Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Lelang Amal (2): Dua Tantangan Kedua


__ADS_3

Lucy membacakan dengan lantang isi gulungan tantangan kedua untuk Aline.


"Selamat! Anda Mendapatkan Dua Tantangan Lagi!"


Aline yang mendengar Lucy membacakan isi gulungan kedua ini mencelos dan hanya bisa berdiam diri di atas panggung. Bukan karena ia tak sudi dengan tantangan ini. Sungguh, ia sangat ikhlas mengikuti acara ini. Hanya saja, melihat kebahagiaan penuh kesinisan terpancar di wajah mulus Lucy membuatnya tak habis pikir apa yang membuat wanita itu begitu tidak menyukainya.


Lucy menghadiahi senyuman sinis meremehkan pada gadis yang tengah berdiri di depan panggung seperti menunggu eksekusi. Ia sengaja berlama-lama untuk menyiksa gadis itu menunggu di sana. "Gadis malang. Aku akan mempermalukan dirimu!" bathinnya.


Aline menunggu dengan wajah datarnya di atas panggung. Masih menunggu kelanjutan dari sepasang Host yang sedang berkeliaran di antara para tamu, membawa pot berisi tantangan.


Lucy yang berada di sayap kiri kembali angkat suara.


"Itu artinya kita akan mengambil dua tantangan lagi!" serunya, seperti yang bahagia melihat Aline berada di dalam kesulitan. Lalu ia berjalan ke beberapa tamu sambil membawa pot yang berisi tantangan. Meminta seorang tamu mengambilkan satu gulungan dan berjalan ke arah Dimas, menyerahkan gulungan itu untuk dibaca oleh pria tinggi dan berwajah tampan itu.


"Bawakan sebuah lagu untuk orang terkasih!"


Lantang suara Dimas menggema di ruangan.


"Kalau hanya membawakan lagu, saya yakin Mbak Aline pasti bisa. Tidak ada tantangannya. Bagaimana jika kita tambahkan dengan menggunakan sebuah instrumen. Bagi pemenang lelang, dipersilakan memilih satu instrumen di atas panggung untuk digunakan oleh Mbak Aline." Lucy menghadap para pemegang saham yang duduk di meja VVIP untuk meminta persetujuan atas usulannya tersebut. Setelah mendapat anggukan, ia pun kembali memandu lelang kedua bagi Aline yang sedang berdiri di atas panggung.


Acara lelang berjalan lambat.


"Baiklah, 258 juta ke tiga! Tantangan kali ini bernilai 258 juta!"


"Selamat malam. Maaf dengan Bapak siapa?" Dimas berjalan cepat membawa mic ke arah pemenang lelang, pria berusia sekitar awal 40 tahunan yang datang bersama seorang wanita cantik dan gadis cilik yang juga cantik. Istri dan anaknya.


"Ryan. Ryan Anggoro," jawab pria pemenang lelang itu.


"Baiklah, Pak Ryan. Silakan Anda pilih satu dari beberapa instrumen yang ada di atas panggung sebelah sayap kanan Anda!" pinta Dimas.


Ryan menoleh ke arah putrinya. Meminta sang putri untuk memilih. "Aku suka piano!" ujar gadis cilik itu.


"Putri saya menyukai piano, jadi kami ingin dinyanyikan sebuah lagu dengan dentingan piano!" jelas Pak Ryan.


Dimas mengangguk tanda mengerti. Lalu ia memberi sebuah anggukan ringan ke arah Lucy.


"Mbak Aline, apakah Anda menerima tantangan kedua ini?" tanyanya dengan wajah meremehkan, membuat jiwa seorang Tiocandra di dalam dirinya meronta-ronta. Dengan santai ia mengangguk, membuat wajah Lucy masam seketika.


Aline lalu mengambil posisi di depan piano. Ia memberi hormat kepada para hadirin layaknya seorang pianis profesional. Aline memang tak asing dengan instrumen ini. Ia sering bermain piano bersama mami dan juga papinya. Walaupun bukan pianis profesional, kepiawaian Aline tidak bisa diremehkan. Ia menyabet beberapa penghargaan sejak masih berusia belasan tahun.


Alunan musik yang indah dari tuts piano yang ditekan mengalun dengan indah. Melodi Beethoven sebagai pembuka yang dibawakan sungguh merdu. Namun seketika alunan mengubah dengan apiknya bersamaan dengan suara merdu mendayu-dayu seorang Rosaline Tiocandra.


...Ku buka album biru, penuh debu dan usang...


...Kupandangi semua gambar diri, kecil bersih belum ternoda...


...Pikirku pun melayang, dahulu penuh kasih...

__ADS_1


...Teringat semua cerita orang, tentang riwayatku...


...Untuk ayah tercinta, aku ingin bernyanyi...


...Walau air mata di pipiku...


...Ayah dengarkanlah, aku ingin berjumpa...


...Walau hanya dalam mimpi...


...Lihatlah hari berganti, namun tiada seindah dulu...


...Datanglah aku ingin bertemu, untukmu aku bernyanyi...


