Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Jogging


__ADS_3

Minggu pagi yang tenang, tidak hujan namun juga tidak terik. Udara pagi ini sejuk-sejuk saja. Sesejuk kehidupan Aline setelah kemarin melalui hari yang menguras emosi.


Sepagi ini gadis bermata indah itu telah selesai dengan setrikaannya dan mulai membuat sarapan untuk dirinya dan keluarga angkatnya. Lama hidup sendiri di kota besar dan terpisah lalu dipisahkan dengan keluarganya membuatnya jadi superwoman.


Aline sudah menyiapkan semua bahan yang ia butuhkan membuat sarapan pagi ini. Jadi ceritanya, Hana, adik angkatnya itu protes dan merajuk karena ia tidak jadi menginap di sana dua malam ini, padahal weekend adalah we time-nya mereka. Namun apalah daya dirinya yang harus menjadi anak bawang di kantor, harus rela berbagi tugas dan menyelesaikan tugas-tugas yang tak terselesaikan oleh pemilik aslinya, belum lagi ditambah bos menyebalkan yang suka menyuruhnya lembur tanpa melihat waktu, benar-benar membuat dirinya kesulitan membagi waktu. Walaupun gaji yang diterimanya berbanding lurus sih dengan kesibukannya, tapi tetap saja kan ia butuh jobdesc untuk membatasi lingkup kerjanya. Jadi, dalam rangka menyuap adik angkatnya yang sedang merajuk itu, Aline berniat membuatkan sarapan kesukaannya, sandwich spesial dengan keju, daging, telur, sosis dan sayur yang berlapis-lapis. Ditambah saus rempah buatannya. Hana paling suka sandwich buatannya. Dan ia akan membuat banyak pagi ini lalu mengantarkannya ke rumah Abah dan menikmati sarapan bersama di sana.


Aline menggelung lengan bajunya hingga ke siku lalu mengambil teflon dan spatula dari tempatnya, persis seperti orang yang hendak berperang, lalu dengan semangat 45 mulai mencuci dan mengiris-iris sosis dan sayurnya. Berasa dirinya jadi pahlawan bangsa yang sedang menyerang kerajaan api. Memasak sambil berdendang, menyanyikan lagu-lagu merupakan kebiasaannya jika sedang berada di dapur. Mulai dari lagu kebangsaan yang menunjukkan betapa nasionalismenya ia hingga lagu dangdut koplo yang menerangkan bahwa ia juga rakyat jelata yang doyan dangdutan. Walaupun si mbok pernah bilang jika anak perawan tidak boleh memasak sambil menyanyi karena bisa-bisa nanti dapat suami tua. Entah buaya entah katak, entah iya entah tidak, wallaahu 'alam. Yang penting hepi. Seperti jargon salah satu iklan produk nikotin yang terkenal dengan om jin-nya.


Baru saja ia selesai memanggang sandwich ke tiga-nya, suara ketukan di pintu mengganggu keasyikannya. Ia melirik jam dinding di ujung gang menuju ruang tamu. Pukul lima lewat dua puluh tiga menit.


"Aiiiishhh, siapa sih yang kerajinan bertamu pagi-pagi begini ke rumah orang?" Aline acuh dan tetap sibuk dengan sandwichnya.


Semakin lama suara ketukan berubah menjadi gedoran.


"Iya ... iya ... sebentar!" Aline meninggalkan begitu saja masakannya, mematikan kompor dan menyambar jilbab instan dari kamar, berjalan tergesa membukakan pintu untuk tamunya yang tidak sabaran itu.


"Ck!" Aline berdecak sebal dan melipat tangan di bawah dada mengetahui siapa tamu yang mengganggu ketenangan Minggu paginya. Sementara seorang lelaki sudah siap dengan setelan olah raganya tersenyum manis mendapat perlakuan seperti itu dari gadis manis namun pemarah itu. "Assalamu'alaikum. Selamat pagi ..."


"Wa'alaikumsalam. Bapak ngapain pagi-pagi ke sini? Ini weekend dan saya libur!" ketusnya memotong salam pagi dari atasannya. Lihat, baru saja dikatakan hidupnya tenang, malah sudah ada pengganggu. Siapa lagi jika bukan bos menyebalkannya itu. Ia masih kesal karena laki-laki itu semena-mena menyuruhnya lembur Jum'at malam yang lalu. Apalagi saat ia melihat Elang yang sudah mengambil tempat di kursi terasnya tanpa terusik dengan sikap ketusnya barusan. Lelaki itu bahkan masih sempat bertegur sapa dan beramah tamah dengan Mas Firman, tetangga di kontrakannya, yang sedang memanaskan motornya, mengabaikan sikap tak bersahabat dari si pemilik rumah. Benar-benar mengganggu!


