Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Koleksi - Seleksi - Resepsi


__ADS_3

Sesampainya di kediaman orang tua Elang, Aline membantu Elang turun dari mobilnya.


Tetra, si bungsu keluarga Atmaja, yang sedang menyirami tanaman pagi itu langsung menghentikan kegiatannya dan berlari membantu pasangan CEO dan sekretarisnya. Gadis itu lantas berteriak memanggil Pak Harto, security yang berjaga di gerbang rumah.


"Kak Elang kenapa sebenarnya?" Gadis rewel itu terus saja bertanya karena hanya jawaban "Kakak gak kenapa-kenapa" yang keluar dari mulut pria yang sudah memasuki usia kepala tiga itu. Tentu saja dia tidak percaya. Kakaknya yang biasanya kinclong segar bugar tampan rupawan itu terlihat seperti pesakitan dengan wajah biru lebam tak berbentuk.


Pak Harto yang membantu mendudukkan tuan mudanya itu di sofa single yang berada di ruang keluarga. Rumah sudah terlihat sepi karena semua orang sudah sibuk dengan rutinitasnya masing-masing. Hanya si bibi yang terlihat masih sibuk di dapur. Jam di dinding sudah menunjukkan hampir jam 9 pagi.


"Mama kemana, Dek?" tanya Elang begitu ia menaikkan kakinya di sofa.


"Lagi nemenin papa keluar bentar, nyari sesuatu gitu." Tetra membantu menata bantal-bantal di sofa agar Elang merasa lebih nyaman.


Aline sudah hendak beranjak ketika tangan Tetra menahannya untuk tidak kemana-mana.


"Mbak Aline, mau kemana?" tanya si bungsu melihat pergerakan gadis yang dikaguminya sejak pertemuan di acara HUT A.C tempo hari.


"Saya mau ke kantor, Mbak Tetra," jawabnya.


"Gak usah pake 'Mbak', umurku bahkan lebih muda dari umurnya Mbak Aline," tegurnya.


"Gak pake tapi!" ucapnya lagi, tegas, ketika gadis bermata indah di hadapannya hendak membuka mulut, membantahnya.


Akhirnya Aline hanya bisa mengangguk menghadapi gadis yang lebih muda darinya itu namun berstatus adik dari atasannya.


"Ngapain ke kantor? Bos nya aja tuh malah enak-enakan nonton TV!" Sindir Tetra menunjuk Elang yang sedang selonjoran di sofa sambil menonton TV. Yang disindir hanya melengos acuh sambil menikmati sebungkus cemilan berbahan dasar kentang.


"Sengaja tuh cari masalah biar dikeroyok trus ada alasan buat bolos," cecar gadis itu lagi, menuduh kakaknya.


"Hei bocah! Dosa tau shu'udzon sama kakak sendiri! Lagian ini beneran sakit, kakak sampai pingsan. Tanya aja tuh sama Aline kalo gak percaya!" bela Elang.

__ADS_1


"Iya, M... Tetra. Pak Elang sempat pingsan di teras kontrakan saya dini hari tadi," jawab Aline jujur. "Lagipula, saya tetap harus ke kantor, meskipun Pak Elang tidak masuk. Kan saya bukan bos nya, hehehe... Saya tetap harus mengerjakan pekerjaan saya hari ini karena porsi tanggung jawab kita berbeda. Lagipula, ada beberapa laporan yang harus saya selesaikan hari ini." Aline menjelaskan dengan penuh kesabaran kepada nona muda yang sepertinya sangat manja dan pantang ditolak ini sekaligus memutus perdebatan unfaedah kakak dan adik itu.


Tetra tentu saja tak rela berpisah dengan sekretaris kakaknya. Dia sudah menyusun banyak agenda sejak jauh-jauh hari bila sewaktu-waktu ia bertemu kembali dengan gadis berpashmina itu. Bahkan Elang sudah berjanji akan mempertemukan mereka, namun belum juga kesampaian. Dan sekarang, dengan tidak sengajanya gadis itu telah berada di rumahnya, jadi mana mungkin ia melepaskan saat yang ia tunggu-tunggu itu.


"Kaaaaak..." rengeknya tanpa malu pada kakak tertuanya itu di depan Aline yang notabene adalah orang lain di rumah itu. Aline geleng-geleng kepala, bersyukur dirinya bukan tipe si bungsu yang manja seperti Tetra. Tetra malah sudah memulai jurus rayuan mautnya. Terlihat gadis itu memijat kaki Elang sembari mengeluarkan jurus puppy eyes-nya yang membuat Elang tak tega mengecewakan adik bungsu kesayangannya. Lagipula ia sudah berjanji pada adiknya itu untuk mempertemukan mereka berdua karena gagal memenangkan lelang kala itu.


