Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Gadis Pashmina


__ADS_3

Smartphone mahal milik seorang pria yang tengah tertidur sudah berteriak sedari tadi. Sama sekali tak mengusik ketentraman tidurnya di atas kasur empuk berukuran king size itu. Pria itu terlelap begitu dalam. Seolah ia hidup hanya untuk tidur meskipun mentari sudah bersinar garang.


Kali ini nyanyian tak hanya keluar dari smartphone mahal miliknya, tapi juga dari pintu apartemen mewah itu. Seseorang telah menggedor dengan sangat berisik hingga lelapnya terusik.


"Ahhh ... mengganggu saja!" gerutunya dengan suara parau khas orang bangun tidur. Segera ia keluar kamar menuju pintu yang seperti sedang meronta-ronta kesakitan.


"Ada apa?" tanyanya dingin mengintip dari celah pintu yang hanya ia buka sedikit. Sengaja. Sayangnya tamunya yang tidak tahu diri itu menerobos masuk dan duduk manis di sofa, menyilangkan kakinya.


Elang, lelaki itu, terpaksa mengekori sang tamu tak diundang itu duduk bersandar di lengan sofa. Dengan santai ia menaikkan kakinya dan selonjoran. Mengambil posisi untuk bersiap tidur kembali.


"Puk!" Suara bantal kursi menimpuk wajah penuh lebam milik Elang. Segera ia singkirkan dan kembali mencari posisi nyaman.


Hening hingga sang tamu menghela napas dan membuangnya kasar.


"Kenapa wajah lu?"


"Biasa! Laki-laki," jawabnya santai masih dengan mata terpejam.


"Sialan lu, Lang! Gue repot sendiri di kantor lu malah enak-enakan tidur di sini!" semprotnya.


"Kan gue gaji," jawabnya enteng membuat kepala tamunya panas berasap.


"Sialan!" katanya kembali melempar dua buah bantal lagi.


"Aman semua kan?" Elang bertanya dengan wajah tanpa dosa.


"Lu mesti gedein bonus gue tahun ini! Tender lu udah gue amankan!" jawabnya jumawa.

__ADS_1


"Huuuffffttt ...." Elang mendengus. "Songong!"


"Setidaknya gue masih bertanggung jawab dengan kerjaan gue meskipun badan rasanya gak fit," sarkasnya. Yang disindir hanya diam tak bereaksi apapun. "Dasar batu!" pikirnya.


Rendi, sang tamu, berjalan menuju lemari es besar di apartemen mewah milik boss sekaligus sahabatnya itu. Ia mengambil beberapa botol minuman ringan dan setoples cemilan dari counter dapur. Dibawanya smua dalam dekapannya kembali ke ruang tengah, dimana Elang berada.


"Lu udah makan?" tanyanya sembari membuka sebotol minuman rasa jeruk yang mengandung bulir-bulir jeruk kesukaannya. Yang ditanya hanya menggeleng singkat sebagai jawaban.


Rendi merogoh saku jasnya dan mengeluarkan benda pipih berlogo buah apel yang udah digigit kalong. Dibukanya aplikasi untuk memesan makanan secara online. Tak tega rasanya ia memarahi pria yang tengah berposisi tiduran di depannya ini. Wajahnya yang tampan kini sudah tak berbentuk.


"Siapa yang ngelakuin ini smua?" tanyanya pada akhirnya.


Elang membuka matanya, menatap manik hitam di seberangnya, mengambil posisi duduk, lalu mengedikkan bahu. "Gue mutusin menyudahi perjodohan bodoh ini. Kania gak terima, ngadu ke kakaknya dan berakhirlah gue dikeroyok si Ivan," ceritanya singkat. "Dasar manja!" umpatnya kemudian.


"Kalau Maya digituin orang, gue bakalan ngelakuin hal yang sama kayak Ivan. Lu udah gila batalin perjodohan lu kayak gini?"


Rendi diam saja mendengar sahabatnya berkeluh kesah.


"Kadang gue iri ngelihat hubungan lo sama tunangan lo. Kalian begitu akrab satu sama lain," lanjutnya.


"Ya itu karena gue kenal Elisa udah lama dan kita memang saling mencintai. Dari awal gue kan udah peringatin lo, gue tau betul siapa Kania itu. Tapi lo nya aja yang gak mau dengerin."


