Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Tak Dikenali, Bete! (2)


__ADS_3

Sementara itu di perjalanan, Aline sedikit risih duduk di samping Elang. Pasalnya sedari tadi, Elang terang-terangan menatap Aline setiap ada kesempatan.


"Apa ada yang salah dengan saya, Pak?"


"Sialan, gue dipanggil 'Bapak' sama cewek ini," bathin Elang merutuk.


"Maksud kamu?"


"Bapak dari tadi ngelihatin saya seperti melihat terdakwa kasus tindakan pidana," celetuk Aline.


"Eehhhmmm ...." Elang berdehem untuk meredakan tawa yang hampir saja meluncur dari bibirnya. "Lucu juga cewek ini," pikirnya.


"Pak! Kok malah bengong?"


"Gak ... gak kenapa-napa. Gue heran aja darimana lo belajar cara nyelamatin nyokap gue waktu serangan jantung kemarin."


"Ooooh, ituuuu. Kenapa gak nanya dari tadi, Pak? Kalo saya dilihatin terus saya mana tau kalau Bapak penasaran."


"Jawab aja, gak usah pake mukadimah!"


"Galak bener," pikir Aline. "Ii ... itu. Jadi waktu SMP dan SMA dulu saya ikut ekskul PMR. Kita ada diajari cara memberi BHD, Bantuan Hidup Dasar."


"Oh."

__ADS_1


"Ada lagi yang mau ditanyakan, Pak?"


Elang hanya mendelik. Yang didelik malah merinding. "Astaghfirullah, syerem juga nih orang," bathin Aline.


Elang kehabisan topik pembicaraan. Tadinya banyak yang ingin ia tanyakan pada gadis ini, tapi kenapa sekarang tiba-tiba blank begini? Membuatnya kesal sendiri.


Hening, tak ada lagi percakapan hingga mobil Elang berhenti di depan pagar rumah Abah. Aline tidak menaruh curiga atau heran kenapa Elang bisa tahu alamat rumah Abah. "Mungkin saja sudah dapat info dari bu Luna, mamanya," pikirnya positif. Lalu ia mengucapkan terima kasih dan salam, kemudian segera turun dari mobil Elang.


"Huuuffft ... lega rasanya. Lama-lama semobil dengan Pak Elang bisa bikin aku mati lemes karena sesak napas. Syerem orangnya!" gumam Aline. Ia lalu berbalik arah menuju kontrakannya. Rumah Abah jam segini tentu masih sepi. Hanya ada bibi di rumah. Sejak bertransformasi, kini dapur untuk resto Abah bukan lagi di rumahnya, tapi sudah di bangunan tiga lantai itu, dan jam segini pasti Abah dan Bunda masih di sana.


Sementara itu, mood Elang semakin buruk sepeninggal Aline. "Gadis itu tidak menaruh curiga atau nanya gitu, kenapa gue bisa tahu alamat rumahnya tanpa bertanya. Apa-apaan itu. Apa dia benar-benar telah melupakan malam pengeroyokan itu? Apa sebegitu gak berartinya gue di matanya, sampai-sampai dia gak inget gue sedikitpun. Sialan! Gak ada yang pernah ngelupain gue!" marahnya entah pada siapa.


"Lo lupa kalau muka lo babak belur malam itu, ya wajar juga kalau dia gak ngenalin elo, Lang. Ngapain diambil hati sih? Cewek gak penting juga," otaknya memberi pencerahan. Tapi, tetap saja kejadian ini mempengaruhi mood Elang. Bahkan sampai di kantor pun, Elang masih memasang mode badmood-nya. Tak ada satupun sapaan dari karyawannya yang ia jawab siang itu.


Dengan malas, Elang mulai membaca dan mempelajari dokumen yang telah diletakkan sekretarisnya di meja kerjanya. Elang mencoba fokus, tapi pikirannya selalu saja ke gadis pashmina itu.


Dira yang mendapat perintah seperti itu segera bergegas menuju pantry, membuatkan kopi untuk CEO-nya yang sedang tidak baik-baik saja. "Kenapa lagi sih, Pak Elang? Gak biasa moodnya bisa hancur gitu. Huuuh, syerem gue kalo udah badmood gitu. Yang sabar ya, Nak. Bos Bunda jarang-jarang kok kek gini," ucapnya seraya mengelus-elus perutnya yang sedikit membuncit. Buru-buru ia hantarkan kopi pesanan bosnya.


"Ini, Pak, kopinya silakan diminum!"


