Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Ketemu Para Tante (Masih Cerita tentang Jogging)


__ADS_3

"Enak ya, pagi-pagi udah pacaran!"


Aline mendongak dan seketika suaranya menghilang, wajahnya pucat dan tangannya mulai berkeringat, namun matanya berkata lain.


"Tan ... te ... I ... ka ..!" ucapnya terbata, merasa kerongkongannya kering tiba-tiba. Ada kebahagiaan terpancar jelas di mata gadis itu. Tentu saja setelah bertahun lamanya menjadi anak hilang, lalu bertemu dengan salah satu anggota keluargamu, pastilah membuat hati siapa saja merasakan bahagia. Terlebih Aline, Rosaline, gadis yang dimanja dan dipuja bak putri raja oleh seluruh keluarganya sebelum peristiwa pengusiran itu terjadi, kehilangan kehangatan keluarga dalam sekejap tentu bukan hal yang mudah untuk ia lalui seorang diri. Namun ketakutan juga mewarnai pandangannya. Takut keberadaannya diketahui oleh keluarga, terlebih kedua abangnya, ia bisa diseret pulang sekarang juga. Akan lain cerita bila papi yang mendatanginya, dengan sukarela dan hati gembira ia akan kembali ke haribaan keluarga tercintanya. Namun itu hanya angannya, yang semoga menjadi nyata.


Aline berdiri dari duduknya, memeluk penuh kerinduan istri dari adik maminya, om Harry. Sama seperti anggota keluarga yang lain, Ika tentu sangat menyayangi keponakannya ini. Ia membalas pelukan Aline dengan sayang, mengusap kepalanya penuh rindu.


Ika melerai pelukan, mengecup kedua pipi keponakan tersayang. "Kamu tambah cantik," ucapnya, sedikit menarik hijab yang dikenakan gadis itu, memberi kode bahwa ia menyukai penampilan gadis itu yang kini mengenakan hijab. Aline mengangguk dalam senyumnya. "Ini? Ini Siti yang memberikannya waktu aku nginap di Dumai waktu itu, Tante sekeluarga sedang di Thailand. Semua berkat dia!" Semangat Aline menceritakan hijab yang dia kenakan adalah pemberian dari anak ART tantenya itu, dua tahun yang lalu, sebelum ia meninggalkan Sumatera.


"Kamu selalu cantik, Sayang. Tante kangen sekali! Om dan seluruh keluarga juga sangat merindukanmu. Semua mencarimu, tapi tak ada yang bisa menemukanmu. Alhamdulillaah kita bertemu di sini tanpa diduga. Tante udah dengar semua ceritanya dari Om Harry."


Aline mengusap embun di sudut matanya. Ia bertanya-tanya apakah papi turut mencarinya juga? Namun pertanyaan itu tak mampu ia ucapkan. Seperti ada sesuatu yang mengganjal tenggorokannya.


"Tante bareng siapa?" Alih-alih menanyakan papinya, Aline malah celingak celinguk mencari keberadaan manusia lain yang menyertai tantenya itu.


"Tante sendiri. Om Harry lagi ke Hongkong jadi gak bisa ikut. Tante bosen di apart. Anya lagi diospek soalnya. Tadi pagi-pagi sekali udah ngampus."


"Oooh, Anya udah kuliah ya, Tan? Gak terasa ya? Kuliah di sini?"


"Iya. Awalnya Tante cuma mau cariin apart buat dia, tapi dianya manja, ya kamu tau sendirilah adik kamu itu, gak pernah pisah sama Tante, jadi minta ditemani dulu," katanya menceritakan anak sulungnya yang sekarang sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi di Jakarta.


"Tan, ketemu akunya tolong jangan dikasih tahu ke yang lain dulu ya, termasuk om Harry! Aku janji bila saatnya tiba, aku akan pulang. Aku juga janji akan baik-baik jaga diri di sini." Aline merasa perlu memperingatkan Tante Ika untuk merahasiakan keberadaannya. "Tolong banget ya, Tan!" Aline menggenggam kedua tangan tantenya itu, meminta dengan sangat.


Ika nampak menghela napas. Sebenarnya agak berat, tapi ia tak ingin terlalu mencampuri sebelum ia mendengar langsung dari gadis manis di depannya. Pasti keponakannya ini punya alasan.


