Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Gara-gara Ngidam


__ADS_3

Lain Elang, lain pula Aline. Ia sama sekali tak menyadari bahwa dirinya telah merusak mood seseorang. Aline melanjutkan langkahnya menuju kontrakan mungilnya.


Hari semakin senja saat Aline berangkat menuju resto dan cafe milik Abah. Ia izin untuk terlambat hari ini karena memperbaiki mesin air di kontrakannya. Garangnya mentari perlahan memudar diganti jingga senja yang indah. Langit meredup, menandakan sebentar lagi penguasa malam akan segera hadir. Restoran selalu ramai di jam-jam sepulang kantor seperti ini. Aline dan rekan-rekannya selalu dibuat kewalahan melayani pengunjung.


Selepas sholat Maghrib berjamaah, Aline, Hana dan karyawan kembali ke posisi mereka masing-masing.


Ya, Abah selalu menutup resto dan cafenya di saat adzan berkumandang. Bukan menutup dalam artian sebenarnya, tapi lebih kepada mengistirahatkan para karyawan untuk sholat berjamaah, namun para pengunjung tetap bisa menikmati hidangan mereka. Pada sesi pertama, Abah yang akan mengimami para karyawan dan pengunjung yang ingin beribadah di restonya, di sesi berikutnya seorang karyawan laki-laki lain atau pengunjung yang akan menjadi imam. Para pengunjung yang sedang makan dibiarkan begitu saja. Bukan tak pernah satu dua pengunjung kabur saat mereka sedang menunaikan ibadah. Tapi Abah selalu menanamkan kepada dirinya dan karyawannya bahwa apapun yang terjadi ketika mereka semua menghadap bermunajat memenuhi panggilan sholat atas izin Allah. Allah-lah yang akan mengganti semuanya. Dan Alhamdulillah Allah menggantinya dengan nikmat yang berkali kali lipat, yaitu pengunjung yang tak habis-habisnya. Kadang hal ini mengingatkan Aline pada supir taksi yang ditumpanginya ke pelabuhan tempo hari. Bersabar dan bersyukur. Itulah kunci dari semua ketenangan dan kesenangan jiwa.


Malam ini, Aline turun ke resto yang memang sangat ramai. Kadang ia membantu di dapur, kadang ia berjalan mondar mandir mencatat dan mengantar pesanan pelanggannya. Seperti saat ini, Aline sedang mengantar pesanan tamu di meja 21.


"Mbak Aline!", panggil Tama, seorang pelayan laki laki sembari melambaikan tangan meminta agar dirinya segera menghampiri.

__ADS_1


"Ada apa, Tam?"


"Mbak, pelanggan di meja 39 itu pengen Mbak Aline yang melayani", ujarnya setengah berbisik.


Aline mengamati meja 39 itu. Nampak sepasang suami istri di sana. Sang istri sepertinya tengah hamil tua menghadap ke arah mereka, lalu si suami membelakangi mereka.


Aline mengangguk kepada rekannya, Tama, lalu menghampiri meja 39 tersebut.


"Selamat malam, Bapak dan Ibu. Ada yang bisa saya bantu?" Lurus Aline menatap sepasang pengunjung itu. Lalu si pria yang sedari tadi menunduk memainkan gadgetnya mengangkat wajah menghadap Aline.


"Maaf, Mbak ... Aline," ucapnya melihat nametag yang dipakai Aline. "Kami ingin memesan tetapi istri saya ingin Anda yang memasaknya," jelas pria itu.

__ADS_1


"Maaf ya, Mbak. Ini kemauan debay," imbuh si istri.


