Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Cerita Kimy


__ADS_3

Sudah hampir dua bulan lamanya Elang didampingi oleh Aline yang menjadi sekretarisnya menggantikan Dira yang sedang cuti melahirkan. Sejak kejadian tempo hari, dimana Aline membonceng bos tampannya itu ke lokasi meeting mereka dengan menggunakan motor, hubungan keduanya menjadi sedikit lebih baik, tidak sekaku di awal pertengkaran kala itu.


Namun tetap saja Aline seperti masih sengaja menjaga jarak dengan atasannya itu. Bagaimanapun, tuduhan yang dilayangkan padanya membuat gadis itu benar-benar merasa tidak nyaman. Entah darimana lelaki itu mendapatkan kabar hoax tersebut. Dan sialnya, dia tidak mencari tahu kebenaran berita yang didengarnya dan langsung saja main tuduh. Sekalipun tuduhan itu benar, tentu saja itu bukan urusannya, bukan? Sejak kapan seorang CEO mengurusi kehidupan pribadi sekretarisnya? Sungguh kurang kerjaan sekali bosnya itu.


Meskipun sudah berulang kali Elang menyampaikan permintaan maafnya, dan ia pun sudah memaafkannya, namun tetap saja rasanya Aline tidak bisa sedekat dulu lagi seperti saat ia belum menjadi sekretaris Elang. Tetapi jangan salah, profesionalitas kerja selalu tetap ia jaga.


Seperti saat ini. Ia baru saja selesai memeriksa beberapa laporan yang akan diserahkan kepada Elang sehabis jam makan siang nanti sembari menunggu sang CEO kembali dari meeting. Ia berharap bosnya itu akan datang terlambat. Tadi pagi sebelum berangkat ketemu klien, Elang memaksanya untuk menunggu dan makan siang bersama namun hingga saat ini lelaki itu belum juga muncul. Beruntung tadi ia mengajukan syarat batas waktu menunggunya hanya lima menit. Lebih dari itu, ia menolak makan siang bersama.


Dan saat ini, waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Batas waktu yang ditetapkan pun sudah berakhir. Aline bergegas merapihkan meja kerjanya. Setelah dirasa rapi, ia segera berjalan memasuki lift, berniat untuk makan siang di kafe depan kantor saja biar dekat dan memudahkan ruang geraknya seandainya bos menyebalkannya itu tiba-tiba saja menyuruhnya kembali ke kantor. Meskipun sudah dicueki, Aline merasa sang CEO masih saja suka mencari ribut dan membuatnya kesal.


Aline memasuki kafe yang terlihat sudah mulai ramai karena memang sudah memasuki jam makan siang. Beruntung masih ada beberapa meja yang masih kosong dan gadis itu memilih meja dengan dua kursi di dekat jendela kaca besar yang menyuguhkan pemandangan jalanan di sekitar area perkantoran. Alasannya sederhana saja, agar ia tak merasa sendirian saat menikmati makan siangnya nanti.


Sebenarnya, tadi teman-temannya, yang dari divisi marketing dulu, mengajaknya untuk makan siang bersama di sebuah kafe yang baru buka beberapa hari lalu yang katanya menu-menunya enak enak, namun lokasinya cukup jauh dari area perkantoran mereka. Dengan alasan karena ia harus membuat laporan meeting Elang sehabis jam istirahat nanti, maka ia putuskan menolak ajakan tersebut dan makan sendirian di sekitar kantor saja.


Baru saja dirinya mendudukkan diri di bangku, seorang pelayan laki-laki datang menghampiri dan tersenyum ramah padanya. Pelayan itu menanyakan pesanannya. Setelah selesai mencatat pesanan makan siang Aline, pelayan tersebut undur diri.


Sambil menunggu pesanan, Aline memperhatikan lalu lalang di jalanan. Pemandangan seperti ini sedikit menarik perhatiannya. Memperhatikan kesibukan orang-orang di jam makan siang seperti ini cukup asyik baginya. Hingga tak ia sadari seseorang telah mengambil posisi duduk tepat di kursi di depannya dan sempat memandang wajah cantik itu untuk beberapa saat sebelum akhirnya membuka suara.


"Serius amat lihat jalanannya, Neng!" suara bariton milik seseorang yang sangat dikenal Aline mengembalikan pikirannya ke area kafe.


"Eh, ng... gak kenapa-napa," gugup Aline karena kaget tiba-tiba saja seseorang menyapanya.