"Bukan begini caranya menyambut tamu," ucapnya seolah menjadi guru TK yang sedang mengajari murid-muridnya bagaimana cara menyambut tamu yang baik dan benar, membuat Aline semakin emosi.


"Maaf saja, Anda bukan tipe tamu yang harus disambut!"


Elang membuka kacamata hitamnya, lalu menaikkan sebelah alis mendengar jawaban berani seorang Aline. Ia tersinggung. Hanya satu kalimat dan itu berhasil membuat mood-nya yang tadi menggebu-gebu untuk membuat gadis itu kesal malah berbalik membuat dirinya yang kesal sendiri karena ditolak oleh gadis itu. Jelas gadis bermulut pedas itu menolak kehadirannya. Tapi seorang Erlangga Eka Atmaja paling tidak suka ditolak! "Sudah dilupakan, sekarang ditolak pula. Gadis ini benar-benar," marah Elang dalam hati.


Dia berdiri dari duduknya, menghampiri gadis galak yang berdiri di ambang pintu.


"Ganti baju lo! Temani gue jogging!" perintahnya dengan rahang yang mengeras.


"Saya sibuk! Gak punya waktu nemanin Bapak buat begituan!" balas Aline tak kalah garang.

__ADS_1


"Begituan apa maksudnya? Gue cuma mau ngajak jogging, bukan ngajak 'begituan'! Kecuali nanti kalau setelah jogging ...." Ada nada geli dalam suara Elang ketika menyebutkan kata 'begituan', membuat moodnya yang tadi sempat runtuh kini kembali dengan kekuatan penuh.


Blush. Seketika wajah Aline memerah seolah semua darah berkumpul di sana. Bukan itu maksudnya dengan kata ' begituan' yang diucapkannya tadi. Namun kata itu seolah menuntunnya ke pikiran lain saat diucapkan dengan nakal oleh bos menyebalkannya itu. Ia bukanlah gadis polos dan lugu yang tak tahu menahu tentang arti kata 'begituan' yang diucapkan dengan nada menggoda itu. Bertahun-tahun hidup di negara yang bebas membuatnya paham betul apa artinya.


Aaargh!!! Omeeeeeees" pekiknya lalu berjalan ke dalam, menghindari seringaian nakal bosnya. Ia benar-benar salah memilih kata dan sekarang bosnya itu membuatnya semakin malu dengan menggunakan kata itu.


"Buruan ganti baju olah raga lo! Gak pake lama! Lo mesti temani gue jogging! Anggap aja upah karna gue udah jadi sopir lo kemarin malam!" Elang sedikit berteriak karena gadis itu sudah keburu jalan ke dalam rumah. Tidak perduli jika teriakannya didengar oleh tetangga-tetangga di kompleks kontrakan itu.


Kekesalan Aline semakin menjadi mendengar kalimat terakhir dari Elang. "Dasar tukang pamrih! Apa apa harus dibayar! Emang di dunia ini gak ada yang gratis kalau udah menyangkut manusia satu itu!" Aline merepet sepanjang ia bertukar pakaian. Dan ia tak mau repot-repot memelankan volume suaranya. Biar saja laki-laki itu tahu bagaimana tidak ikhlasnya dirinya. Niatnya untuk bersantai melepas penat di hari Minggu bersama keluarga angkatnya pupus sudah, tinggal kenangan.


Aline mengemasi tiga buah sandwich buatannya tadi ke dalam kotak bekal. Membereskan kekacauan di dapur karena acara masak memasaknya terpaksa disudahi. Lalu mengisi penuh tumbler 1.5L dengan air galon yang katanya bisa mengembalikan mood. Ia berjalan ke teras sambil menenteng tas bekal di tangan kanan dan running shoes di tangan kiri. Elang memperhatikan gerak gerik gadis yang sedang mengikat tali sepatunya, tanpa mengabaikan tas bekal yang juga tergeletak di sebelahnya.


"Mau jogging apa mau piknik, Neng?" godanya yang hanya mendapat respon dengusan kasar dari gadis yang sedang menekuk wajahnya.


"Apa mau 'begituan'? Ucapnya lagi, membuat wajah gadis yang mengenakan baju olah raga berwarna baby pink itu semakin cemberut.


Elang membuka kunci mobil barunya yang terparkir gagah di depan pagar komplek kontrakan Aline, berjalan pelan membiarkan gadis itu berjalan cepat mendahului. Katanya tidak ikhlas, tapi kelihatannya sangat semangat. Wanita memang susah ditebak apa maunya. Mulut sama hati keseringan gak sinkron.


"Ya di situ. Emang mau dimana lagi? Gue sedang gak pengen jadi supir lo hari ni," jawab Elang dengan santainya membuat gadis itu terus menerus merepet dan protes karena harus duduk di bangku penumpang di sebelah Elang. Namun bukan Elang namanya jika tidak berhasil membuat gadis itu menurut walaupun dengan bersungut-sungut. Sangat tidak ikhlas. Tapi masa bodoh. Ia sedang tak ingin jogging sendirian hari ini.