"Eh ... iii ... iya boleh. Tidak masalah, Bu. Apa yang ingin dipesan?" tanya Aline terbata karena gugup. Pasalnya, si pria adalah Niko Wirawan, laki-laki yang akan dijodohkan dengannya dulu. Perjodohan yang membuatnya diusir oleh Papinya, dan di buang dari keluarga Tiocandra. Dan wanita ini, sedang hamil tua. Itu artinya, pada saat perjodohan itu terjadi, wanita ini sudah hamil anak laki-laki ini? Seharusnya pada saat itu, pasangan ini sudah menikah? Lalu bagaimana bisa Om Riko hendak menjodohkan putra sulungnya itu dengan dirinya. Dan yang membuat Aline bertanya-tanya, apakah Om Riko sudah mengetahui hal ini? Bila sudah, mengapa tetap memaksakan rencana perjodohan itu? Apakah papinya sudah mengetahui hal ini? Bila sudah, mengapa tidak membatalkan saja rencana itu? Mengapa papi tidak mencarinya? Apakah papi sudah mengetahui sebelumnya? Pikiran Aline berkecamuk, terlalu banyak tanya di benaknya yang belum dapat ia jawab. Aline menarik napas dalam-dalam, meraup oksigen sebanyak yang ia bisa, lalu membuangnya perlahan. Bagaimanapun ia masih dalam jam kerja. Ia harus profesional dan menjalankan pekerjaannya dengan baik. Dikesampingkannya rasa kecewanya dan urusan dengan lelaki itu. Ia berjanji akan mencari tahu kebenaran ini nanti.


Aline mencatat pesanan wanita hamil itu. Ia hanya meminta 2 telur ceplok yang dimasak membentuk gambar 'hati' dengan tambahan saos sambal ekstra pedas dan segelas jus sirsak. Yang membuat dan menghidangkan haruslah Aline. Benar-benar tidak ada di buku menu!


Setelah mencatat pesanan tersebut, Aline menuju dapur untuk membuatkan pesanan bumil tersebut. Setelah selesai, Aline mengantar dan menghidangkan di meja bernomor 39 itu. Sebelum undur diri, Aline menyempatkan diri bertanya berapa bulan usia kandungannya. Dan wanita itu menjawab sudah memasuki bulan kesembilan dan tinggal menunggu hari. Lalu wanita itu meminta Aline untuk mengelus perutnya sebanyak 3 kali. Setelah mendapatkan apa yang diidamkannya, wanita itupun bersiap menyantap hidangan. Setelah mendo'akan semoga persalinan wanita itu lancar, Aline pun pamit untuk melayani tamu yang lain hingga resto tutup.


Sesampainya di kontrakan, Aline segera mandi dan mengganti baju. Hari ini benar-benar melelahkan bagi jiwa dan raganya. Bayangan akan Niko dan istrinya selalu mengganggu pikiran Aline sedari tadi. Segera ia mengambil wudhu dan Al Qur'an. Saat ini perasaan Aline campur aduk. Segala macam rasa berkecamuk di dadanya, membuat sesak seperti dihimpit. Rasa kecewa yang teramat membuat air matanya luruh. Segitu bencikah papi pada nya? Kenapa tidak ikut mencarinya? Kenapa hanya kedua abangnya saja yang berjuang menemukannya? Aline marah, entah pada siapa. Segera ia beristighfar dan mulai melantunkan ayat-ayat suci firman Allah SWT.


Selesai tadarus, perasaan Aline sudah kembali tenang. Diraihnya laptop di nakas , dan ia pun mulai berselancar di dunia maya. Matanya jeli membaca setiap artikel mengenai Niko Wirawan. Benar saja, penilaian Aline tentang laki-laki itu tidak salah. Aline memang tidak mengenal Niko secara langsung, tapi melalui cerita beberapa orang teman kuliahnya yang pernah berkencan dengan pebisnis muda tersebut. Track record pria itu dengan perempuan benar-benar buruk. Aline mengucap syukur bahwa ia menolak perjodohan itu.

__ADS_1


Yang ada dipikirannya saat ini adalah perasaan kedua orang tuanya saat mengetahui kenyataan bahwa calon menantu mereka telah memiliki istri? Bagaimana dengan wasiat kakek? Apakah wasiat seperti itu memang harus dipenuhi? Bukankah jodoh, maut dan rezeki itu sudah diatur sebelum kita dilahirkan? Bagaimana jadinya bila papi tetap memaksakan adanya pernikahan di antara kedua keluarga? Masa iya papi tega merelakan putri kesayangannya menjadi istri kedua si Niko itu demi sebuah wasiat? Walau demikian, Aline tidak menyalahkan papinya. Baginya, sebagai anak yang berbakti, tentu papinya hanya mencoba menjalankan wasiat dari kakek. Meski harus sampai memaksa. Itulah yang membuat Aline kecewa sampai saat ini.


Aline menyukupkan pencariannya tentang putra sulung dari keluarga Wirawan itu. Closed case!


__ADS_2