Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Alien, Si Pemain Pengganti


__ADS_3

Gunawan dan Luna berhenti di sebuah rumah yang tidak terlalu besar dengan halaman depan yang cukup luas dan asri. Tanaman-tanaman hias memperindah rumah di depannya. Berbagai macam aster, mawar, bougenville, dan bunga-bunga keladi memenuhi sebagian taman yang menambah keindahan rumah itu. Semuanya terawat menandakan sang pemilik menyayangi mereka. Di sisi lain, tanaman melati dibentuk sedemikian rupa memenuhi sisi kiri rumah berpagar hitam itu.


Mentari sudah merangkak naik. Luna dan suaminya turun dari mobil mewah mereka. Mengetuk dan mengucap salam beberapa kali. Namun, tidak ada jawaban, tidak pula ada yang membukakan pintu.


"Ma, Mama yakin ini rumahnya?"


"Iya, Pa. Alamatnya udah sesuai dengan yang diberikan jeng Suci."


"Sepi-sepi aja. Mungkin sedang gak di rumah. Lain kali aja kembali lagi."


"Tunggu bentar lagi ya, Pa! Udah kesini masa pulang gak bawa hasil?" komentar sang istri.


"Ya udah deh. Kita tunggu di mobil aja. Panas di sini," ajak Gunawan pada istrinya.


Baru saja pasangan suami istri itu berbalik, sebuah motor matic berhenti tepat di depan mereka.


"Maaf, Bapak sama Ibu mau cari siapa?" tanya si pengendara yang berseragam putih abu-abu itu begitu ia memarkirkan motornya dan menghampiri tamu tak dikenalinya itu.


"Saya Gunawan dan ini istri saya, Luna. Kami mencari nak Aline. Apa benar nak Aline tinggal disini?" jawabnya santun.


"Oooh, nyariin mbak Aline. Mbak Aline nya kan udah pindah, Pak. Ke rumah kontrakan yang di ujung jalan, sebelah kanan. Rumahnya yang nomor dua dari pagar. Jam segini sih biasanya mbak Aline ada di rumah."


"Oh, begitu ya. Baiklah kalau begitu. Kami langsung ke sana saja.Terima kasih ya, Mbak."


"Baik, Pak, Bu. Terima kasih kembali."


Pak Gunawan kembali mengetuk pintu. Kali ini pintu sebuah kontrakan bermodel paviliun sesuai petunjuk yang ia dapatkan tadi. Setelah menjawab salam, seseorang membukakan pintu dari dalam.


"Tante sama Om? Ayo silakan masuk!" Aline sedikit kaget mengetahui siapa tamu yang berkunjung ke rumahnya. Setelah mempersilakan masuk dan duduk, Aline membawakan tiga gelas sirup cocopandan dingin untuknya dan kedua tamunya. "Silakan diminum, Om, Tante!"


"Terima kasih, Lin." Lalu bu Luna menyeruput minumannya.


"Hm begini, Nak Aline. Sebelumnya maaf bila kedatangan kami mengganggu Nak Aline. Kedatangan saya dan istri saya kesini sebenarnya ingin menyampaikan sesuatu." Pak Gunawan membuka pembicaraan di pagi menjelang siang itu.


"Biar Mama aja, Pa!" pinta Luna pada sang suami untuk menjelaskan. Pak Gunawan mengangguk tanda meng-iyakan. "Aline, sebenarnya kemarin Tante sempat berbincang-bincang dengan jeng Suci. Dari beliau, kami mendapat informasi bahwa kamu sudah tidak bekerja lagi di rumahnya karena ingin mencari pekerjaan lain," sambung bu Luna hati-hati sembari memperhatikan air muka gadis cantik di hadapannya. Aline mengangguk kecil sebagai respon dari ucapan tamunya itu. Dia membiarkan tamunya itu menyelesaikan apapun yang hendak disampaikannya.


