Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
HUT A.C (2): Mempertemukan Mereka dalam Sebuah Makan Malam Suatu Saat Nanti


__ADS_3

Erlangga POV


Saat itu aku sedang berdiri memberikan sepatah dua patah hingga berpatah-patah kata di atas panggung ketika kulihat dirinya memasuki ballroom digandeng seorang pria tampan yang kukenali sebagai CEO sebuah perusahaan ternama di Bali.


Aline. Ya, gadis yang sudah resmi menjadi sekretarisku itu berjalan dengan sangat anggunnya. Ia tampil sangat menawan malam ini. Sempurna dengan riasan natural dan gaun yang sederhana tapi tetap elegan. Jujur saja aku sangat menyukai penampilannya, sangat berkelas. Berbeda dengan penampilannya sehari-hari. Walaupun kecantikannya tak berbeda. Tak tampak sedikitpun bahwa ia seorang gadis dengan double job, yang bekerja pontang panting entah untuk apa atau siapa. Pagi bekerja di kantor sedangkan sore bekerja di restoran sebagai seorang pelayan. Namun gandengannya malam ini membuatku sedikit tidak suka. Ada perasaan tercubit di hati ini. Namun kuabaikan. Tak mungkin aku cemburu. Dia bukan siapa-siapanya aku, hanya sekretaris yang kebetulan sudah ku kenal sebelumnya karena pernah menolongku, walaupun ia tidak mengingatku. Dan jujur, itu sangat menyebalkan.


Aku melanjutkan sambutanku. Kata-kata formal penuh motivasi dan penyemangat serta kebanggaan pada perusahaan yang telah dibangun dengan susah payah oleh papaku dan teman-temannya kusampaikan dengan rasa bahagia dan bangga. Dua puluh lima tahun sudah perusahaan ini berdiri dan semakin ke sini semakin kokoh. Aku bersyukur untuk itu semua.


Turun dari panggung, aku kembali mencari sosok itu.


Tampak ia sedang berbicara dengan Ricky. Sesaat terbersit di pikiranku, apa hubungan mereka berdua. Kenapa begitu akrab? Dan bagaimana bisa seorang gadis yang aku tahu pergaulannya sangat terbatas pada teman satu divisi dan rekan-rekan sesama karyawan restoran tempat ia bekerja bisa mengenal pengusaha muda yang sering menjadi buah bibir di Bali itu.


Kulihat Aline mengekori Ricky kemana pun pria itu. Bukan, tepatnya Ricky yang membawa gadis itu kemanapun ia pergi. Bahkan sepertinya Ricky memperkenalkan Aline pada kolega-koleganya yang juga menghadiri undanganku. Aku duduk dengan gusar di meja VVIP bersama seluruh anggota keluarga mengikuti rangkaian acara yang terasa sangat membosankan. Ditambah lagi kehadiran Kania yang menempeliku, benar-benar menjengkelkan.


Moodku semakin runtuh melihat Satria yang saat ini sedang terang-terangan memuji sekretarisku dengan Alby, tunangan Delila. Huh, kondisi ini benar-benar membuatku lapar seketika.


Aku lalu beranjak menuju meja makan prasmanan, berharap kudapan dapat memperbaiki mood yang sudah terlanjur kacau, tentunya dengan Kania yang masih menempeliku bagai perangko.


"She's my princess." Kudengar suara Ricky tak jauh dari posisiku sekarang. Pasti ia sedang memperkenalkan sekretarisku pada koleganya. Apakah mereka berdua pacaran? Ah, bafsu makanku hilang seketika memikirkan jawabannya. Kuletakkan kembali piring yang telah kuisi dengan buah-buahan dan beberapa cemilan yang tadinya terlihat menggugah selera, namun sekarang tidak lagi.


