
Hari berganti. Senin telah tiba. Aline duduk di teras rumah mungilnya menunggu babang ojek menjemput. Ya, rumah yang ditempati Aline ini sudah menjadi miliknya sekarang. Entah bagaimana urusannya, ternyata para lelaki Tiocandra yang berstatus sebagai abang-abangnya itu berhasil membujuk Abah untuk menjual rumah ini pada mereka. Dan tentu saja ketiga lelaki itu menghadiahkannya pada adik cantik mereka.
Semuanya bermula sejak ia menolak untuk tinggal di apartemen mewah milik Rio. Awalnya ia tidak percaya ketiga abangnya bersikap seperti ini. Dan ia juga sudah menanyakan langsung kepada Abah dan Bunda. Dan ternyata memang benar. Jujur saja ia merasa tidak enak pada Abah dan Bunda. Namun di saat Abah mengatakan ada perjanjian yang menguntungkan kedua belah pihak di balik jual beli rumah ini, ia menjadi tidak ingin ambil pusing lagi. Ia sudah merasa nyaman di sini. Dan rumah ini sudah cukup untuknya. Walaupun kecil, tapi nyaman untuk ia tinggali. Siapa sih yang mau tinggal seorang diri di apartemen bang Rio yang sebesar itu? Menyeramkan, itulah yang ada di pikiran Aline saat ia ditawari menempati apartemen mewah Rio.
Lamunan Aline terhenti karena dering telepon dan bunyi motor babang ojek pesanannya sudah menunggu di depan pagar. Bergegas ia beranjak dari kursi. Meraih tas dan bekal. Sekali lagi memastikan pintu rumah sudah terkunci, lalu membaca do'a dan segera meninggalkan halaman rumahnya.
Tak berapa lama, Aline sudah berada di meja kerjanya, meja sekretaris CEO AC. Ada perasaan gamang pagi ini, namun ia abaikan dan mulai menyalakan komputer. Jelas ia masih marah dan tersinggung dengan ucapan saat pertemuan terakhirnya dengan Elang, sang CEO, hari Jum'at yang lalu. Setelah memeriksa dan merapikan jadwal kerja sang CEO hari ini, ia pun melangkah ke pantry. Membuatkan kopi untuk bosnya itu. Sudah menjadi rutinitasnya selama seminggu terakhir karena permintaan sang atasan. Sekalipun kesal, tanggung jawab tetap ia kerjakan. Profesional, itulah yang terus ia katakan pada dirinya.
Setelah membawa kopi ke ruangan Elang, Aline kembali ke mejanya. Memeriksa beberapa berkas dari divisi lain yang sudah ditaruh di mejanya untuk ditandatangani oleh Elang. Setelah selesai, ia pun memberi sticky notes dan membawa berkas-berkas tersebut serta menyusunnya di meja kerja Elang. Tumben sekali sudah jam 10.05 WIB namun bosnya itu belum berada di ruangannya.
Saat hendak keluar ruangan, langkah Aline terhenti sejenak, tak jauh dari pintu, kaget melihat Elang yang sedang menatap ke arahnya. Elang sengaja berhenti berjalan memasuki ruangannya begitu ia melihat sekretarisnya sedang membereskan meja kerjanya dan memilih melihat gadis itu dari ambang pintu. Ada perasaan lain yang tak ia kenali menelusup di hatinya ketika memperhatikan gerak gerik gadis itu. Seperti perasaan bersalah, menyesal, namun tidak juga keduanya. Entahlah, ia sangat bingung untuk mengungkapkan dan mendeskripsikannya.
Aline berjalan ke arah Elang yang masih berdiri di sisi pintu.
"Selamat pagi, Pak!" ucapnya, lalu kembali melanjutkan langkah tanpa menoleh. Dingin.
"Lin ...." Elang memanggil gadis itu kala berpapasan membuatnya kembali menghentikan langkah namun enggan untuk berbalik menatap bosnya itu.
"Saya, minta maaf untuk kejadian Jum'at kemarin."
Tak ada jawaban yang keluar dari bibir gadis itu. Hanya anggukan kecil lalu ia kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan Elang yang menatap nanar. Elang menghembuskan napas berat. Melihat gelagat gadis yang berdiri membelakangi dirinya itu, Elang mengerti bahwa gadis itu masih marah padanya namun berusaha bersikap profesional.
Hari itu dilalui dengan lebih banyak diam. Tak banyak agenda Elang hari ini, sehingga ada kesempatan bagi keduanya untuk saling menjauh.
Hingga Rabu, suasana dingin masih meliputi Aline dan Elang. Tak ada percakapan atau diskusi hangat seperti minggu lalu. Aline benar-benar membatasi dirinya dalam berkomunikasi dengan Elang. Elang sendiri merasa tidak nyaman dengan suasana kerja yang menurutnya tidak kondusif seperti ini. Beberapa kali ia mencoba untuk mengajak gadis itu berdiskusi atau membicarakan apapun, namun jawabannya walaupun sangat berguna namun selalu disampaikan dengan rasa yang tidak biasa, hambar, dan itu tidak memuaskan hati Elang.
