Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Sombong dan Buruh Setrika


__ADS_3

Sudah tiga hari Rosa, yang kini bernama Aline, tinggal di rumah Pak Syahrial dan Bu Nurhalimah yang dipanggilnya Abah dan Bunda.


Abah dan Bunda tinggal berempat bersama putri bungsunya, Hana, dan seorang ART di rumah ini. Rumah Abah cukup besar namun tetap sederhana karena beliau memiliki empat orang putra dan putri, walaupun yang tiga sudah menikah dan tidak lagi tinggal bersama mereka, namun suasana rumah ini tidak pernah sepi karena pada siang hari Bunda, Abah dan beberapa orang karyawannya akan sangat sibuk memasak dan menyiapkan bumbu yang akan di bawa ke restoran kecil mereka.


Ya, Abah dan Bunda membuka usaha kuliner yang mulai ramai dua tahun belakangan ini.


Dan mulai hari ini, Aline akan ikut Abah, Bunda dan Hana bekerja di sini.


Untuk saat ini, ia hanya ditugasi sebagai pelayan yang bertugas mencatat dan mengantar pesanan pelanggan, bersama Hana dan Tari, seorang mahasiswi yang kuliah sambil bekerja. Abah memiliki delapan orang karyawan, dua orang yang bekerja dari pagi hingga siang di rumah Abah untuk membantu Bunda mempersiapkan semuanya, dan enam orang lagi bekerja di restoran yang rata-rata adalah mahasiswa, karena restoran Abah dan Bunda ini baru buka pukul 4 sore sampai jam 10 malam sehingga sesuai untuk mahasiswa yang ingin bekerja part time.


"Alhamdulillah restoran ini semakin ramai pengunjung dari hari ke hari. Dulu kami hanya berjualan di kaki lima, di lapangan depan sana, Mbak. Alhamdulillah, sejak satu setengah tahun yang lalu pindah ke sini. Awalnya, om Fahri, yang punya tempat ini butuh uang untuk biaya pengobatan ibunya, jadi beliau menawarkan ruko ini ke Abah. Tapi Abah gak bermaksud membeli ruko ini, Abah hanya mau meminjamkan uang untuk biaya berobat ibunya Om Fahri. Tetapi karena beliau sekeluarga akhirnya pindah ke Semarang, jadinya ruko ini dijual dengan harga lumayan miring kalo kata Abah. Jadi sekarang udah di sini," cerita Hana.


"Dan sekarang, kami semakin bersyukur karena ada Mbak Aline yang bantuin, jadi aku dan Mbak Tari gak keteteran lagi melayani pembeli. Kadang aku suka kasihan lihat Mbak Tari sama Bunda, kalo aku harus naik ngerjain tugas sekolah yang mau dikumpul besoknya atau belajar buat ulangan esok harinya, pasti mbak Tari kewalahan sampai-sampai Bunda turun tangan, ikutan jalan mondar mandir sana sini catetin sama nganterin pesanan, padahal kaki Bunda sudah sering sakit-sakit," ucap Hana selepas mereka sholat Isya di ruangan di lantai 2 yang dikhususkan sebagai musholla restoran.


"Tapi syukurlah sekarang ada Mbak Aline, jadi aku gak kuatir lagi deh!" ucapnya riang.


"Iya, Mbak juga bersyukur udah dipertemukan Allah sama kamu, Bunda dan Abah. Terima kasih ya udah menganggap dan memperlakukan Mbak sebagai keluarga."


"Ish, Mbak Aline ngomongnya kok gitu sih, kan jadi nangis akunya." Mereka berpelukan sebelum akhirnya Aline kembali ke restoran dan Hana menuju ke ruangan diperuntukkan untuk istirahat untuk membuat tugas sekolahnya. Dia akan mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan besok.


Begitulah kehidupan baru Aline di Jakarta ini.

