Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
HUT A.C (1)


__ADS_3

Aline POV


HUT Perak A.C yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Seperti yang sudah kujanjikan pada Ce Shayna dan Mbak Dira, aku akan datang malam ini. Jadi, di sinilah aku, berjalan memasuki gedung hotel yang mewah ini setelah mengucapkan terima kasih dan melambai pada Anggia yang bersedia mengantarkan aku dengan selamat sampai ke tujuan. Anggia memang berbakat dalam merias wajah. Wajahku tampak bersinar dan berkilauan malam ini, minimalis namun tetap natural. "Emejing bikin pangling!" kata Hana tadi sebelum aku berangkat.


Aku berjalan menuju tempat acara. Sepanjang jalan aku hanya bisa menundukkan pandangan karena para lelaki yang berada di sini membuatku jengah dengan tatapan mereka. Padahal aku sudah sengaja datang terlambat agar tidak terlalu ramai tamu yang berada di luar. Ternyata dugaanku salah. Aku tidak suka menjadi pusat perhatian. Bukannya sombong, tapi hal ini sudah sering kudapati dulu ketika aku dengan terpaksa harus ikut papi dan mami menghadiri party-party dari rekan bisnis papi. Dan aku tidak menyukainya.


Setelah berfoto dan mengisi buku tamu, aku pun berniat masuk ke dalam ruangan dimana diselenggarakannya acara HUT Perak A.C. Selangkah lagi kakiku memasuki pintu utama acara, seseorang menarikku dengan paksa. Ia berjalan di depanku dan menyeretku. Langkahnya besar-besar, membuatku kesusahan berjalan dan terseok-seok mengikutinya karena heels tujuh senti ini. Sekilas, aku seperti mengenal orang yang menarikku ini. Walaupun dari belakang, rasanya aku mengenalnya. Tapi segera kutepis pikiran itu. Mana mungkin ada kebetulan seperti ini, bukan?


Dia membawaku cukup jauh dari tempat acara. Ada semacam lorong tapi tidak buntu juga. Dia menarikku ke depannya dan membuatku tersandar ke dinding. Kedua pergelangan tanganku dipegang erat olehnya seakan tau jika sewaktu-waktu aku bisa saja memukulnya hingga tak sadarkan diri. Aku tidak bisa berkutik di bawah kungkungannya. Sekalipun aku menguasai bermacam ilmu bela diri, namun tenagaku tentu kalah jika dibandingkan tenaga seorang lelaki dewasa setinggi dan sebesar dia. Benar dugaanku, ternyata dia!


Suka dengan kejutannya, Princess?" ucap lelaki itu dengan senyum smirk khas miliknya yang menyebalkan itu.


Aku tergugup, kaget, takut, khawatir tapi juga bahagia. Entah bagaimana air muka ku saat ini. Pasti dia akan menertawakan aku nanti. Ya, dia adalah Ricky Alvaro Tiocandra. Sepupuku yang menyebalkan dan juga saudara sesusuan dengan aku dan kedua abangku, karena ibunya meninggal saat melahirkannya jadi mami yang sedang menyusui bang Rio kala itu juga menyusuinya, memberikannya ASI, makanan terbaik yang diberikan oleh Allah SWT untuk para bayi.


Mungkin karena berbagi ASI itulah dia dan bang Rio sangat lengket. Salah, lebih cocok jika aku bilang dialah yang menempeli bang Rio kemana-mana. Apa-apa maunya samaan dengan punya bang Rio. Baginya, Rio Tiocandra adalah idolanya. Oleh karena itu keberadaannya di sini membuatku was-was kalau-kalau ada bang Rio juga di sini. Maklum saja, dia masih suka nempel sama bang Rio, begitupun bang Rio, mau-maunya ditempeli makhluk menyebalkan ini, meskipun mereka sudah sama-sama dewasa. Eits, tapi bukan berarti mereka berubah 'haluan' ya.


Aku memintanya melepaskan tanganku, namun tak digubrisnya. Malah mengataiku garang.


Benar dugaanku, dia menertawakan ekspresi mukaku saat melihatnya tadi. Mana mungkin dia melewatkan kesempatan untuk membuatku jengkel. Beberapa kali juga dia menyentil ujung hidungku karena aku tidak mau memanggilnya Abang. Hey, itu bukan tanpa alasan. Masalahnya kami sekolah di SMA yang sama. Dia masuk duluan setahun dariku, tapi karena aku mengambil kelas akselerasi sehingga kami lulus berbarengan. Sejak itu Rosaline yang dulu tidak mau memanggilnya dengan sebutan 'abang' lagi.


Aku mulai risih. Khawatir jika ada yang melihat kami dari belakang, pasti akan langsung salah sangka dan berpikiran negatif. Posisi kami saat ini seperti pasangan yang sedang berbuat mesum yang tidak tahu tempat. Padahal ini hotel, berbuat begituan di lorong sebenarnya sering dijumpai, apalagi di kota-kota besar. Tahu kan seberapa mudahnya orang berpikiran negatif hanya dari apa yang dilihatnya? Itulah yang aku maksud.

__ADS_1


"Lepasin!!! Posisi berdiri kita berdua sekarang ini persis kayak pasangan yang sedang berbuat tindakan asusila," pintaku berang padanya.


"Peduli amat dengan pikiran orang, Sweety. Kita sudah dewasa dan ini di hotel, Cantik, di Jakarta pula. Biar saja mereka berpikiran terserah mereka."


Bukannya aku ikut membenarkan, tentu saja ini salah. Tapi aku berbicara realita, itulah fenomena yang sering kita jumpai di tengah-tengah masyarakat saat ini. Dimana norma-norma agama dan susila Indonesia sebagai bangsa timur yang beragama mulai tergeser dan tergerus oleh budaya barat yang lebih bebas dan sekuler, mengubah mindset generasi muda lewat tren-tren yang sengaja diciptakan melalui media, terutama media sosial.