"Sorry ya, aku main duduk di sini. Kamu sendiri atau lagi nunggu seseorang?" selidik lelaki itu.


"Hmm, sendiri aja ..."


"Sama dong, kalau gitu aku duduk di sini juga ya. Gak papa kan? Biar enak makannya ditemani kamu," gombalnya.


"Eh, iya. Gak papa, Kak. Toh udah duduk juga. Kalau aku larang pun pasti gak akan pindah." Aline kembali memperhatikan jalanan. Berdekatan dengan seseorang dari masa lalu membuatnya merasa sedikit kurang nyaman, namun ia abaikan perasaan itu karena mereka sudah sepakat untuk berteman.


"Itu kamu tau. You know me so well, baby."


Aline hanya mendelik kesal lalu kembali asyik menyaksikan kesibukan di luar sana.


"Kamu udah pesan?"


"Ha? Gimana, Kak?" tanya balik Aline, terkejut karena tiba-tiba saja lelaki itu bertanya padanya yang tengah asyik dengan kegiatan memperhatikan hiruk pikuk jalanan.


Mendapat respon yang tidak sesuai harapan, membuat lelaki tersebut menghela napas perlahan, menahan kesal karena dicuekin oleh gadis yang berstatus sebagai mantan pacarnya itu, yang mana kata "mantan" ia sematkan dengan penuh keterpaksaan.


Tadinya ia berniat untuk makan siang di luar. Namun saat ia melihat gadis yang masih mengisi penuh hatinya itu keluar dari lift dan berjalan menuju kafe di depan kantor, maka niat makan di luar segera ia urungkan seketika. Dengan tetap menjaga jarak, ia mengikuti Aline hingga berakhir duduk di meja yang sama dengan gadis cantik berpashmina burgundi itu.


"Kamu udah pesan makanan?" tanyanya sekali lagi. Susah payah ia menetralkan detak jantung yang selalu saja menggila bila berhubungan dengan Rosaline, gadis yang sangat spesial baginya. Baginya, bisa berdekatan dengan Rosaline adalah hal yang patut ia syukuri saat ini. Karena gadis itu benar-benar susah didekati setelah perpisahan mereka bertahun-tahun yang lalu.


Belum sempat Aline menjawab, pelayan datang membawakan pesanannya. Segera ia memesan menu yang simpel dan gak pakai lama, takut ditinggal makan oleh sang pujaan hati.


Aline sengaja menunda makannya, demi sebuah norma kesopanan. Walaupun sudah diminta untuk makan duluan dengan dalih takut makanannya keburu dingin, namun gadis itu tetap menolak, alih-alih menyeruput jus sunkist kesukaannya perlahan-lahan sambil menunggu pesanan datang. Sembari menunggu, mereka bercerita ini itu tentang banyak hal, tanpa disadari keduanya ada sepasang mata yang tak henti menatap ke arah keduanya dari kejauhan.


Sementara itu, beberapa menit sebelumnya.


Elang dan Rendi baru saja turun dari mobil Elang yang dikendarai oleh Rendi. Mereka berdua memiliki pertemuan dengan klien sejak pagi tadi dan rasanya kedua lelaki itu sudah sangat lapar sekali. Pertemuan yang alot dan perjalanan dari tempat pertemuan ke kantor memakan cukup banyak waktu benar-benar menguras tenaga kedua pria muda itu. Namun Elang memilih untuk makan siang di kantor dengan harapan ia bisa makan bersama sekretarisnya dalam rangka upaya memperbaiki hubungan interaksi mereka agar seperti dulu lagi.

__ADS_1


"Duuh, perut gue laper banget nih, Nyet. Ntar kalau maag gue kambuh, lu musti tanggung jawab!" gerutu Rendi yang masih saja merasa kesal karena Elang memaksa untuk langsung kembali ke kantor tanpa menyempatkan diri untuk makan siang di perjalanan.


"Ah, bawel lu, Nyet. Tinggal minum obat kali. Gak usah lebay lu jadi laki. Jijay gue!" Elang berjalan mendahului.


"Eh, sialan, Lu, Kunyuk! Kalau tau gini, mending tadi gue bawa mobil sendiri. Lagian kenapa sih mesti maksa banget makan siang di kantor? Apa lu udah bangkrut sampai buat makan di luar aja mesti mikir-mikir panjang? Gue gak masalah kali makan di warteg pinggir jalan," balas Rendi tak mau kalah.


