
Elang POV
Aku berlarian menuruni flat apartemenku. Bukan berlari dalam arti sesungguhnya. Tapi terburu-buru. Sangat terburu-buru. Bagaimana tidak, aku harus menghadiri pertemuan penting pagi ini dengan klien penting dan aku sudah sangat terlambat. Bangun kesiangan.
Aku memasuki mobilku dan mengemudikannya. Tak bisa dengan kecepatan penuh karena pagi ini sangat macet. Matilah aku. Papa bisa marah besar padaku jika sampai proyek ini gagal aku dapatkan.
Waktu sudah menunjukkan jam 9 lebih. Aku memasuki restoran hotel tempat dimana janji temu dilakukan. Namun ruangan ini sudah sepi. Hanya beberapa tamu yang masih berada di dalam.
Segera kuraih HP dibalik saku jasku, berniat hendak menghubungi si klien. Namun notifikasi pesan dari sekretarisku cukup menarik perhatian. Ada 5 buah pesan dan 2 panggilan tak terjawab di aplikasi si telpon hijau. Tak biasa-biasanya dia mengirimiku banyak pesan. Kugulir pola-pola rumit pengunci ponsel. Malas membaca akhirnya kutelpon saja dia.
Pada deringan ke lima baru gadis itu menjawab telponku. Kupotong ucapan salamnya saking jengkelnya aku karena dia begitu lamban menerima telponku. Tidak tahukah dia bahwa aku sudah sangat gusar kehilangan calon klien.
"Kemana aja lo?" semburku.
"Eh, ma maaf, Pak. Tadi saya sedang menerima telpon dari Attariza Inc," jelasnya.
"Coba lo hubungi pihak Sky Nursindo Group. Minta di reschedule pertemuannya!" Sengaja tak aku sebutkan aku terlambat, kan bisa malu.
"Lho? Bukannya kemarin Bapak sudah setuju saat pihak Sky reschedule meetingnya ke minggu depan? Apa mau diundur lagi atau bagaimana, Pak?" tanyanya namun tidak aku gubris karena masih sibuk mengingat kapan aku menyetujui pertemuan ini diundur. "Jadinya agenda Bapak pagi ini adalah meninjau proyek dengan pihak Attariza dan maaf ini sudah tidak bisa dicancel, Pak. Barusan saya mendapatkan informasi bahwa mereka sudah dalam perjalanan menuju lokasi," jelasnya kemudian, mungkin dia mengerti jika aku melupakan jadwal hari ini. Aku menangkap nada bingung yang tersirat dari penjelasannya barusan.
Ya Allah, aku baru ingat sekarang. Iya, dua hari lalu Sky Nursindo Group mengkonfirmasi bahwa meeting hari ini terpaksa ditunda ke minggu depan karena cabang mereka yang di Manado mengalami kebakaran sehari sebelumnya. Sementara itu, pihak Attariza yang berkantor di Kuala Lumpur mempercepat jadwal kunjungannya ke Indonesia untuk meninjau beberapa proyek kerjasamanya dengan perusahaan dalam negeri, termasuk meninjau proyek dengan perusahaanku. Seperti bertukar jadwal, sekretarisku mengaturnya dengan sangat baik. Bodohnya aku sampai terbirit-birit ke sini karena melupakan hal ini.
Aku menghirup nafas lega. Setidaknya aku bersyukur tidak jadi terlambat dan tidak jadi kehilangan proyek dengan Sky Nursindo Group.
"Trus lo nelpon gue mo ngomong apa?" tanyaku teringat akan notifikasi tadi. Aku langsung balik kiri menuju parkiran sambil terus berbicara di telpon dengan sekretarisku.
"Mau menanyakan keberadaan Bapak," jawabnya enteng. "Soalnya udah jam 9 belum ngantor. Sekalian mengingatkan, takut kalau-kalau Bapak lupa masuk kantor dan punya agenda penting hari ini," ucapnya bercampur nada geli bercampur sindiran. Sungguh menyebalkan. Terkadang aku tak habis pikir. Kenapa sekretarisku itu bicaranya berbeda sekali saat di telpon dan bertatap muka. Jika ditelpon dia seperti leluasa menunjukkan ekspresinya, tapi bila bertatap muka, dia seperti memberi jarak pada lawan bicaranya. Ah tidak. Dia hanya begitu sejak aku menuduhnya tempo hari.