__ADS_1


Sebulan sudah berlalu, Aline sudah terbiasa dan menikmati peran barunya sebagai anak angkat Abah dan Bunda dan sebagai karyawan di restoran kecil milik keluarga barunya itu. Meskipun jauh dari kemewahan dan kehidupan ala-ala princess yang disuguhkan oleh keluarga Tiocandra, Aline tetap bersyukur kepada Allah atas apa yang dimilikinya saat ini. Ia tak menyalahkan takdir. Ia juga tak menyalahkan papinya, apalagi menyalahkan diri sendiri. Semua sudah terjadi dan ia memilih berdamai dengan hidupnya saat ini yang hanya sebagai rakyat jelita. Beruntung ia sering melihat dan ikut membantu si mbok mengerjakan pekerjaan rumah tangga dulu, dan ditambah kehidupan mandirinya selama kuliah di negeri orang, membuatnya tak canggung dengan perannya saat ini. Ya, Aline sudah memaafkan papinya, tapi dia tidak ingin pulang bila bukan papinya sendiri yang datang mencari dan menjemputnya, menarik kata-kata pengusiran, dan mengakuinya sebagai anak lagi.


Saat ini, Abah, Bunda dan Aline sedang beristirahat sejenak di teras belakang sebelum berangkat ke restoran Abah. Bunda tadi memanggilnya untuk bergabung disini.


"Aline, ini gaji kamu bulan ini," lalu bunda menyerahkan sebuah amplop yang diyakini berisi sejumlah uang.


Aline hanya diam tak bergeming.


"Ambillah, Nak!" kali ini suara Abah yang ia dengar.


"Itu hak kamu karena sudah bekerja dengan baik sebulan ini. Lagipula, bulan ini restoran kita benar-benar ramai pengunjung. Belum pernah di bulan-bulan sebelumnya restoran seramai ini. Jadi dengan adanya kamu, kami semua terbantu," lanjut Bunda.


Aline masih bergeming dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca. "Ya Tuhan, baik benar keluarga ini," bathinnya.


"Sebenarnya tidak perlu, Bah, Bund. Aline udah diizinkan tinggal dan makan di sini saja Aline sudah sangat berterima kasih. Abah dan Bunda memperlakukan Aline dengan baik seperti anak sendiri juga Aline sudah sangat bersyukur. Aline tidak akan bisa membalas jasa Abah dan Bunda. Jadi biarkan Aline membantu Abah dan Bunda. Hanya ini yang bisa Aline lakukan."


"Aline ... rezeki, jodoh, maut itu semua sudah diatur Yang Maha Kuasa. Pertemuan dan perpisahan juga sudah diatur-Nya. Tapi tetap, uang ini, terimalah! Ini hak kamu atas apa yang sudah kamu kerjakan. Gunakan untuk keperluan kamu dan sebagiannya lagi bisa kamu tabung! Hana pernah cerita sama Abah sama Bunda, kalau kamu meminjam uang kerabat kamu untuk biaya ke Jakarta. Jadi ambillah dan tabunglah untuk mengganti uang yang kamu pinjam itu! Abah sama Bunda senang kamu menjadi bagian dari keluarga kami. Mungkin sekarang Allah menitipkan kamu dan rezeki kamu lewat kami, lewat restoran ini," Abah ikut mengomentari.


Akhirnya Aline mengambil amplop yang disodorkan oleh Bunda.


Dalam hati tak henti-henti ia mengucap syukur kepada Yang Maha Pengatur Kehidupan karena telah dipertemukan dengan keluarga ini. Namun, ia merasa tak enak jika terus-terusan merepotkan jika tinggal di sini. Bagaimanapun, ia tak ingin merasa berhutang budi nantinya.

