Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Terimakasih Karena Telah Menolongku Lagi


__ADS_3

Aline POV


Aku terjaga dari tidur lelapku saat kurasakan getaran di sekitaran kakiku. Ya, aku selalu meletakkan HP di sekitar kakiku bila aku tidur. Tentu saja itu atas perintah Bang Cris. Jadi, menurut Bang Cris, itu lebih baik daripada meletakkannya disamping badan bagian paha-kepala atau di nakas yang jaraknya hanya beberapa senti dari kepala ketika kita tidur, atau bahkan di bawah bantal. "Itu bahaya!" Begitu Bang Cris memperingatiku dulu. Bahaya radiasi HP terhadap kesehatan tubuh bisa diminimalisir dengan cara begitu. Setidaknya, radiasinya tidak terlalu kuat pada organ-organ dalam yang penting. Akan tetapi, mematikan HP saat tidur itu lebih baik lagi. Selain untuk menghemat umur pakai si HP, juga dapat meningkatkan kualitas tidur, agar tidak terganggu seperti saat ini yang kurasakan.


Akan tetapi, pada zaman sekarang, mana bisa sih manusia jauh dan lepas dari HP. HP seakan sudah menjadi kebutuhan pokok. Buat mendekatkan yang jauh. Juga untuk keperluan-keperluan darurat seperti yang kualami juga malam ini.


HP ku bergetar dan berdendang lagi. Kuraih lalu kulihat nama si penelpon. Mbak Hanum, tetangga di kontrakanku. Ada perlu apa ya menelpon subuh-subuh begini?


"Assalamu'alaikum, Mbak." Aku menyapa dengan suara serak khas orang bangun tidur sambil menunggu nyawa-nyawa berkumpul kembali ke ragaku.


"Wa'alaikumsalam, Lin. Sori nih Mbak ganggu malam-malam. Ngg... itu... anu Lin. Mbak bukannya mau menakut-nakuti kamu," katanya yang belum apa-apa saja sudah membuatku takut duluan.


"Nakut-nakutin gimana, Mbak?" tanyaku, kali ini dengan kesadaran penuh. Nyawa-nyawaku kutarik paksa kembali ke raga. Alarm bahaya menyala di kepalaku.


"Itu, sekitar setengah jam yang lalu Mas Firman terbangun mo ke kamar mandi, seperti mendengar ada suara mobil di luar, tapi diabaikan sama Mas Firmannya. Cuma perasaannya kok gak enak gitu. Terus, barusan Mas Firman pastiin lagi, ngintipin gitu lewat tirai jendela. Mas Firman lihat ada laki-laki di kursi teras kamu, Lin, lagi duduk ngerebahin kepala di meja teras gitu, cuma kok udah sepuluh menitan gak bergerak-gerak juga," jelasnya panjang kali lebar dengan suara mencicit tentang kronologi yang dialami suaminya. Tentu saja ceritanya ini membuat bulu-bulu kudukku auto berdiri. Kutarik selimut, lalu kulilitkan pada tubuhku. Aku paling tidak suka kalau sudah begini ceritanya.


"Iiih, Mbak Hanum gimana niiiih? Duuuh, kok aku jadi parno gini ya Mbak?" aku bergidik ngeri, menggenggam erat selimut agar tak ada yang tiba-tiba menariknya, padahal jelas-jelas aku sendirian di rumah.


"Aku harus gimana nih, Mbak? Gak berani akunya ngintip dari jendela. Harusnya tadi Mbak Hanum gak usah kasih tau aku kalo begini!" Suaraku bergetar, nyaliku ciut, ketakutan.


"Eh, itu sorry, Lin. Mbak disuruh Mas Firman ngabari kamu itu bukan buat nakut-nakuti, tapi supaya kamu waspada. Ini lho, Mas Firman mau ngecek ke luar. Itu lagi cari balok kayu di belakang, buat senjata kalau-kalau orang itu berniat jahat. Kamunya standby di dekat-dekat pintu ya. Kalau ada apa-apa nanti langsung cari bantuan ya. Mbak takut nanti keburu pingsan duluan," katanya memberi instruksi.


