Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Siapa Kamu Sebenarnya


__ADS_3

Cerita Kimy terhenti ketika pelayan datang membawakan pesanan mereka. Tak berapa lama kemudian, Arya dan Rosaline meninggalkan kafe bersama-sama menuju gedung kantor mereka diikuti pandangan tak suka dari seorang Erlangga Eka Atmaja.


Elang makan dengan tak berselera. Ada rasa yang tak ia kenali menyusup di hatinya, membuat selera makannya hilang tanpa jejak. Namun makanan tersebut tetaplah harus ia habiskan karena bisa makan saya merupakan sebuah anugerah. Kedua orang tuanya sedari dulu selalu mengajarkan ia dan adik-adiknya untuk tak membuang-buang makanan. Banyak orang di luaran sana yang belum tentu bisa menikmati makan, entah itu karena ketidakmampuan dan faktor ekonomi ataupun karena kesehatan yang tidak mendukung.


Sementara Kimy, tentu saja makan dengan lahap karena makanan yang dipesannya memang menu favorit di tempat tersebut.


"Kenapa makannya kayak yang gak semangat gitu, Kak? Gak suka makanannya? Hmm, padahal ini delisioso banget! Mantap!" Kimy kembali menyuapkan sesendok sup asparagus ke mulutnya dengan masih menatap Elang dengan tatapan heran, menuntut jawaban. Sementara yang ditanya hanya mengangkat bahu pertanda ia sedang malas untuk berbicara.


"Ck, ditanya malah diem. Kenapa sih Kak? Perasaan tadi baik-baik aja deh." Gadis itu berdecak kesal melihat Elang makan seperti yang terpaksa gitu. "Kalau gak suka makanan di sini kenapa ngajak aku makan di sini?" gumam gadis itu tanpa memperdulikan Elang lagi dan kembali sibuk dengan makanannya.


"Gak kenapa-napa. Gerah aja. Cepat habisin makanan kamu. Kakak belom sholat dhuhur ini. Tadi habis meeting langsung ketemu kamu." Elang berdalih seolah-olah dirinya kecapekan sehabis bertemu dengan klien.


Setelah selesai makan, Kimy segera pamit kembali ke kantornya. Elang mengantar Kimy sampai ke mobilnya. Sepeninggal Kimy, Elang segera mendial nomor seseorang.


"Gue butuh bantuan lo," tanpa basa basi begitu telpon diangkat pada dering ketiga. Lawan bicaranya di seberang sana sudah memaklumi karakter Elang, jadi tidak merasa tersinggung.


"Apa yang membuat seorang Erlangga Eka Atmaja nelpon gue siang-siang bolong begini?" tanya Rafael, salah satu sahabat Elang yang memiliki perusahaan IT dengan inovasi-inovasi baru dan kekinian yang sedang naik daun saat ini.


Detik selanjutnya, Elang sudah menyampaikan maksud dan tujuannya yang membuat Rafael manggut-manggut tanda mengerti di seberang sana.


"Oke. Lu kirimin aja ke gue nama dan fotonya! Dan gue pastikan besok pagi lu bisa cek email lu." Rafael segera menutup telpon tanpa menunggu jawaban dari Elang karena saat ini dirinya sedang berada di tengah-tengah rapat.


"Ck, kebiasaan ni bocah. Gue yang nelpon dia yang nutup!" Elang berbicara pada smartphonenya seolah yang diajak bicara mengerti ungkapan kekesalan tuannya.


Detik selanjutnya, Elang sudah membuka galeri di smartphonenya dan memilah beberapa foto.


Elang segera mengirimkan foto Aline yang pernah ia ambil secara diam-diam saat mereka jogging bersama dulu ke nomor Rafael.


Sungguh, cerita Kimy saat makan siang tadi mengganggu dirinya. Kepingan-kepingan cerita Aura tempo hari, lalu dirinya yang menyaksikan bahwa gadis itu dekat dengan Tiocandra bersaudara, lalu cerita Kimy saat makan siang tadi, serta kemampuan luar biasa gadis itu dalam bekerja namun hanya mengaku berijazah SMA, membuat Elang langsung siaga satu.