"Kamu temenin Tetra aja hari ini, Lin. Gak usah ngantor." Titah Elang pada sekretarisnya.


"Tapi, Pak. Masih ada beberapa laporan yang harus saya selesaikan hari ini agar..."


"Setengah hari. Sehabis Jum'at nanti antar saya ke apartemen. Kita bekerja dari sana saja." Elang memutus kalimat Aline yang menggantung tak terselesaikan. "Kamu boleh ikut tapi jangan ngerecokin Aline di sana nanti ya!" ucapnya lagi pada sang adik yang terlihat langsung memonyongkan bibirnya. Tetra seakan sudah menjadi fans fanatik Aline sejak pertama kali mereka bertemu.


"Tapi Pak..."


"Kak.."


Kedua gadis itu berujar tak terima secara bersamaan. Aline tak terima dia bekerja di apartemen lelaki itu sedangkan ia bisa bekerja di kantor mereka. Lalu si bungsu tak terima karena ia serasa dijatah oleh sang kakak.


Aline menatap dalam Tetra, lalu menghembuskan nafas pasrah. Nasib bawahan.


Sementara Tetra, ia tersenyum dengan sangat manis layaknya anak kucing yang sedang merayu tuannya.


Kedua gadis itu akhirnya semakin akrab dan asyik dengan dunia mereka, tanpa tahu jika di bawah Elang sedang diinterogasi oleh kedua orang tuanya perihal pengeroyokan yang dialaminya. Kedua gadis cantik itu menghabiskan waktu di studio mini milik Tetra yang berada di lantai tiga hingga waktu sholat menjemput. Mereka melaksanakan sholat berjamaah di kamar Tetra yang besar.


Saat keduanya dipanggil makan oleh si bibi, ruang makan sudah penuh oleh penghuni rumah ini. Para lelaki Atmaja sudah kembali dari sholat Jum'atnya, termasuk Elang yang saat itu menggunakan baju koko lengan pendek berwarna krem dengan aksen bordir di bagian bahu dan kancing. Pria itu masih tertatih menggunakan kruk dan wajah yang mulai membiru namun tidak mengurangi niatnya untuk melaksanakan sholat yang dikhususkan bagi kaum adam itu.


Pak Gunawan duduk sebagai kepala keluarga di ujung meja makan. Di sisi kanannya duduk Elang dan Satria, kedua anak lelaki yang ia banggakan. Lalu di sisi kiri ada istrinya dan anak perempuan tertua mereka, Delila. Tetra dan Aline menuruni tangga. Satria yang pertama menyadari kehadiran kedua gadis itu. Lalu secepat kilat ia membukakan kursi makan di sebelahnya untuk ditempati Aline, sekretaris kakaknya. Mau tidak mau, Aline duduk di kursi yang telah disediakan Satria membuat Tetra merengut tak suka karena ia harus duduk di sebelah Delila.


"Silakan dinikmati, Lin. Kita memang selalu ngumpul makan siangnya di hari Jum'at, karena jam istirahatnya lebih panjang. Kalau nunggu hari libur, beuh... gak akan pada ngumpul, sibuk sama urusan masing-masing." Luna memulai jamuan makan siang sembari mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya. "Apalagi Delila ini, yang paling gak tentu jadwalnya." Luna bercerita sekaligus curhat di depan semua keluarganya. "Bukan gitu, Ma." kali ini Delila yang buka suara namun ditahan oleh Luna. "Gak apa-apa, sayang. Mama ngerti," ucapnya menatap lembut anak perempuannya itu lalu kembali menghadap sekretaris anak tertuanya. "Maaf ya, Lin Tante gak menjamu kamu dengan baik. Habisnya Elang gak bilang bakal ada tamu hari ini! Jadinya gak sempat masak!"

__ADS_1


"Ngh, gak apa-apa, Tante. Ini udah banyak banget. Saya lebih suka makan masakan rumahan begini, lebih nikmat," lirihnya lembut menyenangkan hati tuan rumah. Membuat senyum terkembang di bibir Luna.


"Bener juga ya. Kamu kan tiap hari makan masakan resto ya. Ah, kamu bisa aja nyenangin hati Tante," selorohnya. "Mari dimakan!"