...Kata mereka diriku s'lalu dimanja...


...Kata mereka diriku s'lalu ditimang...


...Oh bunda ada dan tiada dirimu...


...kan selalu ada di dalam hatiku...


(bunda by Potret dan Ayah by Rinto Harahap)


Suara sang pianis yang lembut membuat para hadirin merinding, ditambah penghayatan yang serasa dari hati membuat banyak tamu menitikkan air mata terbawa suasana haru biru. Dua lagu yang di mix menjadi satu oleh Aline benar-benar mengungkap isi hatinya, disampaikan dengan sungguh-sungguh lewat untaian nada. Feel-nya sampai kepada siapa saja yang mendengarkan, membuat ikut terhanyut dan merasakan kerinduan Aline pada kedua orang tuanya.


Aline mengakhiri lagunya, ia menyeka air mata yang meleleh begitu saja. Sebegitu rindunya ia akan kehadiran mami dan papi di hidupnya lagi. Namun ia tak berani berharap banyak. Ia sadar siapa ia sekarang bagi papi Dery Tiocandra.


Aline kemudian berdiri di depan piano. Para tamu menghadiahinya tepukan tangan yang sangat meriah. Ia lalu menunduk, memberi hormat atas apresiasi ini.


Lucy kembali membuka segmen berikutnya. Ia tak mau gadis yang tidak ia sukai itu berlama-lama menikmati momen seperti ini. Namun, suara Dimas sudah mendahuluinya.


"Sebuah penampilan yang sangat indah. Saya sampai merinding dibuatnya. Saya rasa bapak-bapak dan ibu-ibu sepakat dengan saya kali ini." Dimas mengungkapkan isi hati sebagian besar tamu. "Selamat, Mbak Aline! 258 juta telah anda tambahkan ke dalam kas yayasan Merajut Asa!"


"Selanjutnya kita akan ambil satu tantangan lagi untuk menutup tantangan kedua ini. Oleh karena itu, kami minta kesediaan Bapak Gunawan Atmaja." Dimas mengangguk memberi kode pada partner nya, Lucy.


Pak Gun berdiri dari duduknya di saat Lucy mendekati meja yang ia tempati bersama istri dan anak-anaknya.


Pak Gun lalu mengambil satu gulungan dari dalam pot dan menyerahkannya pada Lucy. Lalu, Lucy pun kembali menghampiri Dimas yang sepertinya kebagian tugas untuk membacakan isi dari gulungan.


"Memainkan lima instrumen/alat musik!"


Dimas berseru ketika membuka gulungan itu dan membacanya. "Ini berat," pikirnya.


Namun Lucy segera mengambil alih.


"Kita mulai dari 258 juta untuk kepiawaian Mbak Aline bermain dengan lima instrumen nanti." Lucy kembali mencari celah untuk menjatuhkan Aline. Namun, darah Tiocandra mengalir mutlak dalam nadinya, serba bisa dan pantang diremehkan.

__ADS_1


Ricky yang sedari tadi merasa ada ketidak-akuran antara Aline dan Lucy memberi catatan pada grup chatnya bersama Bang Cris dan Rio.


Lucy memimpin acara lelang dengan harga cukup fantastis, 510 juta dan itu membuat Aline melebarkan matanya. Ricky Tiocandra lah yang menjadi pelelang dengan harga demikian. Bukan tanpa alasan, Ricky mendapat mandat dari kedua abang Aline.


"Selamat, tantangan Anda kali ini bernilai 510 juta. Benar-benar fantastis. Mbak Aline, apakah Anda menerima tantangan ini? Jika Anda berhasil, dana sebanyak ini akan disumbangkan kepada yayasan yang telah Anda pilih. Tentu saja ini bukan jumlah yang sedikit. Ada banyak hal dan banyak nyawa yang bisa tertolong dengan uang ini. Jika Anda menolak atau gagal, maka anda akan kehilangan 90% dan akan mendapatkan hanya 10% nya saja. Dan itu artinya tantangan terakhir Anda akan kita mulai dengan harga yang rendah, seharga 51 juta. Bagaimana? Apakah lanjut atau pas?" tanya Lucy meremehkan. Ia belum tau saja siapa yang ia tantang barusan.


Kembali Aline terdiam. Ia menatap tajam Ricky yang memberikan anggukan pertanda ia harus mengikuti permainan ini. Lalu, gadis itu pun mengangguk dengan wajah datar.


"Wow! Ternyata peserta kita kali ini sungguh berani! Saya penasaran mbak Aline ini sehebat apa memainkan lima instrumen sekaligus!" sindirnya. Aline lempeng aja disindir begitu.


"Baiklah, kita ke pemenang lelang kali ini." Dimas berjalan menghampiri meja yang diduduki oleh Ricky dan Aline tadi, sebelum gadis itu dipanggil oleh panitia.


"Maaf dengan Bapak siapa?" tanya Dimas kepada lelaki tampan di depannya. Semua pasang mata tertuju pada lelaki muda nan rupawan itu.