"I... iya, Mbak. Aku ganti baju dulu kalau gitu. Ini cuma pakai piyama. Bentar ya, Mbak!" pintaku. Bagaimana bisa menolak, padahal aku sangat takut. Tapi, mereka sudah mau mengecekkan untukku saja itu sudah syukur banget. Mau tak mau, aku keluar dari selimutku, mengganti piyama dengan baju rumahan yang lebih pantas, lalu aku missed call kembali Mbak Hanum untuk memberi kode bahwa aku telah siap.


Kudengar suara pintu dibuka. Kuintip dari jendela kamar, Mas Firman keluar dengan balok kayu di tangan kanan, diikuti Mbak Hanum yang membawa teflon mengacung ke atas kepalanya. Lalu aku berjalan ke arah ruang tamu. Menunggu aba-aba.


Terdengar suara Mas Firman memanggil-manggil lelaki yang dikatakannya tadi. Kuintip mereka dari balik tirai ruang tamu. Si laki-laki itu menekur beralaskan tangan di meja teras. Dari postur tubuhnya terasa tak asing. Kulihat Mas Firman menggoyang-goyangkan badan laki-laki asing itu sambil memanggil-manggil. Namun tidak berhasil membangunkannya. Dia mengangkat kepala si tamu tak diundang, dan betapa terkejutnya aku melihat laki-laki itu adalah atasanku. Wajahnya babak belur, penuh memar dan bajunya juga lusuh.


Segera kubuka pintu. "Pingsan ini, Lin!" kata Mas Firman begitu aku mendekat. "Ini Pak Elang, Mas. Atasan aku di kantor," kataku menyebut identitas laki-laki yang tak sadarkan diri di teras rumahku. Mas Firman dan istrinya menghembuskan nafas lega.


Aku dan Mbak Hanum sudah mengerubungi Pak Elang. Mas Firman masih berusaha membangunkannya.


"Gimana ini, Mas?" tanya Mbak Hanum pada suaminya.


"Kita bawa ke dalam dulu. Parah ini, bonyok semua, sepertinya habis dikeroyok." Mas Firman langsung mengambil aba-aba menegakkan tubuh Pak Elang.

__ADS_1


"Kamu punya kamar kosong di dalam, Lin?" tanyanya.


"Puu... nya sih, Mas. Tapi kok di sini?" tanyaku bloon.


"Lha terus mau di mana lagi? Kan bos kamu. Sementara aja kok ini. Kita kasi bantuan dulu, nanti baru dibawa ke klinik. Cuma pingsan aja. Syukur bisa sampe sini baru pingsannya. Coba kalau pingsan di jalan pas lagi nyetir. Kasihan mobil bagus gitu kalau sampai lecet," katanya. Kuperhatikan mobil yang terparkir di luar pagar. Bukan mobil yang biasa dia pakai. Aku baru melihat mobilnya kali ini. Memang mobil yang bagus. Ah, abaikan mobilnya. Fokus pada orangnya.


"Ih, Mas jangan ngomong yang serem-serem, aku takut dengernya," rajuk Mbak Hanum, menegur suaminya. Yang ditegur cuma cengengesan.


"Iya deh Mas. Bawa ke kamar belakang aja! Ada kasurnya kok di sana," kataku mendahului mereka masuk ke rumah.


Kontrakan kami memiliki ukuran dan model yang sama. Hanya saja jika rumah Mas Firman dan empat rumah lainnya menghadap ke utara, sedangkan rumahku menghadap ke timur.


Mas Firman membopong tubuh Pak Elang dengan susah payah ke kamar belakang. Kamar belakang ini lebih sering aku gunakan untuk bekerja. Hanya dilengkapi singlebed serta sebuah lemari kecil yang menyatu dengan meja kerja yang biasa aku gunakan untuk bekerja di rumah. Masih terbilang cukup nyaman bila ingin digunakan untuk tidur dan beristirahat. Akhir-akhir ini malah aku lebih sering tidur di sini karena lelah mengerjakan pekerjaan di RCA yang aku bawa pulang.


Mas Firman membaringkan Pak Elang di kasur. Dia memintaku mengambilkan minyak kayu putih dan parfum, bau-bauan yang menyengat untuk merangsang kesadaran atasanku yang tak sadarkan diri. Jam masih menunjukkan pukul 01.34 pagi.


