Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Kejutan!


__ADS_3

Suka cita pesta sudah terasa sejak Rabu yang lalu, dimana rules HUT Perak A.C diumumkan di setiap ruangan. Undangan disebarkan. Semua bersuka cita menyambut hari bahagia, 25 tahun berdirinya perusahaan tempat mereka mengais rezeki dan menggantungkan hidup.


Semua tagihan kerjaan diselesaikan pagi ini karena hari ini jam kantor hanya sampai jam 11 saja. Karyawan bisa pulang sebelum sholat Jum'at nanti. Boleh nyalon atau belanja baju dulu. Pokoknya dikasih waktu buat persiapan agar tampil maksimal nanti malam. Banyak karyawan rela lembur dua malam kemarin demi ngejar setoran untuk pagi ini. Seperti yang sudah diperkirakan, suasana kerja pagi ini sudah tidak kondusif lagi. Datang ke kantor cuma untuk absen, trus berhamburan kemana-mana. Hampir di setiap ruangan selalu ada karyawan yang membahas pakaian dan dengan siapa mereka datang nanti malam.


HUT A.C jatuh pada hari ini, Jum'at.


"Kenapa gak milih hari Sabtu aja, Ce?" Aline bertanya pada Shayna, sepulangnya dari lokasi untuk gladi resik.


"Biar besok tetap bisa nikmatin weekend, Lin. Apalagi yang sudah punya anak, pasti pengen habisin waktu sama anak juga. Nanti kan acaranya sampai malam banget soalnya jadi besok bisa lanjut istirahat, dan masih tetap bisa kumpul sama keluarga." Sungguh pemilihan hari dengan pertimbangan yang bijak.


"Lo dateng sama siapa ntar malem, Lin?" Shayna juga gak ketinggalan membahas topik ini.


"Gak sama siapa-siapa, Ce. Maklumlah, jomblo tulen." Aline menjawab malas. Baginya ini pertanyaan cukup sensitif.


"Sama pak Arya aja, Lin, hehehe ..." goda Shayna.


"Iya, trus nanti aku jadi santapan malam emaknya," balasnya asal.


"Hahahahaha ..." Shayna tertawa bahagia.


"Aku malah berencana gak datang seperti tahun lalu, gak suka party soalnya aku, Ce." Aline menggigit sedotan minumannya yang sudah tinggal seperenpat.


"Eh ... eh ... jangan gitu dong. Kamu harus lihat hasil kerja keras kita selama ini."


"Kita? Lo aja kali, Ce! Gue mah gak ikutan."


"Eh, udah bisa pake lo-gue ya sekarang?" Shayna semakin semangat menggoda partner kerja yang sudah ia anggap seperti adik sendiri.


"Beuh, jangankan bahasa gaulnya Jekardah, bahasa Mandarin, Hokkian juga aku bisa! Cece kalo ngomong sama Koh Erik nya di telpon kan aku sering gak sengaja denger. Aku ngerti lho Cece mesra-mesraan di telpon." Aline balik menggoda Shayna membuat gadis itu tersipu.


"Biarin deh ah. Namanya juga pacaran. Emangnya situ?" hahahaha ... " Shayna tertawa setan.


"Pa an sih? Cece ngeselin, tau!" Aline mulai sewot membuat Shayna kembali ke topik semula.


"Nanti lo mesti datang, pokoknya! Gak pake tapi-tapian. Lo kan terlibat, secara gak langsung, karena lo udah handle kerjaan gue sama Pak Rendi selagi kita berdua sibuk dengan tim acara. Lo pasti suka nanti. Cece jamin. Rugi kalau gak dateng!" Shayna promo dengan semangat 45 nya, persis abang-abang di Rumahana Robohson yang lagi promo produk murah meriah muntah.


"Ada hadiahnya gak nanti, Ce?" Iseng Aline bertanya. Hanya asal ceplos aja.


"Pasti ade dong, Neng. Makanannye juga banyak, endees-endes lah. Lelang amal pun ade. Mangkenye Eneng dateng, pan udah diundang." Aline tersenyum geli mendengar Shayna dengan logat Betawinya, terdengar aneh di telinganya.


