
"Baiklah! Ini lah tantangan terakhir!" Dimas dan Lucy serentak mengucapkannya, seperti yang sudah janjian.
Lucy dan Dimas berjalan kembali ke atas panggung. Berdiri di sisi kanan dan sisi kiri Aline. Dimas mengangguk kecil kepada Lucy, meminta wanita itu untuk memulai.
"Seperti peserta sebelumnya, kali ini izinkan saya menanyakan kesediaan peserta terakhir kita." Lucy berdiri menghadap Aline.
"Mbak Aline, tantangan terakhir pada malam ini adalah makan malam. Anda kami tantang untuk makan malam dengan pemenang lelang kita nanti. Harga makan malam bersama Anda akan kita lelang mulai dari 510 juta! Apakah Anda akan menerima tantangan ini ataukah menolaknya?" Lucy menatap tajam Aline.
"Makan malam ini akan diakomodir oleh perusahaan Atmaja Company, untuk seluruh pasangan yang memenangkan lelang malam ini sebagai bentuk penghargaan dan apresiasi telah ikut serta dalam acara amal pada peringatan puncak HUT Perak Atmaja Company." Dimas menjelaskan.
"Seluruh dana yang terkumpul nantinya akan diserahkan kepada yayasan yang telah masing-masing peserta pilih. Dan kita berharap, dengan adanya acara ini, bisa menyembuhkan bahkan menyelamatkan banyak nyawa." Lucy menimpali.
"Jika Anda menolak, maka kita akan melelang tantangan terakhir untuk Anda. Siapapun berhak ikut serta dalam proses lelang. Dan pemenang lelang berhak memberikan Anda satu tantangan terakhir yang tentunya setelah memenuhi persyaratan dan disetujui oleh dewan kehormatan. Dan bila hal ini sampai terjadi, maka mau tidak mau, Anda harus memenuhi tantangan yang diberikan oleh si pemenang lelang!" Dimas lanjut menjelaskan.
"Bagaimana, Mbak Aline? Kami berikan tiga puluh detik untuk berpikir!" Lucy mulai tidak sabar. Sedikit jengah melihat wajah-wajah para pria yang berharap jika Aline mau menerima tantangan ini.
"Saya melihat wajah-wajah penuh harap di sini, hehehe." Dimas berkelakar membunuh suasana hening dan menegangkan. Lampu mulai menyorot Aline. Layar raksasapun menampilkan dirinya yang di-zoom.
"Saya yakin jika Mbak Aline menerima tantangan ini, maka proses lelang akan berlangsung sangat sengit!" Dimas berceloteh sembari menunggu waktu yang telah ditetapkan.
Lalu,
10...
9...
8...
7...
6...
5...
4...
3...
2...
1...
Dimas dan Lucy menghitung mundur waktu yang diberikan pada Aline.
__ADS_1
"Yak, waktunya sudah habis. Sekarang saatnya memberi keputusan!" Lucy angkat bicara.
"Bagaimana, Mbak Aline, apa keputusan Anda?"
Aline memejamkan mata. Sekali lagi meyakinkan diri bahwa niatnya adalah untuk mengumpulkan dana sebanyak-banyaknya untuk disumbangkan kepada yayasan yang telah ia pilih. Berharap dari dana yang ia dapatkan malam ini bisa membantu meringankan biaya pengobatan dan tindakan untuk orang-orang yang diasuh oleh yayasan, khususnya mereka yang menderita kanker. Tadi ia sudah berpikir, bermain strategi, bagaimana bisa mengumpulkan dana sebanyak mungkin. Seperti yang disampaikan Dimas, ia pun melihat banyak lelaki di ruangan ini yang sepertinya menunggu lelang makan malam bersama. Ia akan memanfaatkan ini. Ya, ia akan memanfaatkan momen ini.
Sementara itu, semua pasang mata tertuju pada gadis yang sedang memejamkan mata, mempertimbangkan penerimaan atau penolakan kah yang akan ia ucapkan. Hampir semua pria lajang yang hadir di pesta itu berharap gadis yang luar biasa memikat itu mau menerima tantangan kali ini. Mereka berharap bisa makan malam bersama sang gadis, dan syukur-syukur bisa mengenal lebih dekat dan mungkin memiliki hubungan lebih jauh sampai ke jenjang pernikahan.
Lampu menyorot Aline yang berdiri di tengah-tengah panggung. Ia membuka matanya yang indah dan berbinar cantik, mengangguk sekali lalu mengangkat mic ke arah bibirnya. "Saya menerima tantangan ini!" ucapnya penuh keyakinan.
