Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Pertengkaran dan Penjelasan


__ADS_3

Aline menikmati momen dimana ketiga abangnya begitu menikmati sarapan buatannya dengan lahap. Perasaan kesal harus dikesampingkan dulu. Ini kali pertama ia memasak untuk keluarganya. Biasanya hanya diizinkan membantu Mami dan si Mbok menata masakan yang sudah jadi di meja makan, tidak diberi kesempatan untuk memegang alat masak sama sekali.


Nasi goreng seafood spesial pun sudah habis tak bersisa. Ketiga lelaki itu masih terduduk kekenyangan di kursi teras sambil malas-malasan menikmati A.C alami (angin cepoi-cepoi🤭) di pagi ini. Beberapa menit berlalu dalam keheningan.


"Sudah bisa kita bicara?" Gadis itu memecah kesunyian di teras rumah kontrakannya. Penghuni kontrakan yang lain tak tampak, mungkin menyambung tidur. Ia lalu mengajak ketiga abangnya untuk masuk dan duduk di ruang tamu, pintu dibiarkan terbuka separuhnya. Apa yang akan dibicarakan merupakan privasi, namun ketidaktahuan tetangga akan hubungan mereka mengharuskannya untuk tetap membiarkan pintu terbuka, walau separuhnya.


Ketiga lelaki Tiocandra tak punya pilihan selain mengangguk. Mereka duduk melingkar di meja tamu milik Rosaline.


"Oke, thank you. Kalau gitu, bisa ceritakan ke aku apa yang sebenarnya terjadi? Aku tau pertemuan kita di pesta tadi malam bukan kebetulan semata." Ketiganya saling pandang, namun tak ada yang bersuara, membuat gadis itu meradang.


"Jika begini harus disebut satu per satu biar mau bicara," pikir Aline. Ia tahu betul tabiat ketiga abangnya itu, paling suka mengulur waktu.


"Oke, kalau gak ada yang mau memulai, aku absen dari Bang Cris." Merasa namanya disebut, Cris menoleh ke kiri, ke wajah cantik adiknya.


"Abang kan udah janji untuk merahasiakan tentang keberadaan aku. Lalu kenapa Bang Rio dan Ricky bisa menemukan aku di sini?" cecarnya.


"Kamu beneran niat mau sembunyi dan gak mau diketemukan sama kita?" tanya Ricky penasaran yang hanya mendapat pelototan dari adiknya itu, membuat nyali ciut seketika. "Tak kuase aku engkau tengok macam tu!" celetuknya, mendengus kesal.


"Aku nanya sama Bang Cris. Paham?"


"Eehhheemmm ..." Cris berdehem untuk mengembalikan perhatian semua orang.


"Abang gak ada kasih tau Rio. Dia tau dengan usahanya sendiri. Rio pernah memergoki kita berdua sedang v-call. Tapi waktu itu Abang gak kasi tau apapun. Nomor HP kamu juga Abang gak kasih. Cuma, waktu Abang ultah, Rio minta izin buat pasang alat pelacak di HP Abang karena prediksi Rio saat itu kamu bakal nelpon Abang lagi. Jadi, Abang izinkan. Kan perjanjian kita gak melarang itu." Cris menutup penjelasannya dengan kalimat tanpa dosa membuat gadis itu memelototinya. Cris malah tertawa, gemes sama tingkah laku adiknya yang seperti sudah dewasa tapi ternyata masih tetap kekanakan.


"Kenapa hanya si mbok yang kamu izinkan mengetahui keberadaan kamu?" ucap Rio dingin, membuat ketar ketir Rosaline. Pasalnya, Rio hanya akan bersikap dingin padanya jika ada hal serius yang membuatnya marah. "Kamu lupa kalau kamu masih punya keluarga? Atau kamu sudah tidak menganggap kami keluarga kamu lagi?" Rio membalikkan keadaan. Ia menyampaikan isi hatinya. Kesal karena ternyata sang adik bertindak egois.

__ADS_1


"Kamu tahu, mami sakit berbulan-bulan karena kamu menghilang! Abang menggantikan posisi kamu bertunangan dengan adiknya si Nico. Dan kami pontang-panting kesana kemari mencari kamu! Dan ..."


"Rio!" tegur Cris mengingatkan. Cris menggeleng. Ia melihat Rosaline yang memandang lekat Rio, ada sedih, marah dan penyesalan di mata gadis itu.


"Mami sakit?" ulangnya lirih.


"Iya! Dan itu karena kamu! Merepotkan sekali!" sambar Rio, menyalahkan.


"Terus saja Abang nyalahin aku! Abang gak ngerasa apa yang aku alami. Sedari kecil aku selalu nurut kata papi, apapun yang papi minta aku lakukan. Tapi menikah dengan laki-laki bajing** bukan sesuatu yang bisa aku tolerir lagi. Lalu apa yang kau dapat? Aku malah ditampar, diusir dan dibuang, tak dianggap keluarga! Abang gak ngerasain itu semua!" dadanya naik turun mengatur napas dan amarah. Rio membuang muka, kesal juga karena adiknya malah melawan.


"Kenapa si mbok? Karena dari uang yang dipinjamkannya aku masih bertahan sampai sekarang. Kemana kalian?! Kalian terlalu sibuk dengan urusan kalian sendiri. Sudah segitu lama aku kembali dari Jerman, kalian tak datang menjenguk, menelpon sekedar bertanya apakah aku selamat sampai di Batam pun tidak! Bagaimana aku harus mengadu pada kalian?" Rosaline sudah terisak meluapkan amarahnya, dadanya naik turun semakin cepat.