"Baiklah. Tapi janji nanti kita ketemuan ya! Nanti Tante shareloc alamat apartnya Anya. Tante pengen denger cerita versi kamu!"


"Iya, Tan. Sabtu depan aku free seharian. Tante masih lama kan di sininya?"


"Hhhm, belum tau juga sih, tapi kayanya satu dua minggu ini masih di sini. Sabtu depan nginap di apart si Anya ya! Tante kangen banget sama kamu, Sa," pintanya.


"Oke, Tan. Deal."


"Tuh, pacar kamu dari tadi lihatin ke sini terus takut bener kamunya diculik." Tante Ika memonyongkan bibirnya dan melirikkan matanya jenaka ke arah Elang yang sedang ngantri di kasir minimarket dan sedang memandang ke arah mereka.


"Bukan pacar kok, Tan."


"Oh, bukan pacar? Tapi dari tadi Tante perhatiin kaya orang pacaran. Kalau pacar pun gak apa-apa kok. Tampan dan mapan, hehehehe." Tante Ika menggoda keponakannya.


"Iih, Tante apaan sih? Udah gak usah bahas itu deh!"


"Oke. Oke. Kalau gitu, kamu ikut sama Tantenya sekarang aja kali ya?" Tante Ika mengusap sayang pipi Aline.


"Ya gak bisa, Tan. Aku tadi ke sini kan sama dia. Bisa marah dia kalau aku baliknya sama Tante."


"Lho, katanya bukan pacar. Ya gak papa dong kalau pulang sama Tante?"


"Jangan deh, Tan. Bisa panjang urusan nanti."


"Ooooowwwhhh, oke oke." Kembali Tante Ika menggoda keponakannya dengan kerlingan dan senyuman nakal.


"Ya udah, Tante gak mau ganggu lama-lama. Tuh dia udah mau bayar. Nanti dikira Tante ngapa-ngapain kamu. Nih, simpan nomer HP kamu di sini!" katanya menyerahkan sebuah smartphone keluaran terbaru kepada Aline. Aline menuliskan nomor HPnya dan membuat panggilan ke nomornya sendiri lalu menyerahkannya kembali kepada Tante Ika.


"Tante duluan ya, Sa! Nanti Tante hubungi." Ika lalu mencium pipi kanan dan pipi kiri Aline sebelum ia melanjutkan acara jogging-nya.


Elang kembali ke mobilnya dengan sekantong plastik besar berisi cemilan. "Nih!" Elang menyerahkan bungkusan kepada Aline lalu duduk di belakang kemudi. Pintu mobil tetap ia buka agar leluasa menikmati suasana.

__ADS_1


"Mau nonton drakor, Pak?" mulut Aline autokomentar terhadap bungkusan yang diserahkan Elang padanya barusan, mengingat Hana yang suka berlaku serupa bila ingin menonton drakor secara marathon.


"Ck ... drakor apaan? Gue laki, mana suka nonton yang menye-menye gak jelas gitu!" bantah Elang.


"Yeee, Mas Irwan yang di Marketing, Nino sama Mas Eki yang di Legal, trus Anjar yang di Pajak juga laki, tapi mereka nonton drakor tuh. Sah-sah aja kali, Pak, laki nonton begituan." Aline mengabsen satu per satu teman lelaki sekantornya yang ia ketahui penggila drakor.


"Nah, kalo nonton 'begituan' yang lain gue suka." Elang menaik-turunkan alisnya membuat Aline tersadar ia kembali menggunakan kata yang seharusnya sudah ia hilangkan dari kamus perbendaharaan katanya seumur hidup sejak tadi pagi. Membuat wajahnya memerah seketika, antara menahan marah dan malu.


"Bapak beli air gak tadi sekalian?" tanya Aline out of topic.


"Ada tuh, di dalam." Elang tetap menjawab alih-alih bertanya kenapa gadis itu menanyakan yang tidak berkaitan dengan pembicaraan mereka.


"Buat apa?" tanyanya akhirnya, penasaran juga saat si gadis mengaduk-aduk dan menggeledah isi bungkusan yang ia bawa dengan gak sabaran.


"Buat nyuci otak bapak, biar bersih dari pikiran-pikiran kotor, gak omes lagi!" sambar Aline masih sibuk mengacak-acak isi plastik yang dibawa atasannya itu.


"Hahahahahahaha ...." Elang tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban polos tanpa filter dari gadis di sebelahnya ini.


