Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat. Minggu berganti. Tak terasa, Senin sudah menjelang. Aline berangkat kerja ditemani babang ojek yang slalu setia mengantar. Setelah melakukan absensi, Aline langsung menuju Divisi Teknik dan Perencanaan. Kali ini langkahnya menuju ruangan Kepala Divisi, Pak Aditya. Sekilas memandang, Pak Aditya adalah seorang pria dengan raut wajah yang tampan dengan kharismanya sendiri. Tetapi sebenarnya pria di depannya ini terkenal tegas, dingin, dan perfeksionis. Tak banyak kesalahan yang bisa ditolerir olehnya. Maka dari itu, seluruh anggota divisinya merupakan orang-orang yang sudah terseleksi secara alami oleh sifat-sifatnya itu. Wajar saja bila 80% anggotanya berjenis kelamin laki-laki yang lebih tahan banting daripada perempuan yang lebih baperan.


Hari ini Aline sedang mempelajari bagaimana sistem kerja di divisi ini, dibimbing langsung oleh Pak Adit. Ada 5 subdivisi yang dibawahi oleh lelaki berusia sekitar 45 tahun ini. Aline menyimak apa yang disampaikan oleh lelaki di depannya ini dengan seksama. Hingga jam kantor berakhir, pak Adit tak henti-hentinya mengajari Aline hingga rasanya kepala Aline mau pecah saking banyaknya hal yang harus ia pelajari. Pak Adit mengatakan bahwa apa yang diajarkannya hari ini merupakan dasar dari tugas-tugasnya nanti di Divisi Teknik dan Perencanaan dan Aline harus bisa mengembangkan potensinya di sini. Ia juga mengatakan bahwa dirinya tidak mentolerir kesalahan sepele apalagi yang fatal, jadi Aline harus ekstra hati-hati dalam bekerja.


"Apa kamu sudah mengerti apa yang saya sampaikan hari ini, Aline?" tanyanya mengakhiri sesi pelatihan sehari itu.


"Sudah, Pak. Saya sudah mencatat hal-hal penting yang Bapak sampaikan," jawabnya mantap, padahal kepala rasanya sudah sangat panas.


"Saya akan memaklumi jam kerja kamu yang lebih pendek dari jam kerja kami semua asalkan kamu menunjukkan kualitas kerja yang memuaskan."


"Baik, Pak. Saya akan belajar dengan cepat dan memberikan hasil kerja yang maksimal," janji Aline kepada atasan barunya itu.


"Bagus. Saya akan menilai kemampuan kamu, baik kemampuan personal kamu maupun kemampuan kamu bekerjasama dalam tim dalam dua minggu ke depan. Ekspektasi saya sangat tinggi terhadap kamu karena kamu direkomendasikan langsung oleh Pak Rahman, oleh karena itu, saya sendiri yang melatih kamu hari ini. Tetapi bila tidak memenuhi harapan, maka saya tidak akan segan-segan meminta pihak HRD untuk memindahkan kamu ke divisi lain!" ucapnya tegas.


"Baik Pak. Insya Allah saya akan memberikan kemampuan terbaik saya."


"Untuk sementara, kamu saya tempatkan di Subdivisi Legal. Besok kamu akan dimentori langsung oleh Pak Ethan, Kepala Subdivisi Legal. Besok pagi kembali ke sini. Saya akan memperkenalkan kamu dengan Pak Ethan!"


"Baik Pak".


"Ya sudah. Kamu boleh pulang. Ingat, absensi tiap sebelum dan sesudah jam kantor di meja sekretaris saya, Dian!"ucapnya kemudian seraya menunjuk meja yang dimaksud.


"Baik Pak. Terima kasih. Saya permisi."


"Hm".


Sebelum pulang, Aline menuju meja Mbak Dian, sekretaris Pak Adit.


"Permisi, Mbak. Saya Aline, anggota baru. Pak Adit minta saya untuk absensi di sini tiap masuk dan pulang."


"Oh iya. Gak usah terlalu formal, Lin. Kenalkan gue Dian. Absensi ada di sini, berdasarkan subdiv nya," ucapnya menunjuk meja di sebelah mejanya. "Gak cuma kamu, gue dan smua anggota yang lain juga wajib kok absensi di sini."

__ADS_1


"Oh, gitu ya Mbak"


"Ho oh. Katanya buat penilaian disiplin kerja."


"Oohh ...."


"Kamu di subdiv mana? Biar gue tambahin nama kamu."


"Subdiv Legal, Mbak. Tapi baru mulai besok."


"Ooh, di Legal toh. Sama pak Ethan dong!" katanya antusias.


"Dengernya tadi begitu, Mbak. Besok saya akan dikenalkan dengan pak Ethan. Semoga lancar ya, Mbak!"


"Amin. Kamu tenang aja Lin. Pak Ethan itu masi muda, 29 apa 30 tahun. Orangnya baik, asyik dan ganteng pula. Kamu pasti betah dibawahi sama dia."


"Semoga ya Mbak. Ya udah, kalau begitu saya permisi dulu, Mbak Dian."


"Oke." jawabnya walaupun bingung kenapa Aline bisa pulang padahal masih pukul 14.30.


Hari ini, Aline mengenakan rok berwarna biru muda dengan motif bunga-bunga berwarna pink dan hitam, dipadupadankan dengan kemeja hitam polos yang ia masukkan ke dalam untuk memberi kesan rapih. Tak lupa pashmina berwarna biru muda dan flatshoes hitam melengkapi penampilannya pagi itu. Untuk make-up, Aline bukan tipe wanita berbedak tebal. Ia hanya menggunakan pelembab wajah, bedak tabur berwarna pink Shell dan lipstik berwarna nude pink. Baru jam 06.10 Aline sudah duduk di depan rumah kontrakannya menunggu babang ojek datang menjemputnya.