"Lama-lama gue denger lo bawelnya kebangetan ya, kayak emak-emak kena tilang. Pan udah gue bilang, gue mesti nyampai kantor sebelum jam makan siang. Dan ini gue telat karena udah masuk jam makan siang. Jadi dari pada mulut lo koar-koar yang gak jelas, mending lu pakai buat pesan makanan! Atau lo pergi deh jauh-jauh dari gue, cari makan sono. Heran gue!" Akhirnya habis juga kesabaran Elang, sang CEO. Rendi memilih diam dan berjalan mengekori sang atasan yang sekaligus sahabatnya itu.


Kedua lelaki itu memasuki lift khusus petinggi perusahaan. Rendi yang memperhatikan Elang yang sibuk mengecek jam di pergelangan tangannya sedari tadi akhirnya melancarkan aksi keponya untuk menggoda sang atasan yang merangkap sahabatnya itu.


"Ngapain lu liatin jam mulu dari tadi? Ada janji sama seseorang?" tanya Rendi menggoda.


"Ya." Elang menjawab singkat membuat Rendi semakin menjadi menggodanya.


"Janjian sama siapa? Cewek?"


"Ya." Lagi, Elang menjawab singkat. Dalam hati ia berharap Aline masih duduk di mejanya menunggu dirinya.


"Sialan, gue jadi penasaran sama nih orang. Untung bos gue," bathin Rendi.


"Spesial gak?"


"Ya." Air muka Elang makin tak sabar menunggu lift berhenti.


"Gue kenal gak?" Rendi semakin kepo.


"Kenal."


Tepat saat itu, lift berhenti dan pintunya membuka di lantai dimana ruangan Rendi berada. Segera Elang mendorong sahabatnya itu keluar lift dan menutup pintu lift dengan tidak sabaran.


Begitu sampai di lantai dimana ruangannya berada, Elang harus menelan kekecewaan. Ternyata sekretarisnya tidak ada di mejanya. Elang melangkah menuju ruangannya dengan rahang yang mengeras menahan kesabaran. Dibukanya pintu, dilihatnya ke dalam, lalu ditutupnya kembali pintu ruangan kerjanya.


Dilangkahkannya kakinya menuju lift. Terpaksa ia harus makan siang sendiri hari ini. Kembali Elang melirik jam tangannya. Hanya lewat 12 menit. Ternyata sekretarisnya benar-benar memegang ucapannya. Mau bagaimana lagi. Namanya juga usaha, manusia punya rencana namun Tuhan jualah yang menentukan.


Saat sampai di lobby, manik mata elang milik seorang Erlangga menangkap sosok wanita yang sedang duduk di sofa lobby. Segera ia menghampiri wanita tersebut, yang tak lain adalah Kimy, sepupunya.


"Ehem," Elang berdehem untuk memberitahukan keberadaannya, membuat Kimy menoleh ke arah sumber suara.


"Eh, Kak Elang. Udah balik rupanya," ucap gadis itu santai.


"Nungguin Kakak? Kenapa gak di atas aja?" tanya Elang.


"Iya. Tadinya maunya juga gitu, nunggu di ruangan Kakak aja, tapi mbak mbak resepsionisnya bilang di ruangannya Kak Elang lagi gak ada orang. Kak Elangnya lagi meeting di luar dan sekretaris Kakak katanya juga lagi makan siang. Ya salah aku juga sih datangnya jam makan siang gini. Habis mau gimana lagi, aku juga baru sempatnya sekarang, hehehe," Kimy cengengesan sendiri saat ia menjelaskan lalu ia menyerahkan sebuah paper bag kepada kakak sepupunya itu.


"Nih, Kak. Di sini ada undangan buat Kak Elang sama buat om sama tante. Skalian aku titip buat Kak Delila, Satria sama Tetra. Tadi udah telpon mereka, katanya gak papa aku titipin aja ke Kakak undangannya buat menghemat waktu," jelasnya.


Elang menerima paper bag berisi undangan pernikahan Kimy.


"Kamu udah makan siang?" tanya Elang.


"Belum. Habis ini baru mau nyari makan."

__ADS_1


"Yaudah, bareng aja. Kebetulan Kakak juga belum makan."


"Boleh. Gimana kalau makan di kafe depan aja? Recommended gak menunya?"


"Boleh. Yuk!"


Elang dan Kimy berjalan melintasi jalan menuju kafe di depan kantor Elang. Mereka terpaksa duduk di satu-satunya meja kosong yang tersisa. Tanpa membuang banyak waktu, Elang dan Kimy segera memesan menu andalan kafe tersebut.