Sementara itu, aku dan Mbak Hanum membuat minuman hangat untuk kami karena udara malam ini sungguh dingin. Kenapa Pak Elang malah ke sini dan tidur di teras? Kenapa tidak membangunkan aku saja? Apa dia keburu pingsan? Siapa yang mengeroyoknya? Banyak pertanyaan yang berkeliaran di kepalaku saat ini namun aku abaikan.


Hampir sepuluh menit kemudian, Pak Elang sudah sadarkan diri, namun dirinya masih belum sadar sepenuhnya, mungkin akibat banyaknya pukulan yang ia terima, terlihat dari bonyok-bonyok di mukanya.


"Lin, aku balik dulu. Biarkan bos kamu istirahat dulu! Nanti dikompres saja lebamnya dengan air es!" katanya memberi instruksi yang aku iya-kan. "Hanum biar menemani kamu di sini. Nanti setelah subuh baru balik ya, Dik!" ucapnya yang mendapat anggukan dari sang istri.


"Iya, Mas. Nanti juga mau aku bawa ke klinik atau ke rumah sakit biar dapat penanganan lebih lanjut. Makasih banyak ya Mas. Maaf sudah ngerepotin subuh-subuh gini."


Lelaki itu mengangguk lalu beranjak meninggalkan rumahku. Aku membereskan pakaian kotor Pak Elang. Mbak Hanum menutupi mulutnya dengan tangan, ia menguap, jelas masih terlihat mengantuk.


"Mbak Hanum kalau mau tidur lagi gak papa, Mbak. Tidur aja di kamarku! Aku mau beresin ini dulu, sama ngompres lebam-lebamnya," kataku merasa tak enak karena sudah mengganggu tidur tetanggaku ini. Ia mengangguk lalu beranjak menuju kamarku. Aku menaruh pakaian kotor Pak Elang ke keranjang, lalu menyusul Mbak Hanum ke kamar. Mengambilkan selimut baru untuknya lalu kembali melaksanakan rutinitasku di sepertiga malam.


Setelahnya, sembari mengompresi lebam-lebam lelaki ini, aku membuka pekerjaan di resto yang sengaja kubawa pulang karena waktuku terkuras untuk lembur di kantor. Tadi Bunda sudah melarang membawa pekerjaan ini, namun aku merasa ini sudah menjadi tanggung jawabku, jadi aku memaksa untuk mengerjakannya di rumah. Lagipula, setelah subuh nanti aku berniat untuk membuatkan sarapan buat Mbak Hanum sekeluarga, sebagai ucapan terima kasihku pada mereka.


Aku menoleh kala mendengar suara rintihan dari kasur di sebelahku. Segera kuhampiri laki-laki yang terlihat memprihatinkan itu. "Bapak mau minum?" kataku sembari mengambil gelas berisi air putih yang kuletakkan di atas meja kerja. Dia mengangguk. Kubantu dirinya untuk duduk lalu kusodorkan dirinya minum. Setelah itu, aku kembali mengompres luka memar di wajahnya. Dia kembali tertidur. Sesaat aku teringat pada sosok lelaki yang pernah kutolong beberapa bulan lalu. "Semoga dia baik-baik saja," do'aku dalam hati untuknya.


Setelah menunaikan sholat subuh, aku membangunkan Mbak Hanum. "Sebentar lagi," jawabnya yang ku-iya-kan, segan bila memaksanya bangun. Aku beranjak ke dapur dan mulai meracik bumbu dan membuat sarapan. Sesekali aku mengintip Pak Elang yang masih tertidur dan merintih sesekali dalam tidurnya.


Mbak Hanum hendak pamit ketika kutahan dirinya dengan dalih menunggu sarapan yang matang sebentar lagi. Dia menolak, namun mengangguk juga pada akhirnya karena kukatakan aku membuat banyak untuk kami semua.

__ADS_1


Setelah kepergian Mbak Hanum, aku membiarkan pintu rumahku terbuka setengahnya. Aku masuk dan membangunkan Pak Elang. Dia mengerang kesakitan kala itu. Namun, kewajiban tetaplah kewajiban. Dia tetap harus sholat subuh. Jadi kubantu ia untuk duduk agar bisa bertayamum dan sholat.