Mereka makan dengan suasana hangat. Selama makan, Satria terus saja mencari perhatian gadis yang duduk di sebelahnya, entah itu tentang lauk mana yang disukai sekretaris kakaknya itu dan sebagainya. Semua itu tak luput dari pandangan Delila dan Luna yang sedari tadi mengamati ekspresi kedua lelaki muda Atmaja yang duduk di depannya. Kendati demikian, tak mengurangi atensi mereka pada sang kepala keluarga yang sesekali menanyai anak-anaknya mengenai perkembangan perusahaan yang mereka kelola.


Setelah makan siang, Elang meminta Aline menunggunya. Elang dan papanya segera menuju ruang kerja Gunawan. Di sana sudah menunggu pengacara keluarga Atmaja untuk menyelesaikan masalah pengeroyokan terhadap Elang. Ya, mereka akan menempuh jalur hukum kali ini.


Cukup lama Alineenunggu di taman belakang bersama Tetra dan tentu saja Satria juga ikut. Keduanya saling berebut perhatian gadis berpashmina itu. Mereka bertiga asyik dengan obrolannya tanpa mereka sadari sepasang mata menyipit tajam melihat keakraban itu.


"Jangan nunggu terlalu lama, Kak, nanti keburu digondol adik sendiri," sindir Delila tepat sasaran di telinga sang kakak yang tak mengalihkan perhatian sedikitpun dari ketiga orang yang bercengkerama di taman belakang.


"Jangan sok tau. Urus aja pertunangan sendiri yang entah kapan naik kelas di pelaminan!" sarkas Elang tak mau kalah, menerbitkan senyuman di bibir adik cantiknya itu.


"Kebetulan lo nyinggung masalah ini, Kak. Gue mau minta izin buat ngelangkahin kakak gue yang masih gaje ini, yang masih suka curi-curi pandang ketimbang nembak langsung," ucap Delila sarkas. Keduanya masih berdiri di ambang pintu menatapi keramaian di taman belakang.


"Kami berencana menikah sekitar tiga bulan lagi, setelah gue launching produk baru nanti. Kalau kakak setuju, ntar gue atur waktu sama Alby untuk menyampaikan permintaan secara resminya," ujar Delila tulus, menghargai sang kakak. "Sebelum ke mama papa, gue mau minta restu elo dulu, Kak. Kalau lo ridho gue langkahin, gue lanjut. Kalau enggak, ya gue maksa, siapa suruh ngejomblo sampai umur tiga puluh tahun," seloroh Delila di akhir kalimatnya.


Elang berbalik, menghadap adiknya yang sedari tadi setia berada di sampingnya. Diraihnya kedua pundak adiknya. "Lebih cepat lebih baik. Sebagai kakak, gue ingin yang terbaik buat kalian. Kebahagiaan kalian adalah kebahagiaan kakak!" Elang menjawil manja hidung bangir Delila.


"Termasuk merelakan dia untuk Satria?" tanya Delila telak, melirik ke arah taman belakang menatap adiknya yang sedari tadi terang-terangan menunjukkan ketertarikan pada sekretaris kakaknya itu, menghancurkan suasana hangat di antara mereka.


"Sebagai perempuan, gue bisa merasakan tatapan siapa yang menaruh minat. Dan gue lihat tatapan itu di elo ke Aline, Kak. Tapi apapun itu, sekalipun lo menyangkal, gue cuma bisa bilang - Udah saatnya elo mengejar kebahagiaan lo.- Setau gue Satria udah punya pacar, dia sedang menguji peruntungannya sama sekretaris lo! Koleksi, seleksi, resepsi. Gitu kan motto lelaki?" Pernyataan Delila barusan membuat Elang bungkam, menatapnya setajam elang, namun justru membuat gadis itu tergelak melihat mood kakaknya yang langsung jatuh ke dasar, berantakan, karena ucapannya barusan.


"Aline! Kita berangkat sekarang!" Elang merespon ejekan Delila dengan mengajak sekretarisnya pergi. Dengan tergesa Aline menghampiri bos nya yang berjalan menggunakan kruk.


Sementara Delila terbahak dengan tingkah kakaknya.


"Lo gak punya koleksi, Kak, lo kan jomblo. Jadi lo juga gak bisa seleksi. Saran gue, lo langsung aja resepsi! Hahahaha...."

__ADS_1


"Masalah gue jomblo atau enggak, itu bukan urusan lo!" Elang mengingatkan, memelankan suaranya karena ketiga orang yang di taman belakang sudah menghampiri mereka. Namun, peringatan Elang hanya angin lalu bagi adiknya itu. Alih-alih takut, Delila malah tertawa semakin kencang.


***


__ADS_2