Elang berjalan memutari mobil, duduk di belakang kemudi dan mulai melajukan mobilnya menuju area olah raga yang banyak dikunjungi setiap akhir pekan tiba.


Mereka jogging bersama selama beberapa keliling. Aline yang sudah lama tidak berolah raga terpaksa bersusah payah mengimbangi seorang Elang yang selalu rutin berlatih. Bahkan ia lebih banyak berjalan daripada berlari membuat Elang semakin meraja lela mengejeknya.


"Ck, lemah banget! Baru juga berapa keliling udah keok!" ejek Elang.


Aline mendelik sinis. Benar-benar bosnya ini. Tidak lihat apa kalau napasnya tinggal satu-satu. "Ck, menyebalkan." Aline berdecak tapi membuat Elang tertawa bahagia.


Kasihan melihat Aline yang sudah kesulitan mengatur napas, Elang memutuskan menyudahi acara jogging-nya. Ia mengajak gadis itu kembali ke mobil yang terparkir tidak begitu jauh dari tempat mereka saat ini.


Elang membiarkan pintu mobilnya terbuka, begitupun dengan gadis itu. Keduanya menikmati melihat keadaan sekeliling taman yang selalu ramai setiap weekend begini. Ada yang sedang berolah raga, ada yang sedang bersantai dengan keluarga, ada yang sedang berjalan dengan hewan peliharaannya dan ada juga yang hanya duduk-duduk santai menikmati suasana, seperti mereka saat ini.

__ADS_1


Aline meraih tas bekalnya, mengambil tumbler dan meminumnya beberapa teguk. Setelah merasa lebih segar, ia mengeluarkan sandwich dan mulai menyantapnya, mengabaikan tatapan lapar pria di sampingnya. Aline tidak menawari Elang, tentu saja. Ia kan masih kesal dengan lelaki itu.


Tak habis akal, Elang merebut kotak bekal Aline tanpa perlawanan dari si pemilik, mengambil sepotong sandwich lalu mengunyahnya. Entah apa yang diberikan gadis ini pada masakannya sampai terasa lezat begini. Padahal hanya sandwich saja tapi terasa berbeda. Seperti ada aroma rempah yang menggugah selera dan memanjakan lidah. Ia lalu mengambil sandwich terakhir dan kembali mengunyahnya hingga tandas tak berbekas.


Aline merebut kembali kotak bekalnya, bermaksud ingin menambah tapi ternyata sudah kosong. Tadinya ia mengira Elang hanya akan mengambil sepotong saja, dan menyisakan sepotong lagi untuknya. Namun perkiraannya salah. Lelaki itu malah menyantap habis sarapannya. Dasar bos gak ada akhlak. "Astaghfirullah ...." Aline beristighfar menyadari entah sudah berapa kali ia mengumpat sepagian ini. "Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang tak berdaya ini."


Aline menghela napas dengan berat. "Apa yang Bapak lakukan sama sarapan saya?" tanya Aline galak.


"Ya gue makan," jawab Elang enteng lalu merebut botol minum Aline dan langsung meminumnya.


"Itu kan minum saya!" jerit Aline melihat Elang sedang beraksi menghabiskan isi tumblernya juga.


"Gue haus dan gak bawa minum."


"Huh, dasar bos rakus! Siapa tadi yang ngejek ngejek saya bawa bekal, pakai ngatain mau piknik segala. Gak taunya ... ada yang laper. Berasa piknik ya makan bekal buatan saya? hahahaha ...."


"Ya wajar donk gue laper, kan kita habis 'begituan'? Gue sangat aktif, elonya sih pasif. Jadi gue yang keluar banyak keringat jadinya, kan?" Sontak tawa Aline terhenti seketika mendengar kalimat Elang yang ambigu. Sementara Elang, jangan ditanya. Ia sudah tertawa penuh kemenangan. "Dasar omes!" umpat Aline. Lagi-lagi ia mengumpat dan beristighfar dalam hati.


"Eh, Lin. Bentar gue tinggal ke minimarket itu dulu ya. Mau beli minum, masih gerah. Lo ada nitip gak?"


"Nitip Bapak aja di sana, boleh gak?"


"Ck ... gue serius malah dibecandain." Elang pun beranjak menuju minimarket yang selalu ada dan ada selalu tiap 100 meter.


Aline sedang bermain games di salah satu lapak online terbesar asal Singapure di HPnya saat suara yang sangat familiar menyapanya.


"Enak ya, pagi-pagi udah pacaran!"


Aline mendongak dan seketika suaranya menghilang, wajahnya pucat dan tangannya mulai berkeringat, namun matanya berkata lain.


***

__ADS_1


__ADS_2