Kulajukan mobilku menuju lokasi proyek. Untunglah aku sampai duluan. Pertemuan dengan klien asal Malaysia berjalan lancar. Akhirnya aku memutuskan langsung kembali ke kantor. Nanti makan siang di kantor saja.
Kuraih HP yang kutaruh sembarangan di kursi penumpang. Menghubungi sekretarisku untuk memesankan makan siang karena aku sedang tidak mood untuk makan di luar.
Aku terkejut saat memasuki ruangan kerjaku. Begitu membuka pintu, kulihat seseorang sedang menata makanan di meja yang biasa aku gunakan untuk rapat kecil dengan staf atau klienku. Posisinya membelakangiku. Aneh, biasanya hanya sekretarisku yang boleh melakukan pekerjaan ini karena aku tak ingin ada OB ataupun karyawan lain yang memasuki ruangan kerjaku. Semakin kulihat, ternyata seseorang itu adalah seorang perempuan, dengan rambut sebahu dan diikat sebagian ke belakang. Ia mengenakan setelan kerja dengan gaya kekinian. Rok span asimetris dari lutut hingga betis yang mempertontonkan kaki jenjangnya yang dibalut stiletto hitam dengan tali yang mengikat di pergelangan kakinya dan blazer berwarna senada. Membuat tampilannya terlihat sangat "wanita karier" jika dilihat dari belakang. Dira tentu saja belum masuk bekerja, dan tubuhnya juga tak semampai seperti perempuan di depanku ini, juga gaya busananya tidak sefeminim ini, jadi pasti bukan dia. Lalu siapa? Tidak mungkin Aline, walaupun postur tubuhnya semampai tapi gadis itu berhijab dan tak mungkin mengenakan pakaian serupa itu. Pakaian yang yang dikenakan perempuan ini tertutup tapi tak mampu menutupi lekuk-lekuk tubuhnya yang sempurna. Aku membanding-bandingkan kedua sekretarisku dengan perempuan ini. Dia masih belum menyadari kedatanganku.
Jika bukan Aline, lalu siapa? Aku menerka-nerka. Lalu, kemana gadis itu? Kenapa dia membiarkan orang lain memasuki ruang kerjaku. Aku akan menghukumnya. Awas saja nanti.
Aku melangkahkan kaki. Bunyi tapak sepatu yang beradu dengan lantai menyadarkan perempuan itu akan keberadaanku. Dia membalik tubuhnya, memghadap ke arah ku. Langkahku terhenti, terpaku pada lantai. Nafasku terasa berhenti. Gadis itu menatapku dengan wajah datarnya. Aku syok.
__ADS_1
"Selamat siang, Pak!" sapanya. "Makan siang Bapak sudah siap! Ingin makan sekarang?" tanyanya. Namun aku tidak membalas sapaannya, masih sangat syok dengan apa yang kulihat. Ia permisi keluar ruangan karena pekerjaannya di ruanganku telah selesai.
Aku benar-benar hampir tak mengenalinya lagi. Perempuan itu sangat cantik. Kemeja di dalam blazernya berwarna navy, sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Wajahnya dirias natural namun terlihat sedikit dewasa dengan tatanan rambut seperti ini, sangat manis dan cantik.
Aku susah payah meneguk salivaku saat dirinya melewatiku. Aroma vanila tubuhnya tercium lebih intens dari biasanya.
Aku menggamit tangannya yang berpapasan denganku. Kesadaran mulai mengembalikan kinerja otakku seperti semula.
"Tunggu!" kataku.
Dia berhenti, pun karena lengan atasnya masih aku cengkeram. Dia berbalik.
"Ada yang bisa saya bantu lagi, Pak?" tanyanya. Pandanganku fokus pada bibirnya yang disapu lipstik berwarna natural nude dengan aksen ombre. Sangat menggoda.
"Duduk!" titahku.
Dia mengangguk. Aku melepaskan cengkramanku pada tangannya. Dan dia mengambil posisi di kursi tamu, di seberang kursi kebesaranku.