Aku hanya mengambil segelas jus wortel kesukaanku dan kembali ke meja dimana seluruh anggota keluarga duduk berkumpul. Mengikuti acara demi acara. Satria dan Alby yang paling semangat mengikuti acara lelang amal. Ternyata ini yang dimaksud oleh Rendi kemarin. Cukup menarik. Lumayan memperbaiki mood ku. Harus kuakui, peserta-pesertanya high quality, berasal dari dalam dan luar perusahaan. Yang pria berwajah rupawan, sedangkan yang wanita juga cantik dengan riasan dan pakaian mahal mereka. Semua memiliki talenta yang patut diacungi jempol.


Aku mulai gerah dan bosan mendengar celotehan unfaedah Satria, Kania, Delila dan Alby. Ini sudah peserta ke sembilan. Dan mereka masih semangat 45 mengomentari setiap penampilan. Kedua orang tuaku kadang turut menimpali, sesekali. Tetapi tidak dengan si bungsu. Dia hanya menatap para peserta tanpa minat. Ya, dia memang beda dari kakak-kakaknya.


Aku baru saja hendak beranjak entah kemana saat sebuah nama diumumkan sebagai peserta terakhir. Aktivitasku pun berhenti dan kembali duduk manis di kursiku. Aku melayangkan pandangan ke arah panggung. Sekretarisku berdiri di sana, di tengah-tengah panggung. Layar raksasa menampakkan dirinya yang memanjakan mata setiap orang. Cantik, sungguh. Aku memperhatikan seluruh tamu, mata mereka semua tertuju pada gadis itu. Terlebih Satria yang bergumam tak jelas mengaguminya. Sekretarisku memang sangat-sangat menawan malam ini.


Kania sepertinya melihat gelagatku. Ia menyenggol-nyenggol lenganku dengan sikunya, meminta perhatian. Namun tak kupedulikan. Wanita ini benar-benar bermuka tebal. Sudah dicueki masih juga menempel. Berbeda sekali dengan gadis di atas panggung yang tengah mendengarkan dengan seksama aturan main lelang amal ini. Tidak dicueki saja ia cuek, apalagi jika dicueki, pasti tambah diabaikan dan dianggap tak ada. Dan itu menyebalkan sekaligus menyenangkan untuk diganggu.


"Wah, kita butuh satu nomor peserta jika begitu." Ternyata tantangan pertama sudah dibacakan. MC itu menerima sebuah pot kaca lagi yang disodorkan oleh seorang panitia, lalu berjalan ke arah Rendi. "Mohon kesediaan Pak Rendi sebagai Penanggung Jawab acara ini untuk mencarikan teman duet bagi peserta lelang terakhir kita!" katanya menyodorkan pot kaca itu. Ternyata sekretarisku mendapat tantangan duet. Rendi mengaduk-aduk lalu mengambil satu buah nomor. "007!" Rendi membacakan nomor yang ia ambil.


"Yap, the luckiest number, James Bond, 007!" si MC pria mengulangi. "Bagi pemilik nomor 007, silakan berdiri!" ucapnya kemudian.


Refleks aku berdiri, walaupun Satria menarik-narik bajuku, meminta tukaran karena ia bernomor 008, tetap kuabaikan. Begitu juga Kania yang merengut. Semua kuabaikan. Ada perasaan senang di hati mengetahui akulah yang akan berduet dengannya di atas panggung. Si MC wanita menghampiriku dan mengajak ke tengah panggung.


"Wah, ternyata bos besar yang akan menjadi teman duet Mbak Aline malam ini." Ia terkekeh dan itu berhasil mencairkan suasana tegang. Ternyata ia adalah karyawanku. "Pak Erlangga, apakah Anda siap?" tanyanya kelewat ramah yang dibuat-buat, tipe penggoda atau penjilat, bathinku.


Aku mengangguk mantap. "Saya malah ragu jika Mbak ini yang tidak siap," ucapku dengan pandangan mencemooh, namun terdengar seperti lelucon bagi yang lain, membuat mereka semua tertawa geli. Sementara Aline, ia mendelik sebal ke arahku. So cute.


Lalu si MC pria memulai lelang dari 30 juta. Nilai lelang berakhir di angka 176 juta. Lumayanlah.