Elang memasuki ruang kerjanya dengan air muka yang keruh dan aura yang berbeda kali ini. Tak ada senyuman ramah atau sapaan hangat seperti biasanya. Moodnya benar-benar jatuh siang ini. Ketakutan akan kenyataan bahwa Aline mungkin saja penyusup dari perusahaan lawan bisnisnya juga sempat terlintas di benaknya. Ya, perusahaan milik Rio Tiocandra termasuk rival bisnisnya. Perusahaan mereka hampir bergerak di bidang yang sama, dan walaupun telah memiliki wilayah kekuasan masing-masing, namun pada kenyataannya baru-baru ini Tiocandra mulai mengembangkan sayapnya di daerah Jawa. Hal itu tentu membuat kekhawatiran Elang semakin menjadi.


Ini dunia bisnis. Tak ada aturan yang mewajibkan setiap orang harus bermain bersih. Semua itu tergantung dari pemimpin perusahaan masing-masing, apakah ingin menggunakan cara kotor atau cara terhormat dalam mencapai tujuan perusahaan dan memberikan penghidupan bagi karyawannya.


Meja kerja Aline masih kosong. Elang melirik jam di pergelangan tangan kirinya. Masih ada waktu dua puluh menit lagi sebelum jam istirahat siang berakhir. Lalu berlalu ke ruangannya untuk menunaikan ibadah sholat dhuhur.


Setelah menunaikan sholat, Elang mengambil handphone yang diletakkannya di meja. Terlihat beberapa notifikasi pesan pada layarnya. Segera dibukanya pesan dari Rafael terlebih dahulu.

__ADS_1


"Cantik."


Hanya satu kata itu yang dikirimkan oleh sahabat masa SMA nya dulu. Elang menatap foto Aline yang ia kirimkan tadi. Dan ia tidak suka jika Rafael mengagumi foto gadis itu. Sungguh.


Sementara itu, di rooftop, Aline sedang melakukan panggilan telpon dengan si Mbok. Sudah lama sekali rasanya ia tak menanyakan kabar pengasuhnya itu. Setelah bercengkerama hampir setengah jam, akhirnya Aline mengakhiri panggilannya. Jam istirahat sudah hampir berakhir. Bergegas ia kembali ke bawah menuju meja kerjanya dengan hati yang ringan, setelah mendapat kabar dari si Mbok bahwa semua keluarganya berada dalam keadaan sehat wal'afiat di kota kelahirannya.


Tepat saat ia baru saja mendudukkan bokongnya di kursi kerja, interkom miliknya berbunyi. Aline mengangkat panggilan yang tentu saja adalah dari Elang, atasannya. Elang memintanya untuk segera ke ruangan lelaki itu.


Aline menarik napas dalam-dalam di depan pintu ruangan CEOnya. Perasaannya tiba-tiba menjadi tidak enak.


Tok ... tok ... tok ....


"Masuk!" suara dingin Elang memerintah dari dalam ruangan.


Aline membuka pintu, mengucapkan salam lalu berjalan ke arah meja kerja sang CEO.


"Ya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"


Elang tak langsung menjawab. Ia malah menatap sekretarisnya itu lekat, sehingga yang ditatap merasa risih.


"Ambilkan data penjualan tiga bulan terakhir!" titah Elang.


Baru saja Aline membalikkan tubuh dan hendak berjalan, Elang kembali bersuara.


"Mau kemana kamu?"


"Eh? Mau ngambil data yang Bapak minta, Pak," jawab Aline polos.


"Saya belum selesai!" Elang kembali bersuara, kali ini aura di dalam ruangan itu benar-benar berubah kelam seketika.


Selanjutnya, Elang memberikan begitu banyak titah dan perintah untuk segera dikerjakan Aline. Sebenarnya Elang sendiri tak tega memberikan perintah sebanyak itu untuk dikerjakan selama seminggu ini, namun hal ini tetap harus ia lakukan untuk memastikan kemampuan gadis itu serta untuk melihat apakah dia seorang karyawan yang setia atau justru seorang penyusup bahkan pengkhianat.


Aline keluar dari ruangan Elang dengan tubuh yang terasa lemah. Begitu banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan. Bayangan dirinya yang harus lembur selama seminggu ke depan membuat langkahnya semakin gontai. Tadinya ia sudah mencoba menolak ataupun meminta tenggat waktu, namun Elang tetaplah bosnya, yang walaupun ramah dan hangat pada karyawannya namun tetap memiliki sifat keras kepala, bossy dan arogan layaknya bos pada umumnya.


"Huuuuf.... kepalaku kok mendadak puyeng ya? Dasar bos kekanak-kanakan. Gak bisa makan siang bareng aku, malah aku yang dihukum. Siapa suruh datang telat. Haaaaaah...!" Aline benar-benar frustasi.


