi kesalahan-kesalahan yang ia yakini melukai hati Ethan. Dosanya sebagai istri sudah tak terhitung. Tak pernah sekalipun ia perlakukan Ethan layaknya seorang suami.
Rasa sesak semakin memenuhi rongga dadanya, membuatnya sulit bernapas saat kalimat lain yang dilontarkan gadis itu tanpa ampun menghantam tepat di hatinya. "Foto siluet itu diambil oleh suamimu secara diam-diam sesaat setelah aku menolaknya." Sebuah kenyataan lain bahwa lelakinya menyatakan perasaan pada gadis itu. Gadis tanpa cela yang memang layak untuk dicintai oleh seorang Jonathan Prasetya. Apakah masih ada ruang tersisa di hati lelaki itu dirinya, seorang Aura Juliana Dika?
Aura memang sempat meradang saat dirinya mengetahui suaminya mengunggah foto siluet itu, karena itulah ia mendatangi Aline ke kantornya. Ada rasa tercubit yang membakar hatinya yang memang sudah panas mengetahui bahwa suaminya mencintai gadis lain. Aura tertidur dalam kesedihan dan rasa penyesalan yang teramat sangat di sofa balkon.
Sementara itu, entah ada firasat atau hanya sebuah kebetulan semata, Ethan memilih untuk makan siang yang kesorean di RCA, resto orang tua angkat gadis yang telah berhasil mencuri hatinya. Seharusnya gadis itu libur setiap Sabtu, namun tidak dengan hari ini. Aline menjadi pelayan yang menyambut kedatangannya dengan senyuman manis sore ini.
"Selamat datang, Pak Ethan. Apa Anda sudah memesan meja atau menunggu seseorang?" tanyanya riang, khas pelayan restoran walaupun ia sadari itu hanyalah guyonan gadis itu.
"Tidak keduanya. Tapi saya tidak keberatan jika ditemani menikmati makan siang yang kesorean ini," ucap Ethan disertai senyum yang tak kalah manisnya.
Gadis itu berpikir sejenak. Melihat ke sekeliling resto dan mengangguk. "Baiklah, karena resto tidak begitu ramai sore ini, saya akan menemani Anda menikmati menu favorit dari restoran kami." Aline berkelakar, Ethan tertawa renyah. "Silakan dipilih menunya!"
Mereka menghabiskan sore dengan berbincang-bincang ringan menikmati hidangan. Ethan sangat bahagia ditemani makan oleh gadis pujaan hatinya.
"Makasih ya, udah temani aku makan," ucapnya tulus setelah menghabiskan santapannya.
Aline terkekeh mendengar ucapan itu. "Segitu bahagianya ditemani makan sama aku?"
Ethan tertawa renyah. "Lama-lama ngelunjak ya! Tapi, thanks."
"Hhmmmm, gimana ya? Soalnya ada yang buat aku terlanjur janji untuk gak menjauhinya walaupun aku sudah mematahkan hatinya," jawab Aline jenaka membuat Ethan tertawa lepas.
"Kak," panggil Aline.
"Hm?" Ethan menjawab malas masih fokus membalas chat di gawainya.
"Pulang gih!"
__ADS_1
"Kamu ngusir pelanggan?" Ethan geleng-geleng dengan permintaan aneh Aline. Ia tahu gadis itu tidak sungguh-sungguh.
Aline mengangkat bahu sebagai jawaban. "Resto mulai ramai dan kakak udah kelamaan di sini." Jika Ethan tidak mengenal Aline, pasti ia akan tersinggung dengan jawaban gadis itu. Namun ia hanya menaikkan sebelah alisnya, tahu ada maksud lain yang ingin disampaikan gadis itu dibalik kalimat tidak masuk akalnya.
"Pulanglah pada istrimu! Dia sedang membutuhkanmu."
Ethan mengembalikan fokusnya pada gadis di depannya. "Aura menemuimu?" tanyanya serius. "Apa dia menyakiti kamu?" Ada kekhawatiran dalam suara lelaki itu.
"Tidak. Kami hanya bertemu dan mengobrol biasa. Obrolan perempuan lah. Kakak gak perlu risau." Aline menjawab dengan nada riang.
Ethan memandang lekat netra Aline, namun gadis itu membuang pandangannya ke sembarang arah. Tanpa banyak kata, Ethan meraih kunci mobilnya.
"Aku pulang. Aku harap Aura tidak melakukan sesuatu yang buruk padamu!" pamitnya lalu beranjak menuju kasir.
Ethan membuka smartphone miliknya. Membuka aplikasi yang bisa menemukan keberadaan istrinya. Mobil Ethan berbalik arah menuju kawasan apartemen mewah milik istrinya.