"Tetapi maaf sebelumnya bila Tante telah lancang. Tante udah minta sama om Gun buat mencarikan kamu pekerjaan di perusahaan kami. Om Gun telah menghubungi pihak HRD, dan beliau mengatakan bahwa ada kesempatan kamu untuk bekerja walaupun sedikit terkendala dengan kartu identitas, ijazah serta dokumen lain yang terkait. Hmm, apakah kamu bersedia menerima kesempatan ini?" tanya bu Luna sangat hati-hati. Ia takut menyinggung perasaan gadis cantik yang duduk di depannya ini.


Aline menarik nafas panjang. Ia tak tau harus memberikan respon apa. Jujur ia memang sangat membutuhkan pekerjaan yang lebih baik daripada sekedar menjadi buruh setrika tapi ia masih ingin tetap bekerja di resto milik Abah. Abah sendiri telah mengizinkan Aline untuk memiliki pekerjaan lain asalkan Aline berjanji tetap membantunya di resto. Dan Aline sudah terlanjur mengucapkan janji itu. Tak mungkin ia menarik kembali janjinya. Padahal sedikit banyak Abah sudah bergantung pada kemampuan Aline mengelola keuangan usahanya itu. Dan Aline tidak ingin mengecewakan keluarga yang sudah merawatnya sejak ia menetap di kota ini.


Melihat Aline yang meragu mengambil keputusan, bu Luna kembali meyakinkannya.


"Tante berharap kamu bisa menerima pekerjaan ini, Lin. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih kami sekeluarga karena menolong Tante waktu itu. Tante gak tau jadinya bila saat itu tidak ada kamu."


"Gak usah dibahas itu, Tante. Saya ikhlas melakukannya. Tante gak usah merasa terbebani dengan hal itu. Itu semua sudah atas kehendak Yang Maha Kuasa."


"Kalau begitu, kamu mau kan menerima pekerjaan di perusahaan Om?"


"Aduh, gimana ya, Om, Tante. Saya bukannya tidak mau terima tawaran Om dan Tante. Terima kasih Om dan Tante sudah repot-repot mencarikan pekerjaan untuk saya. Tapi saya sudah terlanjur berjanji pada orang tua angkat saya untuk tetap membantunya di resto."


"Lalu?" tanya bu Luna tak sabar.


"Eeemmm, saya memang berniat mencari pekerjaan lain, tetapi mungkin pekerjaan paruh waktu. Karena sore hari saya tetap harus bekerja di resto," jelasnya.


"Gimana, Pa?" tanya bu Luna pada suaminya.


"Kerja paruh waktu ya?" Pak Gunawan bergumam sambil menggosok dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. "Nanti coba Papa bicarakan dulu dengan pak Rahman. Yang penting Nak Aline bersedia terlebih dahulu."


"Bagaimana, Lin?", desak bu Luna.

__ADS_1


"Eh ... i ... i ... iya Tante. Saya bersedia asalkan tidak fulltime."


Setelah menyampaikan maksudnya, pasangan suami istri itu berbincang-bincang ringan dengan tuan rumah. Terutama pak Gunawan yang tertarik dengan dekorasi kontrakan Aline. Aline memang sudah menguras sedikit tabungannya untuk mengubah dekorasi kontrakannya menjadi senyaman mungkin untuk ia tinggali, karena memang ia berniat akan tinggal untuk waktu yang cukup lama di rumah ini. Dengan kemampuan bidang arsitekturnya, semua menjadi begitu mudah. Hanya saja biaya yang ia keluarkan sebanding dengan apa yang ia dapatkan.


Tak terasa sudah lebih satu jam mereka bertamu. Pak Gunawan dan istrinya pamit undur diri dan berjanji akan mengabari Aline mengenai pekerjaan paruh waktu yang ia inginkan.


Tiga hari kemudian


Hari ini Aline sudah besiap-siap dengan setelan kerjanya. Aline menggunakan rok hitam polos dengan kemeja berwarna biru muda dengan aksen pink di bagian tangannya. Pashmina senada bajunya ia kenakan untuk menyempurnakan penampilannya. Untuk sepatu, Aline menggunakan flatshoes berwarna hitam dan sebuah sling bag berisi handphone dan dompet kecilnya yang juga berwarna hitam.