Seketika suasana menjadi riuh. Bahkan Dimas pun berharap ia bisa mengenal gadis ini lebih dekat. Karakternya yang lembut dan serba bisa patut diperhitungkan untuk menjadi seorang istri baginya. Namun apa daya, status dirinya yang sebagai MC malam ini membuat ia tak bisa bersaing dengan para lajang yang terlihat sangat antusias untuk mengikuti lelang. Ah, biarlah nanti ia akan berkenalan dan meminta nomor HP gadis ini secara langsung nanti di belakang panggung setelah acara selesai.
Lucy kembali menguasai panggung. Ia memulai proses lelang yang seperti perkiraannya, berjalan sangat sengit. Hampir semua lajang ikut memberikan penawaran terbaik mereka. Mereka berkejar-kejaran. Nominal yang disebutkan pun semakin tinggi.
"Kita mulai dari 510 juta!" Lucy memulai proses lelang.
"525 juta!" seorang wanita paruh baya memberikan penawarannya. Ia tertarik untuk mengenal gadis ini untuk ia jadikan menantunya. Anak sulungnya sangat ia harapkan bisa menikah dalam waktu cepat, dan gadis di depan itu menurutnya calon menantu idaman.
"Saya pikir hanya pria lajang yang tertarik mengikuti lelang kali ini, ternyata Anda juga berminat, Nyonya. Kita akan berbincang sebentar. Boleh tahu siapa nama Anda, Nyonya?" Sapa Dimas ramah kepada seorang wanita paruh baya yang ikut menawar Aline.
"Ya, saya Grace. Gracia Sitinjak. Saya berminat untuk mengenal mbak Aline yang serba bisa." Grace menjawab pertanyaan Dimas dengan lugas dan blak-blakan.
"Wah, dari Sitinjak Production ternyata. Selamat mengikuti proses lelang ini, Nyonya. Saya rasa anda akan memiliki banyak saingan malam ini. Bukankah begitu, Lucy?"
"Ya, betul sekali Dimas. Kita akan lanjutkan sekarang!" Lucy memberi aba-aba.
Begitulah seterusnya hingga...
"800 juta!" Seru Satria, adik Erlangga yang telah membuka beberapa kafe dalam dua tahun terakhir.
Jujur saja, ia sudah tertarik dengan gadis ini sejak pertama kali mereka bertemu, saat itu ia sedang menyelesaikan tugas kuliahnya dan gadis itu memberikan referensi yang sangat membantu.
"850 juta!" Niko Ardian Wirawan ikut meramaikan ajang lelang malam ini.
Belum sempat Lucy atau Dimas mengomentari, terdengar lagi sahutan.
"1M!" seru seorang pria lima puluh tahunan, rambutnya sudah memutih namun masih terlihat gagah. Di sampingnya, berdiri seorang wanita bule yang sedikit lebih muda usianya, kemungkinan adalah istrinya.
Harga 1M memang bukan harga yang cukup besar bagi pengusaha-pengusaha ini, namun tidak juga kecil bila itu untuk disumbangkan. Seperti kebanyakan kita, kalau ke mesjid bawanya duit receh, coba ke mall yang di bawa uang merah-merah semua. Nah, seperti itulah kira-kira uang 1M itu bagi mereka.
"Fantastis! 1M untuk tantangan terakhir!" Lucy mau tak mau berseru kagum juga dengan hasil lelang kepiawaian gadis ini. Harus ia akui sedari awal, gadis ini memang sudah banyak peminatnya, terbukti dengan banyaknya dana yang telah ia kumpulkan.
"1,5M!" seru Erlangga, sang CEO. Ia sendiri tak habis pikir kenapa bisa mengucapkan nominal untuk sekretaris barunya ini. Padahal ia bisa membawa Aline untuk makan berdua kapanpun selama jam kantor. Namun, mungkin karena ketidakrelaannya bila gadis ini jadi makan malam bersama keluarga Andrew Wicaksana dan Elizabeth Doherty, pasangan pengusaha yang sangat terkenal di Asia yang baru saja menawar sekretarisnya itu seharga 1M. Siapa yang tak mengenal keluarga konglomerat ini. Mungkin saja kan jika mereka berniat menjodohkan sekretarisnya itu dengan salah satu putra mereka yang terkenal tampan, cerdas dan bertangan dingin seperti ayahnya itu? Dan Elang sungguh tak rela bila hal itu sampai terjadi.
__ADS_1
"1,6M!" Satria kembali berseru. Ini seperti perseteruan dua saudara, cinta segitiga yang melibatkan kakak beradik yang memperebutkan hati seorang gadis.