Meskipun ia suami sah Aura, namun ia tetap mengetuk pintu terlebih dahulu. Bagaimanapun apartemen ini adalah privasi istrinya dan ia menghormati itu. Lama mengetuk, akhirnya Ethan menekan sederet kode dan pintu terbuka. Ethan memasuki apartemen bergaya serba mewah dengan nuansa silver dan putih yang dominan. Langkahnya mengayun menuju kamar sang istri. Dilihatnya Aura tertidur di sofa balkon dengan posisi yang memprihatinkan. Sampah tisu berserakan di lantai dan meja. Pertanda istrinya itu baru saja menangis bombay.
Ethan mengangkat dan membawa Aura yang tertidur sangat pulas ke tempat tidur. Wanita itu tidak terusik sama sekali, sepertinya ia sangat lelah. Entah lelah fisik atau bathin. Atau keduanya. Ethan tidak tahu.
Lama Ethan menunggu istrinya dengan duduk di pinggiran tempat tidur. Pergerakan kecil Aura membuatnya menatap lekat istrinya.
"Kamu ... di sini?" Lihatlah cara Aura menyapa suaminya! Ethan tak habis pikir namun ia tetap mengangguk.
"Ada seseorang yang mengatakan aku harus menemani istriku."
Ethan berbalik ke arah istrinya, melipat sebelah kakinya dan menaikkannya ke tempat tidur, sementara kaki yang lain ia biarkan tetap di samping tempat tidur. Ia menatap lekat istrinya yang cantik namun tak tersentuh itu. Ada sedikit kekhawatiran di netra hitam itu, pun sendu yang jelas bergelayut di ujung matanya.
Ethan menghela napas. Ia tak tahu jawaban seperti apa yang diinginkan oleh Aura. Namun ia memilih untuk berkata jujur.
"Dia bukan wanita seperti itu." Aura mengangguk membenarkan. Walaupun ia baru dua kali bertemu dengan gadis itu, tapi ia yakin jika Aline bukanlah tipe wanita manja dan pengadu.
"Tidak sengaja ketemu di resto orang tua angkatnya." Akhirnya kalimat itulah yang meluncur.
Aura mendengus. "Tidak sengaja katanya? Padahal ia tahu itu resto keluarga gadis itu." Bathinnya memberontak marah namun apa daya, ia tak punya hak meluapkan kemarahannya. Ia pun berlaku lebih buruk pada lelaki itu.
"Beginikah rasanya di saat seseorang yang kau anggap tapi mengacuhkanmu dan memilih mengejar cinta yang lain?" tanyanya terus terang membuat Ethan sedikit terkejut dengan pertanyaan barusan. Namun ia tetap bergeming, tidak menjawab, baik dengan kata maupun dengan bahasa tubuh. Hanya menatap istrinya.
Aura kembali menekuk lututnya. Memeluk dirinya sendiri. Mungkin inilah saatnya mereka berdua berbicara dari hati ke hati. Ethan masih menatapnya, membuat desir di dadanya.
"Apa dia begitu berarti ... bagimu?"
Ethan tetap bungkam. Jujur ia tak tahu harus berkata apa.
__ADS_1
"Tapi dia menolakmu," kejar Aura. Menuntut penjelasan.
Ethan kembali menghela napas. "Kau benar. Dia menolakku."
"Kasihan sekali suamiku." Aura mencoba bercanda, mencairkan suasana. Dan syukurnya, usahanya berhasil. Lelaki itu terkekeh.
"Yah... kasihan sekali jadi diriku. Istriku menolakku. Lalu wanita yang kucintai juga menolakku." Ada kesedihan yang dibalut canda oleh Ethan saat mengatakannya. Suaminya jelas sedang tidak baik-baik saja. Aura merasakan itu. Namun mendengar pengakuan suaminya yang mencintai perempuan lain justru membuat dirinya lebih tidak baik-baik saja.
Aura menggapai tangan Ethan di pangkuannya. Mengajak lelaki itu ikut naik ke ranjang dan menyandarkan dirinya di headboard. Lalu ia menyandarkan dirinya di lengan suaminya. Ethan terkejut mendapat perlakuan manis dari istrinya. Selama menikah, mereka jarang sekali melakukan kontak fisik. Hanya di depan keluarga saja. Namun ia tetap menikmati momen ini. Mungkin ini saat mereka untuk memulai semuanya dari awal. Entah memulai jadi suami istri atau hanya sekedar menjadi teman nantinya. Ethan yakin, inilah yang akan menjadi penentu langkah mereka berdua ke depannya.
