
"Ke pelabuhan, Pak!"
Di dalam taksi, Rosa menimang-nimang kemana ia akan pergi. Ya, pelabuhan adalah tujuannya saat ini. Kapal adalah transportasi pilihannya mengingat ia tak membawa identitas apapun yang bisa digunakannya. Rosa tak henti-hentinya menghapus kasar air matanya yang terus saja mengalir. Pak supir yang mencuri pandang melalui kaca merasa iba pada gadis belia yang menumpang taksinya.
"Habis ribut sama pacarnya ya, Dek?" Pak Supir mulai kepo sambil menyerahkan sekotak tissue. Rosa mengambil kotak tissue itu. Ia hanya menggeleng.
"Baru diputusin pacar?" tanyanya lagi.
Lagi-lagi hanya gelengan yang ia dapatkan.
"Jangan diambil pusing semua, Dek! Semua masalah pasti ada solusinya. Setiap kejadian pasti ada hikmah di baliknya." Si Bapak memulai cerita berharap bisa memberikan sedikit pencerahan pada gadis yang sedang menangis dalam diam di kursi penumpang.
"Intinya, kita harus banyak sabar dan syukur! Bersyukur itu nikmat, Dek. Contohnya, Bapak udah keluar rumah dari jam 4 subuh tadi, tapi baru Adek ini yang menumpang di taksi Bapak. Alhamdulillah, pecah telor juga," lanjutnya disertai senyuman. Selama perjalanan, Pak Supir yang mungkin seusia papinya memberikan banyak kisah inspiratif yang sedikit banyak membuatnya tenang.
"Nah, sudah sampai, Dek. Ingat bersyukur dan bersabar ya!" Rosa hanya mengangguk dan menyerahkan dua lembar uang 1
pecahan seratus ribu. "Buat Bapak yang udah kasi cerita inspirasi kehidupan."
"Banyak betul ini, Dek. Tapi terima kasih ya! Rejeki gak boleh ditolak. Ini buah bersyukur dan bersabar Bapak hari ini. Dibayar cash sama Allah. Alhamdulillah. Terima kasih sekali lagi. Hati-hati di jalan ya, Dek! Semoga selamat sampai tujuan!"
Rosa hanya mengangguk lalu melangkah menuju loket pembelian tiket.
"Dumai 1, bang!"
Ya, Dumai adalah tujuannya kali ini. Ia berniat ke rumah adik dari maminya, Om Harry Kian Johansen, yang menetap di Kota Dumai. "Yang penting bukan Tiocandra," pikirnya. Dirogohnya saku jaketnya untuk membayar tiket. Lalu bergegas ke toilet untuk mencuci wajahnya. "Kamu mesti kuat, Rosa! Harus sabar dan tetap bersyukur seperti kata bapak supir tadi! Semangat!!!" Ia bermonolog di depan cermin. Setelah selesai, ia menuju warung kecil yang ada di sekitar pelabuhan untuk membeli mi cup sebagai makan siangnya dan beberapa bungkus roti untuk persediaan selama di perjalanan. Setelah perutnya terisi, Rosa kembali menuju ruang tunggu. Sembari menunggu kapal, ia pun mengeluarkan smartphone yang baru saja dibelinya tadi sebelum ke pelabuhan. Bukan sejenis yang mahal berlogo buah yang digigit kalong seperti yang biasa ia pakai, hanya smartphone buatan dalam negeri yang harganya jauh lebih murah. Bagaimanapun, ia harus menghemat pengeluaran dan membeli barang-barang yang hanya benar-benar diperlukannya untuk saat ini, dan benda yang kini sedang ia genggam ini termasuk dalam barang yang sangat dibutuhkan. Ia selalu mengingat bahwa uang yang ada di saku jaketnya saat ini berstatus sebagai uang pinjaman dan ia harus segera mengembalikan uang itu untuk membelikan hadiah kepada anak-anak panti, seperti niatnya di awal.
"Hhhhhhh ...." Rosa menghembuskan napas dengan kasar. Dia tak percaya dengan takdirnya saat ini. Ia merasa sangat kecewa pada papinya. Tapi semua sudah terjadi. Saat ini yang penting adalah menyusun rencana untuk melanjutkan hidupnya nanti, tanpa kartu identitas, tanpa ijazah, tanpa nama besar Tiocandra! Entah bagaimana ia akan mencari pekerjaan nanti. Semoga Om Harry bisa membantunya!
Menjelang malam, Rosa sampai di rumah mewah adik maminya itu. Ia mengetuk pintu dan menunggu seseorang membukakan pintu dari dalam.