__ADS_1


Alexander Suseno, si memenangkan lelang ini, memintaku dan Aline membawakan lagu romantis yang disenangi istrinya karena hari ini adalah hari pertemuan pertama dirinya dan istrinya, 22 tahun yang lalu, katanya. Mendengar permintaannya, terlintas saja di benakku lagu Perfect miliknya Ed Sheeran dengan versi duetnya bersama Beyonce, sebuah lagu yang siapapun pasti setuju jika itu lagu yang sangat romantis.


Aku duduk di kursi yang disediakan sembari memangku gitar. Rasanya kurang romantis bila ia berdiri. Kumeminta sebuah kursi lagi untuknya. "Agar terlihat romantis maksimal," kataku yang dibalas dengusan olehnya. Lucu sekali.


Aku memainkan intro dan mulai bernyanyi bagian Ed.


............


...But you heard it, darling, you look perfect tonight...


Lirik terakhir ini kunyanyikan dengan sungguh-sungguh. Sangat sesuai dengan apa yang kulihat dan kurasa.


Aku sudah selesai menyanyikan bagianku. Sekarang gilirannya. Namun ia diam tak bergeming. Apakah karena ia gugup, tak pandai bernyanyi, suaranya kacau atau ia tak hapal lagunya atau entah apapun itu alasannya yang jelas ia terdiam. Tapi bila kami tidak bernyanyi dengan romantis, maka uang senilai 176 juta akan gagal ia dapatkan. Akhirnya kusenggol lengannya, membuat pandangannya beralih padaku. Kupeloloti, bermaksud menyadarkannya dan menyuruhnya untuk segera menyanyikan bagiannya.


Akhirnya, setelah aku mengulang-ulang nada yang sama sebanyak tiga kali, ia pun mulai memperdengarkan suaranya. Suaranya benar-benar indah, membuat semua orang yang tadi sudah menahan napas akhirnya bisa bernapas lega. Aku memandang takjub padanya. Ia tersenyum, cantik sekali dan bernyanyi dengan gaya romantis. Ada perasaan aneh dalam diriku melihatnya bernyanyi. Suaranya memiliki range vokal yang lebar, dari lembut hingga berat ia perdengarkan. Teknik vokalnya bagus dan terasah, tak ada pitch yang meleset. Gadis ini luar biasa. Aku jadi bertanya-tanya, siapa sebenarnya dia. Tak mungkin orang biasa yang katanya kelas menengah ke bawah memiliki vokal yang terasah dengan sangat baik seperti ini. Mungkinkah semua fakta ini saling terkait dengan kehadiranjya bersama Ricky Tiocandra?


Kami berhasil membawakan lagu romantis ini sesuai keinginan si pemenang lelang. Rasanya aku belum puas untuk berduet dengan gadis ini. Namun, permainan masih berlanjut. Aku turun dari panggung dan kembali ke meja VVIP. Keluargaku memberi selamat, kecuali Kania yang bersungut-sungut. Entahlah, aku tak suka dengan gadis manja tipe Kania ini. Satria dan Alby saja yang sedari tadi sudah mengelu-elukan Aline terlihat bahagia, kenapa Kania sewot? Apa ia cemburu? Ah, peduli setan.


Aku menikmati menit demi menit acara ini, walaupun wanita di sebelahku ini terus menerus merengek meminta perhatian. Gadis yang berdiri di tengah panggung itu berhasil menyita penuh perhatianku. Ia berhasil menaklukkan satu per satu tantangan dengan sangat baik. Satu kata yang bisa kuucapkan untuknya, WOW! Ia pandai memainkan dinamika lagu. Kulihat hampir seluruh tamu terharu meresapi nyanyian yang aku yakini untuk kedua orang tuanya. Apakah mereka sudah meninggal? Ah, aku tak tahu harus bertanya pada siapa. Ia me-mix dua lagu menjadi satu dan membawakannya dengan saaangat berperasaan. Feel-nya dapat banget. Dan pesan lagunya sampai ke setiap orang yang mendengarkan. Menghipnotis siapa saja yang mendengarkan, membuat terharu bahkan sampai menitikkan air mata.