"Hm, taruh saja di situ!" jawabnya tanpa memindahkan fokusnya dari dokumen yang sedang ia baca.


"Ada lagi yang bisa saya bantu, Pak?"

__ADS_1


"Gak ada. Kamu balik aja ke meja kamu!"


"Baik, Pak. Saya permisi."


"Hm."


Elang menyeruput kopinya. Pikirannya benar-benar tak bisa fokus. Katakanlah ia orang yang sombong atau apa. Tapi, sepanjang hidupnya, baru kali ini ada orang yang tidak mengenalinya di pertemuan kedua mereka. Egonya agak terusik oleh gadis pashmina itu. Sial. Sial. Sial.


Elang memutuskan mencari udara segar di rooftop gedung kantornya. Tempat biasa ia menenangkan diri. Teriknya mentari mulai berangsur pudar. Ia menghirup udara dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Berulang kali gerakan itu ia lakukan, hingga pikirannya rileks dan kembali ke kantornya.


Detik selanjutnya, Elang kembali ke ruangannya, mencoba fokus pada dokumen kontrak yang sedang dipelajarinya sedari tadi. Bayangan nasib ribuan karyawan yang menopangkan hidup di perusahaannya berhasil perlahan menarik fokusnya kembali pada pekerjaannya. Hingga malam menjelang, Elang baru selesai mempelajari dua buah kontrak yang akan ditandatanganinya. Diberinya catatan kecil pada kedua kontrak itu, lalu diletakkannya di meja Dira yang kosong karena sekretarisnya itu sudah pulang sedari sore tadi. Dan ia pun turun menuju mobilnya.


Kali ini, tujuannya adalah mencari makan malam. Ia teringat sebuah resto dan cafe yang cukup ramai yang tadi sempat dilihatnya sewaktu mengantar gadis pashmina itu. Mengingat Aline, moodnya kembali rusak.


Ia melajukan mobilnya menuju Resto dan Cafe Abah.


"Ramai juga pengunjungnya," gumamnya.


Elang memarkirkan mobil dan segera menuju resto di lantai dasar. Berharap makanan di resto itu bisa mengembalikan moodnya.


Di dalam resto, Elang disambut oleh seorang pramusaji yang mengantarkannya pada satu-satunya meja yang kosong di lantai itu. Elang memesan beberapa menu untuk makan malamnya.


"Namanya sih gak menjual, Resto dan Cafe Abah, tapi dekorasinya benar-benar asyik. Nyaman dengan nuansa alam," Elang mulai menilai. Ada beberapa wastafel dipasang di sepanjang dinding resto. Di setiap pojok ada kolam ikan, kebun mini dan taman mini yang terawat. Meja-meja dan kursinya terbuat dari rotan, hiasan pernah pernik lampu-lampunya pun terbuat dari anyaman. Kaca-kaca besar mendominasi dindingnya yang sebagian besar terbuat dari anyaman pula, membuat resto ini terasa luas. Semua perabotan disusun dan ditata dengan sangat pas dan indah, benar-benar memberikan nuansa alam yang teduh.

__ADS_1


Tak berapa lama, pesanan Elang sudah terhidang di mejanya. Di saat moodnya jelek begini, makanan lezat memang menjadi pelampiasan Elang. Semua pesanannya terlihat menggugah selera. Semoga saja cita rasanya berbanding lurus dengan penampilan menu-menu yang dipilihnya ini. Setelah membaca do'a, Elang langsung menyantap ikan gurame bakar dengan saus kecap pedas, menu favoritnya. Dan seketika lidah Elang dimanjakan oleh cita rasa bumbu ikan bakar yang gurih, sedikit pedas, dengan aroma khas daun pisang. Ditambah lagi dengan ikan gurame yang rasanya masih manis, pertanda bahwa ikan tersebut adalah ikan segar yang baru dimasak. Benar-benar nikmat dimakan dengan nasi hangat. Ditemani tempe dan acar mentah, membuatnya lupa akan sekitar. Tak ia ingat lagi kekesalannya akan gadis pashmina itu sepanjang hari ini. Masa bodoh. Entah mereka akan bertemu kembali atau tidak di masa yang akan datang.


Setelah menghabiskan seporsi ikan gurame bakar, udang saus Padang dan sepiring salad buah, Elang memutuskan pulang ke apartemennya dengan hati senang dan perut yang kenyang. Makanan lezat memang selalu bisa mengembalikan moodnya.


__ADS_2