Aku mengikutinya melangkah. Duduk di singgasanaku. Menatapnya lekat. Namun ekspresi yang ditunjukkan perempuan ini sangatlah datar. Tak ceria namun juga tak muram. Benar-benar tak ada ekspresi di wajah cantiknya.
"Kamu?" kataku dengan jari telunjuk yang menujuk penampilan barunya. Aku yakin dia mengerti maksudku.
DEG!
Kalimatnya barusan bagai petir menyambar di siang hari. Membuatku terpaku. Karena itu adalah kalimat terakhir yang aku ucapkan padanya tadi malam.
"Jika tidak ada yang ingin Bapak tanyakan lagi, saya permisi," pamitnya undur diri.
Aku baru tersadar begitu dia menutup pintu ruanganku. Aku tak bermaksud membuatnya melepas hijabnya. Tadi malam aku hanya emosi dan berkata begitu. Aku mengatakan padanya, lebih baik dia melepas hijabnya daripada hijabnya ternoda oleh kelakuannya dan menurunkan pandangan orang pada wanita berhijab lain. Intinya, aku mengatakan agar ia melepas saja hijabnya agar imej wanita lain yang berhijab tidak dirusak olehnya. Lalu kalimatnya tadi? Apakah itu artinya ia membenarkan tuduhan Aura? Benarkah dia memiliki hubungan spesial dengan Ethan?
"Aaaaaaarrrrggghhh" Aku berteriak frustasi di ruanganku. Tidak tidak. Hatiku tak mengizinkan dia bersama Ethan. Segera kupanggil lagi dia ke ruanganku.
"Ada yang bisa saya bantu, LAGI, Pak? tanyanya dengan menekankan kata "lagi", masih dengan wajah datarnya.
"Duduk! Temani gue makan!" titahku tak ingin dibantah. Dia menurut. Aku menatapnya lekat saat ia menyiapkan peralatan makan dalam diam. Diam-diam aku mengagumi kecantikannya yang terlihat begitu berbeda. Cantik, namun terlihat menggoda. Berbeda 180° dengan dirinya yang berhijab.
Selama makan siang, aku kembali menanyainya.
__ADS_1
"Sudahlah, Pak, tidak usah dibahas!" Hanya itu jawaban yang diberikannya, membuatku semakin jengkel.
Aku memandanginya intens saat ia mulai membereskan peralatan makan kami. Saat ia hendak beranjak keluar, aku mencekal tangannya, lagi. Dia menatapku yang juga sedang menatapnya. Entah kenapa aku tidak rela ada lelaki lain di luar sana yang melihat penampilannya kini.
"Ini sudah yang keberapa kalinya Bapak mencekal tangan saya hari ini! Mau Bapak apa sebenarnya?" tanyanya membentakku, marah.
"Katakan padaku kenapa kamu berubah!" kataku meninggalkan panggilan lo-gue yang biasa aku gunakan padanya. Aku benar-benar serius bertanya kali ini. Dia tidak menjawabku. Dia membuat kesabaranku hilang perlahan-lahan.
Aku mengcengkram lengannya semakin kuat. Dia terlihat meringis namun aku tidak peduli. Aku menggiringnya ke arah meja kerjaku. Bermaksud mendudukkannya di sana. Namun, secara tidak sengaja aku menyentuh dadanya, membuatku menggila. Tanpa sadar aku menariknya untuk kembali berdiri dan mulai mencium bibirnya, ******* dengan tidak sabaran. Dia tidak memberikan respon apa-apa. Mungkin masih belum sadar akan apa yang sedang terjadi.
Baru kemudian dia memberontak, membuat ciuman kami terlepas.
"Apa yang Anda lakukan?!" bentaknya padaku. Matanya memerah menahan amarah. Berusaha melepaskan cengkraman tanganku di lengannya sekuat tenaga. Membuatnya terlihat sangat seksi di mataku. Tentu saja tenaganya tidak mampu mengalahkan tenagaku. Entah setan apa yang merasukiku, bukannya melepaskannya, aku malah semakin mengikis jarak di antara kami. Membuat sebagian tubuhnya berada di meja.