Ia juga piawai memainkan beberapa alat musik, bahkan ia bisa nge-DJ. Sesuatu yang kupikir mustahil bisa ia lakukan, mengingat ia berhijab sedangkan DJ identik dengan dunia malam. Apakah dulu ia penghuni dunia malam namun sekarang sudah bertaubat, entahlah. Yang aku yakin, Ricky Tiocandra mengenal gadis ini sudah cukup lama. Terbukti ia memilihkan instrumen yang bisa gadis itu mainkan sehingga membuatnya jauh dari kata malu-maluin dan memalukan.


Kini, ia akan menghadapi tantangan terakhir, yaitu makan malam bersama pemenang lelang. Tantangan yang sama yang diberikan kepada seluruh peserta malam ini. Satria sudah sedari tadi menunggu saat-saat ini. Ia membuat kami semua yang ada di meja ini menggelengkan kepala. Namun, papa dan mama tidak ada yang melarangnya untuk mengikuti lelang terakhir ini. Satria sudah memiliki penghasilan sendiri dari restorannya yang berkembang pesat dalam setahun terakhir ini. Jadi, ia bebas melakukan apa saja dengan uangnya sendiri, bukan?


"Kenapa dek?" bisikku padanya.


"Kak, aku pengen makan malam sama mbak itu," yang dijawabnya dengan berbisik pula.


"Maksud kamu?" kembali aku bertanya sambil berbisik padanya.


"Menangkan lelang ini untukku! Aku pengen makan malam sama dia," pintanya menunjuk Aline dengan dagunya. Jarang-jarang ia meminta seperti ini. Adik bungsuku ini memang sangat pemilih. Penampilan Aline pastilah sangat berkesan padanya sampai ia meminta begini.


"Uangku tak cukup. Kemarin sudah kubelikan instrumen baru," bisiknya lagi. "Kumohon, Kak!"


Aku tak tega menolak permintaannya, hanya bisa mengangguk. Bagaimana ini? Satria jelas-jelas sangat antusias sedari tadi. Lalu sekarang adik bungsuku juga berminat. Jarang-jarang ia meminta sesuatu padaku.


Akhirnya, kuputuskan mengikuti kemauan si bungsu. Namun juga berharap Satria juga berhasil. Entahlah, semoga ada jalan nantinya.


Proses lelang berjalan sangat alot. Sepertinya hampir semua orang di sini berniat untuk mengajaknya makan malam. Satria mengajukan penawarannya. 800 juta! Sebuah angka yang cukup berani.

__ADS_1


"850 juta!" Niko Ardian Wirawan ikut memberikan penawaran. Setahuku, ia seorang duda. Beritanya sempat heboh beberapa waktu lalu. Istrinya lebih milih kariernya daripada pernikahan mereka. Dengan status ia sekarang, bebas-bebas saja jika ia ingin mengenal Aline.


Tak lama kemudian terdengar lagi seorang pria berseru. "1M!" Kucari si pemilik suara yang ternyata adalah Andrew Wicaksana, seorang pria lima puluh tahunan, rambutnya sudah memutih namun masih terlihat gagah yang datang bersama istrinya, Elizabeth Doherty. Aku yakin ia berniat mengenalkan putranya pada gadis ini. Aku mengenal keluarga mereka lewat papaku.


"Fantastis! 1M untuk tantangan terakhir!" suara MC wanita menggema penuh kegembiraan.


Lama tak ada lagi perlawanan. Mungkin mereka berpikir dua kali untuk membayar lebih dari 1M untuk sebuah makan malam.


"1,5M!" seruku, spontan saja. Tadinya aku memang berniat untuk memenuhi permintaan adik bungsuku. Namun semakin ke sini rasanya aku semakin tak rela bila sekretarisku ini makan malam bersama lelaki lain.


"1,6M!" Satria kembali berseru, mematahkan penawaranku. Kami bersitatap. Satria tak mau mengalah. Sepertinya ia benar-benar menginginkan makan malam itu.