"Terus saja salahkan aku! Apa karena aku perempuan dan si bungsu maka aku tak berhak mengatur hidupku sendiri! Kalian gak tau rasanya hidup di tempat asing hanya modal baju di badan! Asal Abang tahu, aku pernah sekali mencoba menelpon bang Cris dan juga Abang. Tapi telpon aku gak dijawab, gak juga ditelpon balik, huhuhuhuhu...." Rosaline tergugu.


Cris segera merangkulnya, mengecup kepala sang adik sambil membisikkan, "Maafkan Abang dan Bang Rio ya! Kami sayang sama kamu. Sebenarnya kami sengaja memutus komunikasi karena ingin membuat kejutan untuk ulang tahun kamu, tapi ternyata kami yang dibuat terkejut saat itu." Cris lalu menceritakan kejadian di hari ulang tahun ke 23 adiknya itu. Rosaline masih terisak di pelukan Cris. Akhirnya, Rio juga ikut memeluk adiknya itu. Sementara Ricky mengusap-usap tangan Rosaline yang berada di atas meja.


Keempat orang itu menoleh ke arah sepasang paruh baya yang berdiri di ambang pintu. Abah dan Bunda berdiri dengan raut wajah kecewa.


"Abah, Bunda?" cicit Aline. "Ini gak seperti ..." ucapan Rosaline terhenti karena tepukan Cris di bahunya.


"Biar Abang aja!" ucap Cris penuh wibawa.


"Silakan masuk dan duduk dulu, Bapak, Ibu. Saya akan menjelaskan semua."


Abah dan Bunda lalu mengambil tempat di ruang tamu mungil milik Rosaline, duduk bersila menghadap keempat anak muda yang duduk berbaris di depan mereka, menunggu penjelasan. Mereka langsung kemari saat Nuri, salah satu tetangga Aline, menelpon dan mengabari bahwa gadis itu pulang dengan tiga lelaki asing yang masih betah berada di kontrakannya hingga saat ini.

__ADS_1


"Baik, Pak, Bu. Perkenalkan, saya Cris, ini adik-adik saya, Rio dan Ricky." Cris memulai penjelasannya.


"Saya dan Rio Abang kandung Rosaline, sedangkan Ricky adalah sepupu kami. Saya membawa foto KK dan foto keluarga kami." Cris lalu menyerahkan HPnya pada Abah. Abah dan Bunda meraih HP Cris dan melihat foto yang disodorkannya. Meneliti dengan seksama. Untung saja Cris sudah memperkirakan semua ini sehingga ada persiapan.


"Jadi, nama kamu sebenarnya Rosaline, Lin?" tanya Bunda menyelidiki.


Aline mengangguk, " Iya, Bunda, Abah. Nama Aline Rosaline Denisa Tiocandra. Ini abang-abang Aline. Kami bertemu tadi malam di pesta perusahaan tempat Aline bekerja, sedangkan bang Cris baru menyusul tadi pagi," jelasnya.


"Abah sama Bunda ditelpon sama tetangga kamu. Bilang kamu bawa tiga lelaki ke rumah. Maafkan kami karena tadi sempat berprasangka pada kalian." Sportif Abah menjelaskan.


"Tidak apa-apa, Pak, hal yang wajar. Kami tidak mempermasalahkan itu, justru kami senang Bapak dan Ibu jadi mampir ke sini. Tadinya, kami memang berniat bertamu ke rumah Bapak untuk silaturrahmi dan menyampaikan terima kasih karena sudah merawat adik kami, tapi sudah keburu bertemu di sini." Suasana yang tadi sempat tegang kini sudah mencair dan mulai akrab. Cris kembali mengusap sayang kepala Rosaline, memintanya membuatkan minuman untuk Abah dan Bunda. Di saat galau seperti ini, adiknya itu memang tambah tidak peka sehingga perlu diingatkan.


Rosaline berjalan ke dalam, ke dapur membuatkan hidangan untuk para tamu.


Sementara itu, sepeninggal Rosaline, Cris menceritakan latar belakang Rosaline dan garis besar kisah adiknya hingga sampai di Jakarta dan bagaimana mereka bisa menemukannya.


"Kami sudah mencari kemana-mana, ternyata sembunyi di sini." Kalimat Cris menutup cerita tentang Rosaline bersamaan dengan kemunculan gadis itu dengan nampan berisi minuman dan cemilan.


Bunda pun tak mau kalah menceritakan pertemuannya dengan Aline sampai kegigihan gadis itu dalam bekerja. Ketiga abangnya dibuat geleng-geleng kepala dan prihatin atas apa yang telah menimpa gadis itu sekaligus kagum akan ketegaran dan kemandiriannya.


Suasana akrab terjalin di antara mereka. Hingga siang menjelang, Abah dan Bunda pamit untuk kembali ke resto. Tak lupa Abah mengundang ketiga kakak lelaki Aline itu untuk makan siang di resto miliknya.


"Nanti gak usah masuk kerja! Nikmati waktu bersama abang-abang kamu mumpung mereka masih di Jakarta!" bisik Bunda saat beranjak menuju teras.


"Lin, nanti ajak abang-abang kamu makan siang di resto ya!" Sengaja Abah mengulangi undangannya dengan suara yang sengaja dikeraskan sedikit saat sudah berada di teras rumah, agar para tetangga mengetahui bahwa ketiga lelaki itu adalah kakak lelaki anak angkatnya dan sekaligus menghapuskan prasangka di hati dan pikiran para tetangga, penghuni kompleks perumahan miliknya.

__ADS_1


** *


__ADS_2