"Katakan padaku, apa Ethan yang membuat kamu berubah begini?!" ucapku posesif, tak kalah kerasnya pada dirinya. "Anda yang membuatku jadi begini. PUAS!" Aku terhenyak dengan jawabannya. Dan aku hilang kesadaran. Aku mulai mencumbu dirinya di meja kerjaku. Meraih apa saja yang bisa aku raba. Pakaiannya sudah tidak karuan. Aku benar-benar gila dibuatnya. Lalu di detik berikutnya, dia berhasil menamparku.
Tamparannya sangat keras, membuatku tersadar dan terduduk bersamaan dengan suara dering dan getar telpon yang menarikku kembali ke dunia nyata.
Hahhhhh.... hanya mimpi! Sial, aku bermimpi hampir memperkosa sekretarisku. Tapi mimpi ini terasa sangat nyata.
Dering telpon masih meraung-raung di atas meja. Kuraih dan kugeser ke icon hijau, menjawab panggilan Aldi, sahabatku.
"Halo..." Kataku masih sedikit tersengal-sengal akibat mimpi tadi.
"Halo bro." Aldi menyapa di seberang sana. "Gue gak ganggu olah raga malam lo kan? Hehehe" dia terkekeh, mungkin mendengar suaraku yang parau dan masih mengatur nafas, lalu menyimpulkan versi dirinya.
"Lo ganggu tidur gue! Kalau gak penting-penting amat, mendingan lo tutup telponnya! Gue mo lanjut tidur!"
"Weits, sabar bro! Ini masih pagi. Anak-anak lagi pada ngumpul di basecamp."
Basecamp adalah sebutan untuk paviliun di rumah Leo, salah satu sahabatku juga sejak SMA. Dulu kami berlima memang sangat badung, namun nilai kami selalu yang terbaik di sekolah. Ya, hanya badung, bukan "nakal". Kami memilih untuk berkumpul di sini, sekedar nge-band, main PS, barbekiu-an, atau sekedar kumpul-kumpul ditemani softdrink dan snack. Paviliun ini sengaja dibangunkan oleh om Agha, papanya Leo, agar selalu memiliki kegiatan positif sekaligus menghindarkan kami dari pengaruh pergaulan bebas dan alkohol dimasa-masa dimana remaja sedang mencari jati dirinya.
"Ya udah, gue ke sana!" Kututup telpon dengan tidak sabaran. Ada puluhan panggilan tak terjawab yang kulihat di layar. Sebagian besar dari Kania yang sengaja kuabaikan sejak sore tadi. "Dasar perempuan kurang kerjaan!" gumamku. Dia mengundangku ke pesta ultahnya di sebuah klub malam hari ini, dan aku tak tertarik untuk datang. Aku tak suka perempuan agresif.
Kulirik jam di HP. Benar, masih jam 11 lewat sedikit. Itu artinya aku tidur hampir dua jam, dan masih dengan pakaian kerja lengkap yang aku pakai hari ini. Selepas mengantar sekretarisku tadi, aku bermaksud merenungi sejenak sikapku padanya. Kenapa aku bisa sepeduli itu padanya. Bahkan aku terkesan posesif padanya. Apa benar karena tak ingin ia merusak rumah tangga Ethan dan Aura, atau ada penyebab lain. Namun aku tertidur di sofa dan berakhir dengan mimpi itu.
Beranjak dari sofa menuju kamar, kuraih handuk langsung menuju kamar mandi. Aku harus mandi, tentu saja. Aku laki-laki normal, tentu saja akan bereaksi dengan hal-hal semacam tadi.
__ADS_1
Di bawah guyuran shower, aku tercenung. Pasti karena ucapanku pada gadis itu tadi yang mengganggu pikiranku sehingga alam bawah sadarku menuntunku pada imajinasi gadis itu yang tanpa hijab sesuai ucapan sarkasku saat mengantarkannya tadi. Ditambah aku tidur tanpa mengucap do'a, sehingga jin-jin dengan leluasanya merasuki alam tidurku, membuatku bermimpi yang tidak-tidak. Hhh... Segera kutepis bayangan perempuan versi Aline tak berhijab dari pikiranku, menyelesaikan mandiku lalu bersiap ke tempat dimana teman-temanku telah menunggu.
***