
Setelah membantu Rio belajar tentang sholat, Aline pun menuju dapur berniat membuatkan sesuatu yang spesial untuk Abang kesayangannya itu. Ia mencari sesuatu yang bisa diminum dan dimakan. Tapi hasilnya nihil. Diambilnya panci dan air hangat dari keran, lalu dijerangnya. Biar cepat mendidihnya, lumayan menghemat waktu.
"Sayang sekali, dapur sebagus ini gak ada yang bisa dimasak. Kulkas gede tapi kosong melompong," celetuk Aline, ia seperti mengalami de Javu, teringat pernah mengalami hal yang sama beberapa waktu lalu di dapur apartemen milik Pak Elang, sedikit kesal karena niatnya membuat kejutan dengan membuatkan sarapan kesukaan abangnya tidak akan kesampaian jika begini caranya.
Tak lama kemudian, Ricky berjalan menuju kulkas, maksudnya ingin mengambil air minum karena air mineral botolan yang kemarin dibeli sudah habis. Akan tetapi jangankan ada isinya, hidup saja kulkasnya tidak.
"Gak ada yang bisa diminum?" tanyanya pada gadis yang tengah membungkuk sibuk membuka dan menutup laci dan rak dapur, berharap menemukan sesuatu yang bisa diolahnya menjadi sarapan.
"Nope. Itu airnya baru aja mendidih. Masih panas tapi udah aku salin ke piring biar dinginnya lebih cepat. Minum aja dikit-dikit pake sendok!" Cuek gadis itu berkata. Mendengar tidak ada komentar dari lelaki yang paling jahil dalam hidupnya, iapun berdiri dan menghadap Ricky. Wajah lelaki itu terlihat menahan sesuatu. "Air di dispenser ada, tapi gak tahu itu umurnya udah berapa abad, kayaknya bagian dalam galonnya udah licin berlumut saking lamanya gak diganti, sapa tau juga ada cacingnya, hihihi...," Rosaline cekikikan sendiri dengan kalimatnya barusan membuat Ricky mau tak mau mengikuti saran konyol adiknya itu, mengambil air di piring dan sendok makan. Memang bisa jadi air di dispenser apart ini udah bertahun-tahun karena memang Rio jarang mengunjunginya. Ricky menghela napas kasar dan menjitak kepala adiknya sambil berlalu dari dapur. Suatu kebiasaan yang selalu dilakukannya sejak dulu karena adiknya itu selalu menggemaskan di matanya.
"Aww... Ih, gak berubah dari dulu. Tetap nyebelin seperti biasa!" sungut Aline. Ricky seperti biasa, tak menanggapi, merasa tak berdosa telah menjitak kepala adiknya tanpa alasan.
"Memang udah dua tiga tahun Abang gak ke sini. Kalau aja rencana menghadiri undangan kemarin sesuai rencana awal, pasti udah Abang suruh apart ini dibersihkan dari kemarin-kemarin. Tapi karena perubahan rencana yang mendadak, maka orangnya cuma sempat membersihkan tanpa sempat melengkapi dengan makanan dan minuman. Tadinya ko mau Abang suruh cari tempat nginap sendiri, Rick, tapi syukurnya keberuntungan berpihak pada Abang, jadi Abang bisa ikut menghadiri undangan itu dan menemukan princess kita ini di sana." Rio yang kebetulan sudah keluar kamar mendengar percakapan kedua adiknya di dapur, langsung menghampiri dan mengklarifikasi. Sementara Ricky, yang namanya disebut-sebut hanya mendengus.
"Kalau gitu kita cari sarapan di luar aja yuk! Aku tahu tempat yang enak," ajak Rosaline.
"Eh, gak mau!" tolak Ricky mentah-mentah. "Gimana kalau kita belanja bahan makanan aja. Aku lihat-lihat, Princess kita ini sudah pandai masak sekarang. Aku mau coba masakan Princess. Ko mau gak, Bang?" tanya Ricky pada Rio yang dibalas anggukan oleh abangnya itu.
"Ko lihat aku masak dimana emangnya? Atau jangan-jangan... kalian udah nemuin aku selama ini tapi sengaja mendiamkan?" Aline menyambar kalimat yang diucapkan Ricky tadi. Ia harus memastikan, apakah seluruh keluarganya sudah tahu keberadaan dirinya kini. Apakah papi juga sudah tahu?
"Ya udah. Ayo belanja sekarang! Ncess, jadi supir kita berdua ya! Kita kan gak kenal daerah sini." Ricky menaik turunkan alisnya seraya memberikan kunci mobil pada Rosaline, sengaja tak memberi peluang gadis itu untuk berpikir lebih jauh.