"Tadi siapa?" tanyanya setelah ia meredakan tawanya dan menghapus air di sudut matanya karena tertawa terlalu ngakak.


"Yang mana?" Aline mencoba mengulur waktu karena ia malas menjawab.


"Yang tadi ngobrol sama kamu?"


"Oooh .... Tante saya, Pak."


"Ooh."


Tidak ada lagi percakapan mengenai Tante Ika. Dari jawaban Aline yang pendek-pendek dan seadanya menandakan bahwa dirinya enggan membicarakan tentang tantenya itu. Dan Elang memaklumi karena setahunya, gadis itu memang punya masalah dengan keluarganya.


Mereka hanya menikmati suasana sambil memakan cemilan hingga jam menunjukkan pukul 9 dan matahari sudah merangkak naik.


"Ngapain?"


"Beli sarapan. Ya belanja pakaian lah! Ck ... itu aja pake nanya."


"Iiissh, maksudnya Bapak ngapain bawa-bawa saya? Pergi sendiri aja kenapa? Saya capek mau istirahat!"


"Ya lo tunggu aja di mobil kalau gitu. Lagian ini searah ke rumah lo. Males gue bolak balik, ngabisin bensin." Lihat! Selain perhitungan dan menyebalkan ternyata dia juga pelit. "Anggap aja buat bayar cemilan yang Lo makan tadi."


"What??!!!" Aline melotot histeris, Elang stay cool. Benar-benar gak ada akhlak emang.


Setibanya di sebuah butik yang terkenal.


"Ayo turun!" ajak Elang.


"Lho? Tadi katanya saya nunggu di mobil aja."


"Gak bisa. Ntar kalo gue tinggal, lo malah bawa kabur mobil baru gue!"


"Idih, amit-amit. Saya juga gak tertarik sama mobil mahal tapi cuma bisa bawa dua orang penumpang aja. Ngabis-ngabisin duit!"


"Kalau gak ngerti gak usah ngomong! Udah, buruan turun! Ntar keburu siang."


Elang memasuki butik langganannya dengan Aline yang bersungut-sungut tepat di belakangnya.


"Pagi, Lang. Wah, tambah kece badai aja nih ponakan Tante. Apa kabar mama kamu?" sapa ramah seorang wanita yang cukup cantik berusia di akhir empat puluhan, mirip dengan Bu Luna, mamanya Elang.

__ADS_1


"Pagi, Tante. Alhamdulillah sehat, Tan. Mama dan semuanya juga sehat." Elang mencium punggung tangan wanita cantik itu. "Oia, pesanan aku udah siap kan, Tan?" tanyanya kemudian.


"Sudah, sebentar Tante suruh si Cika buat ambilkan." Wanita itu memanggil seorang karyawannya yang bernama Cika untuk mengambil pesanan Elang. Sementara Aline hanya mendengarkan dengan malas.


"Oia, Tan, bisa tolong carikan gaun yang cocok untuk dia? Sementara aku nyobain?"


Merasa dirinya sedang jadi bahan perbincangan, Aline menatap tajam bos nya itu.


"Eh, enggak ... enggak .... Saya gak ada niatan buat beli baju."


"Wah, ini pacarnya Elang? Cantik banget!" Jane memuji Aline yang memang sudah cantik dari lahir.


"Namanya Aline, Tante. Lin, ini adik mamaku, Tante Jane, yang punya karya dan butik ini." Bukannya membantah, Elang malah memperkenalkan kedua wanita berbeda generasi itu. Bikin salah sangka saja. Namun tak urung Aline memperkenalkan diri dan mencium punggung tangan Tante Jane.


"Saya bukan pacarnya kok, Tan. Saya pembantunya Pak Elang." Aline meralat.


Tante Jane malah tertawa renyah mendengar jawaban Aline. Sungguh lucu melihat pasangan ini. Sepertinya sedang marahan, pikirnya.


"Tolong ya, Tan. Cariin yang bagus buat dia," pinta Elang memangkas pertanyaan seputar pacar yang akan diajukan oleh adik mamanya itu.


Lama mencari karena butik Tante Jane menyediakan pakaian mewah, yang tidak sesuai dengan selera Aline. Sudah hampir sejam mereka berkeliling namun sepertinya tidak ada yang menarik perhatian gadis itu, satupun, membuat Jane merasa sedih.