Lalu, suara bariton menghentikan aksi tatap-tatapan kami. "2.1M!" Suara seorang pria menyebutkan sebuah nominal yang sangat fantastis. Pria itu berjalan dengan santainya ke meja Ricky Tiocandra. Rio Tiocandra! Ya, dia adalah Lavenderio Tiocandra, salah satu pengusaha muda sukses yang dimiliki Indonesia. Ia berasal dari klan Tiocandra yang terkenal bertangan dingin. Jika A.C menguasai Jawa, Bali dan Sulawesi bagian Utara, maka ia menguasai hampir seluruh wilayah Indonesia, belum lagi cabang-cabang perusahaan yang tersebar di Asia dan Eropa, semua berada di bawah naungan TC Group. Sebuah perusahaan besar yang sudah mendunia dan berdiri berpuluh-puluh tahun.


"Luar biasa. 2.1M pertama!" si MC pria berujar.


"2.1M kedua!" Kali ini si MC wanita yang bersuara.


"2.2M!" Nico Wirawan kembali memberi harga.


"Wow! 2.2M. Luar Biasa!"


Belum sempat mengagumi penawaran yang diucapkan, suara bariton itu kembali terdengar. "2.5M!" Rio kembali menyebutkan sebuah nominal yang tak main-main, membuatku semakin penasaran, apa sebenarnya hubungan ketiga orang ini. Apakah Aline adalah pacarnya? Lalu, bagaimana dengan Ricky? Apa maksud dari kalimat she's my princess yang aku dengar tadi? Namun, angka 2.5M tak mungkin diberikan oleh seseorang jika bukan untuk menyelamatkan seseorang yang sangat berarti baginya. Itu bukan angka yang sedikit. Sementara, jika Ricky adalah kekasihnya, kenapa lelaki itu tak memberikan penawaran sama sekali? Bahkan, Rio dan Nico seperti berebut untuk makan malam dengan Aline. Satria tentu saja sudah menyerah. Rio dan Nico bukan tandingannya. Lalu terbersit di benakku, Rio bukannya sudah bertunangan? Ya Tuhan, tunangannya adalah adik Nico? Apa pertunangannya sudah batal? Dan saat ini ia sedang mengincar sekretarisku? Sementara Nico terlihat seperti ingin mempersulit Rio. Ah, kenapa aku yang jadi berspekulasi gak jelas begini?


"2.5M ketiga!" tiba-tiba saja aku mendengar MC mengucapkannya bersama-sama.


"Benar-benar fantastis! Kita akan ke pemenang lelang kali ini!" kata si MC.


"Maaf, dengan siapa, Mas?" Si MC wanita yang tidak kuketahui namanya itu menyodorkan mic kepada Rio.


"Rio, Lavenderio Tiocandra." Jelas nama belakangnya mempengaruhi sebagian besar hadirin. Siapa yang tak tahu klan Tiocandra?


Basa basi yang kemalaman pun terjadi. Namun spekulasi di pikiranku juga terus berlanjut. Terlebih melihat sekretarisku menuruni panggung dan berjalan ke arah meja Tiocandra. Membuat sisi kepoku menguar.


Di sebelahku, si Bungsu sedang merenggut, begitu pula Satria yang terlihat kecewa. Dalam hati aku berjanji akan mempertemukan mereka dalam sebuah makan malam suatu saat nanti.


***


Assalamu'alaikum semuanya.

__ADS_1


Sebelumnya aku mo ngucapin Selamat Hari Raya Idul Fitri, Minal Aidin wal Faidzin. Maaf lahir dan bathin. Maaf juga baru bisa up nya malam ini. Eitts, ini lebaran, jadi musti dimaapkeun ya (maksa😁). Jadi mesti tetap ditunggu komennya, trus kasi like, vote, kasi kembang yang banyak ato nyuguhin kopi juga bole, anggap aja kita lagi be-raya, hehehe.


Makasiiiih


__ADS_2