Rosaline menerima kunci dengan sedikit dengusan, membuat Ricky yang memang senang sekali menggodanya tertawa renyah. Begitu juga dengan Rio. Ia mengusap sayang rambut adik perempuan satu-satunya itu yang sangat dirindukannya.
"Bentar ya, Bang. Aku pake jilbab sama ngambil tas dulu." Aline lantas berlari ke kamarnya, memasang jilbab dan mengambil tas tangannya. Rio dan Ricky telah menunggu di pintu apart. Mereka bertiga akhirnya memasuki lift dan menekan tombol basemen. Lift sepi karena memang weekend, kebanyakan pada jam segini penghuni apart ini jika tidak masih tidur, pasti sudah berada di luar apart untuk berolah raga atau sekedar duduk di taman.
Di lantai tiga, lift berhenti. Sepasang manusia yang dikenali Aline sebagai Ethan dan istrinya, Aura, memasuki lift. Ethan kaget saat hendak memasuki lift, melihat gadis yang masih mengisi hatinya bersama dua lelaki tampan dari klan Tiocandra yang tersohor. Bahkan, Aura sempat menarik tangan suaminya itu untuk menaiki lift karena Ethan terdiam cukup lama di pintu lift, mengakibatkan lift tidak bisa menutup.
Aline diapit oleh dua lelaki, membuat mulut Aura yang masih memendam kesal karena suaminya ternyata masih menyukai gadis di depannya ini menunjukkan rasa tidak sukanya.
"Pagi, Lin. Kalian? Nginap di sini juga?" tanya Aura dengan aura sinisnya sembari menatap dua lelaki yang mengapit gadis itu. Ethan menggenggam erat tangan istrinya, isyarat meminta untuk tidak mencari gara-gara. Namun, Aura tidak peduli.
'"Iya, nginap bareng kita berdua di lantai 11." Bukan Aline, tapi Ricky yang menjawab. Ia tidak suka dengan nada bicara wanita di depannya ini yang mengatakan seolah-olah adiknya bukan perempuan baik-baik. Rio bahkan sudah mengeraskan rahangnya, tapi ia membiarkan Ricky mengurusnya dulu. Membuat sedikit perhitungan dengan wanita ini tidak masalah, bukan?
__ADS_1
Aura yang memang sudah tinggal di apartemen ini sekian lama tahu jika lantai sebelas adalah unit paling mewah di gedung ini, dan Ricky senang melihat perubahan air muka Aura saat ia mengatakannya tadi.
"Kalian tinggal di sini juga?" Tanya Ricky, lebih kepada Ethan yang dikenalnya tadi malam saat di pesta.
"Hanya menginap semalam, karena lebih dekat dengan lokasi pesta. Terlalu jauh bila harus pulang ke rumah. Unit kami ada di lantai tiga tadi." Ethan menjawab sedikit kikuk. Merasa tak enak dengan ucapan istrinya tadi.
"Sayang, kita mau belanja di mana rencananya?" Rio mengabaikan pembicaraan Ethan dan Ricky, bertanya pada adiknya. Sementara Ethan langsung menatap Aline. Belum sempat gadis itu menjawab, Ricky langsung menyambar.
"Kita ke butik aja dulu bang. Kasihan princess kita belum ganti baju dari kemarin. Pasti gerah kan, Sayang?" Ricky mengucapkannya seringan bulu, lalu mengusap sayang kepala sang adik. Sengaja memanasi Aura, membuat Rio tersenyum samar. Tetapi malah Ethan yang menahan amarah, tidak rela. Ia geram kenapa gadis itu terlihat biasa saja dengan usapan duo Tiocandra. Saat bersamanya dulu, untuk duduk saja harus menjaga jarak.
"Eh gak usah ke butik, Bang. Kita langsung pulang ke rumah aku aja dulu. Nanti makan di rumah, aku buatin sarapan!" ucap Aline mencoba menawar. Aline jelas tidak perduli dengan aura sinis yang ditunjukkan oleh Aura. Ia terlalu malas untuk mengurisi hal-hal unfaedah semacam itu. Wajah Aura sudah menunjukkan rasa jijik, dan Ethan memandang lekat Aline.
"Ya udah, nanti tidur bentar ya di rumah kamu. Capek banget tadi malam kita kurang tidur. Kamu subuh-subuh udah ngajak bangun." Ucap Ricky ambigu. Ricky memandang pasangan di hadapannya. Aura semakin kesal, dan Ethan semakin mengeraskan rahangnya, menahan amarah. Seketika Ricky mengerti ada cinta segitiga antara adiknya dan pasangan di depannya ini. Ternyata sang suami menyukai adiknya, pikir Ricky dengan smirk andalannya.