"Masa iya sekretaris CEO gak nampak batang hidungnya? Bisa abis lo sama pak Erlangga Senin nanti," ujar Shayna mencoba menakut-nakuti gadis berpashmina abu-abu itu agar ia berubah pikiran.


"Ya deh berhubung di sana banyak makanan dan hadiah, nanti aku dateng. Kalau cogan ada juga gak, Ce? hehehehe ...." Aline cengengesan, Shayna geleng-geleng kepala.


"Pastinya dong. Saking banyaknya, ntar lo bisa pilih-pilih di sana."

__ADS_1


"Busyet, pilih pilih katanya. Dikira baju diskonan?"


"Hahahaha... Lo lama-lama gemesin juga ya, Lin. Demen gue ame lo kalo kayak gini."


"Eits, jangan main demen-demen aja, Ce! Aye mah anaknye lurus lurus aje, masih doyan yang berjakun."


Shayna ngakak abis dengan candaan Aline.


Walaupun receh tapi jika diucapkan oleh gadis yang biasanya selalu serius itu, rasanya beda.


"Wah, parah lo, Lin. Lo bener-bener ninggalin perangai nih. Mentang-mentang Senin udah di lantai paling atas dinasnya!"


Lalu mereka tertawa becanda-canda berdua mengisi waktu kosong karena kerjaan sudah selesai semua, hanya menunggu jam pulang.


Pulang kerja, Aline mendatangi salon khusus muslimah yang sering ia kunjungi bersama Hana. Ngomong-ngomong Hana, anak itu sekarang sedang sibuk-sibuknya dengan kuliahnya, sehingga waktu mereka berkumpul semakin jarang. Walau selalu ketemu saat di resto, tapi Hana lebih sering berada di ruangan orang tuanya, menyelesaikan tugas kuliah yang semakin banyak. Hanya sesekali ia bertanya pada Aline bila sudah buntu sekali.


Aline membuka aplikasi chat di gawainya


Aline. : Assalamu'alaikum. Lagi sibuk gak, Dek?


(send)


Hana. : Wa'alaikumsalam. Gak, Mbak. Ini baru aja bubar.


(send)


(send)


Hana. : Okay bosqyu. Tungguin yah! Nih langsung cussss ke TKP.


(send)


Aline. : Titi dije!


(send)


Aline baru saja selesai creambath saat Hana menyenggol pundaknya.


"Eh, udah dateng," sapa gadis yang tengah dikeringkan rambutnya.


"Yuk, buruan. Mbak yang traktir nih."


"Cieee, yang mau ke party. Aku ditinggal sendiri dong nanti malam."


"Kamunya diajak gak mau ikut."

__ADS_1


"Males lah, Mbak. Isinya pasti orang kantoran semua."


Mereka baru keluar dari salon jam 16.30.


Setelah sampai di kontrakan Aline, Hana ikutan masuk. Katanya hendak menunggu temannya.


Aline ber-oh ria lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah mandi, Aline bingung sendiri akan memakai gaun yang mana. Kemarin, Prita kembali mengiriminya dua buah gaun dan beberapa stel pakaian kerja. "Untuk sekretaris CEO yang baru" begitu tulisan dalam kartu yang menyertainya. Prita sengaja mengirimi sahabatnya itu hadiah-hadiah ini setelah dirinya mendengar cerita dari Elisa yang kegirangan jika Aline akan menjadi sekretaris CEO mulai minggu depan, itu artinya ia tidak perlu takut lagi jika tunangannya, Rendi, akan terpesona pada gadis yang diam-diam digilai para petinggi muda A.C.


"Pakai yang itu aja, Mbak!" tunjuk Hana yang baru saja masuk ke kamar Aline, diikuti seorang gadis belia seusianya.