"Rancangan Tante jelek-jelek semua ya?" tanyanya pada Aline dengan raut wajah sedih yang kentara saat mereka kembali ke tempat dimana Elang sedang menunggu dengan membaca majalah mode.


"Eh, enggak kok Tante. Justru cantik-cantik semua kok. Cuma aku memang kurang nyaman dengan yang mewah begini. Gak tau mau dipakai kemana nanti. Kan kasihan gaunnya udah cantik cetar membahana gini eh malah nangkringnya cuma di lemari aku doang, hehehehe .... Gak papa ya, Tan?" Aline menjelaskan, tidak enak pada si pemilik toko sekaligus desainer baju-baju mewah yang harganya juga wah ini.


Tante Jane mengangguk kecewa. Yah, memang ia khusus merancang pakaian untuk pesta dan manggung artis-artis terkenal tanah air. Tapi di balik kekecewaannya, ia juga takjub dengan gadis yang dibawa oleh keponakannya ini, tidak tergiur dengan gaun mewah rancangannya. Membuatnya memberi nilai plus untuk sifatnya yang rendah hati dan tidak materialistis.


"Iya, gak papa. Nanti kalau butuh gaun pesta, calling Tante ya. Minta aja nomor Tante sama Elang."


"Beres, Tan!" jawab Aline semangat membuat Jane tersenyum lebar walaupun ia tahu gadis itu hanya hendak membesarkan hatinya saja.


Elang menaikkan sebelah alisnya, tidak percaya jika gadis ini melewatkan kesempatan membeli baju mahal desainer ternama seperti tantenya ini. Tapi ia juga tidak memaksa Aline setelah Tante Jane mengatakan itu semua.


Setelah membayar, mereka kembali ke mobil.


"Serius gak mau ambil satu baju, nih? Lo masih bisa berubah pikiran mumpung gue lagi baik hati dan kita masih di sini?" tanya Elang sekali lagi untuk memastikan.


"Enggak, Pak. Makasih. Saya takut gaunnya malah jadi penghuni abadi lemari saya, hehehehe ..." seloroh Aline.


"Lo bisa pakai untuk acara HUT Perak Perusahaan Jum'at nanti. Semua orang pasti mengenakan gaun-gaun indah." Elang mencoba membujuk. Entah kenapa pula ia ingin sekali membelikan gadis ini sebuah gaun. Mungkin karena gadis ini berbeda dengan teman-teman wanitanya yang lain, yang tidak akan melewatkan kesempatan untuk dibelikan gaun bila mereka mengunjungi sebuah butik.


"Iiih, Bapak kok maksa sih? Saya tu udah punya gaun, dan itu belum pernah dipakai sama sekali sampai sekarang. Lagian, kenapa sih ngotot banget mau beliin saya? Aneh banget!" Aline teringat gaun yang dikirimkan oleh sahabatnya, Prita, beberapa hari yang lalu.


"Apa kamu bilang? Aneh? Saya tu cuma gak pengen kamu tampil kucel, karena saat itu kamu udah jadi sekretaris saya. Jangan sampai nanti orang bilang kamu gak saya gaji secara layak. Jangan malu-maluin saya nantinya."


"Ck, gak akan malu-maluin Bapak, kok. Tenang aja. Udah ah, yuk pulang! Saya udah gerah ni, Pak. Badan bau keringat." Aline mencium ketiak bajunya membuat Elang ilfil lalu melajukan mobilnya mengantar cewek sotoy ini pulang.


Elang mengantarkan Aline ke kontrakannya dengan selamat, sehat wal'afiat.


"Jangan lupa besok serah terima sama Dira habis istirahat! Selesaikan kerjaan kamu di keuangan secepatnya!" ucapnya sesaat gadis itu hendak turun dari mobilnya, membuat Aline jengkel.


"Ini libur, Pak. Jangan bawa-bawa kerjaan! Harusnya Bapak itu bilang makasih ke saya karena sudah bersedia meluangkan waktu libur saya yang sangat berharga ini buat nemanin Bapak jogging. Bukan malah ngingetin kerjaan. Bikin kesel aja," sungut Aline.


"Bawel! Ya udah, buruan turun!" usirnya.


"Makasih udah dianterin pulang. Assalamu'alaikum," ucapnya. Walaupun kesel, Aline tak lupa dengan sopan santun.

__ADS_1


"Hm. Wa'alaikumsalam."


****


__ADS_2