Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Maka, Nikmat Mana Lagi yang Kau Dustakan?


__ADS_3

Aline bangun dengan rasa yang berbeda hari ini. Pertemuannya dengan Arya kemarin membuat hari nya menjadi ringan. Entah kenapa penjelasan Arya membuatnya tak menaruh benci lagi pada lelaki itu. Padahal sebelumnya, setiap melihat Arya, bayangan kejadian kala itu selalu membuat emosinya memuncak. "Sungguh, membenci itu berat, biar setan aja yang punya kerja. Kita manusia gak usah ikut-ikutan, nanti neraka jadi penuh, hehehehe ...." Aline tersenyum sendiri dengan celotehannya pagi ini.


Setelah mandi, Aline memilih pakaian yang akan dikenakannya. Pilihannya jatuh pada setelan blazer warna hijau army dengan motif salur dengan model outfit yang kekinian yang sangat nyaman dipakai namun tetap sopan. Ia padupadankan dengan tanktop turtleneck berwarna putih untuk daleman, pashmina putih dan flatshoes warna senada, membuat penampilannya sangat elegan.


Seperti biasa, sembari menunggu babang ojek menjemput, Aline mengabsen barang bawaannya satu per satu:


HP ✓,


dompet ✓,


notebook dan pena ✓,


bekal ✓,


pashmina cadangan ✓,


mukenah ✓,


bedak dan lipstik ✓.


Setelah semuanya lengkap, Aline segera keluar dan mengunci kontrakannya, siap menunggu babang ojek di teras mungilnya yang hampir gersang. Selintas Aline berpikir untuk menanam beberapa jenis bunga lengkap dengan pot-pot yang unik untuk mempercantik teras mungilnya ini, nanti.


Dua puluh lima menit kemudian, Aline sudah sampai di gedung Atmaja Corp. Ia langsung saja menuju lift untuk ke ruangan Manajer HRD berada. Entah sudah yang ke berapa kali ia menginjakkan kaki ke lantai ini sejak bekerja di sini. Tepat pukul 7.55, om Rahman keluar dari lift yang membawanya dari lobby.


"Aline, kamu tunggu sebentar ya. Nanti Om panggil," ucapnya saat Aline berdiri dari kursi yang didudukinya.


"Baik, Pak," jawabnya formal karena ada karyawan lain yang kebetulan berjalan tak jauh dari mereka.


Pak Rahman lalu memasuki ruangannya. Setelah meletakkan tas kerja dan membuka jasnya, beliau menelpon Rendi, Direktur Keuangan, yang akan menjadi atasan Aline berikutnya, namun telponnya tak dijawab. Ia lalu menelpon Shayna, sekretaris Direktur Keuangan.


Shayna mengatakan bahwa Rendi baru akan tiba di kantor siang hari nanti antara pukul 10 atau 11, karena beliau langsung menghadiri rapat bersama klien di luar kantor menggantikan Pak Erlangga yang sedang melakukan perjalanan dinas ke luar kota. Setelah mengucapkan terima kasih, pak Rahman menutup telpon lalu memanggil Aline untuk masuk ke ruangannya. Namun karena belum bisa menyerahkan Aline ke Keuangan, akhirnya pak Rahman hanya meminta Aline untuk membaca dan mempelajari profil Bagian Keuangan Atmaja Corp.


"Kamu baca dulu profilnya, Lin. Om yakin, lulusan terbaik magister ekonomi dari Sydney seperti kamu gak akan sulit untuk beradaptasi di Keuangan nanti."


"Aku akan berusaha sebaik mungkin dan belajar dari teman-teman di sana, Om."


Karena tak ingin mengganggu Pak Rahman dalam bekerja, Aline memutuskan untuk menunggu di luar saja.


"Om, aku baca di luar aja ya. Di kantin, di lobby atau dimana gitu biar gak ganggu Om kerja. Nanti sekitar jam 10 balik lagi ke sini."


Pak Rahman mengangguk mengizinkan. "Ya udah. Nanti tunggu telpon dari Om aja baru kamu balik lagi ke sini."


"Baik, Om. Kalau gitu aku keluar dulu."


"Hm."

__ADS_1


Di sinilah Aline, berada di ketinggian rooftop gedung Atmaja Corp., ia duduk bersila di sebuah bangku kayu dengan cat yang sudah terkelupas terkena hujan dan panas matahari. Ia asyik membaca dokumen yang diberikan oleh pak Rahman sembari berjemur mentari pagi yang hangat. Di sela-sela kegiatannya, Aline menguap beberapa kali, pertanda bahwa ia kurang tidur. Bang Cris mengajaknya video call tadi malam, setelah ia pulang bekerja. Hasilnya, baru jam segini Aline sudah mengantuk.


"Huuufffft ... gara-gara bang Cris nih, ngajak begadang semalaman," gerutunya. Lalu beranjak menuju kantin untuk membeli secangkir kopi.


