Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Jangan Ulangi Kesalahan yang Sama!


__ADS_3

Aline POV


Selasa dimulai. Mbak Dira tetap ngantor. Katanya gak papa sama suami asal gak kerja berat sama mikir yang berat-berat. "Tenang aja, sebentar lagi sebagian besar pekerjaan mbak Dira kan akan dialih-tugaskan kepadaku, jadi gak perlu khawatir," kukatakan itu tadi pada mas Dito ketika ia menelpon untuk menitipkan istri dan calon anaknya padaku. Aku juga sudah mengantongi nomor Mas Dito, jadi kalau kenapa-napa bisa langsung menghubungi. Mbak Dira pun sudah diantar supir yang nungguin di bawah, buat jaga-jaga kalau ada kejadian seperti kemarin. Jadi walaupun jauh, Mas Dito tetap menjalankan tugasnya sebagai suami siaga.


Kami segera melakukan operan kerja mumpung masih pagi jadi kemungkinan untuk tertunda kaya kemarin sangat kecil. Kata Mbak Dira, kontraksinya seringan siang jelang sore seperti kemarin. Aku hanya mengangguk saja, gak ngerti juga soalnya, hehe.


Setelah operan tadi aku dan Mbak Dira berbagi tugas dan berbagi waktu. Ia masih akan ngantor sampai pertengahan minggu depan. Sayang katanya kalau dipakai buat cuti padahal belum pasti kapan lahirannya. Waktu menikmati momen jadi ibu bakal berkurang nanti kalau cuti dipakai terlalu cepat. Ditabung aja dulu. Begitu ya mikirnya kalau kita sudah berkeluarga. Gak mikirin diri sendiri lagi. Beda banget sama aku. Gak ada yang dipikirin sekarang. Eh, tiba-tiba inget sama papi. Apa kabar ya? Udah nyariin aku belom ya? Eh inget lagi punya janji sama Tante Ika Sabtu nanti. Nanti deh kuhubungi lagi beliau.


Balik lagi ke kerjaan. Jadi sampai acara HUT Perak A.C terselenggara, aku akan tetap menjadi makhluk amphibi. Itu istilah mbak Dira, karena aku masih harus bekerja di dua lantai, yaitu di lantai 9 menjadi sekretaris dua dari Direktur Keuangan selagi dia dan sekretarisnya sibuk dengan HUT, terus kerja di lantai ini jadi sekretaris dua nya pak Erlangga, sang CEO. Syukurin aja, walaupun anak bawang tapi gajinya gede juga, itu yang penting. Eh, jangan bilang aku matre. Aku itu realistis, gak munafik. Kerja buat cari pahala sama cari duit, biar bisa seimbangin antara dunia sama akhirat.


Kalau dipikir-pikir, perusahaan sekelas A.C ini punya peraturan gak gitu-gitu amat, S&K berlaku, keberadaan ku di sini contohnya. Beda banget sama perusahaannya papi sama bang Rio. Aturannya kaku dan mengikat. Mungkin karena itu pak Erlangga jadi favoritnya seluruh karyawan dan feedback-nya karyawan jadi loyal sama perusahaan dan lebih produktif. Gaji gede dengan konsep kekeluargaan. Gitu lah kira-kira. Gimana gak betah coba kerja di sini! Eits, bukan berarti gaji di perusahaan papi atau bang Rio kecil lho. Perusahaan mereka mengusung konsep yang berbeda. Itu saja.


Sedang asyik menata meja baruku di lantai CEO ini, Ce Shayna mengirim pesan lewat aplikasi chat. Dia minta aku ke bawah buat 'jaga gawang' karena dia dan pak Rendi mau keluar, ada janji sama pihak EO. Aku segera meminta izin pada Mbak Dira yang dianggukinya.


Setibanya di lantai 9, Ce Shayna udah nungguin di mejanya, ada beberapa berkas yang ditaro di mejaku, calon berkas untuk aku review atau kurekap.


Setelah menjelaskan, ce Shayna pun segera ke bawah. "Pak Rendi udah nunggu di parkiran," katanya.


Kukerjakan berkas-berkas yang diminta. Semakin lama semakin mahir aku dengan semua yang kukerjakan saat ini. Karena secara teori sudah kupelajari hingga S2. Praktik pun sudah kumulai sejak berada di Berlin dulu. Ku-review dan kurekap sesuai permintaan, lalu kutambahkan analisis. Ada beberapa bagian juga yang sudah aku tandai dengan stabilo pink kesukaanku, kebiasaanku bila menemukan sesuatu yang harus diperiksa ulang oleh Mas Rendi.