"Ricky, Ricky Tiocandra." Ricky menjawab seadanya, tak terpengaruh pada mata-mata berbulu lentik dan bermaskara yang menatapnya intens sedari tadi.


"Baiklah, Pak Ricky, apakah Anda akan memilih instrumen untuk peserta kita atau menyerahkannya pada Mbak Aline?" Dimas bertanya dengan semangat.


Lucy yang tadi tidak melihat kedatangan Aline dan Ricky kembali melempar senyum remeh pada gadis itu.


Ricky mengangguk. "Saya melihat ada DJ gears, harpa, biola, gamelan, dan suling. Saya rasa asyik aja kali ya dimainkan musik perpaduan modern atau urban dan tradisional gitu." Ricky tersenyum dengan smirk andalannya ke arah Lucy membuat Lucy berbangga merasa ada sekutu yang juga tidak menyukai gadis yang tengah berdiri kaku di atas panggung mendengar permintaan Ricky. Berbeda dengan Lucy, Ricky sangat tahu Aline pandai memainkan semuanya, hanya saja sebuah kejadian di masa lalu membuatnya tidak menyukai dua dari lima alat-alat musik tersebut. Oleh karena itu, ia pun berusaha agar adik cantiknya bisa berdamai dengan masa lalu sekaligus menyingkirkan senyum memuakkan MC perempuan yang sedari tadi terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya kepada adiknya itu.


"Mbak Aline, silakan mengambil posisi! Tantangan kali ini bernilai lebih dari setengah M! Ladies and gentlemen, Aline!"


Aline menarik napas berkali-kali dan menghembuskannya. Ia gugup. Ricky benar-benar melaksanakan janjinya. Pernah suatu waktu ia dan bang Rio mengatakan bahwa mereka akan membuat adiknya itu untuk berani memainkan semua alat musik, lagi. Seperti dulu. "Mungkin ini saatnya," pikir Aline.


Ia berjalan mendekati alat musik DJ. Menggunakan headphone, dan mulai memainkan. Ia lalu mengambil harpa, membuat nada-nada yang bersinergi. Lalu, beralih mengambil biola dan seruling. Tangannya gemetar ketika memegang kedua alat musik itu. Keduanya mengingatkan pada guru music yang hampir saja memperkosanya beberapa tahun yang lalu. Ricky yang menonton terlihat sangat waspada, berharap Rosaline mampu melewati tantangan ini dengan baik, tidak hanya untuk uang yang akan disumbangkan, tapi juga untuk kebaikan psikis adiknya itu.


Ricky tersenyum bangga. Adik yang ia sayangi berhasil memperdengarkan melodi-melodi bernada indah. Sangat indah. Dan penampilannya ditutup dengan perpaduan music DJ dengan gamelan. Benar-benar memukau. Para tamu memberikan standing applaus kepada gadis yang sedang menunduk memberi penghormatan akhir. Sangat terlihat lega. Ia membuang napas berkali-kali, membuat sebagian tamu tersenyum maklum. Wajah cantiknya sangat imut dan lucu saat ini. So cute.


Berbeda dengan Aline, Lucy justru menekuk wajahnya. Ibarat kertas, ia seperti kertas yang sudah diremas dan diremuk-remukkan menjadi gulungan yang siap dilemparkan ke sembarang arah. Ia memegang dadanya, tak terima atas keberhasilan Aline melewati tantangan demi tantangan dengan nilai jual fantastis.


Dimas melihat Lucy yang sedang tidak baik-baik saja mengambil alih panggung.


"WOW!!! Spectaculer! Sangat-sangat ruar biyasah!!!" Dimas tak ingin repot-repot menyembunyikan kekagumannya akan kepandaian gadis cantik di depannya. "Benar-benar high quality!" bathinnya.


"Sekali lagi saya harus mengucapkan selamat untuk Anda, Mbak Aline. Saya benar-benar terpukau dengan penampilan barusan. Sanga-sangat amazing! Bukankah begitu?" tanyanya kepada para hadirin yang dijawab anggukan oleh para tamu.


"Ya, 944 juta rupiah sudah mengalir ke kas Yayasan Merajut Asa. Sebuah yayasan di bawah asuhan Atmaja Company yang mengkhususkan pelayanannya pada penderita kanker. Sebuah nominal yang cukup besar tentunya. Bukan begitu, Lucy?" Dimas melempar bola pada Lucy yang dilihatnya sudah pulih keadaannya.


"Yap, kamu betul sekali Dimas. Peserta kita kali ini benar-benar amazing. Apa kita lanjutkan sekarang?" Lucy kembali mengoper bola.


"Tentu saja. Malam semakin larut dan acara ini semakin panas. Walaupun dengan memandang Mbak Aline saya merasa ada kesejukan mengelilingi saya, namun acara ini tetap harus dilanjutkan!" Dimas berseloroh, receh.


"Baiklah! Ini lah tantangan terakhir!" Dimas dan Lucy serentak mengucapkannya, seperti yang sudah janjian.


****

__ADS_1


__ADS_2