Lift berhenti di basemen, Rio segera menggandeng tangan adiknya. Aline yang diperlakukan begitu, hanya bisa pasrah. Rio meminta kunci mobil pada Aline, lalu melemparkannya pada Ricky. "Ko yang nyetir. Nanggung!" titah Rio.
Rio membukakan pintu untuk Aline, lalu berjalan mengitari kemudi dan duduk di kursi penumpang bagian depan. Sedangkan Ricky terpaksa menjadi supir.
Kelakuan mereka bertiga tak luput dari tatapan tajam Aura. "Jijik banget kan lihatnya! Berjilbab tapi ternyata jal***!" ucapnya, membuat Ethan murka seketika.
Sementara itu, mobil yang dikemudikan Ricky melaju di jalanan ibukota yang cukup lengang saat weekend begini. Setelah menempuh perjalanan sejam lebih, akhirnya tiba juga di rumah kontrakan Aline. Rio berniat mengguncang bahu Rosaline yang tertidur sepanjang jalan, tetapi ternyata Rosaline sudah bangun duluan dan duduk dengan wajah garangnya.
"Kalian tau rumah aku, Rick! Bang Rio!" Ini pernyataan, bukan sekedar pertanyaan lagi. Aline sengaja tidak memberi tahu alamat maupun menunjukkan jalan menuju rumahnya. Ia ingin membuktikan kecurigaannya atas ucapan Ricky di apartemen tadi. Tetapi Ricky dengan lancarnya mengemudikan mobil dan berhenti tepat di depan pagar rumah kontrakannya. Ia memandang kesal kedua lelaki di mobil itu. Ricky dan Rio terdiam, baru menyadari jika mereka terjebak. Adiknya itu ternyata sengaja pura-pura tidur dan terbangun saat mobil telah berhenti di tujuan. "Sayang, Abang bisa jelaskan," Rio mencoba membujuk adiknya.
"Jelasin di rumah!" Dingin ucapan itu meluncur dari bibir mungil sang putri. Rio dan Ricky hanya bisa menurut jika sang putri sudah begini. Salah mereka juga yang gegabah.
Aline atau Rosaline turun dan berjalan mendahului masuk ke dalam rumah. Saat Rio dan Ricky hendak masuk, ia pun melarangnya.
"Kalian berdua tunggu di luar aja. Kita harus ketemu sama Abah dan Bunda dulu, baru boleh masuk ke dalam kontrakan aku! Aku gak mau dicap perempuan gak benar karena membawa dua laki-laki ke dalam rumah!" ucapnya masih dingin membuat kedua lelaki itu tak bisa berkutik selain menuruti kata sang adik. Mereka berdua akhirnya duduk di kursi teras.
"Padahal perempuan tadi terang-terangan nyindir dia tidur sama dua lelaki, dia gak ngeh. Giliran gak ada orang yang komen eh malah takut dikomplain. Kadang-kadang oon juga nih si Princess," ceplos Ricky, membuat Rio tersenyum samar membenarkan perkataan Ricky. Adiknya kadang-kadang memang kurang peka. "Iya. Padahal kalau dia peka sedikit aja, aku jamin perempuan tadi bakal dapat sarapan spesial pagi ini," seloroh Rio membayangkan ucapannya tadi.
Aline memasuki rumahnya, mencuci muka dan mengganti pakaian. Ia lantas membuat sarapan nasi goreng seafood spesial untuk kedua abangnya, menu favorit para abang. Kebetulan sekali di rumahnya ada nasi semalam yang sengaja ia masak lebih banyak karena ada Hana dan temannya yang datang untuk me-make over penampilannya, tapi mereka menolak untuk makan bersama sehingga nasi di rice cooker tidak tersentuh, dan stok seafood yang rencananya akan dijadikan lauk kemarin juga masih ada di kulkasnya, jadi pas sekali. "Ah, memang rejeki mereka berdua. Pun bisa buat Abah, Bunda sama Hana juga nih. Sayang banget bang Cris gak ada di sini," lirihnya sedih. Gadis itu melanjutkan kegiatannya dengan khusyu'.