Siti, anak dari asisten rumah tangga Om Harry, yang membukakannya pintu. "Eh, Kak Rosa. Masuk, Kak! Kakak sendiri aja? Papi sama maminya gak ikut?" tanya Siti setelah celingak celinguk mencari keberadaan manusia lain selain dirinya.
Rosa tersenyum melihat tingkah Siti, anak ART-nya Om Harry, yang cukup dekat dengannya karena sewaktu kecil ia sering berlibur ke sini. "Hehe .... Malam Ti! Iya, Kakak sendiri aja. Ada urusan di Pekanbaru, jadi Kakak mampir dulu ke sini." (Ngarang banget, pikir hatinya). "Om Harry sama Tante Ika-nya ada, Ti? Kok rumah kayaknya sepi?"
"Bapak sekeluarga kan sedang liburan ke Thailand, Kak. Empat hari lagi baru balik. Emangnya Kakak gak ngabarin Bapak atau Ibuk dulu sebelum ke sini?"
"Enggak, tadi tiba-tiba kepikiran aja ke sini dulu."
"Yaudah, Kakak duduk dulu di sini! Aku mau panggilkan Ibu, skalian aku siapin kamar buat Kakak."
Sujarmi, ART keluarga Om Harry sekaligus ibu ya Siti, datang dari arah dapur sambil membawa segelas jus jeruk untuk tamunya yang tak lain adalah keponakan majikannya.
__ADS_1
"Diminum, Non!"
"Eh, iya Bude. Makasih."
"Kata Siti, Non Rosa sendiri aja."
"Iya Bude, aku ada urusan besok di Pekanbaru. Jadi aku mampir dulu kesini. Udah lama juga aku gak main ke sini."
"Iya Non. Bapak sekeluarga baru dua hari yang lalu berangkat ke Thailand."
"Iya, tadi Siti juga udah cerita. Salah akunya juga sih yang ke sini gak ngabarin. Tiba-tiba aja tadi kepikiran mampir ke sini dulu sebelum ke Pekanbaru, hehehe ...."
"Tadi Saya udah ngabarin Bapak sama Ibuk kalau ada Non Rosa di sini. Ibuk suruh Non Rosa nginap di sini dulu sampai mereka pulang. Mungkin lusa sudah pulang."
"Yaah ... gimana ya, Bude? Akunya ada urusan besok di Pekanbaru. Mendadak banget. Ini aja tadi buru-buru loh akunya. Cuma bawa badan aja, hehehhe .... Lagipula gak enak, gegara aku liburannya jadi singkat."
"Ooh, yaudah Non, nanti Saya sampaikan ke Ibuk. Non istirahat dulu di kamar, sekalian bersih-bersih. Biar nanti Saya suruh Siti ambilkan baju Non Dara buat ganti. Nanti bajunya Non Rosa biar langsung Saya cucikan."
"Iya Bude. Maaf udah ngerepotin."
"Gak apa apa, Non."
"Yaudah, kalo gitu aku ke kamar dulu."
Pagi-pagi sekali Rosa sudah bersiap-siap. Rencananya pagi ini ia akan membeli beberapa potong pakaian dan sebuah ransel untuk dibawanya. Ia sudah memikirkan rencana ini masak-masak tadi malam. Ia juga sudah memesan travel untuk berangkat ke Pekanbaru. Selanjutnya ia akan langsung ke Jakarta menggunakan bus, lalu ke Jogja dengan kereta api.
Ia akan merantau, benar-benar merantau. Ia tersenyum sendiri memikirkan apa yang sedang dipikirkannya. "Well, it's my life, my adventure! Hidupku berubah dalam semalam," bathinnya.
Rosa sedang menata barang-barang yang tadi dibelinya ke dalam ransel yang juga baru dibelinya tadi. Ia benar-benar menghemat pengeluarannya. Belajar hidup susah, biar tau bagaimana bersyukur.
Tak banyak yang ia beli, hanya beberapa potong pakaian, daleman, perlengkapan mandi dan barang pribadi yang benar-benar ia perlukan nanti di perjalanan. Tak ada make up, tak ada barang mewah. Tak lupa ia juga membeli sebuah sajadah, mukenah dan buku panduan sholat lengkap. Ya, ia akan menjalankan sholat dengan sungguh-sungguh mulai sekarang. Kata-kata supir taksi kemarin begitu mengena di hatinya.
Flashback on:
"Maaf ya, Dek. Adek ini muslim atau bukan? Hmmm, maksud saya ...."
"Saya muslim, Pak!"
"Nah kalau kita orang muslim ini kan punya Allah, Dek. Kalau boleh saran, Adek ini coba sholat tahajud. Mengadu kepada Allah di sepertiga malam. Mudah-mudahan nanti diberi petunjuk," nasihat Pak Supir.
Flashback off.