Ojek online yang ia tumpangi berhenti tepat di depan sebuah perusahaan yang bonafit. Disesuaikannya lagi nama perusahaan tersebut dengan pesan w.a dari tante Luna. Atmaja Corp.


Aline memasuki lobby dan menanyakan ruangan pak Rahman. Menurut pesan yang ia terima, om Gunawan dan tante Luna menunggunya di ruangan orang tersebut.


Selagi menunggu lift, Aline mengabari tante Luna bahwa ia sudah sampai dan hendak menuju ruangan pak Rahman. Aline menekan angka 8 pada lift yang akan membawanya ke bagian HRD. Tepat di lantai 8, seorang wanita paruh baya sudah menunggunya tak jauh dari lift berada. Siapa lagi jika bukan tante Luna. Wanita itu begitu antusias dengan kedatangan Aline. Mereka lalu memasuki ruangan pak Rahman, sang Manajer HRD.


"Baiklah, Pak Gun, saya pikir saya perlu untuk sedikit mewawancarai Mbak Aline agar saya bisa menentukan di bagian mana nanti Mbak Aline ini akan saya tempatkan," izinnya pada sang empunya perusahaan. Pak Gun hanya mengangguk tanda meng-iyakan. Lalu, pak Rahman mengajak Aline mengikutinya ke meja kerjanya, sementara Gunawan dan istrinya duduk di sofa di ruangan tersebut.


"Baiklah, Mbak Aline. Bisa Anda ceritakan tentang diri Anda?" pak Rahman memulai wawancaranya.


Aline menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan lugas dan tegas. Membuat pak Rahman puas akan semua jawabannya.


Setengah jam kemudian, pak Rahman, Aline dan sepasang suami istri pemilik perusahaan tempat ia bekerja ini sudah duduk kembali di sofa.


"Bagaimana, Pak Rahman?" tanya bu Luna tak sabar.


"Saya puas dengan hasil wawancara tadi. Hanya saja, posisi yang cocok untuk Mbak Aline saat ini sudah terisi. Ditambah jam kerja part time, sangat sulit untuk memberikan posisi tetap. Akan tetapi, jika Bapak dan Ibu setuju, Mbak Aline bisa menggantikan karyawan yang sedang cuti panjang, semisal cuti melahirkan, dengan konsekuensi setelah si karyawan kembali bekerja, Mbak Aline akan dipindahkan kembali, tidak menutup kemungkinan ke bagian atau divisi lain. Untuk sekarang, saya hanya bisa memberikan pekerjaan ini. Saya pastikan bahwa jam kerja Mbak Aline hanya sampai jam 14.30 saja atau bisa lebih cepat jika pekerjaan yang diberikan oleh atasannya nanti telah selesai. Bagaimana menurut Bapak dan Ibu?" jelasnya panjang lebar.


Pak Gunawan menatap istrinya penuh arti. Ada perasaan tidak enak dengan jenis pekerjaan yang akan diberikan pada Aline nanti.


"Aline, bagaimana menurut kamu, Nak? Tante sama Om tidak apa-apa jika kamu keberatan dengan pekerjaan ini," akhirnya ia beranikan bertanya pada Aline.


Aline sebenarnya juga merasa tidak enak karena sepertinya pak Rahman memaksakan diri untuk menerimanya bekerja di perusahaan ini. Tentu itu atas permintaan om Gunawan yang tak lain adalah owner di sini. Akan tetapi saat di rumah tadi, ia telah menitipkan nasibnya pada Yang Maha Pemberi Rezki. Bila ia diterima, maka ia akan menerima pekerjaan itu dengan senang hati. Bila tidak diterima pun ia akan berterima kasih karena telah diberi kesempatan sampai sejauh ini.