Aku menyiapkan bubur jagung untuk Pak Elang. Aku tak tau harus masak apa untuknya. Kata si Mbok bubur ini cepat memulihkan tenaga dan membuatnya juga mudah.


"Makasih," katanya ketika aku memberikan mangkuk berisi bubur jagung. Aku hanya mengangguk, tak ingin bertanya dan terlalu ikut campur urusannya. Aku masih kesal padanya karena ia memberiku lembur berhari-hari karena alasan yang tidak jelas.


Dia kesulitan memakan buburnya. Tak tega, akhirnya kuambil kembali mangkuknya dan kusuapi dirinya.


"Enak," pujinya begitu satu sendok memasuki mulutnya. Dia seperti kesulitan mengunyah. Pasti tubuhnya rasa tak bertulang sekarang.


"Kata si Mbok, bubur jagung cepat memulihkan tenaga," kataku. Kami terdiam dengan pikiran masing-masing, tiada percakapan lagi hingga buburnya tandas.


Aku baru saja hendak beranjak ketika ia melanjutkan kalimatnya. "Makasih udah menolongku. Maaf kalau sampai mengganggu ketenangan kamu tadi malam," ucapnya tulus.


Aku mengurungkan niatku yang ingin meninggalkannya. "Gak cuma saya, tapi Bapak juga mengganggu ketenangan tetangga saya. Mas Firman dan istrinya tadi malam yang menemukan Bapak di teras dan membantu membawa Bapak ke sini, nanti akan saya sampaikan kepada mereka." Sengaja kusebutkan agar ia tahu bahwa perbuatannya ini mengganggu banyak orang.


Dia mengangguk.


"Setelah ini saya antar Bapak ke klinik atau RS biar dapat perawatan lebih lanjut," kataku menyarankan. "Tadi malam saya cuma mengompres dengan air es. Takut ada luka dalam," kataku, sedikit prihatin dengan kondisinya. Dia hanya mengangguk patuh. Dia bergerak dengan tidak nyaman. Aku yakin tulang-tulangnya pasti sudah terasa remuk redam saat ini.


Cukup lama kami di RS. Pak Elang minta dilakukan pengecekan secara menyeluruh dan visum segala. Aku yakin dia mengetahui pelaku pengeroyokan itu dan mungkin ingin membawanya ke jalur hukum. Aku diam saja, masih enggan bertanya. Aku yakin dia akan bercerita sendiri bila masalah ini pantas untuk diceritakan.


Setelah dari RS, aku mengantarkannya ke rumah orang tuanya. Walaupun dirinya menolak dan minta diantar ke apartemennya saja, aku tetap memaksa mengantarkannya ke rumah orang tuanya. Ia berdecak tidak suka, tapi peduli amat. Aku tak bisa membiarkan dia seorang diri di apartemennya dengan keadaan seperti ini. Walau bagaimanapun, dia atasanku, perusahaan masih membutuhkannya.


Saat ini kami sedang berhenti karena lampu merah sedang menyala. Sejauh ini, tak ada yang memulai percakapan. Kami sama-sama terdiam diri sampai dirinya berdehem.


"Terima kasih," katanya padaku yang kuangguki. Aku masih fokus pada kemudi. Ya, saat ini aku yang mengemudikan mobil mewahnya ini, tepatnya menjadi supirnya. Dia duduk di bangku sebelahku.


"Terima kasih sudah menolongku lagi," lanjutnya. Kali ini aku menoleh sebentar padanya dengan tatapan penuh tanya.


Dia menghela nafas dan membuangnya perlahan. "Yap, terima kasih karena telah menolongku lagi," ulangnya. "Kamu ingat laki-laki yang kamu tolong beberapa bulan lalu, yang saat itu tengah dikeroyok tak jauh dari kontrakan kamu? Itu aku!" Dia menatapku lekat.


Aku terdiam. Aku meliriknya dengan ekor mataku. "Dua kali dikeroyok? Hobi atau bagaimana?" Entah kenapa kalimat itu terlompat begitu saja dari bibirku. Kesal sendiri jadinya. Tak menyangka jika laki-laki yang wajahnya tak kukenali dulu adalah dirinya.


Dan dia terkekeh mendengar ucapanku membuat tambah kesal saja.

__ADS_1


***


__ADS_2