Seperti yang sudah aku sampaikan, pekerjaan ini menjadi mudah untuk kukerjakan. Pernah dengar pepatah 'lancar kaji karena diulang'? Itulah yang aku maksud barusan, bukannya ingin sombong lho.


Pekerjaanku sudah selesai sejak beberapa menit yang lalu. Jam istirahat pun sudah datang. Selain aku sedang tidak sholat, perutku juga belum terasa lapar. Mbak Dira chat bilang pergi makan siang dengan suaminya. Jadi kuputuskan untuk ke rooftop saja, membawa beberapa cemilan dan tumbler berisi infused water.


Ternyata sudah ada yang mendahuluiku di rooftop. Siapa lagi jika bukan Kak Ethan. Sepertinya rooftop juga menjadi salah satu tempat favoritnya di gedung ini. Ingin berbalik tapi dia sudah terlanjur melihatku. Jadi, kuarahkan saja kaki menuju bangku kayu yang biasa kududuki. Dia tersenyum melihatku. Jadi, mau tak mau harus kusapa juga.


"Gak istirahat, Kak?" tanyaku basa basi gulai tiga hari.


"Ini sedang istirahat." Dia membentangkan tangannya dan memejamkan mata. Kulihat dia menarik nafas lalu membuangnya.


Aku duduk dan membuka satu biskuit coklat kesukaanku. Menggigitnya dan mengunyahnya. Sengaja tak kutawari, paling nanti minta sendiri.


Benar saja dugaanku. Kak Ethan berpindah posisi jadi duduk di ujung lain bangku yang kududuki. Dia mengambil satu bungkus coklat yang berada di antara kami. Gak pake minta tapi langsung ngambil. Lebih parah lagi kan? Untung aku bukan anak kecil yang langsung nangis miliknya diambil orang tanpa izin.


"Kamu gak makan siang?" tanyanya.

__ADS_1


"Ini lagi makan," jawabku sekenanya.


Dia terkekeh karena aku meniru jawabannya. "Maksud aku makan siang beneran. Bukan cemilan," katanya protes dengan jawabanku.


"Belum laper, cuma pengen ngemil aja," jawabku. Eh, dia nyosor ngambil botol minumku, dan meminumnya, walaupun gak menyentuh bibirnya, tapi tetap aja rasanya agak agak gimanaaaaa gitu.


"Gak usah pasang muka jijik gitu lah. Aku udah gosok gigi, dan gak punya penyakit menular. Lagian bibirku gak nempel juga ke botolnya." Sepertinya dia tau apa yang kupikirkan.


"Hehehehe ... gak biasa aja berbagi minum dari gelas atau botol yang sama," jujurku. Dia memandangku. Tampan, tapi sudah milik orang. Oh iya, aku jadi teringat istrinya.


"Aura apa kabarnya?"


"Baik. Dia titip salam buat kamu." Dia menarik napas, sengaja menjeda kalimatnya. "Aku gak tau apa yang udah kamu bilang sama dia, tapi dia nangis kejer di apartemennya sore itu. Bilang kalau dia kalah banyak dari kamu."


Aku menggaruk puncak kepalaku yang tiba-tiba gatal sambil tersenyum canggung, merasa gimanaaa gitu disalahkan karena sudah membuat istrinya menangis.


"Gak bilang apa-apa. Cuma pembicaraan antar dua orang perempuan dewasa. Tapi kuharap dia bisa merubah sikapnya ke Kak Ethan. Kakak pantas untuk dia pertahankan."


"Itu yang sedang dilakukannya. Dan aku mendukungnya. Kami sepakat untuk memperbaiki pernikahan ini. Kemarin dia sudah mencabut gugatan cerainya. Terima kasih," katanya tulus memandang jauh ke dalam mataku.


"Pasti," jawabnya mantap, lalu mengusap kepalaku.


"Kumohon, jangan jauhi aku, ya!" Dia berucap lirih, setelah hening sejenak, namun masih dapat kudengar dengan jelas. Nada bicaranya seperti orang yang sedang tersiksa.


"Ha?" Tanganku yang tadinya sedang membuka bungkus biskuit berhenti di udara. Dia meminta ini lagi. Aku bingung harus bagaimana.