Kimy masih saja menatap sepasang manusia yang duduk di dekat jendela besar dan asyik dengan makan siang mereka. Tanpa sadar, Kimy tersenyum ke arah keduanya meskipun yang disenyumi tak memandang ke arahnya. Namun tentu saja hal itu membuat Elang merasa aneh.


"Hey, Neng, kenapa senyum-senyum sendiri? Kesambet?" seloroh Elang.


"Hehehe ... enggak Kak. Seneng aja lihat mereka." Kimy mengedikkan wajahnya ke arah meja Aline dan seorang pria yang membelakangi meja mereka.


"Senang kenapa?" Elang pura-pura tidak peduli padahal dalam hati merasa sedikit penasaran dengan pria tersebut yang diketahui Elang sudah dijodohkan dengan gadis lain pilihan orang tuanya.


"Yah, senang aja. Apa jangan-jangan mereka udah menikah ya?"


"Maksud kamu siapa? Kalo ngomong itu yang jelas, Komooo." Elang jadi gregetan sendiri dengan tingkah aneh sepupunya dan akhirnya malah manggil dengan panggilan kecil yang tidak disukai Kimy, membuat gadis itu cemberut seketika. Dan Elang merasa menang sekarang karena berhasil menggoda sepupu bawelnya itu.


"Iiisssh, apaan sih, Kak. Komo? Komo? Komodo!" kesalnya.


"Ya habisnya kamu ngomong patah-patah gak jelas." Elang membela diri.


"Idih, siapa yang gak jelas. Aku itu sedang mengagumi mereka. Itu yang duduk di meja dekat jendela itu," tunjuk Kimy.


"Kenapa rupanya? Kamu kenal sama mereka? Kenapa gak disamperin aja?" Elang masih pura-pura tidak peduli, dalam hati ia mencatat nama Aline, yaitu Rosaline.


"Yeeee.... kok situ yang sewot?" sanggah Kimy yang hanya mendapat kedikan bahu dari Elang.


"Kenal banget sih enggak, kita cuma sama-sama mahasiswa Indonesia yang kuliah di Sydney. Kita beda universitas. Pernah sih ngumpul bareng sesekali," Kimy mulai bercerita dengan semangatnya. "Pasangan ini memang terkenal sejak dulu. Gimana enggak, coba? Yang satunya tampan yang satunya cantik banget. Sama-sama pintar pula. Yang cowok mahasiswa S2 Arsitektur sedangkan yang cewek bisa dibilang mahasiswa jenius. Bayangkan aja, di saat aku baru aja kuliah S1, dia bahkan udah menyelesaikan S2 hukum dan sedang kuliah S2 ekonomi sekaligus kuliah S1 arsitekturnya, dengan beasiswa pula. Aku gak ngerti gimana cara dia bagi waktu antara kuliah dan pacaran, secara jadwal kuliah dia pasti padat banget. Kayak si hermione di serial harry potter aja, yang pake jam pengembali waktu. Emejing banget memang nih cewek. Aku aja irinya gak ketulungan lihat dia, padahal umur kita samaan tapi prestasi si Rosaline ini udah banyak banget!"


"Jadi, mereka udah pacaran sejak di Aussie dulu?"


"Ya gitulah. Pasangan fenomenal kami nyebutnya. Dan syukurnya masih awet sampai sekarang. Senang aja lihatnya." Kimy memandang Arya dan Aline yang dikiranya masih merupakan pasangan.


Cerita Kimy terhenti ketika pelayan datang membawakan pesanan mereka. Tak berapa lama kemudian, Arya dan Rosaline meninggalkan kafe bersama-sama menuju gedung kantor mereka diikuti pandangan tak suka dari seorang Erlangga Eka Atmaja.


***


Hai hai


Aku kembaliiii setelah dua bulan menghilang tanpa jejak.


Maafkeun diriku yang telah lama tak muncul karena kesibukan di dunia nyata yang membutuhkan konsentrasi penuh.


Semoga episode kali ini bisa membuat kalian kembali kepada Rosaline.


Oia, makasih buat sahabat-sahabat Rosaline Denisa yang selalu setia menunggu up-date-an ceritanya.


Terakhir, jangan lupa tinggalkan jejak vote, like, bintang dan komennya yaaa....

__ADS_1


Terimakasiiiiih


__ADS_2