"Maaf sebelumnya bila kondisi saya sedikit banyak menyusahkan Pak Rahman, Om dan Tante. Insya Allah saya akan bekerja dengan baik. Bismillah, saya menerima pekerjaan ini!" jawabnya mantap.


Kebahagian terpancar di mata bu Luna. Ia sangat senang mendengar jawaban Aline. Begitu juga dengan pak Gunawan dan pak Rahman.


"Alhamdulillah. Kalau begitu, saya permisi sebentar untuk menghubungi staf saya."


Selang berapa lama, pak Rahman telah sampai di divisi marketing bersama Aline. Sedangkan pak Gunawan dan bu Luna tetap menunggu di ruangan pak Rahman.


Pak Rahman sebelumnya telah menceritakan melalui telpon perihal kondisi Aline pada Mira, Kapala Divisi Marketing Atmaja Corp. Wanita 45 tahun itu menerima kondisi Aline.


"Jadi, untuk sementara Aline yang akan menggantikan Nita yang akan cuti melahirkan, begitu maksud Pak Rahman?"


"Iya, betul, Bu Mira. Dari data yang saya miliki, Mbak Nita akan cuti mulai Senin depan. Jadi masih ada waktu dua hari lagi untuk mereka take-over."


"Baiklah jika begitu. Nanti akan saya atur," jawab wanita itu tegas.


"Terima kasih. Baiklah Bu Mira, saya permisi kalau begitu. Aline, nanti kamu akan dibimbing oleh Bu Mira. Saya harap kamu bisa cepat beradaptasi dan tidak mengecewakan kami semua!" petuahnya yang diangguki oleh Aline. "Insya Allah, Pak. Terima kasih."


Kemudian, lelaki berkacamata itu meninggalkan ruangan Kepala Divisi Marketing.


Bu Mira mengejar pak Rahman sesaat pria itu mencapai pintu. "Pak Rahman, maaf. Jika boleh, saya minta satu set meja kerja untuk Aline. Nita adalah staf saya yang bertugas membuat laporan divisi marketing. Saya tidak ingin ...."


"Saya sudah menangkap maksud Bu Mira," ucapnya memotong. "Saya akan menyuruh orang menyiapkan meja kerja lengkap dengan komputer dan printer untuk Aline. Ada lagi yang Bu Mira butuhkan?"


"Itu saja. Terima kasih, Pak."

__ADS_1


"Baiklah, saya harus segera kembali ke ruangan. Pak Gunawan dan istrinya masih disana," pamitnya lalu meninggalkan divisi marketing yang berada satu lantai di bawah ruangan kerjanya.


Sementara itu, di ruangan bu Mira


"Baiklah, Aline. Saya rasa kita perlu berbincang sedikit karena kita akan menjadi satu tim. Bagi saya, membangun chemistry dalam tim itu sangatlah penting."


"Baik, Bu. Saya akan berusaha untuk cepat belajar dan tidak mengecewakan Ibu dan tim."


"Bagus. Saya suka antusiasme kamu. Baiklah, tak kenal maka tak sayang. Perkenalkan saya Mira Andini Putri, Kepala Divisi Marketing. Panggil saja Bu Mira. Seperti yang disampaikan oleh pak Rahman tadi, selama tiga bulan ke depan kamu akan berada dibawah divisi saya. Selama di divisi saya, saya harap kamu mematuhi peraturan yang berlaku di sini. Peraturan yang akan saya sampaikan berlaku untuk seluruh anggota tim, termasuk diri saya sendiri.


Pertama, saya tidak menyukai keterlambatan. Jam masuk kantor tepat pukul 8.00. Saya harap kamu sudah berada di meja kamu sebelum jam tersebut. Mengenai jam pulang, saya tidak keberatan kamu mau pulang jam berapa saja asalkan pekerjaan yang saya berikan nanti telah kamu selesaikan. Usahakan selesai sebelum jam pulang kamu, 14.30. Karena saya tidak menyukai pekerjaan yang tertunda ke hari berikutnya!