Baru saja Aline menyeruput setengah kopinya, om Rahman menelpon mengatakan bahwa pak Rendi sudah menunggu di ruangannya. Segera sedikit berlari kecil gadis itu kembali ke ruangan Manajer HRD nya. Lalu, bersama mereka ke ruangan Direktur Keuangan, yang tak lain adalah Rendi, anak mantan majikannya.


Aline sedikit kikuk sesaat dikenalkan oleh pak Rahman. Tetapi Rendi terlihat santai saja.


"Kita ketemu lagi, Lin. Selamat bergabung di Keuangan," ujarnya sangat santai sehingga membuat pak Rahman menarik kesimpulan bahwa kedua anak muda ini sudah saling mengenal.


"I ... iya Pak. Kita ketemu lagi. Mohon bimbingannya!" ucap Aline formal.


Pak Rahman segera undur diri begitu tugasnya selesai.


"Baiklah, Pak Rendi. Aline sudah berada di bawah bimbingan Anda. Kalau begitu saya permisi."


"Silahkan, Pak Rahman. Terima kasih. Selamat bekerja."


"Terima kasih, Pak Rendi. Selamat bekerja."


Rendi lalu memanggil sekretarisnya lewat interkom. Setelah itu, ia kembali menatap Aline.


"Lin"


"Iya, Pak."


Aline mengangguk patuh.


Shayna mengetuk pintu dan masuk setelah mendapat izin dari atasannya itu.


"Nah, Lin. Kenalin ini Shayna, sekretaris saya. Shayna, ini Aline. Dia yang akan membantu tugas kamu," Rendi memperkenalkan Aline kepada sekretarisnya.


"Baik, Pak Rendi." Shayna lalu menjabat tangan Aline.


"Lin, Shayna ini akan sangat sibuk membantu saya menyiapkan HUT perusahaan. Jadi, tugas kamu adalah meng-handle sebagian tugas Shayna yang kamu bisa. Yah, semacam sekretaris dua gitu. Silakan kalian berbagi tugas nanti!"


"Siap, Pak Rendi," jawab keduanya serempak.


"Sepertinya kalian akan cocok. Baru kenal saja sudah sangat kompak," seloroh Rendi.


Aline dan Shayna hanya saling pandang dan tersenyum.


"Oke. Shayna, tolong nanti kamu minta meja untuk Aline ya. Kamu atur aja dimana bagusnya. Sekalian tolong kenalin ke anggota yang lain ya!"


"Baik, Pak Rendi. Nanti saya ajak Aline keliling."

__ADS_1


"Oke. Thanks ya."


"Sama-sama, Pak Rendi."


"Nah, Lin. Selamat bergabung di Keuangan. Semoga bisa beradaptasi dengan baik ya. Kalau kamu butuh bantuan, bisa minta tolong Shayna atau saya juga boleh."


"Terima kasih, Pak."


"Semoga betah ya. Oke. Kalian boleh kembali ke meja masing-masing."


"Terima kasih, Pak," ucap kedua gadis cantik itu berbarengan, lagi. Lalu mereka tertawa bersama sembari meninggalkan ruangan pak Rendi.


Rendi yang melihat kekompakan kedua gadis itu juga ikut tersenyum.


Begitulah hari pertama Aline di divisi keuangan. Shayna sangat pandai, ia membimbing Aline dengan tugas-tugas barunya. Shayna adalah gadis manis keturunan thionghoa, berperawakan langsing semampai, walaupun tidak setinggi Aline. Gadis itu sangat fashionable, khas sekretaris dalam drama-drama Korea yang sering ditonton Hana. Sedangkan Aline adalah tipe orang yang mudah belajar dan mudah bergaul, sehingga tidak ada kendala diantara keduanya.


Seperti yang disampaikan Rendi, baik Rendi maupun Shayna menjadi sangat sibuk akhir-akhir ini karena acara HUT Perak Atmaja Corp sudah semakin dekat. Dan selama Shayna sibuk dengan persiapan HUT, Aline-lah yang mem-back up pekerjaannya di kantor. Belakangan, hari-hari Aline menjadi sangat sibuk. Tak terasa, sudah dua bulan lebih Aline bekerja sebagai sekretaris dua Direktur Keuangan. Sementara Shayna semakin sibuk dengan tugasnya sebagai Koordinator Acara HUT Perak Atmaja Corp yang berlangsung kurang lebih satu bulan lagi. Dapat dikatakan saat ini Aline-lah yang lebih banyak berperan sebagai sekretaris Rendi daripada Shayna, sehingga jam pulang yang seharusnya tetap pukul 14.30 selalu bergeser satu jam bahkan lebih. Hal ini juga berakibat pada pekerjaannya di Resto.


Beruntungnya, Abah dan Bunda tidak keberatan dengan kondisinya sekarang. Bahkan saat Aline menyampaikan niatnya untuk mengundurkan diri dari perusahaan, Abah dan Bunda malah melarang keras niatnya itu. Pernah sekali Aline meminta pendapat dari orang tua angkatnya itu, karena merasa sudah sangat tidak enak dengan Abah, Bunda dan teman-teman karyawan Resto yang lain karena ia sering kali terlambat, yaitu mengenai apakah ia harus mengundurkan diri di perusahaan atau tidak. Dan ternyata jawaban Abah dan Bunda membuatnya terharu.