__ADS_1
Setelah hampir satu jam berkutik di dapur, Rosaline menata tiga piring nasi goreng ke atas nampan dan menaruhnya di meja dapur. Menunggu sarapan sedikit hangat, ia membawa teko berisi air putih dan gelas-gelas ke teras dan menghidangkannya di meja teras. Terlihat jus jeruk yang dihidangkannya tadi sudah tandas di masing-masing gelas milik Rio dan Ricky. Ternyata kedua abangnya itu benar-benar haus dan kelaparan. Masih dengan mode diam, bergegas ia kembali ke dalam dan mengambil nampan sarapan.
Saat tiba di teras, Aline menghidangkan nasi goreng spesial di meja membelakangi pagar masuk. Ada suara yang menyela kegiatannya itu.
"Wah, pas sekali nasi gorengnya tiga piring!" Suara itu terdengar sangat riang. "Sepertinya enak banget!"
Aline lalu berbalik dan terpekik senang.
"Aaarrrgghh, Bang Cris!!!" Ia menghambur ke pelukan si pemilik suara itu, memeluknya erat, melepas rindu. Cris sampai terhuyung ke belakang karena semangat adiknya itu.
"Wooo... wooo... wooo" ucapnya membalas pelukan dan mengusap lembut kepala Rosaline yang terbalut jilbab instan.
"Calm down, baby!" ucap lelaki tampan yang mengenakan kemeja dan celana bahan itu.
"Bang Cris kapan datang?" tanyanya. Perasaan tadi waktu menghidangkan air putih, ia tidak melihat Abang tertuanya ini.
"Baru aja. Dari bandara langsung ke sini." Tanpa basa basi Cris mengambil posisi duduk manis di salah satu kursi teras dan langsung saja menyantap sarapan buatan sang adik, diikuti Rio dan Ricky. Ketiganya berdecak kagum. Masakan adiknya memang sangat nikmat! Bukan hanya karena sekedar lapar, tapi ini benar-benar lezat.
Aline masih berdiri di belakang kursi Cris. Melihat ketiga abangnya memakan sarapan buatannya dengan lahap sudah membuatnya senang dan kenyang di saat bersamaan. Aline memilih untuk memijit pundak Cris, berharap bisa membuat rasa lelah yang tadi menggelayuti lelaki tiga puluh tahun itu menjadi berkurang. Tadi subuh Rio mengatakan bahwa abangnya itu tidak bisa menghadiri undangan karena ada jadwal operasi hari ini yang tak bisa ia tinggalkan.
"Oia, Bang. Kata Bang Rio tadi Bang Cris gak bisa ikut karena ada jadwal operasi yang gak bisa digantiin hari ini. Kok sekarang udah ada di sini? Batal ya operasinya? Operasinya bisa digantiin? Atau pasiennya menolak untuk di operasi? Atau pasiennya gak bisa dioperasi lagi?" Aline memberondong Cris dengan pertanyaan. Sementara Rio dan Ricky berebut untuk menambah nasi goreng ke piring mereka, tidak mempedulikan adik dan abang mereka karena kampung tengah lebih penting untuk saat ini.
"Untung saja tadi aku membuat banyak," bathin Aline melihat Rio dan Ricky begitu lahap menyantap sarapan mereka. Rencana untuk mengantarkan sarapan ke rumah Abah dan Bunda lagi-lagi gagal.
Cris mengambil gelas dan meminumnya.
"Kamu itu, nanyanya satu-satu dong, kebiasaan banget nanya kayak kereta api." Cris menggeleng-geleng melihat adiknya yang cuma cengengesan. "Pasiennya segera dioperasi tadi malam karena ada indikasi medis. Intinya operasinya dipercepat dan berjalan lancar. Jadi Abang bisa nyusul ke sini pagi-pagi. Untung gak telat. Bisa-bisa Abang gak kebagian sarapan maknyoss buatan kamu, Princess." Cris menunjuk Rio dan Ricky yang makan seperti kesetanan.
"Heh, pelan-pelan makannya. Kayak udah seminggu gak makan aja!" tegur Cris pada kedua adik lelakinya.
"Bukan cuma seminggu, Bang. Tapi udah bertahun-tahun rasanya gak makan nasgor selezat ini!" celetuk Ricky tanpa mengindahkan teguran Cris membuat lelaki itu hanya geleng-geleng kepala.
Begitulah mereka. Sekalipun memiliki banyak uang dan bisa membeli makanan mahal dari restoran mana saja, tetapi yang namanya masakan yang dibuat oleh keluarga sendiri dengan penuh cinta dan keikhlasan terasa jauh lebih nikmat. Memang sebegitunya generasi Tiocandra ini menghargai hal-hal kecil yang terkadang luput dari rasa syukur kita.
__ADS_1
***