"Yang mana?" Aline memegang dua baju di kedua tangannya. Tangan kiri memegang dress berwarna nude peach dengan hiasan yang menonjolkan bagian depan hingga pinggang dan lengan semibalon dengan payet di bagian ban tangannya, sedang bawahan terbuat dari bahan tulle yang nampak sangat indah dan mewah. Sedangkan tangan kanan memegang hanger dengan baju terusan nuansa hitam putih, bagian atas terdiri dari brokat hitam di atas dasar putih dengan batu-batu payet warna senada yang disusun sedemikian rumit di bagian sekitar leher hingga bahu, tidak akan mencolok jika tidak terkena sinar lampu, dan bagian bawahnya rok berwarna hitam dengan lapisan kain sutera berwarna putih bermotif batik dan hiasan tile berwarna hitam di bagian kaki hingga lutut. Model yang cukup rumit tapi tetap terlihat simple dan elegan.


"Yang kanan, Mbak. Cantik banget gaunnya!" Seru Hana yang memang menggemari warna hitam. Aline memegang gaun itu di tangan sebelah kanannya. Gaun lain ia kembalikan ke dalam lemari.


"Oia, Mbak Aline. Kenalin ini temen aku, Anggia. Dia jago make-up."


Anggia mengulurkan tangan yang disambut oleh Aline. Hana nyengir kuda ditatap Aline dengan mimik muka yang seperti menahan sesuatu tapi tak bisa disalurkan.


"Nah, Gia. Tolong lo dandanin kakak gue secantik mungkin ya!" titahnya pada temannya itu.


"Eh ... eh ..." Aline hendak protes, namun ditahan oleh Hana.


"Udah, ngikut aja kenapa sih, Mbak?"


Akhirnya Aline mengalah dan pasrah pada keinginan Hana. Anggia rupanya seorang selebgram yang kerap memberikan tutorial make-up di akunnya. Anggia memberi sentuhan flawless yang natural pada wajah cantik Aline, membuatnya semakin bersinar terang benderang.


Mereka bertiga ribut mengenai hijab yang akan dikenakan. Aline tidak setuju menggunakan hijab yang merupakan pasangan dari baju yang ia kenakan itu. Terlalu mewah dengan banyak payet, "Seperti hijab pengantin," komentar Aline.


Akhirnya ia menggunakan pashmina sutera berwarna hitam polos dengan bis berwarna putih gading di pinggirannya, karena bajunya sendiri sudah cukup rame jadi akan lebih nyaman bila ia memakai yang sederhana saja.


Aline melengkapi penampilannya dengan tas tangan berwarna hitam dan 'Jimmy cho kesayangannya setinggi 7 senti yang juga berwarna hitam. Performa Aline malam ini sangat-sangat berkelas. Tak akan ada yang menyangka bahwa gadis cantik tinggi semampai itu keluar dari sebuah rumah kontrakan mungil dan datang ke lokasi acara dengan menumpang mobil Anggia yang kebetulan rumahnya searah dengan hotel berlangsungnya acara. Mengingat Hana, Prita dan Anggia, Aline tak henti mengucap syukur karena memiliki teman-teman yang baik dan tulus berteman degannya.


Anggia mengantarkannya hingga di depan lobby. Setelah mengucapkan terima kasih, Aline berjalan melewati red carpet dan diminta berfoto di booth yang telah disediakan.


Setelah selesai sesi foto, Aline mengisi buku tamu dan mendapatkan sebuah nomor, "Seperti peserta ujian saja pake nomor nomor segala," komennya, membuat mbak mbak pagar ayu tersenyum kikuk.


"Silakan masuk, Mbak. Acara sudah dimulai sejak setengah jam yang lalu," ucapnya ramah.


Namun belum sempat kakinya melangkah, sebuah lengan besar seorang lelaki menariknya dan menyeretnya ke tempat yang cukup jauh dari pintu utama. Lelaki itu mendorong Aline hingga ke dinding, berhadap-hadapan dengannya. Kedua tangannya dipegang sedemikian erat membuat Aline tak bisa berkutik, napasnya sudah tersengal-sengal, ketakutan mulai menjalar, terlebih setelah mengenali siapa lelaki yang telah menariknya.


"Suka dengan kejutannya, Princess?" ucap lelaki itu dengan senyum smirk khas miliknya.


***

__ADS_1


__ADS_2