Flash back on:


Hari itu, Aline menginap di rumah Abah dan Bunda atas permintaan Hana, berhubung besok hari Sabtu, jadi keduanya dapat jatah libur di Resto dan berencana untuk menghabiskan waktu berdua. Seperti biasa, bila setelah sarapan seperti ini, Abah dan Bunda selalu berkumpul di teras samping sembari memberi makan ikan-ikan kesayangan Abah. Hana dan Aline ikut berkumpul. Hana sibuk dengan gadgetnya, sedangkan Aline merasa perlu membicarakan sesuatu dengan keluarga ini.


"Bun, maaf ya kalau akhir-akhir ini saya sering terlambat datang ke Resto. Pekerjaan di kantor benar-benar sedang banyak."


Bunda mengangguk memaklumi. "Ya tidak apa-apa, nduk. Justru Bunda khawatir sama kesehatan kamu."


"Insya Allah Aline baik-baik aja kok, Bun. Cuma gak enak aja sama Bunda, Abah, Hana dan teman-teman yang lain. Saya sedang memikirkan untuk mengundurkan diri di perusahaan itu, cuma sekarang sepertinya bukan waktu yang tepat."


"Kenapa harus mengundurkan diri?" Abah ikut berkomentar. "Apa kamu sudah gak sanggup double job?"


"Bukan begitu, Bah. Insya Allah saya masih sanggup. Tapi karena pekerjaan di kantor, saya jadi sering terlambat datang ke resto. Bagaimanapun, saya juga memiliki tanggung jawab di resto."


"Memang benar kamu memiliki tanggung jawab di Resto. Tapi kamu juga diamanahi oleh pak Gunawan dan istrinya untuk membantu di perusahaannya, dan kamu juga memiliki tanggung jawab untuk itu. Jika kamu sanggup menjalani keduanya, Abah pikir kenapa harus memilih salah satu? Benar tidak, Bun?"


"Apa yang dibilang Abah itu benar, Nak. Bukankah Abah sama Bunda sudah mengizinkan dulu untuk kamu double job, sebelum kamu menerima amanah pak Gunawan dan istrinya? Selagi kamu sanggup menjalaninya, Abah sama Bunda tidak masalah kamu mau telat atau tidak, yang penting tugas pembukuan tetap kamu yang pegang dan semuanya beres. Iya kan, Bah?"


"Betul, Bun. Sekarang mencari pekerjaan itu sulit, Nak. Terlebih dengan kondisi kamu yang, maaf kata sebelumnya, Abah tidak bermaksud menyinggung, tapi tanpa KTP dan ijazah sekarang ini sangat sulit mendapatkan pekerjaan di kota besar seperti Jakarta ini, terlebih perusahaan itu bukan perusahaan sembarangan. Kamu sangat beruntung. Jika dipikir-pikir, gaji yang kami berikan mungkin tak seberapa dibandingkan dari gaji yang kamu terima dari perusahaan itu. Abah bersyukur kamu tidak terpikir untuk mengundurkan diri dari resto. Jujur saja, kami belum siap untuk melepas kamu. Bukan Abah dan Bunda memaksa untuk tetap di resto, tapi untuk saat ini kami sangat mengharapkan bantuan kamu. Kan kamu tau sendiri Abah dan Bunda sama sekali buta dengan hal-hal yang berbau pembukuan itu. Sedangkan Hana, masih kuliah. Jadi, selama kamu sanggup, jalani lah keduanya. Urusan jam kerja kamu di resto, usah dipikirkan! Nanti biar Abah dan Bunda yang memberi pengertian sama yang lain."


"Tenang aja, Mbak Aline. Siapa nanti yang rese ngurusin jam kerja Mbak, akan berhadapan sama aku," Hana yang sedari tadi terlihat sibuk dengan gadgetnya juga ikut nimbrung. "Semongko siiiiiist!!!!!" candanya menirukan jargon yang lagi viral. Abah, Bunda dan Aline tertawa melihat tingkah lucu Hana.


Semua yang disampaikan oleh Abah dan Bunda membuat Aline terharu. Memang pembukuan Resto dan Cafe Abah dipegang oleh Aline, dan semuanya tertib. Bahkan Aline juga sudah mulai mengajarkan Hana yang saat ini sudah kuliah di jurusan ekonomi.


Flashback off.

__ADS_1


Tiada henti syukur yang ia ucap karena Allah mempertemukannya dengan keluarga angkatnya yang baik, dan rekan-rekan kerja yang baik pula. Orang tua angkatnya itu selalu menyemangati Aline untuk tetap berkarya, belajar dan bekerja di perusahaan sekelas Atmaja Corp. Bahkan mereka mendukung Aline dengan memberikan dispensasi waktu kerja di restonya. Sungguh suatu hal yang patut ia syukuri. Maka, nikmat mana lagi yang kau dustakan?


__ADS_2