__ADS_1
Tadi malam, ia juga sudah mendownload Al Qur'an di gadgetnya. Ia juga sudah Googling belajar sholat, dan dibantu oleh Siti juga.
Ya, tadi malam Rosa meminta Siti mengajarinya cara sholat sunnah dan membaca Al-Qur'an dengan tajwid yang benar. Dengan senang hati Siti mengajarinya, dan memberi kuliah singkat tentang macam-macam sholat, kapan waktu untuk sholat dan sebagainya. Ia hapal bacaan sholat, tapi jarang melakukannya.
Ia yakin jika Siti tidak akan berpikiran jelek tentang dirinya. Kalaupun iya, ia tidak perduli. Baginya, tak ada kata terlambat untuk belajar, apalagi belajar ilmu agama yang selama ini hampir tidak pernah ia dapatkan. Pelajaran agama tidak terlalu didalami di sekolah internasional tempat ia menimba ilmu dulu. Hanya semasa SD dan SMP dulu ia sering belajar dengan si mbok.
Klakson mobil travel terdengar di depan pagar rumah Om Harry. Rosa bergegas mencari Bude Jarmi untuk pamit.
"Bude, travel aku udah jemput. Aku pamit dulu ya. Makasih udah cuciin baju aku, makasih untuk semuanya! Salam buat Om Harry, Tante Ika dan adek-adek (anaknya Om Harry)! Salam juga buat Siti! Tadi aku gak sempat pamitan sama dia, udah keburu ke kampus."
"Iya Non Rosa, nanti saya sampaikan. Hati-hati di jalan ya, Non! Ini ada sedikit bekal buat di jalan. Tadi Non kan belum sarapan. Sama ini titipan Siti. Ada surat juga di dalamnya."
Rosa mengambil paper bag berisi bekal untuknya, dan sebuah bungkusan berbalut kertas kado dengan hiasan pita cantik dari Siti, lalu mengucapkan terima kasih, dan memasuki mobil travel.
Perjalanan Dumai-Pekanbaru hanya memakan waktu 2 jam saja, sehingga sebelum siang, ia sudah sampai di Kota Bertuah itu. Saat ini ia sedang berada di teras mesjid, menikmati bekal yang dibawakan Bude Jarmi sembari menunggu waktu Dzuhur. Selepas Dzuhur nanti ia akan ke terminal AKAP menggunakan gojek, lalu menumpang bus yang akan membawanya ke Jakarta.
Ia teringat dengan hadiah pemberian Siti. Dibukanya perlahan amplop yang menyertainya, dibacanya surat dengan tulisan tangan itu.
Assalamu'alaikum.
Kak Rosa yang cantik, Aku punya pashmina baru. Aku pesan dari Shopping, kebetulan ada promo diskon 50%, jadi Aku beli setengah lusin. Baru sampai kemarin sore sebelum Kakak sampai di rumah. Aku kasi untuk kakak 3, untuk aku 3. Aku bakal senang banget kalau Kakak berkenan memakainya suatu saat nanti.😊
NB. Tetap semangat belajar agamanya yah🤗
Wassalamu'alaikum
Siti
Setetes air mata lolos ke pipi mulus Rosa. Ia tak menyangka Siti begitu perhatian padanya.
Disobeknya kertas kadonya. Benar saja, ada 3 lembar pashmina dengan warna netral dan motif yang cantik, 1 buah bros pin kecil, 1 buah bros pin besar dan beberapa buah jarum pentul. Sepertinya Siti tahu betul bahwa ia sangat tidak familiar dengan hijab sehingga menghadiahinya sampai seditail itu. Kebetulan ada 1 yang cocok dengan baju yang ia kenakan saat ini. Dan seketika muncul niat untuk menggunakannya, namun ia tak tahu cara menggunakannya.
Adzan Dzuhur berkumandang. Disimpannya pashmina tadi ke dalam ransel. Segera ia berwudhu untuk menunaikan sholat Dzuhur berjamaah.
Selepas sholat, Rosa masih duduk di dalam mesjid. Ia melihat banyak anak-anak gadis seusia Siti yang ia yakini adalah mahasiswi sedang berkaca membetulkan hijab yang mereka pakai. Diperhatikannya seorang gadis yang baru akan memasang pashminanya. Setelah mereka pergi, Rosapun membuka ranselnya dan mengeluarkan sebuah pashmina.
"Bismillaah!" Dipasangkannya pashmina itu seperti gadis yang diperhatikannya tadi.
"Alhamdulillah, selesai. Tidak terlalu buruk untuk pemula," gumamnya.
Lalu dikeluarkannya smartphonenya untuk berselfi. Dikirimkannya kepada Siti dengan caption:
__ADS_1
"Insya Allah Istiqomah!"