Bersyukur jarak antara rumah kontrakan dan kantornya tidak terlalu jauh, sehingga 15 menit kemudian ia sudah sampai di meja mbak Dian untuk melakukan absesi. Belum ada satu orangpun yang mengisi buku absen pagi itu karena memang masih terlalu pagi, sementara jam kerja dimulai pukul 08.00. Aline saja yang kerajinan. Teringat belum sempat sarapan, ia pun berjalan menuju cafe yang terletak tak jauh dari kantor.


Aline memakan sarapannya lalu memesan secangkir kopi untuk ia bawa kembali menuju gedung Atmaja Corp. Kali ini, tujuannya adalah rooftop gedung tempat ia bekerja itu. Masih ada 40 menit sebelum jam kantor dimulai. Sesampainya di lobby, tak sengaja seseorang menyenggol Aline sehingga menyebabkan kopi yang dipegangnya tertumpah ke bajunya.


"Yaah, untung pake baju hitam," ucapnya masih bersyukur walau ditimpa musibah.


"Maaf, Mbak. Saya gak sengaja," ucap lelaki itu sambil mengeluarkan saputangan dari kantong celananya, hendak membantu mengelapkan tumpahan kopi tetapi bingung harus bagaimana, segan dengan hijab yang dikenakan wanita itu.


"Iya, gak papa, Maaasss Arya?" kaget, Aline berucap mengetahui orang yang menabraknya adalah Arya, mantan pacarnya saat kuliah di teknik dulu.

__ADS_1


"Rosaline? Kamu di sini?" Ada binar bahagia di mata lelaki itu saat menyebutkan nama mantan kekasihnya itu.


Aline bungkam, tak menjawab pertanyaan lelaki di depannya. Pasalnya, Aline masih belum bisa memaafkan lelaki di depannya ini. Hubungan asmara mereka dulu tidak berakhir dengan baik-baik.


"Ini!" Arya menyodorkan saputangannya kepada Aline sambil terus menatapi gadis cantik di depannya ini.


"Gak usah!" ketusnya, "ngapain liatin saya begitu?" Aline yang ditatap seperti itu menjadi risih, sehingga dengan buru-buru memasuki lift yang terbuka.


"Rosaline! Tunggu!!" Arya ikut memasuki lift yang sama dengan Aline. Arya hanya berani memandangi wajah yang semakin cantik dan semakin menundukkan kepalanya seolah-olah sibuk membersihkan tumpahan kopi di bajunya.


"Apa kabar, Lin?" tanyanya mencoba memecah keheningan yang tercipta.


Aline tetap diam.


"Aku senang bisa ketemu lagi sama kamu," ucapnya jujur.


Tetap tak ada jawaban atau tanggapan.


"Kamu kerja di sini?"


Hening, lagi-lagi tak ada jawaban.


"Di divisi mana?"


Lagi, tak ada jawaban.


"Saya di Teknik dan Perencanaan, Subdiv Proyek", lanjutnya tanpa menghiraukan keheningan di sekitarnya.


Aline semakin mengacuhkan lelaki itu. Ia benar-benar ingin segera keluar dari situasi seperti ini. Baginya, bertemu dengan Arya adalah kesialan tersendiri. Masih teringat bagaimana ia melihat pacarnya ini berciuman dengan wanita yang tak lain adalah mantan pacarnya ketika SMA di lobby apartemennya. Walaupun kejadian itu sudah berahun-tahun yang lalu namun masih berefek hingga sekarang. Walaupun hubungan mereka hanya sebatas cinta monyet jaman remaja, tapi lelaki di depannya ini adalah cinta pertama yang menjadi luka pertama pula baginya. Walaupun Aline berhasil move on, tetapi tetap saja kejadian itu membuat Aline membangun jarak tak kasat mata dengan orang lain, baik lelaki maupun perempuan. Walaupun pembawaan gadis itu sangat mudah bergaul, tapi untuk menyentuh hatinya yang terdalam, sangat jarang terjadi. Kejadian malam itu sungguh mengganggu psikisnya.


Arya kehabisan cara membuat Aline buka mulut atau sekedar menatapnya. Wanita itu terus saja menunduk dan memencet tombol dengan tergesa-gesa. Saat punggung ramping itu berjalan keluar dari lift, Arya hanya bisa menatap tanpa bisa mencegah. Ia sadar luka yang ditorehkannya dulu di hati gadis yang semakin cantik itu masih belum kering. Arya melanjutkan perjalanannya ke ruangannya. Dalam hati, ia bertekad akan membuat gadis itu memaafkannya dan mau menerimanya kembali. Baginya, mengkhianati Aline adalah penyesalan terbesar dalam hidupnya, dan bertemu kembali dengannya adalah kesempatan kedua yang patut disyukurinya. Aline adalah gadis yang bisa mengimbanginya, dalam nilai, wawasan, kekayaan dan segalanya. Sungguh, ia menyesal telah menyakiti hati gadis itu.

__ADS_1


Aline keluar dari lift dan segera mencari posisi tangga. Niatnya untuk menikmati secangkir kopi di rooftop pupus sudah. Aline menaiki tangga menuju ruangan pak Adit. Beruntung ia hanya berada dua lantai di bawah ruangan Divisi Perencanaan dan Teknik berada. Mengingat ia berada di divisi yang sama dengan lelaki itu, membuatnya semakin kesal. Aline menapaki tangga sambil mengatur emosinya. Moodnya benar-benar jatuh pagi ini gara-gara pertemuan tak terduga tadi.


"Semoga saja sisa hari ini berjalan dengan baik, tanpa halangan," harapnya.


__ADS_2