Ini sudah Kamis, dan Elang bertekad untuk memperbaiki keadaan dengan mengajak sekretarisnya itu untuk berbicara serius. Sungguh, suasana kerja seperti ini yang membuatnya enggan berada di kantor. Itulah sebabnya mengapa ia selalu masuk kantor di atas jam 10 pagi.
Pagi ini, gadis itu sudah mengirimkan pesan jadwal rapat dan juga e-mail materi rapat hari ini. Elang yang sedang bermalas-malasan hanya membaca sekilas pesan dan email tersebut, lalu kembali melanjutkan bermain game di kamarnya. Keasyikan bermain untuk mengalihkan pikiran, membuatnya lupa akan agenda pagi ini. Dengan entengnya, kakinya melangkah ke ruangan kerjanya, membuat sang sekretaris yang sedang asyik dengan pekerjaannya menoleh kaget. Namun tetap saja ia membiarkan atasannya itu menuju ruangannya terlebih dahulu.
Lima menit kemudian, Aline meraih gagang telpon, mendial nomor ruangan CEO.
"Ya, kenapa, Lin?" tanya Elang tanpa basa basi begitu ia mengangkat telpon.
"Maaf, Pak. Saya mau menanyakan rapat jam 11 ini di Noah Enterprise. Apakah ditunda atau bagaimana, Pak?" tanya Aline hati-hati. Jujur saja, ia sangat takut dibentak.
"Astaghfirullah." Elang menatap jam tangan mahalnya. "Saya lupa. Bagaimana ini?" Kliennya kali ini merupakan klien penting pula. Keuntungan dari proyek kali ini sudah direncanakannya sebagian untuk diberikan kepada karyawan sebagai bonus.
"Rendi udah berangkat?" tanyanya dengan suara mulai panik. Waktu hanya tinggal sekitar satu jam, tidak akan cukup menempuh jarak ke gedung kliennya.
__ADS_1
"Pak Rendi sudah dalam perjalanan, Pak. Beliau langsung menuju ke sana setelah meeting dengan Pak Handoko," jelas Aline yang mulai memahami situasi.
"Ya udah, kamu kabari Rendi lalu segera ke ruangan saya!" Gelagatnya sudah mulai panik beneran ini.
Aline mendial nomor Rendi di HP nya, menceritakan perihal keterlambatan Elang.
"Permasalahannya adalah, Mr. Bryan sangat pemilih. Beliau sendiri yang meminta harus ada Pak Elang dalam pertemuan kali ini," papar Rendi. Alhasil, membuat Aline harus memutar otak untuk membawa Elang berada di sana secepat mungkin. Berapa kerugian perusahaan sudah terbayang di kepalanya. Tiba-tiba saja sebuah ide melintas di otak cantik sekretaris cantik itu. Segera saja ia mendial nomor Irwan, temannya di divisi yang lama.
Setelah dirasa beres, Aline berjalan ke ruangan Elang. Mengetuk pintu dan masuk. "Kamu tanyakan apa di sana ada helipad!" Tanpa ba bi bu Elang memerintah. Aline segera menelpon ke Noah Enterprise. Ternyata di sana tidak tersedia helipad, membuat Elang mulai habis akal.
"Hhhmmmm, Pak!" panggil Aline ragu-ragu.
"Kenapa? Kamu ada ide?" sambar Elang.
"Gimana kalau Bapak ke sana menggunakan motor? Jika pakai motor setelah saya hitung-hitung seharusnya tidak terlambat, itupun sudah saya asumsikan terkena macet beberapa menit." Aline menyampaikan idenya setengah takut. Takut jika bosnya itu malah marah.
Elang menatap Aline dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Hhhhh, masalahnya saya tidak bisa mengendarai motor," akunya pasrah.
Antara ingin tersenyum dan prihatin, Aline bengong menatap bosnya itu.
"Eehhh, enggak kok, Pak. Saya gak begitu," kilah Aline menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Gak usah bohong! Di muka kamu itu jelas semuanya!" Yah, dia merajuk. Membuat tawa gadis itu pecah seketika. "Hahahahahahahaha!" Elang menatap tajam pada gadis yang sedang menertawakan dirinya.
"Mmma.. maaf, Pak. Maaf. Saya gak bermaksud. Habisnya Bapak lucu." Seketika tawanya berhenti dipelototi lelaki itu.
"Ya sudah, saya antar saja kalau gitu!" Ucapnya enteng, setengah mengejek.
Elang malah cemberut di kursi kerjanya.
"Ayo buruan. Waktu kita sudah gak banyak lagi, Pak!"
Dengan malas, Elang beranjak dari kursinya. Mengekori sang sekretaris memasuki lift menuju lobby seperti seorang anak mengekori ibunya. "Mau bagaimana lagi, kali ini nasib perusahaan setengahnya ada di tangan gadis ini, jadi musti mengalah," pikir Elang.