Namun kekaguman ini tak berlangsung lama, karena sebuah suara bariton menginterupsi sekaligus mengakhiri persaingan dua saudara ini. "2.1M!" Seorang pria yang dipastikan masih lajang namun sudah bertunangan menyebutkan sebuah nominal yang sangat fantastis.
Lavenderio Tiocandra berjalan dengan santainya setelah menyebutkan angka 2.1M ke arah sebuah meja terdekat yang diduduki oleh Ricky Tiocandra. Lelaki tampan itu duduk dengan sangat anggun. Saat ini semua pasang mata tertuju padanya. Baginya, 2.1M hanya sebagian kecil dari jatah uang jajan adiknya yang sedang berdiri di depan panggung.
"Luar biasa. 2.1M pertama!" lantang Dimas mengucapkan kalimat itu.
"2.1M kedua!" Kali ini Lucy pula yang berseru.
"2.2M!" Nico kembali memberi harga.
"Wow! 2.2M. Luar Biasa!"
"2.5M!" Rio kembali menyebutkan sebuah nominal yang tak main-main. Ia sungguh tak rela bila Nico si bajingan yang tak lain merupakan calon kakak iparnya mengenal adiknya, Rosaline, yang kini berdiri kaku di atas panggung. Ia masih belum bisa memaafkan, jika Rosaline diusir karena laki-laki itu tak mau menolak perjodohan mereka, padahal saat itu ia sudah memiliki wanitanya sendiri, sehingga penolakan oleh adiknya berujung pengusiran terhadap adik cantiknya itu.
"2.5M ketiga!" Dimas dan Lucy mengucapkannya bersama-sama.
"Benar-benar fantastis! Kita akan ke pemenang lelang kali ini! Lucy tampak semangat mendekati Rio, pria tampan dan tajir melintir, idamannya.
"Maaf, dengan siapa, Mas?" Lucy menyodorkan mic kepada Rio.
"Rio, Lavenderio Tiocandra." Rio menjawab singkat dengan matanya tak henti menatap tajam adiknya di atas panggung. Namun jawaban yang meluncur membuat semua mata tertuju padanya.
"Hhhmmm. Mas Rio, nominal yang Anda sebutkan sangat banyak jumlahnya. Apa yang mendorong Anda begitu ingin memenangkan lelang ini?"
Kali ini, Rio mengalihkan tatapannya pada Nico Wirawan. "Nilai yang sepadan untuk makan malam dengan seorang wanita yang sangat menarik yang sedang berdiri di atas panggung."
Lucy mengangguk, lalu menatap Dimas yang sedang berdiri di atas panggung. Dimas yang mengerti maksud tatapan Lucy, membalas anggukan gadis itu.
"Mbak Aline, bagaimana perasaan Anda malam ini? Dana yang Anda kumpulkan menembus angka 3M!"
"Saya tidak menyangka sebelumnya, tetapi senang sekali rasanya bisa bermanfaat bagi sesama. Dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi. Hanya Tuhan Yang Maha Esa yang bisa membalas kebaikan Anda semua," jawab Aline diplomatis.
"Owh, manis sekali. God bless you, too!"
"Ladies and gentleman, dengan demikian, berakhir sudah acara amal kita malam ini. Dan selamat kepada Mbak Aline yang telah berhasil menambahkan hampir 3.5M ke dalam kas yayasan yang telah ia pilih. Semoga, dana tersebut dapat dipergunakan sebagaimana mestinya dan bermanfaat bagi yang membutuhkan. Sekali lagi, berikan tepuk tangan yang meriah untuk peserta lelang kita, Aline!"
Riuh tepukan tangan terdengar memenuhi ruangan. Aline mengangguk lalu berjalan dengan anggun menuruni panggung. Nampak Ricky Tiocandra berdiri dari duduknya menjemput gadis cantik itu di bawah panggung dan menggiringnya ke meja yang ia duduki bersama Rio. Dan semua itu tak luput dari perhatian semua orang. Termasuk sepasang MC yang mengawal berjalannya acara lelang amal ini.
"Para hadirin. Terima kasih atas perhatian Anda pada acara lelang amal dalam rangka HUT Perak Atmaja Company. Saya Dimas, dan rekan saya Lucy undur diri. Acara kami serahkan kembali kepada pembawa acara. Sampai ketemu di lain kesempatan!"
Pasangan itu pun pamit undur diri dan berjalan ke belakang panggung.
__ADS_1
***
Episode ini sedikit banyak terinspirasi dari kisah seorang teman, walaupun nominalnya tak sebesar ini, tetapi karena ini judulnya pesta para pengusaha, jadi nominalnya sengaja dibuat gendut, seperti author🤭