Aku meronta. Ternyata permintaanku gak ngefek sama dia. Aku lalu menginjak kakinya dengan heels 7 Senti ku, membuatnya mengaduh namun tetap juga tak berpengaruh padanya. Lalu kucoba bernegosiasi lagi, bila tak berhasil juga, maka akan kusikut bagian sensitifnya dengan lututku yang bebas.


"Tentu saja! Sekarang aku sudah menggunakan jilbab, jadi harus menjaga marwahnya," kataku. Dia lalu berpikir, seperti menimbang sesuatu sebelum akhirnya mengangguk menyetujui, namun dengan persyaratan. Masih saja harus ada imbal balik. Dasar pebisnis! Dia meminta aku memanggilnya 'Bang Ricky'. Huh, apa kerennya dipanggil begitu.


Segera saja kuikuti maunya. Dan dia melepaskan tanganku. Lalu aku mendorong tubuh kekar Ricky sedikit ke belakang, memberi jarak bagi kami berdua agar tidak ada yang salah sangka kalau kebetulan lewat.


Setelah terbebas, aku melihat kiri kanan sekiranya ada bang Rio di sekitar sini. Karena yang aku tahu, dia selalu mengekor pada bang Rio. Sempat ada bang Rio, bisa diseret pulang aku. Untunglah dia hanya sendiri, plan B katanya. Aku mengerti apa istilah itu. Plan B adalah rencana cadangan yang hanya dipakai bila baik bang Cris, Bang Rio atau aku tidak bisa menyelesaikan rencana awal kami. Dengan kata lain, dia memilih menjadi ban serap kami, hehehe.. agak kasar memang kedengarannya, tapi memang begitulah. Dia yang meminta.


Kami memasuki ruangan, banyak pasang mata yang menatap kagum pada kami. Tentu saja, itu karena Ricky memiliki daya pikat yang otentik. Persis bang Rio. Mereka berdua memiliki karakter yang sama, dari berwajah dingin, bersikap dingin, sampai bertangan dingin. Wajahnya yang tampan sering wara wiri di majalah bisnis, siapa yang tidak mengenal pebisnis muda berbakat klan Tiocandra? Dan sekarang salah satunya sedang kugandeng tangannya. Kami seperti pasangan dan dia terlihat cuek, tidak peduli dengan sekitarnya.


"Rik, buruan duduk. Aku risih jadi pusat perhatian begini," bisikku padanya.


Ia mengangguk dan duduk di barisan meja yang paling dekat dengan stand makanan. Setelah rangkaian acara inti selesai, semua tamu dipersilakan untuk menikmati hidangan.


Setelah ini akan diadakan acara amal, lalu acara puncak HUT Perak dengan pemotongan kue ulang tahun dan hiburan.

__ADS_1


Setelah menikmati hidangan, Ricky mengajakku berkeliling beramah tamah dengan tuan rumah dan kolega-kolega bisnisnya. Dengan santainya ia mengenalkan aku, "She's my princess," kepada kolega nya yang menanyakan siapa aku. Dan tentu saja mereka menganggap ku kekasih lelaki menyebalkan ini. Pupus sudah harapanku untuk bertemu jodoh di pesta ini, poor Aline.


Di saat kami sedang berbincang dengan Mr. Muler, seseorang berpakaian seragam EO atau panitia menghampiri kami.


"Maaf, Mbak. Apakah Mbak pemilik nomor 080?" tanya gadis itu padaku.


"Ya, betul. Itu nomor yang ada pada saya." Kuperlihatkan nomor itu padanya.


"Mari, Mbak. Silakan ikut saya ke belakang. Karena acara lelang akan segera dimulai," jelasnya.


"Maaf, Mbak. Tapi saya tidak mendaftar untuk mengikutinya," ucapku bingung. Ada yang salah di sini. Aku tidak pernah mendaftar untuk mengikuti acara lelang itu.


"Begini, Mbak. Nomor Mbak di request langsung oleh Bu Shayna." Perempuan itu kembali menjelaskan. "Nanti sistem lelangnya akan dijelaskan langsung oleh beliau di belakang. Mari, Mbak!"


Aku melongo. Ce Shayna ada-ada saja. Namun akhirnya aku mengalah. Entah apa yang direncanakan gadis cantik itu padaku. Aku meminta izin kepada Ricky dengan sudah payah, seperti biasa ia tak akan membuat segalanya menjadi mudah bagiku. Ricky akhirnya mengizinkan setelah aku setuju untuk pulang dengannya nanti.


Aku berjalan ke arah belakang panggung. Ada sebuah ruangan yang tidak terlalu luas, namun masih menyatu dengan ballroom acara. Di sana kulihat beberapa orang yang sepertinya peserta lelang sepertiku sedang duduk di kursi-kursi yang telah disediakan. Ce Shayna berdiri di bagian depan mereka, sedang berbicara dengan seseorang, seperti memberi arahan atau semacamnya.


Aku duduk di kursi paling ujung barisan kedua. Hanya ada 10 orang peserta lelang malam ini, lima orang pria dan lima orang wanita. Beberapa di antaranya aku kenal sebagai sesama rekan kerja di A.C dan beberapa lagi sepertinya tamu undangan.


Aku melihat ce Shayna melirikku yang baru saja mendaratkan bokongku di kursi. Ce Shayna lalu menghampiri kami dan menjelaskan kenapa kami ada di sini dan untuk apa.

__ADS_1


Setelah menjelaskan, kami semua mengambil undian untuk tampil. Dan aku mendapat kesempatan terakhir. Maka, permainan lelang amal pun dimulai.


***


__ADS_2