Di dalam lift, Elang berpura-pura menyibukkan diri dengan gadgetnya sambil sesekali mencuri pandang ke arah gadis yang sedang membawa tas tenteng berisi dokumen dan materi rapat. Untung saja ia memiliki sekretaris yang cekatan. Elang senyum-senyum sendiri mengingat situasi dingin antara dirinya dan gadis berpashmina ini mencair karena keteledorannya ini. Selalu ada hikmah di balik setiap kejadian, bukan? Saat ini yang harus ia pikirkan adalah bagaimana cara menarik hati dan minat Mr. Bryan agar kerjasama mereka berakhir dengan kesepakatan kedua belah pihak.
Sementara itu, Aline yang tidak sadar sedang diperhatikan secara diam-diam oleh bos tampannya itu, sibuk dengan pemikirannya sendiri. Sejak percekcokan mereka hari Jum'at yang lalu, Elang berbahasa formal padanya, menghapus panggilan lu-gue yang membuatnya cukup risih, rasanya kurang pantas saja diucapkan antara bos dan bawahan di area kantor.
__ADS_1
Sesampainya di depan lobby, Aline tertegun melihat Irwan sudah menunggu dengan motornya. Dengan senyum sumringah ia menyambut Aline dan CEOnya, lelaki itupun menyapa, "Selamat pagi, Pak Elang, Lin!"
"Pagi, Mas Irwan. I... ini motornya Mas Irwan?"
"Iya, Lin. Baru ini," kelakarnya bangga mengusap-usap body motor kesayangan yang masih mengkilap. "Yang lama gue kasi ke adik gue yang sudah kuliah," jelasnya tanpa diminta. "Jadi mo dipake? Tenang aja, BBM nya full, baru diisi tadi pagi!"
"Eh, i .. i... ya. Jadi, Mas. Jadi," jawab Aline sedikit ragu.
Irwan pun menyerahkan kunci ke tangan Elang yang disambut atasannya dengan senyuman kikuk.
"Kalau gitu, saya permisi kembali ke ruangan, Pak."
"Lin, gue balik dulu ya, ada kerjaan dari Bu Mira," pamitnya.
"Iya, mas. Makasih ya!"
Aline melirik jam tangan, waktu mereka semakin sedikit. Bergegas ia mengambil helm, diberikannya satu kepada Elang, lalu memakai helm untuk dirinya sendiri. Beruntung ia memakai setelan blazer dan celana panjang hari ini, juga sepatu yang cukup nyaman untuk dipakai berkendara.
"Kamu yakin?" tanya Elang. Jelas tergambar raut ngeri di wajahnya.
"Ayo, Pak. Buruan. Nanti kita telat! Tolong bapak dorong dulu motornya ke sana!" perintah gadis itu. Elang dengan pasrah mengikuti instruksi, mulai mendorong motor sedikit menjauh dari depan lobby.
"Stop! Stop! Sudah, Pak. Cukup! Gak ada yang lihat kalau di sini." Aline mengambil alih stang motor, lalu menyerahkan tas yang dibawanya pada Elang.
"Tolong pagangin! Nanti taroh di antara punggung saya dan tubuh bagian depan Bapak buat pembatas." Aline sudah mulai menaiki motor dan menyalakan mesin. Mau tidak mau, Elang menuruti.
Motor berjalan, melaju membelah jalanan kota Jakarta yang padat. Aline sangat bahagia, setelah sekian lama, akhirnya kerinduan akan motor balapnya di Batam dulu terobati juga. Beberapa kali ia berteriak histeris saking senang bisa balapan saat berada di jalanan yang lengang. Sementara Elang, tentu saja ia sangat tidak siap dengan berkendara seperti saat ini. Aline berkendara seperti pembalap, membuatnya mual namun harus tetap awas, takut terjatuh.
"Anggap aja ini balasan karena Bapak udah berkata yang gak sopan tentang saya!" Aline memacu motor semakin kencang. Elang yang berteriak membuat Aline benar-benar puas.
Jalanan sedikit macet. Aline melambat tapi melaju kencang di jalan yang lengang. Jalan alternatif yang dipilih lumayan menghemat waktu. Hingga akhirnya mereka sampai tepat waktu dan masih sempat untuk membenahi penampilan masing-masing. Rendi sudah menunggu di sana bersama Mr. Bryan dan timnya yang juga baru datang.
"Syukurlah kita gak telat, Pak!" ucap Aline penuh syukur.
"Ya. Thanks buat semuanya. Kamu memang luar biasa bawa motornya, crazy heh?" puji Elang.
"Jangan lupa kasih saya bonus," ucapnya ketus menatap bosnya itu.
"Yah, dia masih kesal rupanya," lirih Elang sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
__ADS_1
"Fine, double bonus kalau project kali ini tembus!" balas Elang dengan smirk yang mencurigakan.