Kedua, saya tidak mentolerir adanya keteledoran. Tugas kamu nanti akan lebih banyak berkutat dengan laporan marketing. Tetapi tidak tertutup kemungkinan kamu akan saya perbantukan di bagaian faktur maupun pengarsipan. Tergantung kebutuhan. Saya harap kamu teliti dan melakukan double check sebelum menyerahkan hasil kerja kamu kepada saya.


Ketiga, saya tidak menyukai make-up berlebih, ataupun pakaian ketat atau mini. Untuk ini, saya rasa kamu tidak akan ada masalah.


Keempat, saya tidak menyukai melihat karyawan yang berkelompok dan menggosip pada jam kerja. Saya akan respek pada karyawan yang tekun.


Kelima, saya membatasi penggunaan handphone saat jam kerja hanya untuk urusan penting atau urusan keluarga. Tidak ada percakapan apalagi menggosip via telpon.


Ada yang ingin kamu tanyakan?"


"Tidak, Bu. Saya rasa cukup jelas."


"Baiklah. Saya harap kita bisa bekerja sama dalam satu tim yang solid. Itu meja kamu sudah datang. Ayo ikut saya!"


Bu Mira menyuruh untuk meletakkan meja Aline tepat di kubikel kosong di samping ruangannya dengan maksud agar ia mudah mengawasi Aline melalui dinding kaca ruangannya. Kubikel Nita berada tepat di belakang kubikel Aline.


Bu Mira lantas meminta perhatian seluruh anggota timnya untuk memperkenalkan Aline dan meminta mereka bekerja sama dengan baik. Tak lupa bu Mira menyampaikan jam kerja Aline yang menurutnya sangat penting untuk diketahui agar tidak menimbulkan fitnah atau hal buruk lainnya yang akan berdampak pada kesolidan tim yang ia pimpin di kemudian hari. Setelah perkenalan singkat mereka, bu Mira memanggil Aline dan Nita untuk ke ruangannya. Bu Mira menjelaskan posisi Aline dan meminta adanya take-over antara Aline dan Nita. Nita menyanggupi dengan bahagia. Ia tak perlu lagi memikirkan nasib teman-temannya yang akan lembur bergantian menyelesaikan tugasnya. Keinginannya saat ini hanyalah melangsungkan persalinan dengan lancar tanpa perlu memikirkan pekerjaan. Bu Mira meminta Nita untuk menyiapkan berkas dan bahan-bahan laporan yang akan ia serahkan pada Aline. Masih ada dua hari lagi untuk menyiapkan semuanya. Sementara Aline, Bu Mira menyuruhnya pulang dan kembali bekerja keesokan harinya.


Sore harinya di Resto Abah, Aline menyampaikan perihal dirinya yang telah mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan bonafit pada orang tua angkatnya itu. Ia juga menceritakan bahwa dirinya berada di sana berkat campur tangan sang pemilik yang pernah secara tidak sengaja ditolongnya. Abah dan Bunda turut bahagia mendengar berita ini. Mereka mendoakan yang terbaik untuk Aline dan memberikan petuah-petuah yang membangkitkan semangat positif dalam diri Aline. Aline begitu trenyuh dengan kebaikan orang tua angkatnya itu. Tiba-tiba ia teringat akan papi dan maminya. Semoga mereka berbahagia, meskipun tanpa dirinya.


Keesokan harinya, pagi-pagi selepas sholat subuh dan tadarus, Aline memulai aktifitasnya. Kegiatannya pagi itu diawali dengan memasak. Ya, Aline berencana untuk membawa bekal ke kantor. Satu jam, selesai sudah sarapan dan makan siangnya. Aline menyusun makan siangnya ke dalam kotak bekal dan paperbag. Tak lupa ia juga ia memasukkan botol minumannya. Diletakkannya paparbag tersebut bersebelahan dengan tas sling bag yang berukuran cukup untuk membawa sebuah buku agenda mini, pulpen, dompet, dan HP. Kemudian ia sarapan dan pergi mandi.