__ADS_1


Pernah sekali Aline mengutarakan niatnya yang ingin mencari kost-kostan atau sebuah kontrakan. Bukan karena ia tak betah tinggal di rumah Abah. Bukan. Ia ingin lebih mandiri lagi dan tak ingin membebani keluarga ini lebih lama lagi. Walaupun dulu ketika di Aussy dan Jerman ia juga tinggal seorang diri, tapi saat itu kondisinya jauh berbeda dengan sekarang, jauh banget malah. Saat itu ia tidak perlu pusing mengatur keuangannya karena papi dan kedua abangnya selalu mengiriminya setiap bulan meskipun ia juga bekerja menjadi seorang manajer di cafe milik temannya di Jerman dulu. Berbeda dengan kondisinya sekarang. Pernah sekali ia mengutarakan keinginannya itu pada Abah dan Bunda. Tapi mereka menolak dengan mengatakan bahwa rumah ini terlalu besar untuk ditinggali berempat. Apalagi Abah dan Bunda merasa senang Hana ada temannya. Hana yang dulu selalu merasa kesepian sejak ditinggal kakaknya, Salwa, yang menikah dan ikut suaminya, sudah sangat menyayanginya sekarang. Anak itu sudah kembali ceria seperti sedia kala.


Ketika Aline bersikeras tentang niatnya, Bunda menjanjikan bahwa jika salah satu rumah kontrakannya yang di ujung jalan itu kosong, Aline boleh menyewa di sana. Ia tak ingin Aline tinggal jauh dari mereka nantinya.


Alhasil, Aline menjadi segan untuk kembali mengungkit niatnya itu dan berdo'a serta berharap semoga saja ada salah satu penghuni kontrakan Bunda Halimah segera pindah, hehehehe .... Dosa gak sih jika berharap begitu?


"Aline ..." suara Bunda membawa Aline kembali dari lamunannya.


"Ya, Bunda!"


"Kamu seriusan mau cari pekerjaan lagi selain di resto?"


"Hehehehe, iya Bunda. Aline mau cepat-cepat menabung buat ganti uang yang Aline pinjam."


"Hmmmm .... Cari kerjaan di Jakarta ini sulit, Nak. Kalaupun ada, saingannya pasti banyak banget. Apalagi kamu gak bawa KTP, ijazah atau dokumen lainnya."


"Iya, Bun, Aline tau. Aline gak berharap dapat kerja kantoran dengan gaji selangit. Kerja biasa aja Aline mau kok, Bun. Yang penting halal, kerjaan yang bisa Aline lakukan dan gak ganggu jadwal kerja Aline di resto," terangnya.


"Ini kebetulan tadi ada teman Bunda di pengajian, lagi cari orang yang bisa bantu menyetrika di rumahnya. Kerjanya cuma dua atau tiga kali seminggu dan itupun cuma setengah hari. Gajinya lumayan. Itu lho, Bah. Bu Suci istrinya Pak Raffi. Tadi ketemu Bunda di pengajian bulanan. Hhmmm, kalo kamu berminat, biar nanti Bunda hubungi teman Bunda itu. Gimana, Lin?" tanya Bunda ragu-ragu karena melihat Aline juga ragu-ragu untuk menjawab.


Dalam hati Aline membathin "Ya Allah, inikah hukuman atas kedurhakaan hamba kepada orang tua hamba? Tiga macam gelar magister hamba, jauh-jauh hamba menimba ilmu ke Australia dan Jerman, hanya untuk menjadi buruh setrika di tanah air hamba?"

__ADS_1


Segera Aline beristighfar memohon ampunan karena telah merasa sombong dengan ilmunya. Ampunilah hamba-Mu ini, Ya Allah! Sungguh Engkaulah Yang Maha Mendengar apa yang telah hamba ucapkan. Sucikanlah hati ini, Ya Allah! Jauhkanlah hamba dari sifat sombong dan ria'! Engkaulah yang Maha Mengetahui apa-apa yang tidak kami ketahui. Kuatkan lah hati hamba agar ikhlas menghadapi semua ini! Hamba sadar, apa yang buruk menurut hamba belum tentu buruk di mata Engkau. Hapuslah sifat sombong, ria' dan dengki dari hati hamba! Hamba ikhlas bila ini adalah hukuman yang harus hamba jalani," doanya dalam hati.


Lalu, Aline pun mengangguk mengiyakan tawaran Bunda.


__ADS_2