Bagaimana nasib pekerjaannya di resto Abah? Padahal selama menjadi sekretaris Elang, Abah dan Bunda sudah banyak memberinya toleransi. Sebenarnya ia sudah lama berniat untuk berhenti di AC, namun Abah dan Bunda tidak mendukung keputusannya itu. Dan Aline menghargai pendapat orang tua angkatnya itu. Namun, kejadian seperti ini justru akan membuatnya semakin tidak enak, baik itu dengan Abah dan bunda, ataupun dengan karyawan lainnya.

__ADS_1


"Baiklah, setelah mbak Dira masuk kerja kembali, aku akan mengundurkan diri dari perusahaan ini dan fokus pada pengembangan kafe dan resto Abah saja," monolog Aline dalam hati.


Tanpa membuang waktu lagi, Aline segera menghubungi divisi-divisi terkait untuk meminta data yang diminta oleh atasan menyebalkannya itu. Sementara menunggu data-data tersebut dikirimkan ke emailnya, Aline memulai tugas yang sudah dijatuhkan padanya.


Hampir satu jam, semua data yang diminta Elang sudah terkumpul di emailnya dari tiap-tiap divisi. Segera ia membuka dan mencetaknya, baik itu data mentah maupun data-data yang telah diolah oleh divisi terkait.


Tok ... tok ...


Aline mengetuk pintu berbahan kayu jati dengan pelitur yang rumit, serumit pemilik ruangan itu.


"Masuk!" suara Elang dari dalam terdengar jelas.


Aline melangkahkan kakinya ke satu-satunya meja kerja di ruangan itu.


"Permisi, Pak. Saya membawakan semua data yang Bapak minta tadi." Aline meletakkan semua data yang telah ia cetak ke atas meja Elang. Namun yang diajak bicara masih sibuk berkutat dengan dokumen yang sedang diperiksanya tanpa menghiraukan sang sekretaris. Aline menarik nafas lelah. Ia merasa diabaikan.


"Kalau begitu, saya kembali ke meja saya. Permisi, Pak!"


"Kamu periksa kembali semua data-data ini dan cocokkan dengan laporan yang sudah ada!" titah Elang tak terbantahkan tanpa mengalihkan fokusnya dari dokumen yang sedang ia periksa.


"Semuanya, Pak? Tapi ..." belum selesai Aline bertanya, Elang menatapnya dengan alis yang diangkat sebelah.


"Kenapa?" Elang menatap lurus ke manik mata sang sekretaris.


"Baiklah." Akhirnya Aline mengalah. Berdebat hanya akan membuang waktu dan tenaganya. Toh pada akhirnya, semua ini juga harus ia kerjakan juga.


Tanpa menunggu lagi, Aline langsung berbalik meninggalkan ruangan Elang membawa kembali semua berkas yang berisikan data itu.


Elang menyaksikan kekesalan yang terpendam di wajah cantik sekretarisnya. Seulas garis tipis melengkung di bibir pemuda tampan itu. Membuat kesal sekretarisnya itu ternyata mengasyikkan juga.


Terbersit untuk melihat apa saja yang sedang dikerjakan oleh sekretarisnya itu, Elang langsung saja mengklik sebuah ikon aplikasi di smartphonenya. Ia baru saja mengaktifkan CCTV yang ada di belakang area kerja Aline. CCTV yang dirancang khusus dan dipesannya dari Rafael untuk keperluan seperti saat ini.


Elang mulai mengamati apa yang dikerjakan oleh sekretarisnya itu. Mulai dari Aline menata data-data di layar komputernya, hingga saat gadis itu meregangkan badan karena terlalu lama berada di depan komputer pun tak luput dari pengamatan Elang. Ekspresi Aline yang berubah-ubah, mulai dari frustasi, kesal, serius, bingung, dan kembali ceria terpampang nyata, membuat lelaki tersebut tanpa sadar mengulas senyuman lebar.


Namun, senyuman itu tak bertahan lama. Begitu Elang melihat Aline menerima panggilan video dari seorang pria yang sepertinya memang dekat dengan gadis itu, rahang CEO tampan itu segera mengeras dan wajah dinginnya kembali muncul ke permukaan. Rio Tiocandra! Ada hubungan apa mereka berdua? Apakah lelaki itu yang mengirim Aline untuk menyusup ke perusahaannya?


"Aline, siapa kamu sebenarnya?" lirih Elang menahan amarah dan tanya yang belum terjawabkan.

__ADS_1


***


__ADS_2