"Lo pikir apa yang harus lo lakuin di saat nyokap lo dengan sumringahnya mengenalkan seorang perempuan buat jadi mantu nya? Gue gak bisa kalau senyum bahagia itu hilang dari wajah nyokap gue. Dari awal gue gak menjanjikan kalau perjodohan ini bakal berhasil. Gue coba jalani ternyata semua gak seperti harapan. Untung saja pertunangan itu belum terjadi. Bisa mati muda gue menikah sama sepupu lo!"


"Gara-gara ini lu bolos tiga hari ini?"


Lagi-lagi Elang hanya mengedikkan bahu.

__ADS_1


"Gue udah menimang-nimang sejak seminggu sebelum kepulangan bonyok. Gue takut penyakit nyokap kambuh. Empat hari lalu gue beranikan pulang, ketemu bonyok, bicarain masalah ini. Awalnya menolak, tapi akhirnya bonyok gue ngerti. Lalu kemarin gue temui Kania. Dia marah dan gak terima. Dan lo lihat sendiri sisanya," katanya sambil menunjuk wajah dan badannya yang lebam-lebam. Kalau saja gadis pashmina itu gak datang menolongnya, pikirnya, mungkin dirinya akan berakhir di rumah sakit. Semua orang tahu jika Ivan sangat menyayangi adiknya itu, tak perduli benar atau salah, ia pasti akan menjadi garda utama bagi adiknya. Hal inilah yang membuat Kania tumbuh menjadi perempuan manja, arogan dan angkuh.


Rendi berjalan membukakan pintu. Ia mengambil pesanannya, lalu menatanya di meja makan. Ia mengambil piring, menarik sebuah kursi dan mulai menyendoki nasi beserta lauk pauknya tanpa berbasa basi pada sang empunya rumah.


"Sialan lo!" Elang bergegas menghampiri, mengambil piring, nasi dan lauk pauk. Dia duduk di seberang Rendi.


"Gimana urusan sama Mr. Han?" tanyanya dalam mode serius.


"Aman," jawab Rendi singkat. Elang masih menatap sahabatnya menunggu kelanjutan cerita. Yang ditatap malah dengan santai memasukkan sesendok nasi dan lauk ke mulutnya.


"Awalnya dia menolak gue yang menemui dan bernegosiasi dengannya. Gue bilang lu lagi dirawat pasca kecelakaan, makanya dia luluh."


"****** Lo, Nyet! Doain gue yang enggak-enggak! Lo pengen gue celaka? Dasar sahabat gak punya akhlak lo! omelnya.


"Salah lo sendiri mangkir. HP lo gak bisa dihubungi. Si Dira gue suruh ke sini kata satpam lo gak pulang. Bersyukur gue masih sempat pelajarin bahan meeting dan meyakinkan Mr. Han tentang keadaan lu dan berakhir deal, kalo enggak pasti akan berdampak buruk sama perusahaan," terangnya.


Benar apa yang dikatakan Rendi. Mr. Han terkenal perfeksionis. Dia hanya ingin berhubungan dengan petinggi perusahaan. Untung saja direktur keuangannya ini cukup lihai menguasai panggung. Tak terbayang berapa digit angka yang bakal hilang dari kas perusahaannya.


"Thanks, by the way!"


"Lu besok harus masuk! Kerjaan lu dan kerjaan gue menumpuk. Kasihan gue lihat sekretaris lu. Lagi kebagian morning sickness eh si bos malah bertingkah," ucapnya memarahi bos nya.


"Kadang gue heran siapa bos nya di sini?" sarkas Elang.


"Dan kadang gue gak habis pikir kemana perginya bos gue yang perfect dan profesional itu?" balas Rendi tak kalah sinis.


"Sialan lo, hahahahahah!"

__ADS_1


Keduanya tertawa, tak lama kemudian Rendi pamit kembali ke kantor mengerjakan setumpuk dokumen keuangan yang harus ia pelajari. Meninggalkan Elang yang kembali terbayang gadis pashmina yang telah menolongnya. Gadis pemberani, pikirnya. "Jika diizinkan, gue pengen ketemu lagi sama dia," bathinnya.


__ADS_2