Hari ini Aline mengenakan kemeja berwarna hijau tosca dengan rok kotak-kotak, dan pashmina polos yang senada dengan atasannya. Aline mengenakan pelembab wajah agar wajahnya tidak kering terkena AC nantinya, dan lipstik berwarna soft nude yang membuatnya tampak segar. Terakhir, ia mengenakan kacamata karena memang sebenarnya Aline itu memiliki masalah dengan matanya, ditambah lagi dengan pekerjaannya yang pasti akan selalu berada di depan komputer, mau tidak mau Aline harus mengganti softlens nya dengan kacamata.


Setelah sarapan Aline bergegas memesan ojek online. Ia tidak ingin terlambat dan memberi kesan tidak baik di hari pertamanya bekerja.


Aline tiba di ruangannya lima belas menit lebih awal. Sebagian besar kubikel masih kosong. Bu Mira datang saat Aline sedang bercengkrama dengan beberapa karyawan yang lain. Terlihat bahwa Aline pandai membawa diri dengan teman-temannya. Sesaat bu Mira memperhatikan gerak gerik anggota barunya itu melalui dinding ruangannya yang dua sisinya terbuat dari kaca.


Menjelang jam istirahat siang, saat itu Aline sedang berada di meja Nita, mencatat beberapa arahan yang diberikan oleh seniornya itu, seseorang dari pihak HRD menyerahkan sebuah amplop kepadanya. Aline membuka dan mengeluarkan isinya yang ternyata adalah nametag-nya. Aline komplain dengan penulisan namanya yang salah, tapi jawaban mencengangkan yang ia dapat.


"Maaf, Mbak ... Lucy. Ini nama saya penulisannya salah. Harusnya Aline, bukan Alien," terangnya.


"Beda dikit doang gak usah terlalu dipermasalahkan! Tetep bisa dibaca 'Alin' kok," jawabnya enteng.


"Tapi Mbak ...."


"Udah deh ya, Lin. Gak usah pake tapi tapi. Salah penulisan dikit aja ribut. Lagipula, nama itu cocok kok buat Lo. Alien, Si Pemain Pengganti," katanya berlalu pergi begitu saja.


Aline hanya menghela napas. Sementara Nita yang sedari tadi di sebelahnya hanya mengusap punggung Aline, menguatkan. "Sabar ya, Lin! Si Lucy itu memang suka cari ribut. Maklumin aja. Dia ngelunjak gitu karena ponakan salah satu pemegang saham di perusahaan ini."


"Iya, Mbak Nita. Aku gak habis pikir aja. Baru hari pertama udah punya haters," katanya mencoba sedikit melucu.


"Perlu lo ingat ya, Lin, dimana pun lo bekerja nantinya, pasti ada aja makhluk-makhluk rese sejenis Lucy itu. Jadi, tahan-tahan aja ya. Namanya juga masih baru."


"Iya, Mbak. Aku paham. Terima kasih."


Sisa hari itu ia lewati dengan damai dan lancar. Besok adalah hari terakhir mbak Nita bekerja sebelum cuti melahirkan. Aline sudah mencatat tugas, file-file penting dan segala macamnya. Sisanya akan dilanjutkan besok.

__ADS_1


Hari kedua Aline berjalan dengan damai. Tak ada gangguan dari si rese Lucy. Walaupun demikian, Aline sudah sedia payung sebelum hujan. Mulai hari ini, dia selalu membawa jepitan rambut, peniti di dalam kantong kemejanya, tak lupa ia juga menyiapkan sebuah pashmina berwarna hitam di dalam laci. Lalu, tas kerja dan bekalnya selalu ia simpan di dalam laci meja kerjanya dan menguncinya. Begitupun botol minumnya, takut bila nanti ada yang memasukkan obat pencuci perut. Sekedar berjaga-jaga saja bila nanti ia dikerjai.


Selanjutnya, hari-hari Aline berjalan lancar tanpa hambatan.


__ADS_2