"Ceritakan padaku tentang dia!" pinta Aura lembut, namun terselip ketegasan dalam suaranya.
Tanpa sadar, Ethan berhenti mengusap rambut Aura, membuat wanita itu kehilangan.
"Aku hanya ingin tahu, wanita seperti apa yang telah berhasil merebut hati suamiku." Aura meminta, menatap wajah suaminya yang menatap lurus ke depan.
Ethan bergeming tapi Aura tetap menunggu suaminya buka suara.
"Aku bertemu dengannya saat ia dipindahkan ke Legal. Dia wanita yang cerdas dan cekatan, namun misterius, membuatku penasaran ingin mengenalnya lebih dekat," Ethan menjeda ceritanya. Namun Aura tak menunjukkan reaksi apapun. Jadi ia melanjutkan.
"Kedekatan kami berawal saat tanpa sengaja aku makan di restoran milik orang tua angkatnya. Aku memintanya untuk menemaniku makan malam itu. Dia juga bekerja di sana dari sore hingga malam. Dia memang pekerja keras. Saat itulah aku menyadari perasaanku padanya. Aku selalu mencari cara untuk berdekatan dengannya saat di kantor. Maafkan aku. Aku tak bermaksud mengkhianatimu. Namun saat itu gugatan ceraimu tengah diproses."
"Lanjutkan!" pinta Aura karena suaminya berhenti bercerita. Ethan menatap istrinya yang berusaha tegar namun ia tetap menuruti keinginan Aura.
"Dia hangat tapi juga dingin di saat yang sama. Dia lembut tapi juga sangat tegas. Dia wanita berprinsip. Entahlah, tak banyak yang bisa kuceritakan padamu karena dia menutup identitas dirinya rapat-rapat. Bagaimana kau bisa bertemu dengannya?"
Kini, giliran Ethan untuk bertanya. Dan Aura berniat untuk menjawab semua pertanyaan yang akan ditanyakan pada dirinya nanti.
"Caption dalam foto siluet itu. Semuanya seakan menampar diriku. Malam itu, aku membuka HPmu." Aura mengaku, membuat wajah dan lehernya memerah menahan malu dan tatapan tak suka Ethan atas pengakuannya.
"Keesokan harinya aku menemuinya di kantor, lalu kami membuat janji untuk hari ini. Ya, aku yang memintanya untuk menemuiku hari ini. Kami bertemu dan ... dia bukan seperti wanita yang kutemui di kantornya. Dia berbeda. Dia mengimbangiku bahkan mengungguliku."
Ada kerutan di dahi Ethan mendengar kalimat terakhir Aura. Namun ia bahagia Aura mengakui keunggulan gadis pujaannya. Aura menunggu reaksi Ethan, tapi pria itu malah dengan santainya tetap mengelus kepalanya.
"Dia wanita yang sangat berterus terang dan mengintimidasi lewat kata-kata tajamnya. Tapi aku bersyukur, karena kata-katanya justru menyadarkan aku pada kenyataan bahwa aku tidak boleh mengharapkan laki-laki yang sudah menjadi suami orang, bahwa aku harus menjadi wanita bermartabat dan menjaga martabat suamiku, huhuhu ...." Aura tergugu. Namun elusan Ethan pada kepalanya membuatnya ingin melanjutkan. Ia ingin jujur pada dirinya dan suaminya.
Aura berbalik. Menghadap suaminya. Memggenggam kedua telapak tangan itu.
"Maafkan aku. Maafkan aku yang sudah mengabaikanmu sepanjang pernikahan kita. Maafkan aku jika saat ini aku terlalu egois karena mengharapkanmu selalu di sisiku. Maafkan aku ... maafkan aku ... tapi mohon, jangan biarkan kita bercerai. Aku ingin menua bersama mu." Runtuh sudah pertahanan Aura. Ia menangis pilu di depan suaminya.
Ethan menarik tubuh istrinya, merengkuhnya dalam dekapan. "Ssssstttt .... Sudah, sudah. Aku tidak akan kemana-mana." Jawab Ethan setelah sekian lama bergolak dengan bathinnya. Ia memutuskan untuk mempertahankan kapalnya. Seperti permintaan gadisnya untuk tidak mengizinkan kapalnya karam.
Aura menatap lekat suaminya.
__ADS_1
"Mari, sembuhkan luka ini berdua!" ucapnya penuh kelembutan, membelai wajah istrinya, "dan perbaiki semuanya!" membuat Aura menghambur ke pelukan suaminya.
Dalam hati ia berterima kasih pada gadis angkuh yang mengintimidasi itu. "Aline. Siapapun dirimu, terima kasih!"