"Hhmmm, apakah aku terlihat seperti sedang menjauhimu?" Aku ragu-ragu bertanya, pura-pura tuduhannya tidak benar, padahal sebenarnya iya. Aku selalu bersembunyi bila tidak sengaja melihatnya. Aku menghindar bila dari jauh kulihat ia berjalan ke arahku. Seperti tadi, jika dia tidak terlanjur melihatku duluan, mungkin aku akan balik kiri dan kembali ke ruanganku.


Dia menatapku serius, membuatku mengalihkan pandangan ke ujung sepatuku.


"Lin." Dia memanggil namaku, membuatku menatapnya yang juga sedang menatapku. "Kita sama-sama sudah dewasa. Aku menyadari bagaimana perasaanku padamu. Perasaanku kepadamu berbeda dengan yang kurasakan pada Aura." Dia menatap langit, menerawang jauh ke sana. Ada getir dalam suaranya. Aku tak tahu harus berbuat apa. Suami orang menyatakan perasaannya padamu, apa yang harus kau perbuat?


"Tentu saja berbeda. Aura kan istrimu? Aku hanya orang lain." Kucoba juga menanggapi sesantai mungkin. Dia kembali menatapku. Kali ini lebih tajam. Aku merasa seperti anak yang ketahuan sedang mengambil duit ibunya secara diam-diam.


"Kamu tahu apa maksudku!"

__ADS_1


Ethan POV


"Tentu saja berbeda. Aura kan istrimu? Aku hanya orang lain." Dia! Benar-benar! Sesantai itu dia menanggapi perasaanku.


Kutatap tajam dirinya. Dia gelagapan kutatap begitu.


"Kamu tahu apa maksudku!" Aku berucap tegas, merasa dia bermain-main dengan pengakuanku.


Kulihat dia menghela napas lalu membuangnya perlahan. Dia menatapku. Kali ini dengan tatapan serius. Dia tampak sangat mempesona bila sedang memasang tampang seperti itu.


"Kakak sadar dengan apa yang Kakak katakan barusan?" tanyanya sarkas, walaupun nada suaranya datar saja.


"Kakak suami orang, lho, bagaimana mungkin bisa menyatakan perasaan pada wanita lain?" Dia sangat pandai menahan diri walaupun aku akan menerima jika ia meluapkan kemarahannya.


"Sudahlah!" ucapnya malas lalu beranjak, namun kutahan tangannya. Dia berusaha melepaskan, namun malah kucengkram lebih kuat. Aku harus mengatakan ini sekarang, atau tidak sama sekali.


"Maafkan aku. Aku mencintaimu." Dia terhenyak dengan pengakuan terus terang-ku barusan. Tangannya yang kucengkram tidak lagi memberikan perlawanan.


"Aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita bertemu di ruangan pak Adit. Dan semakin aku mengenalmu, semakin aku jatuh pada pesonamu. Aku tahu posisiku. Aku pria beristri. Tapi tak bisa kupungkiri sebagian hatiku dimiliki olehmu!" Kulepaskan tangannya setelah kuakui semua. Ada perasaan lega yang teramat sangat setelah kusampaikan isi hatiku padanya.


Dia terduduk kembali, menunduk sambil menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya.


"Ini salah! Ini salah!" ucapnya lirih.


"Ya, ini salah. Aku tahu. Maafkan aku." Aku juga kembali duduk di sebelahnya. Dia beringsut sedikit, memberi jarak.


Aku menatap langit yang saat ini sedang terik. Beruntung bangku ini berada dibawah bangunan tempat meletakkan tanki air.


"Aku menyayangi Aura, tapi aku mencintaimu. Aku hanya ingin menyampaikannya, tidak bermaksud memintamu untuk membalasnya. Aku cukup sadar diri untuk itu." Dia masih menunduk menutupi wajah dengan kedua tangannya. Sepertinya berpikir harus bagaimana menyikapiku.


"Jangan ulangi kesalahan yang telah Aura lakukan, Kak! Jangan ulangi kesalahan yang sama!" ucapnya lalu pergi meninggalkan rooftop, membawa botol minumnya dan sebagian hatiku.


***


Selamat berpuasa di bulan Ramadhan bagi yang menjalankan. Maapin kalau jempol ini kadang suka typo typo. Maap lahir bathin yaaa.

__ADS_1


Boleh minta keringanan jempolnya gak buat like, komen dan vote? Makasiiiii


__ADS_2